Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 89


__ADS_3

ceklek!


sesampainya di depan pintu kamar dika pun membukanya dan melihat vani sedang memakan makanannya dengan malas.


"sayang, kok kamu males gitu sih makannya?"


dika mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


"mas, besok kita kerumah rara ya aku kangen deh sama rara lagian kita belum sempat main kesana kan kemarin?" vani mengajak dika.


"besok mas harus ke kantor sayang lagian kamu juga masih butuh istirahat, lusa kita kesana ya sekalian hari libur" dika memberi keputusan.


"hem, ya udah deh. oh ya tadi mbak arin enggak ada nanyain aku mas?"


vani sebenarnya merasa penasaran apa saja yang mereka bicarakan tanpa dirinya malam ini di meja makan.


"arin tadi nanyain kamu kok, terus aku bilang kamu lagi kecapekan" jawab dika singkat.


"kalian ngobrolin apa aja?" vani masih penasaran.


"enggak ada, siap makan aku langsung balik lagi ke kamar buat pastiin kalo kamu juga makan dengan baik sekarang ayo buka mulutnya. aaaaa" dika hendak menyuapi vani.


sebenarnya vani sedang malas untuk makan malam ini namun karena di suapi oleh suami tercintanya maka ia memakannya dengan lahap.


setelah selesai dengan makan malamnya vani kembali merebahkan diri di atas ranjang empuknya.


"sayang nih minum dulu susunya"


dika memberikan segelas susu ibu hamil yang hangat kepada vani.


"em, nanti aja mas aku masih kenyang banget nih"


vani mengusap usap perut buncitnya.


"enggak enak kalo dingin sayang ini mumpung masih hangat" dika menatap istrinya.


"mass" vani mulai malas.


sebenarnya vani sangat tidak suka minum susu namun semenjak hamil ia harus minum dengan bujukan dika.


"oh ya sayang, tadi kamu beli apa aja?"


dika merasa penasaran karena tagihan yang masuk cukup banyak namun ia tidak melihat barang belanjaan istrinya ada di dalam kamar mereka.


"oh iya, aku hampir lupa mas"


vani bangkit lalu mencari tas selempang yang tadi ia gunakan.


dika menatap istrinya yang terlihat senyum bahagia saat mengingat sesuatu itu.


"nah, ini yang mau aku tunjukin ke kamu dari tadi mas"


vani tersenyum sambil memperlihatkan gelang yang di belinya.


"apa ini sayang?" dika penasaran melihatnya.


"ini tuh gelang couple mas, lampunya bakal nyala kalo gelang ini deketan dalam jarak tertentu"


vani memakaikan gelang itu di tangan dika.


"jadi kamu capek keliling mall seharian cuma beli ini doang sayang?" tanya dika tak habis pikir.


"iya. bagus kan mas?"


vani tersenyum menatap dika yang sudah memakai gelangnya.


"terus kamu mau aku pake gelang ini juga ke kantor gitu?"


dika tak percaya menatap gelang berwarna pink dengan karakter hello kitty yang terpasang di pergelangan tangannya itu.


"iya, emangnya kenapa mas? gelangnya bagus kok" vani mengangguk.


"terus belanjaan yang lain mana?" dika masih penasaran.


"enggak ada mas, aku kan cuma beli ini aja"


vani menunjuk gelang yang kini sudah mereka pakai.


"tapi tagihan kamu banyak hari ini sayang"


dika mencubit gemas pipi istrinya yang chubby.


"iya itu kan semua barang barang yuli, hana sama mbak arin juga mas. plus tadi kita juga makan nonton dan main banyak permainan disana" vani menjelaskan.


"ohh" dika hanya menganggukkan kepalanya.


"kenapa. kamu marah ya mas?"


vani menatap mata suaminya itu.

__ADS_1


"enggak dong sayang. aku malah senang banget karena hari ini kamu enggak marah lagi sama aku"


cup! dika mengecup kening istrinya.


"makasih ya mas"


vani memeluk tubuh suaminya dengan tersenyum.


"em, sayang boleh enggak kalo aku enggak usah pake gelang ini juga ya. apalagi kalo ke kantor"


dika berusaha menolak secara lembut.


"kenapa. kamu enggak suka ya mas?"


vani dengan wajah sedih padahal ia sudah susah payah memilihnya.


"bukan gitu sayang, ini kan gelang buat cewek terus uwuh banget lagi warna pink iya masa aku ke kantor pake ini sih sayang"


lagi pula bagaimana jika sampai rangga dan ray melihat gelang yang ia pakai itu mereka pasti akan menertawakan dirinya pikir dika.


"kamu dulu pernah bilang kalo semua yang aku suka kamu juga bakal suka kan mas. kenapa sekarang kamu enggak suka. kamu udah enggak sayang lagi ya sama aku?"


vani sedih lalu berbalik membelakangi dika.


"sayang. bukan gitu" dika bingung.


"tau ah"


"iya deh mas bakal pake gelang ini sayang tapi kamu jangan ngambek lagi ya?"


dika memeluk istrinya dari arah belakang.


"bener ya mas?" vani berbalik menghadap dika.


"iya sayang" dika mencubit gemas pipi chuby istrinya.


"makasih sayang" vani memeluk suaminya.


semakin besar usia kandungannya membuat pipi vani juga terlihat semakin chuby karena tubuhnya mulai berisi.


vani akhirnya memeluk suaminya yang sangat pengertian itu. karena dika selalu menuruti keinginannya selama itu tidak berlebihan.


bagaimana bisa dika menolaknya, ia tidak akan sanggup jika istrinya itu ngambek dan cuek padanya.


dika pun membalas pelukan istrinya yang sangat manja akhir akhir ini kepadanya. bukan hanya manja, namun vani juga sering kali menangis dan marah marah di waktu yang bersamaan membuat dika terkadang bingung dengan sikap istrinya itu namun ia selalu berusaha untuk menuruti keinginan istrinya meskipun vani mengidam yang aneh aneh sekali pun.


