Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 175


__ADS_3

hari ini dika hanya bermalas malasan di dalam ruangannya hingga jam makan siang tiba, rangga kembali mengajak adiknya dan kedua sekretaris mereka untuk makan siang bersama.


saat keempatnya sedang makan siang bersama rangga melihat dika yang hanya mengaduk aduk saja makanan di hadapannya dengan malas dan tidak bersemangat lalu pandangan rangga pun beralih menatap vani yang juga hanya diam melamun.


rangga menatap naya dengan tatapan bertanya namun naya hanya mengendikkan bahu untuk menjawabnya karena ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan pasangan di hadapannya itu.


"ehem!"


deheman rangga membuat kedua adiknya itu pun tersadar dan langsung fokus pada makanannya masing masing.


"em, saya mau ke toilet sebentar ya pak"


vani menatap rangga.


"em" rangga mengangguk.


vani beranjak dari duduknya hendak melangkah pergi ke toilet namun tiba tiba saja ia merasa kepalanya sangat pusing mungkin karena kurang tidur tadi malam.


"sshh"


dika yang melihat vani hendak terjatuh pun langsung beranjak dari duduknya dan menahan tubuh vani agar tidak jatuh.


"bu vani!" teriak naya reflek berdiri dari duduknya karena melihat vani yang hampir pingsan.


"vani!" begitu juga dengan rangga yang khawatir.


rangga dan dika menatap naya secara bersamaan.


"eee,,, maksudnya vani kamu baik baik aja kan?" naya meralat ucapannya.


dika kembali menatap vani yang masih merasa pusing itu.


"vani kamu enggak papa?" tanya rangga mendekat.


"em, saya enggak papa kok pak" vani masih memegang bagian keningnya.


"lebih baik kamu pulang aja ya, biar bisa istirahat" rangga menatap wajah vani yang pucat.


"em, makasih pak"


vani mengangguk tidak menolak di suruh pulang karena saat ini tubuhnya memang terasa sangat lemas dan butuh istirahat.


"dika lo anterin vani ya" ujar rangga kepada dika yang sejak tadi hanya menatap dengan diam.


"ee, gue lagi sibuk nih bang jadi mau langsung balik ke kantor. lo aja deh yang nganter atau suruh supir aja ya, gue duluan"


dika melangkah pergi meninggalkan vani dan rangga serta naya di sana padahal ia bahkan belum menyentuh makan siangnya.


rangga menatap vani yang terlihat sedih karena dika pergi begitu saja meninggalkan dirinya saat sedang sakit.


"aku enggak papa kok mas. ya udah aku pulang naik taksi aja ya" vani meraih tasnya di atas meja lalu berjalan dengan perlahan.


"em, biar di antar supir aja ya"


rangga menelpon supir pribadi vani untuk menjemputnya di cafe itu.


beberapa hari kemudian rissa kembali muncul. ia datang ke kantor dika seperti biasanya.


saat hendak masuk ke dalam ruangan dika, rissa pun menatap vani yang juga sedang menatapnya dengan tajam namun rissa hanya tersenyum tipis dan langsung masuk ke dalam ruangan dika.


entah apa yang sedang rissa dan dika bicarakan di dalam ruangan itu vani tidak tahu namun sejak hari itu hubungan di antara dika dan rissa justru semakin dekat membuat vani semakin sulit untuk menjauhkan dika dari rissa.


selain dika yang semakin lengket dengan rissa sekarang dika pun semakin menjauh dari vani. ia juga selalu melarang vani untuk mengikuti langkahnya saat pergi bersama rissa.


saat ini vani sedang duduk termenung di bangku taman belakang rumah milik rangga itu.


vani merasa bingung dominan sedih karena sekarang dika semakin menjauh darinya.

