
malam ini dika pulang dari kantor dengan wajah yang terlihat lesu dan pucat sepertinya ia merasa sangat kelelahan bekerja bahkan hingga terlambat makan.
belakangan ini setiap hari dika selalu melakukan lembur hingga malam hari agar dapat menyelesaikan semua pekerjaannya dengan lebih cepat dan bisa menuruti keinginan istrinya untuk pulang ke kampung halaman.
"mas kamu kenapa muka kamu pucat banget, badan kamu juga panas kamu sakit ya mas?" vani merasa khawatir dengan keadaan suaminya.
"aku enggak papa kok sayang cuma kecapekan aja"
dika langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai mandi.
"mas, kamu harus makan dulu ya aku ambilin sebentar terus kamu juga harus minum obat"
vani beranjak hendak mengambil makanan dan obat untuk suaminya lalu kembali dengan membawa makanan dan obat di tangannya.
"kamu makan dulu ya" vani menyuapi suaminya makan dengan sup hangat yang sudah ia masak sebelumnya.
dika dengan perlahan memakan setiap suapan itu namun ia tidak sanggup untuk menghabiskannya.
"udah sayang aku mual" dika tidak mau menghabiskan makanannya.
"hoekk!!! hoekk!!" dika berlari ke dalam kamar mandinya.
"mas kita ke dokter aja ya aku khawatir banget sama kamu" vani mengusap lembut punggung suaminya.
"enggak usah sayang aku enggak papa kok, ini palingan juga karena ngidam kaya biasa"
dika sudah mulai terbiasa mengalami mual selama beberapa bulan belakangan ini karena mengidam.
"tapi mas kandungan aku kan udah empat bulan sekarang kok kamu masih mual terus ya?"
"enggak tau sayang mungkin karena aku kecapekan kali tapi aku enggak papa kok cuma butuh istirahat aja"
dika berjalan hendak kembali ke ranjang.
"ya udah kamu istirahat ya sayang"
vani membantu suaminya untuk kembali merebahkan diri di atas ranjang.
"sayang maaf ya aku buat kamu khawatir" dika mengelus lembut lengan istrinya.
"mas, aku yang minta maaf karena udah maksain kamu buat ambil cuti secepatnya. aku tau kamu pasti lembur terus kerja ekstra beberapa hari ini biar kerjaan kamu cepat selesaikan? maafin aku ya mas" vani merasa bersalah.
"sssttt!!! kamu jangan ngomong kaya gitu sayang, kamu enggak salah kok. oh iya dimana jagoan papa kok enggak keliatan tidur disini bareng kita sih" tanya dika yang tidak melihat putranya seperti sebelumnya.
"affa mau tidur di kamarnya bareng luna mas, dia bilang kalo dia udah gede jadi harus mandiri"
"hem, mau mandiri tapi masih minta di temenin?" dika tersenyum tipis.
"hhh! iya kan affa anak kamu mas. sebenarnya takut tapi gengsinya tinggi" vani menggelengkan kepalanya.
"em, masa sih. bukannya kamu ya yang gengsinya tinggi?" dika menatap istrinya.
"ih, enak aja enggak tuh"
"em, sayang aku capek banget nih mau tidur sekarang ya?" dika pun memejamkan matanya.
"iya mas selamat tidur suamiku" cup!! vani mengecup kening suaminya.
hari ini dika mengajak istri dan anaknya untuk pulang ke kampung halaman sesuai permintaan vani beberapa hari yang lalu.
sesampainya di kampung halaman vani sudah tidak sabar bertemu dengan bayi mungil adiknya. ia langsung berjalan menuju rumah bibinya hendak melihat yuli dan bayinya.
"assalamualaikum"
vani dan dika masuk bersamaan di sambut hangat oleh keluarga yang sedang berkumpul.
"walaikumsalam"
"wah, udah rame aja ya" vani mendekat pada bibi dan kakaknya serta sepupu yang lain.
"kamu udah liat bayinya belum van?" tanya kakak iparnya.
"belum kak, ini mau liat kami juga baru sampe" jawab vani
"gimana keadaan kamu vani kalian sehat kan?" tanya kak aida dan bibi secara bergantian.
"alhamdullilah kak, bik kami sehat" vani tersenyum.
