
keesokan harinya dika terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
setelah selesai mandi ia menunaikan sholat sebelum bersiap pergi ke kantor.
hari ini niatnya, sebelum ke kantor dika akan lebih dulu menjemput vani di rumahnya agar bisa pergi bersama mengingat mereka hendak memantau proyek bangunan di sebuah desa dekat kotanya.
entah mengapa dika terlihat bersemangat untuk pergi ke kantor hari ini.
mungkin moodnya sedang bagus atau karena ia akan pergi bersama sekretaris barunya itu, entahlah yang terpenting dika bersemangat untuk pergi bekerja.
setelah selesai memakai pakaian kantornya dengan rapi dika pun keluar dari dalam kamar lalu turun ke lantai dasar menuju meja makan hendak langsung berpamitan kepada mama dan kakak iparnya sebelum pergi bekerja.
"morning mom"
"pagi mbak"
dika memeluk manja mamanya lalu tersenyum menatap ranty.
"pagi dika" ranty pun tersenyum membalasnya.
"morning sayang. anak mama ganteng banget hari ini"
mama ratih melihat senyuman manis di bibir putranya.
"iya dong ma. lagian anak mama ini kan emang udah genteng dari lahir"
"hem, bisa aja kamu dika"
ranty menggeleng sambil tersenyum.
"oh iya, dika langsung berangkat ya ma. mbak "
dika hendak salim tangan kepada dua wanita yang di hormatinya itu.
"loh kok cepet banget sih, masih jam berapa ini dika. lagian mbak udah masakin sarapan buat kamu loh ini"
ujar ranty sambil meletakkan makanan di meja.
"iya masih pagi juga kan, biasanya kamu masih santai sayang"
mama ratih ikut bingung karena selain melihat wajah dika yang berseri pagi ini, putranya itu juga terlihat sangat bersemangat untuk pergi bekerja pikirnya.
"iya soalnya lagi buru buru nih mbak, nanti aja sarapannya di kantor"
glek! glek! glek!
dika meminum susu yang sudah ranty siapkan di atas meja.
"pelan pelan minumnya sayang" ujar mama.
selesai minum dika kembali meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.
"dika pamit ya ma" emuach!
dika mengecup pipi mamanya lalu berpamitan pada kakak iparnya juga.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
dika berbalik badan dan langsung berjalan menuju kearah pintu keluar.
"om dika!!!!"
teriakan rara membuat dika terpaksa harus menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan kembali menghadap meja makan.
"iya ada apa tuan putri ku?"
dika berjalan mendekat lalu menggendong tubuh rara.
"om, kenapa cepet banget sih perginya rara kan masih kangen"
rara pun memeluk om kesayangannya itu.
"maaf ya sayang, soalnya om lagi ada kerjaan penting pagi ini. nanti om pulang cepet deh biar bisa main bareng rara oke"
dika membujuk agar rara mengizinkannya untuk pergi.
"hem, janji ya om"
rara menyodorkan jari kelingking mungilnya seperti biasa.
"iya, om janji sayang"
dika membalas dengan jari kelingking juga.
"tapi om harus ajak tante cantik juga ya pulang ke rumah, biar bisa main bareng kita"
"hem, tante cantik siapa sih sayang?"
ucapan rara itu ternyata tidak di mengerti oleh ranty maupun dika.
"tante karin kamu kan lagi pergi, belum pulang sayang" ucap mama ratih kepada cucunya.
"bukan oma, bukan tante karin tapi tante cantik"
ucapan rara semakin membuat semua orang penasaran.
"loh kalo bukan tante karin, terus tante cantik yang rara bilang itu siapa dong sayang?"
"tante cantik yang waktu itu om tolongin loh" rara tersenyum menatap dika.
__ADS_1
"hem, tante cantik yang pernah om tolongin?" dika masih bingung memikirkannya.
"iya om, kata papa waktu itu om pernah nolongin tante cantik" ujar rara.
"em, masa sih"
dika masih berpikir sambil mencoba untuk mengingat ingatnya.
"oh, sekretaris baru kamu itu ya dik?" ujar ranty tersenyum.
"hem, iya kali mbak"
dika baru mengerti maksud rara.
"oh ya? kamu punya sekretaris baru dika?" tanya mama ratih.
"em, bukan ma tapi sekretaris barunya bang rangga"
"iya kan sama aja dika" ranty menggeleng.
'lagian ngapain juga sih bang rangga cerita sama rara segala' batin dika aneh.
"ya udah, kalo gitu nanti malam kamu ajak dia kesini ya. biar kita bisa dinner bareng, mama juga penasaran banget pengen kenalan sama sekretaris baru kamu yang di panggil tante cantik sama rara itu" mama ratih tersenyum.
"em" dika hanya bisa diam sambil mencerna permintaan dari mamanya itu. ia bingung harus menjawab apa karena tidak tau apakah vani akan setuju untuk ikut dengannya atau tidak.
"dika, kok kamu diem aja sih?"
"eh iya ma, liat nanti deh vani nya mau ikut atau enggak soalnya kan enggak mungkin dika maksa dia" jawab dika yang masih bingung.
"oh jadi namanya vani"
mama ratih dan ranty mengangguk bersamaan sambil tersenyum jail menatap dika.
"iya ma" dika merasa canggung.
"apa bener vani itu cantik kaya yang rara bilang tadi dika?"
ranty menggoda dika yang terlihat malu malu.
"em, iya enggak tau sih mbak, lagian menurut orang kan beda beda" jawab dika.
"oh ya, kalo menurut kamu gimana dika?" ranty semakin membuat dika terlihat gugup.
"hem cantik sih. tapi,,,"
"tapi apa?"
kedua wanita itu bertanya bersamaan karena merasa penasaran.
