
setelah mendapatkan alamat rumah vani dari adiknya, dika pun langsung bergegas pergi hendak menolong gadis itu.
dika melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah itu agar ia segera sampai disana.
raka mendorong dengan keras tubuh vani ke atas ranjang lalu hendak kembali menindih tubuh gadis itu namun vani yang masih ingin membela diri pun menendang bagian sensitif raka hingga ia jatuh tersungkur.
bruk!!
"aarrgghh! vani berani kamu" teriak raka merasa kesakitan.
vani langsung berlari ke arah pintu lalu menarik narik handle pintu itu namun sayang ia tidak bisa membukanya karena pintu sudah terkunci.
"tolong!! bukaa,,,"
vani menggedor gedor pintu kamarnya namun percuma saja karena tidak ada orang di sana.
"mau kemana kamu!!" raka menyeringai.
kembali menarik lengan vani dengan lebih keras dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.
vani masih mencoba untuk lari namun raka segera menarik kedua kakinya di atas ranjang hingga berulang kali vani kembali terjatuh.
tubuhnya juga berulang kali membentur lantai namun vani tidak merasakan sakit karena rasa takutnya lebih besar.
benturan benturan itu pasti membuat sekujur tubuhnya membiru.
"lepasin aku mas..."
raka kembali menindih tubuhnya karena gadis itu terus memberontak ia pun memukul wajah vani hingga sudut bibirnya berdarah.
"diam!!!" plakkk! plakkk!
"lepasin! akh!"
vani meringis merasakan tamparan yang sangat keras. raka juga mencengkeram kuat lengan vani hingga merah.
"diam sayang dan jangan berusaha untuk kabur lagi atau kamu akan berakhir di tangan ku..."
raka sepertinya sudah dirasuki oleh setan.
"lepas mas, lepasin aku..."
vani memohon dengan suara yang sangat lemah.
"enggak akan, enggak akan pernah sayang. aku cinta sama kamu tapi kenapa kamu buat aku kecewa"
"maafin aku mas"
"aku bakal maafin kamu kalo kamu diam dan nikmatin ini sayang"
"hhh! hhh!" nafas vani tidak beraturan.
raka melanjutkan perbuatan kejinya dengan sangat kasar. menggigit di beberapa bagian tubuh vani hingga membiru karena merasa kesal gadis itu terus menolaknya.
vani terus memberontak dan berteriak sampai kehabisan tenaga namun raka tidak perduli.
"le,,pasin,, mas,,"
tubuh vani benar benar sudah lemas tidak sanggup lagi untuk memberontak.
akhirnya gadis itu hanya diam saja saat raka melepaskan satu persatu pakaian mereka. tubuhnya benar benar sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak.
"hhh! hhh!"
sepertinya vani akan segera pingsan. ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya.
"ssttt! tenang sayang ini enggak sakit, kamu pasti suka"
bisik raka dengan lembut lalu bermain di bagian dada vani membuatnya semakin lemah tak berdaya.
tubuh vani benar benar lemah namun ia masih bisa merasakan sentuhan lembut dari bibir raka di tubuhnya.
raka bergerak lembut sambil membuka pakaian bagian bawahnya lalu ia merobek dress yang vani pakai hingga bagian tubuhnya sudah banyak terekspos.
hanya menyisakan bagian intimnya yang masih tertutup dengan dua pakaian dalam saja.
raka tersenyum jahat saat dirinya benar benar akan segera menyatu dengan gadis yang dicintainya itu.
"aakkhh" teriak vani merasakan sakit di bagian bawahnya.
dika baru saja sampai di depan rumah vani dan langsung turun dari dalam mobilnya.
sebelum masuk ia melihat ada sebuah mobil juga terparkir disana dan pintu rumah yang tidak terkunci.
dika langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan memanggil nama vani.
"vani! vani! kamu dimana?"
dika melihat ruang tamu yang sudah berantakan.
'mas dika' batin vani karena merasa mendengar suara dika sedang memanggil namanya.
hanya air mata yang mengalir di sudut mata vani yang sedang terpejam itu.
melihat ada satu pintu kamar yang tertutup di dekat sana dika pun langsung mendekati daun pintu itu. ia yakin jika itu adalah kamar vani lalu mencoba untuk membukanya namun sayang pintu itu terkunci.
