
tidak terasa waktu berlalu, hari ini adalah acara syukuran vani dan dika. acara itu pun berlangsung dengan sangat meriah karena semua kerabat dan rekan turut bahagia atas dua kabar baik yang mereka dengar dari keluarga wijaya.
ruang tamu yang luas itu sudah di sulap menjadi ruangan yang sangat indah dengan hiasan bernuansa white and pink yang merupakan dua warna kesukaan vani dan dika.
dalam acara itu mengundang seluruh keluarga besar dan rekan bisnis wijaya untuk menunjukkan rasa syukur atas kehadiran calon cucu kedua dan juga keselamatan dika pasca kecelakaan.
keluarga vani dari kampung halamannya pun turut hadir di sana memberi ucapan selamat pada adiknya.
"vani selamat ya atas kehamilan kamu dek terus selamat juga atas kepulangan dika. sekarang kamu enggak sedih lagi kan" kak aida memeluk adik bungsunya.
"iya makasih ya kakak ku sayang. aku enggak sedih lagi kok kak Alhamdulillah aku udah bahagia banget sekarang" vani pun membalas pelukan dari kakaknya.
"selamat ya vani"
begitu juga dengan keluarga lainnya secara bergantian mengucapkan selamat atas kehamilan vani.
"iya makasih"
doa terbaik dari keluarga dan semua yang hadir dalam acara itu pun di panjatkan untuk calon bayi dika dan sekeluarga.
malam semakin larut para kerabat yang berdatangan juga semakin ramai membuat vani merasa lelah meskipun ia hanya duduk dan berdiri menyambut para tamu.
"aduh mas aku capek banget deh"
keluh vani yang tubuhnya sudah terasa berkeringat dingin dengan wajah pucat.
"ya udah sayang kalo gitu kamu istirahat ya. biar nanti aku aja yang nyambut tamu ayo aku anterin kamu ke kamar"
dika mengajak vani untuk kembali ke kamar mereka dengan menggunakan lift karena vani sudah kelelahan.
"em iya"
vani mengangguk setuju karena ia benar benar sudah merasa kelelahan.
"pelan pelan sayang"
dika berjalan sambil merangkul pinggang istrinya agar vani bisa berjalan dengan baik.
"sshh!! kok aku pusing ya mas" ringis vani.
"pasti kamu kecapekan banget ya"
dika pun khawatir melihat wajah pucat istrinya.
sesampainya di dalam kamar dika langsung meminta vani untuk beristirahat.
"sayang kamu istirahat aja ya di sini" cup!
dika merebahkan tubuh vani di atas ranjang lalu mengecup kening istrinya.
"iya mas"
vani mengangguk lalu memejamkan matanya.
"ya udah aku keluar dulu ya sayang"
"em"
saat dika hendak melangkah keluar dari dalam kamarnya tiba tiba saja vani kembali memanggilnya.
"mas dika,,, aduh. mas tolong perut aku sakit banget"
vani meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"sayang"
dika yang mendengarnya pun langsung menghentikan langkah dan berbalik badan mendekati istrinya yang sedang kesakitan itu.
"akh!! sshh, aduh sakit!"
"sayang kamu kenapa. apanya yang sakit?"
dika panik melihat vani terus meringis kesakitan.
"aw! aku enggak tau mas, perut aku sakit banget kaya di remas dari dalam aku takut anak kita kenapa napa mas"
vani menahan rasa sakitnya sambil menggenggam lengan suaminya.
"kamu tahan ya sayang. kita ke rumah sakit sekarang"
"iya cepetan mas" tubuh vani melemah.
merasa sangat khawatir dika pun langsung menggendong tubuh istrinya keluar dari dalam kamar menuju lift di sana.
turun dari lift dika langsung berjalan keluar rumah tanpa memberitahukan kepada yang lainnya.
ray yang melihat dika sedang terburu buru membawa vani menuju pintu keluar pun langsung mengejar mereka.
"dika?"
"dika lo mau kemana?"
ray menyeimbangi langkah kaki dika yang cepat hendak menuju mobil.
"cepat, ke rumah sakit"
perintah dika yang terus berjalan membawa vani menuju mobil.