'hem, kalo di kantor aku kan bisa lepasin gelang ini dari tanganku' batin dika tersenyum menatap gelang uwu di tangannya itu.


dika pun melepaskan pelukannya.


"iya mas"


vani mengangguk lalu kembali berbaring di atas ranjangnya.


"susunya di minum dulu" dika mengingatkan.


"ck! mas boleh ya malam ini enggak usah minum" tatap vani penuh harap.


"enggak boleh sayang. ini kan udah di buat masa di buang sih kan sayang" ucap dika.


"tapi aku mual mas"


"dikit aja ya. baby pasti seneng kalo mamanya minum susu buat dia" bujuk dika mengusap perut buncit istrinya.


"hem" akhirnya vani pun mau meminum susunya.


hari libur tiba, dika pun menepati janjinya untuk mengajak vani mengunjungi rumah baru rangga.


sesampainya disana vani dan dika disambut dengan gembira oleh rara. ia sangat senang karena om dan tante cantiknya itu datang berkunjung.


sudah sejak lama rara selalu meminta untuk pergi berkunjung ke rumah dika namun papa dan mamanya selalu sibuk.


mereka bermain dan bercanda bersama di ruang keluarga. rara selalu ingin mengajak mama dan papanya untuk berlibur bersama namun belum juga terlaksana karena kesibukkan papanya di kantor.


"om sama tante nginep ya" minta rara pada dika dan vani.


"em, gimana ya? kayanya enggak bisa deh sayang nanti tante arin enggak ada temennya dong di rumah"


vani memberi pengertian kepada rara.


"tapi tante arin kan udah gede tante, enggak perlu di jagain kaya rara lagi" rara memanyunkan bibirnya.


"iya sih tapi,,"


"rara bener vani kalian nginap aja ya" minta ranty juga.


"ya udah deh sayang om sama tante nginep malam ini disini" vani akhirnya setuju.


"yeii, rara mau bobok sama adek bayi ya ma"

__ADS_1


rara memeluk tantenya.


"boleh, tapi rara jangan lasak boboknya ya kalo deket adek" ranty menasihati putrinya.


"oke ma" rara tersenyum gembira.


vani menatap dika yang mengangguk setuju untuk menginap di sana.


malam harinya di kediaman keluarga wijaya, arin merasa sangat kesepian karena harus makan malam sendirian malam ini.


vani baru saja mengabari dirinya jika malam ini mereka akan menginap di rumah rara.


"huh, pelayan di rumah ini emang banyak tapi semua kaya robot cuma ngerjain tugas mereka terus kembali istirahat"


arin berusaha menghibur diri dengan menonton tv.


"kenapa mas dika sama vani enggak ngajak aku aja sih buat ikut" arin memanyunkan bibirnya.


arin mengambil ponsel baru yang sudah dika belikan untuknya beberapa waktu yang lalu itu. ia hendak mengirim pesan kepada dika dan mengatakan jika dirinya merasa kesepian.


Arin


hai mas.


Mas dika


ya ada apa arin. kamu baik baik aja di rumah kan?


Arin


ya baik, tapi aku kesepian di rumah sebesar ini tapi cuma sendirian.


Mas dika


atau aku jemput kamu aja ya biar kamu ikut nginap disini.


Arin


em, apa enggak merepotkan mas?


Mas dika


enggak kok.


Arin


enggak usah deh mas kayanya sebentar lagi bakal turun hujan. entar kamu kehujanan lagi.


Mas dika


iya enggak dong arin. kan aku naik mobil enggak mungkin kehujanan juga.


Arin


hehe. iya juga sih mas. em, tapi enggak usah deh mas. kamu temenin aku dari handphone aja ya sampe aku tidur.


Mas dika


em baiklah kalo kamu maunya gitu.


di dalam kamar mereka vani sedang menemani rara yang bermain dengannya.


vani menatap suaminya yang sedang asik dengan ponsel sambil senyum senyum sendiri. hal itu membuat vani merasa penasaran.


'mas dika kenapa sih kok senyum senyum sendiri gitu' batin vani.


akhirnya vani mendekati suaminya dan meninggalkan rara bermain sendiri untuk sebentar saja karena ia merasa penasaran.


"mas kamu lagi chat sama siapa sih? aku perhatiin dari tadi kamu senyum senyum terus deh"


vani mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"eh, enggak kok sayang aku cuma lagi nonton video lucu doang tadi" dika menatap istrinya.


"masa sih tapi tadi kayanya kamu lagi balas pesan gitu" vani tidak percaya.


"enggak, itu aku tadi habis balas chat dari ray sayang" dika tersenyum gugup.


"mas ray?" vani masih ragu memikirkannya.


"iya. kan aku cerita kalo kita lagi nginap di rumah rara jadi dia pengen ikutan datang juga katanya. kamu kaya enggak tau aja si ray suka bercanda sayang. hehe" jelas dika


"ohh gitu"


vani merasa ragu namun ia mengangguk percaya.


"iya. itu kamu temenin rara aja dong sayang kasian dia main sendiri" dika kembali menatap layar tv di depannya.


"em, iya"

__ADS_1


vani pun akhirnya kembali menemani rara bermain di tempat sebelumnya namun perasaannya masih menyimpan rasa penasaran.


__ADS_2