__ADS_1
hatinya mengatakan jika vani ada di dalam sana. dika langsung menendang pintu dengan menggunakan kaki untuk mendobraknya agar terbuka.
brakk!!! brakk!!! brakk!!
hanya tiga kali tendangan pintu kamar itu langsung terbuka.
dika masuk dan melihat tubuh wanita yang dicintainya itu sedang berada di bawah tubuh seorang pria bejat yang membuat darahnya mendidih karena emosi.
"brengsekk!!!"
dika mengepalkan tangannya dan langsung berlari menarik tubuh raka lalu menghajarnya habis habisan.
"beraninya lo nyakitin dia. bugh! bugh! bugh!"
dika meninju wajah hingga perut raka dengan keras.
"itu bukan urusan lo..!"
raka mencoba untuk membalasnya namun dika berhasil menghindar.
"itu urusan gue, ngerti lo bugh!!! bughh!!!"
dika juga menendang tubuh raka hingga jatuh tersungkur di atas lantai dengan wajah yang sudah berdarah akibat pukulan keras yang dika berikan.
raka bangkit untuk kembali melawan namun pukulannya tetap tidak mengenai dika karena ia juga sudah kehabisan kekuatannya saat bersama vani.
dika kembali memukulinya tanpa ampun.
"dasar bajingan, apa yang udah lo lakuin sama vani. hah!!" bughh!
"bosen hidup ya lo!!" bughh!! bughh!
dika terus menendang tubuh raka yang sudah tergeletak di lantai sepertinya raka akan benar benar habis ditangannya.
raka sudah tidak berdaya namun ia berusaha bangkit lalu berlari keluar menyelamatkan diri.
"mau kemana lo pengecut!!"
dika ingin mengejar raka karena merasa belum puas menghajarnya rasanya ia ingin menghancurkan pria bajingan itu di tangannya namun vani memanggilnya dengan suara yang bahkan tidak dapat terdengar oleh siapapun namun dika bisa mendengarnya.
'mas dika' batin vani memanggil lemah dengan suara yang tidak terdengar karena suara bisikan lebih keras dari pada suaranya.
dika mendekati ranjang dan langsung memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu sambil menarik selimut disana.
"sayang, kamu baik baik aja kan?"
dika melihat kondisi vani yang sangat lemah. terdapat banyak luka memar di wajah maupun kaki dan tangannya
tubuh vani banyak terbentur saat ingin melarikan diri dan ia juga di pukul oleh raka agar tidak memberontak.
dika menyesal karena dirinya terlalu lama datang untuk menyelamatkan vani.
vani yang merasa tubuhnya remuk dan lemah akhirnya pun jatuh pingsan di dalam pelukan pria yang dicintainya itu.
"sayang, bangun sayang"
dika merasakan bahwa tubuh vani sangat dingin.
melihat vani sudah tidak sadarkan diri, dika langsung memakaikan jaket yang sedang di pakainya pada gadis itu untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka karena pakaian vani sudah sobek dimana mana lalu ia membawanya ke rumah sakit.
sesampainya di rumah sakit dika menunggu dokter memeriksa keadaan vani di luar ruangan.
di dalam ruang ICU vani masih di periksa oleh dokter. dika pun segera mengirim pesan kepada yuli memintanya untuk langsung saja menuju ke rumah sakit setelah ia pulang bekerja nanti agar yuli tidak merasa khawatir saat melihat kondisi rumah yang masih sangat berantakan.
dengan perasaan cemas dika duduk di kursi tunggu. ia merasa sangat khawatir dengan keadaan vani karena melihat memar di sekujur tubuh gadis itu.
dika mengepalkan tangannya menahan emosi saat mengingat wajah pria yang sudah melukai vani itu.
setelah lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan vani.
"bagaimana keadaan vani dokter?" tanya dika.
"apakah bapak keluarga pasien?"
"iya saya calon suaminya dok" jawab dika.
"kondisi pasien masih belum stabil jadi harus di rawat inap pak, ada banyak luka di sekujur tubuhnya akibat benturan dan pukulan yang kemungkinan akan memberikan rasa trauma saat ia sadar nanti jadi saya harap bapak bisa mengerti"
"baik dokter terima kasih"
setelah dokter pergi dika langsung masuk ke dalam ruangan itu dan melihat vani terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
kondisi vani sangat lemah karena bukan hanya fisik yang terluka namun mentalnya juga terguncang akibatnya.
dika melangkah mendekati sisi bankar lalu duduk di kursi.
dika menggenggam tangan vani dengan kedua tangannya lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"dimana yang sakit sayang?"
dika mengelus lembut bagian tangan vani yang terdapat memar disana seolah ingin menghilangkan rasa sakitnya.
dika juga mengelus rambut vani dengan lembut namun terlihat banyak rambut yang rontok di telapak tangannya.
sepertinya raka menarik terlalu kuat rambut vani saat ia memberontak tadi.