__ADS_1
"eee,, oke"
ray dengan sigap langsung membuka pintu mobil agar dika dan vani masuk ke dalamnya.
"aw,, sakit mas"
vani terus merasa kesakitan hingga membuat dika semakin panik dan khawatir.
"sabar ya sayang"
ray pun langsung melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
"vani kenapa dik?" tanya ray di waktu yang tidak tepat.
"lo enggak liat vani kesakitan banyak nanya lo" kesal dika
"em maaf" ray pun hanya fokus pada laju mobilnya saja.
"tahan ya sayang"
"aduh mas. sakit banget"
ray tidak tega mendengar rintihan vani yang merasa kesakitan itu.
setelah sampai di rumah sakit dokter langsung memeriksa keadaan vani dan kandungannya.
dengan perasaan cemas gelisah dika menunggu dokter keluar dari dalam ruangan istrinya sambil terus mondar mandir di depan kursi tunggu itu.
sedangkan ray langsung menelpon rangga untuk mengabari yang lainnya tentang keadaan vani.
setelah mendapat kabar yang tidak diinginkan dari ray bahwa vani sudah masuk rumah sakit. rangga langsung membubarkan acara di rumahnya meskipun sebenarnya acara itu sudah hampir selesai namun tamu yang masih berada di sana bertanya tanya mengapa acara itu di bubarkan.
tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, rangga pun hanya menjawab jika acara memang sudah selesai.
setelah semua tamu undangan dan para kerabat pulang ke rumah masing masing keluarga wijaya segera bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan vani.
tidak butuh waktu lama rangga dan keluarganya sudah sampai di depan ruangan vani namun dokter belum juga keluar membuat dika semakin khawatir.
"dika, kenapa vani nak?"
mama ratih melihat putranya sangat cemas.
"dika enggak tau ma tapi dika khawatir banget sama vani dan calon bayi dika ma" dika pun memeluk mamanya.
"kamu tenang ya sayang kita doain aja mudah mudahan vani sama calon baby kamu baik baik aja" mama ratih menenangkan putranya.
"amin" jawab yang lainnya.
dika langsung bertanya setelah dokter keluar dari dalam ruangan vani
"istri bapak mengalami keracunan makanan bersyukur bapak membawanya tepat waktu ke rumah sakit sehingga kami masih bisa menetralisir racun yang masuk"
penjelasan dokter membuat semua keluarga kaget.
"apa! keracunan makanan dok?"
"iya pak"
"ya ampun kok bisa?"
mama ratih dan ranty merasa kaget tak percaya.
"dokter yakin adek ipar saya mengalami keracunan makanan atau dia cuma kecapekan dok?"
rangga juga tak percaya mengapa ini bisa terjadi.
"saya tidak mungkin salah periksa pak kalo memang tidak keracunan untuk apa saya mengatakannya?" jawab dokter
"em, maaf dok saya hanya bingung kenapa itu bisa terjadi"
rangga merasa tidak enak karena sudah meragukan pemeriksaan dokter.
'vani keracunan tapi gimana mungkin?' batin ray bertanya
"tidak apa apa pak saya mengerti" dokter mengangguk
"kalo gitu saya bisa lihat kondisi istri saya sekarang dok?"
"tentu saja pak mati saya permisi" dokter melangkah pergi.
"terima kasih"
dika memasuki ruangan istrinya diikuti oleh beberapa keluarga lainnya.
sesampainya di dalam ruangan dika menatap sendu tubuh istrinya yang terbaring lemah di atas bankar.
dika mendekati bankar vani lalu mengecup kening istrinya dengan lembut dan penuh sayang.
cup! kecup dika lembut lalu berbisik.
"sayang kamu kuat ya" bisik dika di dekat telinga vani sambil mengusap lembut perut istrinya.
"vani! ya ampun"
menyusul ranty dan kak aida juga langsung mendekati bankar lalu mengelus lembut rambut adiknya itu.
"kenapa bisa jadi kaya gini sih sayang?"
__ADS_1
mama ratih pun mendekati menantunya.
semua orang disana merasa sangat bingung mengapa vani bisa sampai keracunan makanan.
sudah cukup lama mereka menunggu namun vani belum juga sadarkan diri sampai sekarang.