"affa kita main yuk" ajak dira.
__ADS_1
"ayo" raffa pun pergi bermain dengan sepupunya yang lain.
"baby nya ada di dalam kamar tuh" tunjuk kak aida.
"ya udah aku masuk dulu ya kak"
"em" kak aida mengangguk.
"ayo mas" vani beranjak sambil mengajak dika masuk ke dalam kamar baby dan yuli.
"iya sayang"
ceklekk!!!
vani membuka pintu secara perlahan lalu masuk ke dalam bersama dengan suaminya.
"hai!" vani dan dika berjalan masuk.
"eh, bude udah datang"
yuli dan ray yang juga berada di dalam kamar itu bersama bayi mereka pun menyambut kedatangan dika dan vani dengan senang.
"dika eh bos. hehe" ray nyegir bertemu dengan sahabatnya.
"hai ray, enak ya libur" ujar dika pada sekretarisnya itu.
"iya lumayan lah bos biasanya kan lo mulu yang libur" ray tersenyum mengejek.
"ck! masa sih" dika pura pura lupa ingatan.
"hai baby boy uh! sayang kamu ganteng banget deh" cup!
vani mengecup wajah bayi mungil yang ada di dalam pelukannya itu.
"masa sih ganteng? berarti enggak mirip ray dong" dika mendekat pada istrinya yang sedang menggendong bayi mungil itu.
"liat deh mas mukanya mirip siapa ya?" vani menatap wajah bayi dari adiknya itu.
"ya mirip ray lah sayang masa iya mirip aku sih hehe" dika selalu bercanda.
"ih mas dika! maksud aku mukanya tuh lebih banyak mirip ibunya tau" vani meralat ucapannya.
"masa sih? oh iya kamu bener sayang mirip banget sama mamanya untung aja enggak mirip sama ray" canda dika.
"semoga aja nanti kamu enggak galak kaya mama kamu ya baby boy" dika tersenyum menatap bayi mungil itu.
"eh bang dika udah lama banget ya kita enggak berantem sekalinya ketemu langsung deh cari keributan. emang abang tuh enggak bisa ya sekali aja enggak cari masalah sama aku?"
yuli mendengar ucapan dika yang mengatakan jika dirinya sangat cerewet.
"hhh! kayanya enggak bisa deh yul. soalnya kalo liat muka kamu tuh bawaannya pengen ribut terus" dika tertawa.
"emangnya muka aku ini keliatan kaya muka pembawa keributan apa?" yuli tidak terima.
"ya kayanya iya sih" dika masih menggoda adik iparnya agar kesal.
"kamu tuh ya mas ada ada aja deh, udah jangan ribut mulu dong" vani menggelengkan kepalanya.
"mama"
raffa masuk ke dalam kamar baby untuk mencari keberadaan vani dan dika.
"affa sini deh sayang liat adek bayinya lucu ya"
vani mendekatkan wajah bayi mungil itu dengan putranya.
"iya ma lucu, mama adeknya laki laki ya?" tanya raffa.
"iya sayang, bisa jadi temen main bola bareng affa nanti kalo udah gede"
dika membungkukkan badannya agar sama dengan tinggi tubuh raffa.
"oh ya sayang, bibi denger katanya afa juga mau punya adek ya?" tanya yuli pada keponakannya itu.
"iya bi tapi adek affa belum lahir jadi affa harus nunggu lama deh" ucapnya dengan wajah lesu.
"enggak lama kok sayang" vani mengacak rambut putranya.
"emangnya affa mau punya adek perempuan atau adek laki laki nih?" tanya yuli.
__ADS_1
"afa bingung bik, mau cowok atau cewek juga enggak papa kok yang penting affa punya adek"
raffa tersenyum polos membuat mereka yang berada di sana tertawa mendengarnya.
"haha! ya ampun sayang pasrah banget sih jawaban kamu" vani tak habis pikir dengan jawaban putranya.
"em iya belajar dari mana sih sayang?"
hana yang rindu dengan keponakan kesayangannya itu pun datang lalu mengecup pipi gembul raffa.
"dari papa dong bik siapa lagi" ujar raffa jujur.
"hahaha" mereka kembali tertawa mendengarnya.