"tapi aneh banget, ppfftt..."
dika menahan tawanya saat membayangkan tingkah random vani.
mama ratih menggeleng sambil tersenyum.
"ada deh ma, entar juga mama tau sendiri"
"haha, masa sih. kamu ini ada ada aja deh dika, awas loh entar kamu jatuh cinta sama cewek aneh itu" ujar ranty tersenyum.
"ya enggak mungkin lah mbak, dia tuh bukan tipe dika tau"
"ah! masa?" ranty semakin jahil.
"udah deh, dika langsung berangkat ya ma udah telat nih"
"ya udah kamu hati hati ya sayang"
"iya ma"
"sayang, om pergi dulu ya rara jangan nakal di rumah. emuach!"
dika mengecup pipi rara sebelum pergi.
"oke deh om" emuach! rara pun membalasnya.
"dahh!! sayang"
dika melambaikan tangannya sambil berjalan.
"dahh!! om ganteng"
rara pun membalas melambaikan tangan juga.
dika melajukan mobilnya dengan perasaan yang sangat bahagia hari ini. entah kenapa membahas tentang vani bersama dengan keluarganya seperti tadi membuat hati dika senang dan moodnya pun membaik.
terlebih lagi mama ratih meminta dika untuk mengajak vani datang ke rumah mereka malam ini karena keluarganya ingin bertemu dengan gadis itu membuat hati dika semakin senang hingga ia menyetir sambil terus tersenyum.
sesampainya di depan rumah kontrakan vani, dika langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu rumah itu.
tok! tok! tok!
dika mengetuk pintu sambil tersenyum, tidak sabar ingin melihat wajah manis gadis itu.
"Assalamualaikum" dika memberi salam.
di dalam rumah, vani dan yuli sedang sarapan bersama seperti biasa. keduanya mendengar suara ketukan pintu dan salam dari luar.
"eh, siapa ya yul pagi pagi gini yang datang?"
tanya vani sambil mengoles selai di selembar roti sebagai sarapan kesukaannya.
__ADS_1
"enggak tau tuh"
yuli hanya cuek sambil terus memakan nasi goreng sebagai sarapannya.
"ya udah aku bukain pintu dulu ya"
"okay" yuli mengangguk lalu kembali fokus pada makanannya saja.
vani beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu hendak melihat siapa yang datang.
"iya sebentar"
ceklek!!! pintu terbuka.
"Walaikumsalam"
"siapa ya?"
vani bingung saat melihat punggung seorang pria sedang berdiri membelakanginya disana.
"hai!"
dika berbalik lalu tersenyum menatap vani.
"pak dika!!"
vani langsung membelalakkan mata kaget saat melihat pria yang datang itu ternyata bosnya.
"iya ini saya" dika masih tersenyum.
"bapak ngapain, kok pagi pagi udah sampe disini?" vani merasa bingung.
"ya enggak ada apa apa sih, saya cuma mau jemput kamu aja. kan hari ini kita berangkat bareng buat cek proyek pembangunan di desa"
dika beralasan namun alasannya tepat juga.
"oh, iya pak tapi kami masih sarapan nih. bapak udah sarapan belum?" tanya vani.
"em, belum sih. entar aja deh di jalan" dika tersenyum canggung.
"oh ya udah, gimana kalo bapak sarapan aja dulu disini bareng sama kami dari pada bapak sarapan di jalan"
vani menawarkan dika untuk sarapan bersama.
"emangnya enggak ngerepotin ya?" dika merasa sungkan.
"enggak kok pak. ayo sini masuk"
vani menarik tangan dika lalu berjalan masuk bersama menuju meja makan.
dika hanya tersenyum melihat tangannya yang di genggam oleh vani.
keduanya masuk sambil bergandengan tangan membuat yuli yang sedang minum pun sampai tersedak karena kaget melihat siapa yang datang ke rumah mereka.
"uhuk! uhuk! uhuk!"
yuli tersedak minuman seperti sedang melihat hantu saja.
"yuli kamu kenapa?"
vani yang melihat adiknya tersedak langsung mengusap usap punggung yuli dengan lembut.
"em, aku enggak papa kok kak" yuli tersenyum canggung.
"makanya pelan pelan dong kalo minum" vani kembali duduk di kursinya.
"hem" yuli hanya mengangguk.
"sini pak duduk"
vani menepuk kursi di sebelahnya karena melihat dika yang masih saja berdiri di sana.
"iya makasih"
dika pun duduk di kursi yang bersebelahan dengan vani.
"em, ini bapak yang waktu itu pernah nolongin kakak saya kan?"
yuli bertanya karena merasa tidak asing melihat pria di hadapannya.
"iya, kenalin nama saya dika"
dika mengulurkan tangannya kepada yuli.
"saya yuli pak, adek sepupunya kak vani"
yuli pun menyambutnya dengan tersenyum.
"oh iya"
dika mengangguk mengerti lalu mereka saling menarik kembali tangannya.
"ya udah kalo gitu, ayo kita sarapan sekarang" ajak vani.
"iya" dika mengangguk setuju.
vani mengambil piring di atas meja lalu mengisi makanan ke dalamnya untuk dika.
melihat vani mengambilkan makanan untuknya, dika pun tersenyum sambil membayangkan jika seandainya suatu hari nanti ia menikah maka dirinya akan merasakan hal yang sama seperti ini setiap hari bersama istrinya begitu pikirnya.
namun mengingat sikap karin yang belakangan ini selalu terlihat cuek kepada dirinya membuat semua bayangan indah tentang pernikahan itu menjadi buyar.
__ADS_1
"ck! huh!!"
dika menghembuskan nafas berat saat mengingat tentang calon istrinya itu.