
sore harinya vani sudah tidak sabar ingin segera pergi menuju butik untuk menemui yuli dan mengajaknya beli martabak seperti yang sangat diinginkannya itu namun saat vani hendak pergi tiba tiba saja hujan turun sangat deras mengguyur bumi.
"yahh, kok hujan sih?"
vani menatap ke arah luar melihat hujan yang turun dari balik jendela kaca di dalam kamarnya.
vani menjadi murung dan tidak bersemangat karena keinginannya untuk makan martabak manis tidak bisa terpenuhi hari ini.
"maafin mama ya sayang, kita batal makan martabak manis hari ini"
vani mengajak bayi di dalam perutnya berbicara sambil mengusap usap perutnya.
sebenarnya vani bisa saja meminta asistennya untuk membeli atau membuatkan martabak secara langsung di rumah agar dirinya bisa makan martabak manis itu namun entah mengapa jika tau martabak itu di buat oleh pelayan di rumahnya vani tidak selera untuk memakannya.
vani pun menunggu hujan berhenti namun sepertinya saat ini hujan sedang tidak ingin bersahabat dengannya karena hujan belum juga reda hingga malam hari.
malam harinya dika pulang dalam keadaan basah kuyup namun ia sangat bersemangat melangkahkan kaki menuju kamarnya karena tidak sabar ingin menemui istrinya di dalam kamar mereka.
ceklek!
sesampainya di dalam kamar dika melihat vani yang sedang duduk di atas ranjang sambil mengusap usap perut buncitnya.
"sayang" panggil dika.
"mas dika, kamu kenapa kok hujan hujanan kaya gitu?"
vani bingung melihat suaminya basah kuyup seharusnya di dalam mobil dika pasti aman pikirnya.
"iya tadi aku kena hujan pas ngantri beliin kamu ini sayang. nih buat kamu"
dika menunjukkan sesuatu yang sedang dipegangnya lalu menyerahkan bungkusan plastik itu kepada istrinya.
vani hanya diam menatap bungkusan yang dika tawarkan kepadanya itu tanpa berniat untuk mengambilnya.
"sayang plis terima ya"
dika berlutut di dekat ranjangnya karena vani sedang duduk di sana.
"apa ini mas?"
vani akhirnya menerima bungkusan plastik dari tangan suaminya itu.
karena merasa penasaran vani pun langsung membuka kotak di dalamnya.
"buka aja sayang pasti kamu suka"
dika meletakkan jas kerjanya di atas sofa.
"martabak manis?" gumam vani pelan melihat isi dari kotak di dalam bungkusan yang di bawa oleh suaminya.
"iya sayang kamu suka enggak?"
"aku suka mas, makasih ya"
vani tersenyum namun tidak langsung memakan martabak di tangannya.
"iya sama sama sayang. ayo di makan sekarang dong mumpung masih hangat"
dika tersenyum senang karena vani mau menerima martabak yang dibawanya.
"oh ya kamu tau dari mana kalo aku pengen makan martabak manis?" tanya vani penasaran.
"iya tau dong sayang, apa sih yang aku enggak tau kalo istriku yang cantik ini lagi pengen sesuatu" dika tersenyum merayu.
"hem, oh kayanya ini kepinginan anak kamu deh bukan aku" vani tidak mau termakan rayuan manis suaminya.
"oh ya? ya udah kalo gitu jagoan papa harus makan yang banyak ya sayang, soalnya papa udah beliin martabak keinginan kamu sampe harus ngantri dan kehujanan di pinggir jalan"
dika bercerita sambil mengusap lembut perut istrinya.
cup!
__ADS_1
vani hanya diam sambil tersenyum tipis saat melihat dika mengecup lembut perutnya karena tidak mungkin juga ia melarang dika untuk menyentuh anaknya yang masih berada di dalam perut itu.
meskipun saat ini vani sedang tidak ingin disentuh oleh dika karena masih merasa kecewa dengan suaminya itu namun bagaimana pun juga dika adalah ayah dari bayinya begitu pikirnya.
vani sedikit merasa bersalah karena belakangan ini ia sering menghindar dari suaminya membuat dika jarang berdekatan dengan calon bayinya namun selama ini dika sendiri yang sudah membuat jarak di antara mereka jadi semakin jauh.