__ADS_1


apalagi melihat kedekatan antara dika dan rissa yang semakin hari semakin membuatnya tidak dapat menahan rasa cemburu.


bukan hanya tentang perasaan sedihnya itu namun yang membuat vani tidak berdaya adalah ketika putranya selalu bertanya tentang papanya dimana. pasalnya belakangan ini dika sudah tidak pernah lagi datang atau mengunjungi rumah rangga untuk bertemu dengan putra mereka hal itu membuat raffa kembali merindukan papanya.


vani duduk diam dengan air mata yang mengalir di pipinya, ia tidak sedang menangis hanya saja air matanya keluar begitu saja saat mengingat tentang keluarga kecilnya yang dulu sangat bahagia namun sekarang tidak lagi.


ranty yang melihat adik iparnya itu sedang termenung sendirian pun berjalan mendekati vani.


ranty mengerti dengan kesedihan vani namun hanya bisa memberi dukungan dan semangat kepada adik iparnya itu.


"vani kamu yang sabar ya mbak harap kamu tetap semangat. mbak yakin suatu hari nanti dika pasti kembali kaya dulu lagi" ranty mengusap lembut pundak vani.


"iya mbak, aku enggak papa kok. aku cuma sedih karena raffa aja dia pasti kangen sama papanya" vani menghapus air matanya.


"besok kita bawa raffa main ke rumah mama sama papa lagi ya biar mereka bisa ketemu"


"kemarin kita juga udah kesana mbak tapi mas dika enggak ada di rumah waktu pulang pun dia enggak mau ketemu sama raffa" vani menunduk sedih.


"kita coba lagi ya. mungkin kemarin itu dika masih sibuk" ranty mengusap lengan vani.


vani hanya tersenyum sambil mengangguk menatap ranty yang sedang menatapnya


ranty juga merasa sedih melihat masalah yang terjadi di dalam rumah tangga kedua adik iparnya itu namun ia juga tidak tau harus bagaimana memperbaiki semuanya.


hari terus berlalu seperti biasa vani masih berusaha untuk mengikuti kemana dika dan rissa pergi secara langsung maupun diam diam.


semakin lama dika merasa sangat bosan dengan tingkah sekretarisnya itu, sering kali dika melarang vani untuk mengikutinya namun vani tidak mau mendengarkan ucapan bosnya.


dika semakin bingung dengan keadaan sendiri pikirannya kacau hingga tidak sengaja ia membentak vani yang terus mengikuti langkahnya kemana pun itu karena menurut dika tidak ada seorang sekretaris yang bersikap berlebihan kepada bosnya seperti yang vani lakukan kepadanya.


"pak dika tunggu!" vani mengejar langkah dika.


"kenapa sih kamu selalu ngikutin saya kemanapun" dika menatap vani dengan tidak suka.


"saya cuma,,"


"tapi pak,,,"


"saya bilang pergi!! kamu enggak dengar ya?"


"saya cuma mau..."


"pergi!!" teriak dika membentak dengan suara yang keras mengusir vani dari hadapannya.


bentakan itu tentu membuat vani merasa terkejut dan merasakan sakit di dalam hatinya. vani sungguh tidak menyangka akan mendapatkan amarah dari suaminya itu.


hatinya sangat terluka hingga vani tidak dapat menahan air mata keluar begitu saja di hadapan dika yang sedang emosi kepada dirinya itu.


"baik pak dika mulai sekarang saya enggak akan pernah ngikutin bapak lagi maafin saya, permisi pak"


dika mengalihkan pandangannya karena tidak mau melihat vani menangis.


vani melangkah pergi dengan deraian air mata yang tidak dapat ia tahan mengalir di pipinya.


setelah meminta maaf vani langsung keluar dari dalam ruangan dika dengan kekecewaan mendalam.


ternyata penantiannya dengan sabar selama ini hanya berbuah sia sia. bukan cinta dari suaminya yang kembali vani dapatkan namun justru hanya amarah dan kekesalan yang dika tujukan kepadanya.


akhirnya vani pulang dengan segala rasa kecewanya.


"hiks! hiks!"


di dalam mobil menuju pulang ke rumah vani masih terus menangis membuat supir yang melihatnya bingung namun tidak berani untuk bertanya hanya kasian melihatnya.


'mas dika maafin aku ya, aku udah berusaha sekuat hati buat pertahanin rumah tangga kita selama ini tapi mungkin takdir berkata lain. kalo memang jodoh kita cuma sampe disini aku harap aku bisa melepaskan kamu dengan ikhlas' batin vani menangis sambil bersandar di dalam mobil.


di dalam ruangannya, dika pun merasa menyesal karena sudah membentak vani hingga membuatnya menangis namun dika tidak punya pilihan lain. lebih baik vani pergi dari pada terus mengikutinya begitu pikirnya.