"lebih baik sekarang mama sama papa pulang duluan aja ya biar bisa istirahat nanti kami yang akan jagain vani disini" ujar rangga
"tapi mama mau disini sampe vani sadar"
mama ratih menolak untuk pulang.
"tapi ma, ingat kondisi mama sama papa juga lagi kurang sehat besok mama bisa datang lagi buat liat keadaan vani"
"iya ma, lagian dokter juga bilang kalo sekarang kondisi vani sama calon cucu mama udah baik baik aja vani lagi istirahat sekarang ma" dika pun membujuk mamanya.
"em, ya udah tapi kalo ada sesuatu kabari mama ya"
"pasti ma"
dika dan rangga mengangguk secara serentak.
"sayang kamu juga pulang aja ya sama mama kasian rara aku bakal nemenin dika di sini kasian dia lagi khawatir banget sekarang" ujar rangga kepada istrinya.
"iya mas aku pulang ya kalo ada sesuatu tolong kabarin"
"iya sayang" rangga tersenyum.
dika menghampiri yuli dan keluarga vani yang juga ikut khawatir di sana.
"yuli malam ini kamu ajak kak aida sama yang lain pulang ke rumah kamu dulu ya mendingan pulang ke kampung besok aja lagian ini udah larut malam" ujar dika.
"iya bang tolong jagain kak vani ya" yuli pun setuju.
"pasti yul" dika mengangguk.
setelah yang lainnya pulang hanya tersisa rangga dan dika bersama ray yang ikut menemani menjaga vani.
ketiganya duduk di atas sofa ruangan itu sambil menunggu kesadaran vani.
"em, menurut kalian kenapa vani bisa sampe keracunan makanan?" tanya rangga pada dika dan ray.
"kayanya enggak mungkin deh kalo bahan makanan kita bermasalah soalnya cuma vani sendiri yang keracunan sedangkan yang lainnya baik baik aja"
ray mengutarakan pendapatnya.
"terus apa mungkin ini unsur kesengajaan?" tanya rangga
"tapi siapa pelakunya kalo ini emang disengaja motifnya apa?" dika merasa bingung.
"ray! selidiki secepatnya!" perintah rangga tanpa menatap
"saya bos?" ray menunjuk wajahnya.
"apa menurut lo, diantara kami ini ada yang bernama ray?"
rangga menatap tajam kearah ray
"hem baiklah bos kalo gitu saya permisi dulu"
ray pun berdiri hendak melangkah keluar
"heh, siapa yang menyuruh lo pergi?"
ucapan rangga membuat ray menghentikan langkahnya.
"bukannya tadi bos yang minta saya buat selidiki masalah ini secepatnya?"
"ya tapi lo bisa nyuruh anak buah lo yang lain kan?"
rangga mengalihkan pandangannya dari ray.
"oke, kayanya lo benaran sayang sama gue bos"
ray kembali duduk sambil tersenyum.
"bukan gitu cuma lo harus tetap jaga disini enggak boleh tidur sampe pagi" rangga berbaring di sofa panjang.
"maksudnya saya yang jaga biar bos bisa tidur gitu?"
"ya iya lah. emang bosnya siapa!"
"hem, oke pak rangga yang terhormat" ray tersenyum tipis.
"hem" rangga memejamkan matanya hendak segera tidur.
dika pun beranjak dari duduknya hanya mengabaikan dua pria di hadapannya itu lalu melangkah menuju kursi di samping bankar vani untuk menjaganya dari dekat.
ray hanya diam pasrah menerimanya karena ia tau jika rangga hanya bercanda seperti biasanya.
setelah duduk dika mengusap lembut rambut vani lalu mengecup punggung tangan istrinya kemudian dika pun beralih menatap perut buncit vani lalu mengecup perut buncitnya juga.
"papa disini sayang, papa bakal jagain kamu sama mama terus" bisik dika pelan di dekat perut istrinya itu.
dika terus berada di sana hingga terlelap dengan posisi yang masih sama di samping istrinya.
sedangkan ray dan rangga sudah berbaring di kedua sofa panjang di dalam ruangan itu untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1