"mendingan sekarang kamu mandi dulu mas, kamu udah basah kaya gitu nanti kamu bisa sakit"
vani memberi perhatian kecil kepada suaminya.
"em siap mandi boleh peluk enggak? dingin nih sayang" dika menggoda istrinya.
sebenarnya dika tahu jika vani tidak akan mengizinkannya namun ia sangat merindukan istrinya itu yang sudah sebulan ini selalu menghindar dan bersikap dingin kepadanya.
vani menatap dika dengan serius tanpa berkedip membuat dika terdiam melihat tatapan istrinya yang belakangan ini selalu terlihat menakutkan baginya itu.
akhirnya dika pun beranjak dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
setelah selesai mandi dan ganti pakaian dika kembali duduk di atas sofa untuk menemani istrinya yang sedang menonton drama di televisi kesukaannya sambil memakan martabak manis keinginannya itu.
"aku buatin kamu teh nih mas, diminum ya mumpung masih hangat"
vani berbicara kepada dika namun fokusnya masih berada pada acara tv yang sedang ia tonton.
sebenarnya vani tidak ingin menunjukkan perhatiannya kepada dika namun ia merasa tidak tega melihat pria yang dicintainya itu menggigil kedinginan demi membelikannya sekotak martabak keinginannya
"makasih ya sayang"
dika tersenyum sambil memegang cangkir teh hangat yang berada di atas meja lalu meminumnya.
"emm" vani hanya tetap fokus pada tv di hadapannya saja.
"aw, shh! ah masih kepanasan ini sayang"
dika manyun karena bibirnya terasa gosong saat ia meminum teh buatan istrinya itu.
"ya di tiup dong biar cepat dingin"
vani tetap tidak ingin mengalihkan pandangannya.
dika mengeluh manja sambil tersenyum menatap istrinya. ia pun mendekatkan wajahnya di bagian samping wajah istrinya karena vani hanya fokus menghadap ke depan saja menatap tv.
saat vani menoleh ke samping membuat jarak wajah di antara mereka menjadi sangat dekat hingga keduanya dapat saling merasakan hembusan nafas satu sama lain.
vani terpaku menatap mata suaminya dengan jarak yang sangat dekat. dika pun menatap sorot mata vani begitu lekat lalu beralih menatap bibir mungil istrinya.
sorot matanya penuh kerinduan menunjukkan sebuah hasrat yang sudah lama ia pendam pada istrinya itu.
tak sadar vani justru memejamkan mata saat merasakan hembusan nafas suaminya yang berada tepat di wajahnya.
melihat istrinya memejamkan mata dika pun menganggap jika vani menyetujui keinginannya.
dika semakin mendekat lalu mencium bibir istrinya dengan lembut dan menahan tengkuk vani untuk memperdalam ciumannya.
cup!
vani yang juga merindukan sentuhan dari suaminya itu pun akhirnya menikmati dan membalas ciuman dari suaminya.
cukup lama saling menikmati ciuman hangat di antara mereka dika pun melanjutkan aksinya dengan mengelus tubuh istrinya.
dengan perlahan dika menyandarkan tubuh vani di sofa lalu terus mencium hingga kebawah sampai pada bagian leher dan dada istrinya.
dika meremas lembut benda kenyal itu serta bermain lidah di sana membuat vani melenguh nikmat.
"sshh!! emhh!"
melihat vani sudah terbuai dengan sentuhan darinya dika pun langsung menggendong tubuh istrinya menuju ranjang dan merebahkannya secara perlahan di sana kemudian ia kembali melahap bibir mungil itu dan beralih melahap dua benda kenyal milik istrinya.
tubuh vani bergetar ketika merasakan sentuhan itu karena tidak tahan dengan perbuatan dika namun bayangan saat arin bersama dengan suaminya kembali terlintas dalam benak vani membuatnya ragu untuk menikmati sentuhan dari suaminya yang mungkin juga dika lakukan saat sedang bersama dengan arin begitu pikirnya.
"stop mas"
__ADS_1
vani menahan tubuh suaminya dengan nafas yang terengah agar dika menghentikan aksinya.
"plisss sayang"
dengan sorot mata memohon di menatap istrinya. keadaan ini sangat menggantung bagi dika karena hasratnya sudah terlanjur memuncak namun vani malah menghentikannya.