__ADS_1


di negara yang berbeda tepatnya di dalam apartemen ray mereka sedang bersiap untuk segera pulang ke tanah air.


kehamilan yuli sudah semakin membesar dan dalam dua bulan lagi akan melahirkan anak pertama mereka maka hari ini ray dan yuli memutuskan untuk segera pulang ke tanah air karena yuli ingin anaknya bisa lahir di kampung halamannya.


yuli ingin anaknya lahir di tengah tengah kehangatan keluarga mereka begitu pikirnya. lagi pula pekerjaan ray pun sudah kembali normal maka dika meminta ray untuk kembali pulang.


vani akhirnya sampai di rumah dengan mata bengkaknya. ia pun langsung masuk ke dalam kamar lalu mengunci diri di dalamnya.


ranty dan anak anak sedang bermain di taman belakang rumah dan tidak mengetahui jika vani sudah pulang lebih awal dari kantor.


"hiks! hiks! hiks!"


vani yang lelah menangis pun akhirnya tertidur di atas ranjangnya yang empuk dan nyaman.


sore harinya vani keluar dari dalam kamar mandi setelah ia selesai membersihkan diri. vani berusaha untuk tidak menangis lagi karena dirinya harus tetap tersenyum di hadapan putranya.


"huh! aku engga boleh nangis terus, aku harus tetap semangat. aku masih punya raffa yang bakal jadi penyemangat buat aku"


vani menyemangati dirinya sendiri dan berusaha untuk tersenyum menerima keadaannya sekarang.


"mama!" raffa masuk ke dalam kamar dan melihat mamanya sedang duduk di tepi ranjang.


"sayang, sini mama kangen banget deh main bareng afa" emuach!


vani memeluk dan mengecup pipi putranya itu dengan gemas.


"maafin mama ya sayang, soalnya selama ini mama sibuk kerja terus jadi jarang nemenin affa main deh"


vani meminta maaf kepada putra semata wayangnya itu karena akhir akhir ini dirinya selalu sibuk dengan pekerjaan serta memikirkan tentang kedekatan dika dan rissa yang membuatnya jarang memiliki waktu bermain bersama putranya.


sekarang vani memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan tentang masalahnya lagi. ia hanya ingin fokus merawat putranya dengan baik saja agar raffa tumbuh menjadi anak yang akan selalu menyayangi dirinya di hari tuanya kelak.


"iya ma, affa ngerti kok sekarang mama jangan nangis lagi ya" raffa mengusap air mata di pipi ibunya.


"makasih ya sayang, em anak mama udah bisa bilang huruf r ya?"


vani mendengar putranya sudah dapat mengucapkan satu huruf yang paling sulit untuk di ucapkan oleh anak anak pada umumnya itu.


"iya dong ma hehe" senyum raffa dengan manisnya.


senyuman yang selalu mengingatkan vani pada suaminya sekaligus dapat meredam rindu saat menatapnya.


"anak mama pinter banget" puji vani pada putranya.


raffa adalah anak yang pintar ia suka berhitung dan belajar membaca. menggambar adalah hal yang sangat ia sukai.


"iya dong mama"


"oh ya sayang, ayo tolong bantuin mama beresin pakaian sama barang barang kita ya"


"hem, emangnya kita mau pergi kemana ma?"


"em soalnya besok kita mau pulang ke rumah bibi kamu di kampung"


"kenapa ma, apa papa juga ikut?"


"kita berdua aja ya sayang soalnya papa masih sibuk di kantor kan kerjaan papa masih banyak"


"oke deh mama"


raffa mengacungkan jempolnya sambil tersenyum membuat vani gemas kembali mengecup pipi putranya.


"udah dong ma nanti pipi affa kena lipstrik mama loh"


"hem? lipstik sayang"


"hehe" rafa tertawa.

__ADS_1


vani pun tertawa mendengar ucapan putranya yang lucu.


__ADS_2