__ADS_1
"sayang cepet sembuh ya.."
"kamu tau enggak kamu itu berharga banget buat aku jadi harus cepet sembuh"
dika tidak ingin vani merasa sendirian atau kesepian di dalam ruangan itu maka ia terus berbicara.
"kalo waktu itu kamu enggak nolak buat nikah sama aku pasti sekarang kita udah bahagia sayang"
alasan dika pergi karena dirinya tidak ingin vani merasa tertekan jika saat itu ia memaksa vani untuk menikah dengannya sedangkan saat itu permasalahannya dengan karin masih hangat menjadi perbincangan banyak orang.
"aku janji mulai sekarang aku bakal jagain kamu terus" cup! dika mengecup kening vani.
yuli baru saja pulang dari tempat bekerja dengan buru buru langsung masuk ke dalam ruangan vani karena khawatir.
"kak vani" huh! huh!
yuli ngos ngosan sambil berjalan mendekat.
"yuli kamu minum dulu nih kenapa lari larian kaya gitu?"
dika pun menyodorkan segelas air kepada yuli.
"makasih pak"
glek! glek! glek!
yuli menenggak minuman hingga habis di dalam gelas.
"hah! segerrrr"
"em pak dika, gimana ya keadaan kak vani?" tanya yuli
"ya seperti ini yul, kakak kamu belum sadar dari tadi. kata dokter dia ngalamin trauma yang cukup berat sampe kondisinya belum stabil"
"ya ampun. kok bisa kaya gitu sih emangnya apa yang udah terjadi sama kak vani ya pak?"
"vani mengalami pelecehan dan kekerasan di dalam rumah kalian sendiri yul"
dika pun menceritakan semuanya kepada yuli tentang apa yang terjadi mengapa dirinya bisa sampai menolong vani di rumahnya.
"ya ampun siapa sih yang udah ngelakuin ini ke kamu kak. liat deh semua badan kamu sampe memar kaya gini karena perbuatan bejat laki laki itu"
yuli melihat tubuh kakaknya yang di penuhi luka memar.
"saya juga enggak tau dia siapa yul sebenarnya tadi saya udah sempat menghajar laki laki itu tapi dia malah kabur. saya harus bawa vani ke rumah sakit secepatnya karena kondisi vani lemah sampai dia jatuh pingsan"
"kalo aku ketemu sama cowok itu bakal aku hajar dia"
yuli mengepalkan kedua tangannya kesal.
"iya saya juga merasa kesal"
"apa cowok brengsek itu sempat ngelakuin hal itu sama kak vani?"
"em entahlah, saya juga enggak tau yul waktu saya datang buat nolongin vani emang ada di bawah tubuh pria itu "
dika merasa sangat geram saat mengingat kejadian sebelumnya hingga wajahnya kembali berubah.
melihat wajah dika yang berubah karena menahan kesal yuli pun langsung mengalihkan pembicaraannya.
"apa pak dika sempat liat muka pelakunya?"
"iya tapi enggak terlalu jelas karena saya langsung hajar dia sampe mukanya yang jelek itu jadi makin jelek"
"ppffttt...!"
yuli menahan tawa saat mendengar jawaban dika yang justru mengatai pria itu jelek.
"lagian buat apa juga kamu nanya mukanya. ya udah jelaslah pasti saya lebih ganteng dari pada dia" kesal dika.
"haha kepedean banget sih pak dika pake bilangin orang jelek segala lagi"
"ya emang jelek"
"iya iya deh bapak yang paling ganteng" yuli menggeleng.
"hem oh ya tapi saya bukan bapak kamu yul"
dika tidak menerima panggilan yuli yang kembali berubah kepadanya menjadi bapak itu.
"emang udah pantes jadi bapak bapak" gumam yuli yang dapat terdengar oleh dika.
"kamu bilang apa?" dika pura pura tidak mendengarnya.
"em oke deh bang dika" yuli pun mengalah.
"hem gitu kan lebih bagus" dika tersenyum.
"oh ya, tolong jagain kak vani dulu ya pak soalnya saya mau mandi nih. udah gerah banget"
"hem" dika sangat malas mendengar panggilannya.
"hihihi" yuli tertawa geli sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"emangnya dari tadi siapa yang udah jagain kakaknya ini kalau bukan gue" gerutu dika kesal setelah yuli masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1