Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 93


__ADS_3

keesokan harinya vani mengambil koper dari dalam lemari lalu ia mengemas beberapa pakaian hamilnya.


dengan cepat vani memasukkan pakaian ke dalam koper kecil yang akan ia bawa itu.


setelah selesai mengganti baju dengan menggunakan pakaian kantor yang rapi dika pun melihat istrinya sedang sibuk mengemasi pakaian ke dalam koper.


"loh kamu mau kemana sayang, kok kamu masukin pakaian ke dalam koper sih?"


"mau pergi" jawab vani singkat.


"hah!! mau pergi! kemana?"


dika kaget sambil membelalakkan matanya.


"pulang kampung"


jawaban vani membuat dika semakin membesarkan matanya.


"apa! pulang kampung? sayang kamu cuma bercanda kan sayang jangan pergi dong, aku mohon jangan tinggalin aku ya" dika memeluk istrinya dari belakang.


"lepasin" vani menolak namun dika tetap memeluknya.


"sayang plis, aku tau kamu lagi marah sekarang tapi kamu jangan tinggalin aku kaya gini dong. aku enggak bisa hidup tanpa kamu sama baby kita sayang" dika semakin erat memeluk istrinya.


"ck! ih lepasin,,,"


"sayang, aku janji aku enggak akan ngelakuin sesuatu yang kamu enggak suka lagi. jangan pergi ya aku mohon"


dika memegangi tangan vani juga agar istrinya tidak melanjutkan mengemas barang barangnya.


"ih! kamu nih apaan sih mas, aku tuh bosen di rumah jadi aku pengen jalan jalan. lagian siapa juga yang mau ninggalin kamu coba"


"jadi kamu enggak berniat buat pergi dari hidup aku sayang, kamu enggak mau ninggalin aku kan" dika kembali tersenyum menatap istrinya.


"masih rencananya sih. kamu seneng kan?" vani terus saja mengemasi barangnya hingga selesai.


"jangan dong sayang. aku enggak mau kamu pergi" dika pun memelas.


"kenapa aku enggak boleh pergi, emangnya selama ini kamu bahagia hidup sama aku?"


"kamu adalah satu satunya sumber kebahagiaan aku sayang"


cup! dika mengecup bibir istrinya namun vani langsung melepaskan ciuman dari suaminya itu.


"bohong!" vani mendorong tubuh dika.


setelah selesai mengemas kopernya vani pun menelpon kedua adiknya untuk segera bersiap karena mereka akan pulang kampung bersama hari ini.


vani mematikan sambungan telponnya setelah memberi kabar kepada adiknya itu lalu dika pun kembali mendekat.


"sayang aku ikut ya" minta dika.


"jangan mas kamu kan harus kerja, lagian aku bisa di antar sama supir. aku pulang ke kampungnya bareng yuli sama hana juga kok" vani menolak keinginan dika.


"tapi, kamu bakal pulang malam ini kan?"


dika memastikan jika istrinya tidak akan menginap di sana.


"ya enggaklah mas. aku mau nginep beberapa hari disana, kalo mau pulang ngapain juga bawa koper" jawab vani.


dika pun langsung mengambil koper dari dalam lemarinya lalu mengemas pakaiannya juga.


"loh kamu mau ngapain sih mas. kok bawa pakaian juga?"

__ADS_1


vani bingung melihat suaminya yang mengemas pakaian juga.


"iya mau ikutlah. kalo kamu enggak ada di rumah ngapain aku di sini. terus nanti aku makan bareng siapa? tidur juga sama siapa?"


"iya kan ada arin yang jadi temen kamu" vani menyindir suaminya.


"iya kalo cuma makan mungkin bisa bareng dia tapi kalo tidur kan enggak mungkin bareng dia juga sayang"


dika terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"iya mungkin aja sih mas, kalo kamu mau" vani pun kesal dengan ucapannya sendiri.


"iya mau aja sih kalo kamu izinin sayang"


ucapan dika membuat vani semakin kesal mendengar jawabannya.


"hem, mau apa maksud kamu mas?"


vani melotot ke arah suaminya dengan berkacak pinggang.


"hehe mau ikut sama kamu sayang" nyengir dika meralat ucapan sebelumnya.


"alasan aja, lagian siapa yang izinin kamu buat ikut ke kampung aku sih aku kan enggak ngajak kamu mas"


"iya aku kan enggak mungkin tetap disini kalo kamu lagi enggak di rumah sayang"


dika tetap ingin ikut meskipun istrinya tidak mengajaknya.


"kenapa enggak mungkin, di sini kan ada banyak asisten atau kamu juga bisa kan nginap di rumah mas rangga"


vani memberi solusi agar dika tidak ikut dengannya karena jujur sebenarnya ia sedang berusaha ingin menghindar dari suaminya itu.


"aku enggak bakalan bisa tenang disini kalo aku enggak liat kamu sama baby kita walaupun cuma sehari doang sayang" dika pun beralasan agar di izinkan ikut.


"terus kerjaan kamu gimana kalo kamu ikut sama aku selama beberapa hari mas"


dika selesai mengemas pakaian mereka yang akhirnya menjadi satu koper besar dengan pakaian istrinya.