"eh nih bocah kok jadi papa lagi sih yang kena" dika pun tertawa sambil menggelengkan kepala.
"emang bener sih bang dika jadi enggak usah pura pura gitu deh" yuli setuju dengan ucapan raffa
"ck! hahhh!!!" pasrah dika akhirnya.
"oh iya yul, kamu lahirannya normal atau caesar kemarin?" tanya vani.
"em normal kak, soalnya emang udah di tungguin jadi begitu kontraksi aku langsung di bawa ke rumah sakit" yuli tersenyum.
"oh syukurlah"
vani mengucap syukur sambil tersenyum ia juga berharap persalinan keduanya nanti bisa di lakukan secara normal.
"oh ya, apa kalian udah nyiapin nama buat baby boy ini?"
"em, udah kok vani namanya arkhan pratama" ray pun menyebut nama putra pertamanya.
"arkhan pratama. wah! namanya bagus mas ray apa artinya?"
"kemuliaan yang pertama"
"amin! bagus banget sayang nama kamu. semoga kelak kamu selalu jadi anak yang memuliakan orang tua kamu ya nak" vani mengecup pipi bayi mungil dalam pelukannya.
"amin"
mereka serentak mengaminkan saat mendengar doa baik yang vani ucapkan kepada bayi mungil itu.
meskipun baru lahir namun bayi itu memiliki panjang tubuh yang melebihi dari panjang tubuh bayi baru lahir pada umumnya. mungkin karena kedua orang tuanya memiliki tubuh yang tinggi maka anaknya pun pasti akan memiliki tinggi badan yang menjanjikan.
vani dan dika akhirnya kembali beristirahat setelah hampir larut malam.
jangan tanyakan dimana keberadaan raffa saat ini yang pasti ia sedang tidur bersama sepupunya di dalam kamar yang lain maka vani dan dika hanya berdua saja di dalam kamar mereka.
menjelang istirahat dika dan vani merebahkan tubuh di atas ranjang.
secara perlahan dika memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk namun tiba tiba saja suara istrinya kembali membuatnya membuka mata.
"mas, kamu setuju kan kalo nanti anak kita ini lahirnya secara normal?"
"setuju dong sayang kenapa enggak, apapun yang kamu mau aku enggak masalah kok yang penting kalian berdua sehat kenapa kamu nanya kaya gitu?" dika bingung.
"em, enggak papa mas aku cuma pengen tau jawaban dari kamu aja hehe" nyengir vani.
"kamu nih pertanyaannya ada ada aja deh sayang" dika kembali memejamkan matanya.
vani pun memejamkan matanya sambil memeluk tubuh suaminya dari samping. dika membalasnya dengan memeluk istrinya juga serta mengecup kening vani.
saat sudah memejamkan mata dika kembali terusik dengan sentuhan lembut di bagain dadanya yang di lakukan oleh istrinya itu.
"sayang, kamu lagi pengen ya?"
goda dika karena saat ini vani sedang tidur namun tangannya asik bermain di dada bidang suaminya.
vani memasukkan tangannya ke dalam piyama yang sedang dika pakai lalu memainkan jarinya di dalam sana.
hal itu membuat dika melenguh kecil karena sentuhan lembut dari tangan istrinya itu bersentuhan langsung dengan dadanya.
"emhh!!! sayang"
dika mencoba menahan lenguhan serta hasratnya yang mulai sulit untuk ia kendalikan akibat ulah dari tangan nakal istrinya di dadanya itu.
sudah lama rasanya dika memendam hasratnya itu agar tidak menyakiti istri dan calon bayinya yang kondisinya sedang lemah namun malam ini vani memulainya lebih dulu dan membangkitkan hasratnya hingga benar benar menginginkan hal lebih.
meskipun usia kandungan istrinya belum genap enam belas minggu seperti yang sudah dokter sarankan sebelumnya namun mendapat sentuhan dari tangan istrinya membuat dika tidak dapat menahan dirinya lagi.
__ADS_1
lagi pula saat ini mereka berdua sudah sama sama menginginkan hal itu begitu pikirnya.
perlahan tangan vani bergerak membuka kancing piyama suaminya itu. rupanya vani juga sudah tidak sabar dan sangat merindukan tubuh suaminya sehingga ia yang memulainya.