"tapi aku enggak bisa mas"
vani langsung beranjak duduk di atas ranjangnya.
"tapi kenapa, kamu itu istriku vani. ini udah jadi kewajiban kamu kan sayang?" dika merasa sedikit frustasi.
"iya tapi kamu juga ngelakuin ini sama arin kan?"
vani kembali meneteskan air mata mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
"sayang, aku enggak pernah ngelakuin ini sama siapapun kecuali sama kamu. tolong kamu percaya sama aku ya, plisss!"
dika mencoba untuk meyakinkan istrinya dengan perasaan yang tidak menentu bercampur sedikit kesal karena vani tidak bisa mempercayai dirinya lagi.
"tapi mas. aku enggak bisa, aku enggak bisa!!"
vani menunduk sambil menutup mata dan kedua telinga.
vani juga merasa sangat tertekan dengan keadaan saat ini.
andaikan saja vani tidak pernah melihat video itu mungkin ia tidak akan pernah menolak untuk berhubungan dengan suaminya.
"sayang kamu pasti bisa, lupain tentang video itu ya. kamu harus percaya sama aku kalo aku enggak pernah khianatin kamu, video itu cuma rekayasa orang lain buat pisahin kita"
dika terus meyakinkan vani dengan memegang kedua pundak istrinya.
"tapi sampe sekarang kamu enggak punya bukti kalo itu bukan perbuatan kamu kan mas?" vani tetap tak percaya.
"apa bukti itu penting buat kamu sayang? apa rasa cinta aku ke kamu selama ini enggak cukup buat kamu percaya kalo aku cinta banget sama kamu. aku udah punya kamu jadi aku enggak butuh wanita lain lagi di dalam hidup ku sayang"
dika memegang kedua sisi wajah istrinya karena vani terus saja menunduk tidak mau menatapnya.
"tapi mas ray bilang video itu bukan rekayasa video itu asli. kamu yang ada di dalam kamar hotel sama arin iya kan?"
"iya itu emang aku, video itu memang asli bukan rekayasa sayang tapi aku juga enggak tau kenapa tiba tiba aku udah ada di sana. aku pingsan terus waktu aku sadar aku juga kaget kenapa ada arin di samping aku"
dika menceritakan apa yang ia alami kepada istrinya.
"kapan kejadian itu mas?"
"kamu ingatkan waktu aku pulang larut malam?"
"oh, waktu itu aku telpon kamu sampe berkali kali tapi kamu enggak angkat telpon dari aku terus tiba tiba aja nomor kamu enggak aktif lagi, apa kamu emang sengaja matiin handphone kamu biar aku enggak ganggu kamu lagi sama arin?"
"ck! sayang tolong percaya sama aku"
"bagian mananya yang ahrus aku percayai mas?"
"terserah kamu aja deh kalo kamu enggak percaya lagi sama aku"
dika pergi keluar dari dalam kamarnya menuju ruang kerjanya untuk menenagkan diri dan pikirannya.
hiks! hiks! vani kembali menangis setelah kepergian dika dari dalam kamar mereka.
cukup lama vani merenung hingga ia kembali teringat pada kejadian saat dika kecelakaan yang membuat suaminya itu dinyatakan meninggal dunia beberapa bulan lalu. betapa hancurnya perasaan vani pada saat itu.
vani pun mengusap air matanya berniat untuk meminta maaf dan ingin melupakan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
vani merasa sakit yang saat ini ia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit dulu saat harus kehilangan suaminya.
setidaknya saat ini vani masih bisa menatap dan suaminya meskipun mereka saling berjauhan.
"iya aku harus lupain video itu, mungkin bener mas dika enggak bersalah"
vani menunggu hingga dika kembali ke dalam kamarnya namun suaminya belum juga kembali sampai ia sudah tertidur di atas ranjang.
__ADS_1
akhirnya dika kembali masuk ke dalam kamarnya setelah selesai menenangkan diri di dalam ruang kerjanya.
saat ini dika merasa tidak enak badan dan kepalanya terasa sangat pusing ia berpikir mungkin ini hanya efek karena dirinya sedang mengantuk akhirnya dika pun berbaring di atas sofa untuk segera tidur dan beristirahat.