"tapi mas,,,,,"


ucapan vani terputus saat dika melahap bibir mungilnya yang terus saja bertanya itu.


cup!


dengan lembut dika melumvt bibir mungil yang akhir akhir ini selalu marah marah kepadanya itu.


vani pun membalasnya dengan lembut membuat dika semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya hingga hasrat keduanya semakin menuntut.


dika sangat merindukan istri dan anaknya itu mengingat akhir akhir ini vani sering cuek kepadanya dan selalu meninggalkan dirinya untuk tidur lebih dulu karena dika sering pergi ke ruang kerja setelah memastikan arin beristirahat.


vani berpikir dika berada di dalam kamar arin hingga larut malam padahal karena pekerjaan di kantor yang sangat banyak membuat dika harus membawa pekerjaannya sampai ke rumah.


hal itu juga membuat dika harus kembali masuk ke dalam kamarnya setelah larut malam dan mendapati vani sudah terlelap.


dika tidak tega jika harus mengganggu tidur istrinya di malam hari membuat ia akhirnya harus selalu menahan diri dan hasrat kepada istrinya sendiri.


namun pagi ini rindu kepada tubuh istrinya itu tidak dapat dika tahan lagi. ia terus melanjutkan aksinya hingga vani benar benar tidak dapat menolaknya.


sebenarnya vani juga sangat merindukan sentuhan dari suaminya itu namun rasa kesal di hati membuatnya menahan diri dan berusaha menjauh dari suaminya sendiri.


di dalam kamarnya arin merasa dika terlalu lama datang untuk menjemput dirinya seperti biasa.


"ck! mas dika dimana sih kok lama banget ya" gumam arin.

__ADS_1


karena seharusnya dika sudah mengajaknya turun untuk sarapan bersama seperti biasanya. arin pun akhirnya menjalankan kursi rodanya keluar dari dalam kamarnya dan berniat untuk menghampiri dika dan vani di dalam kamar mereka.


arin berpikir jika saat ini dika dan vani mungkin sedang bertengkar karena kejadian kemarin malam jadi ia ingin sedikit melihat bagaimana pertengkaran itu terjadi.


tok! tok! tok!!


arin mengetuk pintu kamar dika berulang kali namun tidak ada jawaban. bukan bertengkar mungkin saat ini dika sedang asik bermain dengan istrinya yang membuat mereka tidak dapat lagi mendengar suara ketukan pintu.


arin pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar dika secara perlahan karena ternyata pintunya tidak terkunci.


ceklek!!


setelah arin membuka sedikit pintu kamar itu, ia pun tertegun saat melihat dika sedang berada di atas tubuh istrinya sambil menikmati ciuman mesra mereka di atas ranjang.


saat itu dika sudah bertelanjang dada dan melepaskan pakaian vani juga.


ia sedang asik bermain di bagian dada istrinya membuat vani tidak dapat menahan suara lenguhannya keluar dengan nikmat, keduanya benar benar menikmati permainan hingga mereka tidak menyadari jika ada orang lain yang sudah membuka pintu kamar mereka.


mendengar suara lenguhan dari bibir vani membuat arin semakin tidak tahan melihat sepasang suami istri yang sedang bercumbu mesra di hadapannya itu.


hatinya terasa sangat perih menyaksikan pria yang dicintainya sedang menikmati tubuh wanita lain.


mungkin itu bukan kesalahan arin yang mencintai seorang pria baik dan tampan seperti dika namun bukan kesalahan dika juga yang sedang bercumbu mesra dengan istrinya sendiri di dalam kamar mereka.


bukankah arin sendiri yang telah membuat hatinya terluka karena ia mencintai suami orang lain dan arin pun sudah tahu jika dika telah menjadi milik wanita lain sejak pertama kali mereka bertemu.


mengapa dirinya harus menaruh harapan kepada pria yang sudah beristri apalagi arin juga tau jika dika sangat mencintai istrinya namun ia tetap nekat melakukannya.


arin bahkan tidak ragu untuk menemui dika di dalam kamar padahal ia tau konsekuensinya akan seperti apa jika dirinya menghampiri kamar dika. mungkin saja ia akan melihat dika sedang bercinta dengan istrinya di dalam sana namun arin tidak pernah berpikir sampai disana.


arin pun akhirnya menutup kembali pintu kamar itu dengan sedikit keras karena merasa kesal. ia sudah menunggu lama namun yang di tunggu ternyata sedang asik bercinta.


brakkk!!


suara pintu kamar tertutup karena arin menariknya terlalu keras.


"mas, kok ada suara pintu siapa ya yang datang apa dia ngeliat kita lagi..."


ucapan vani terhenti karena dika menempelkan jari di bibirnya.


"sstt! udah biarin aja sayang, siapa yang suruh dia ganggu orang kita lanjutin aja ya udah enggak tahan nih"


dika berbisik dengan suara beratnya karena sudah tidak dapat memikirkan hal lain lagi selain menuntaskan hasratnya sekarang yang sudah berada di puncak.


vani pun mengangguk menyetujui permintaan dika karena ia juga merasakan hal yang sama.


tidak perduli dengan suara pintu kamar yang terbuka dika dan vani pun memilih untuk mengabaikannya saja lalu keduanya kembali menikmati sentuhan dan membalas satu sama lain hingga mereka mencapai kepuasan bersama.


arin yang sedang sedih bercampur dengan kesal itu pun akhirnya memutuskan untuk terus menjalankan kursi rodanya menuju lift karena ia akan turun sendirian.


'ck! mas dika jahat banget sih' batinnya mengomel namun ia tidak bisa berbuat apa apa.


setelah keluar dari dalam lift arin terus menjalankan kursi rodanya menuju meja makan karena perasaan sedihnya sudah membuat perutnya yang keroncongan semakin kelaparan.


"permisi nona mari saya bantu"


salah seorang asisten yang menghampiri arin.


"enggak usah saya bisa sendiri"


arin menolak bantuan karena masih dengan mood berantakan.


"baiklah nona saya permisi"

__ADS_1


asisten itu pun pergi dari hadapan arin.


arin terus menjalankan kursi rodanya dengan perasaan sedih hingga tak terasa air matanya menetes namun arin langsung menghapusnya.


__ADS_2