
keesokan harinya setelah dika pergi ke kantor vani berniat mengajak raffa pergi ke butik karena sudah lama mereka tidak berkunjung ke sana.
sesampainya di butik vani langsung menuju ruangannya.
"ma, kita liat ke luar yuk"
raffa yang merasa bosan pun mengajak mamanya untuk melihat lihat para pengunjung yang sedang memilih dan membeli pakaian di sana.
mereka berjalan hendak menghampiri hana yang sedang sibuk melayani para pengunjung yang datang.
"kak vani! afa kapan sampenya kok aku enggak lihat tadi?" hana baru melihat ternyata vani berada di sana.
"iya emang baru sampe kok han tadi nunggu afa pulang sekolah dulu. oh ya gimana semuanya amankan?"
"aman banget kak. kakak tenang aja, tinggal siapin proses pembukaan cabang baru di kota lain aja"
"hem, bagus deh kalo gitu, oh ya hana kakak mau lihat semua catatan bulan ini ya?"
"oke kak, entar aku antar ke ruangan kakak ya"
"oke deh, makasih ya han kakak mau ke sana dulu ya"
"iya kak" hana kembali fokus pada para pengunjung.
vani melangkah hendak melihat lihat pakaian yang ada di sana.
"ma, liat deh ada om om beli baju cewek" ujar raffa menunjuk ke arah pengunjung.
"mungkin om itu pengen beliin baju buat mamanya atau istrinya sayang"
"affa juga pengen beliin baju buat mama"
"oh ya?"
"iya ma, tapi nanti kalo affa udah gede terus bisa kerja"
"iya sayang mama tunggu ya janji affa"
"oke ma"
"em, pinter banget sih anak mama" emuach!!
di kantor ray sedang kebingungan karena sikap bosnya yang aneh.
Setelah selesai meeting pagi ini dika langsung meminta ray untuk membelikannya sesuatu yang dapat menyegarkan tenggorokan.
sebuah minuman yang manis dan segar namun dika tidak menyebutkan nama dari minuman yang diinginkannya itu.
ray pun langsung pergi ke super market untuk membeli beberapa minuman botol.
"bos ini minumannya"
ray meletakkan beberapa minuman botol dengan berbagai rasa di hadapan dika.
dika meminum satu persatu minuman yang ada di hadapannya itu namun ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"bukan yang ini ray, cari yang lain" perintah dika.
"baik bos" ray pun pasrah.
lima belas menit kemudian ray kembali membawa beberapa minuman kaleng yang dingin dan segar namun dika tetap tidak mendapatkan rasa yang diinginkannya.
"bukan ini juga ray, cari yang lain" ujar dika sama seperti sebelumnya.
"baik bos" ray kembali melangkah dengan langkah gontai.
lima belas menit kemudian ray kembali membawa banyak cup jus segar dengan berbagai rasa yang manis juga.
__ADS_1
"masih enggak ada yang gue mau di sini" ujar dika setelah mencobanya juga
"tapi bos saya udah beli semua jenis minuman manis kaya yang bos inginkan" ray pun mulai lelah.
"pergi ray pokoknya jangan pernah balik sebelum lo bawa minuman yang gue mau" dika tidak mau tau.
"huhh!!! baik bos" ray melangkah pergi untuk mencari sesuatu yang tidak pasti itu.
ray sudah lelah mencari minuman misterius yang dika inginkan sejak tadi namun tetap tidak menemukannya.
akhirnya ray memutuskan untuk berhenti mencari permintaan aneh dari bosnya itu. ia berusaha untuk memikirkan sesuatu dengan otak geniusnya.
"minuman yang manis dan segar? hah!!!! otak genius ku bahkan enggak bisa memikirkannya lagi setelah semua minuman segar dan manis sudah ku beli tapi tidak sesuai dengan keinginannya" ray berbicara kesal sendirian.
tidak berselang lama dika kembali menelpon ray. dengan malas ray pun mau tak mau harus menjawab teleponnya.
"halo bos" ray menjawab telponnya.
"halo ray, lo dimana kok enggak balik balik dari tadi?" dika audah menunggu lebih dari tiga puluh menit.
"gue lagi nyari minuman misterius yang lo mau bos tapi enggak nemu dari tadi. emang lo mau minuman apa sih. gue bingung." ray akhirnya mengungkap isi hatinya yang merasa kesal.
"gue juga bingung karena enggak tau apa namanya, ya udah sekarang lo balik aja deh jangan lupa bawain gue makanan yang pedes ya"
"hah!!! makanan pedas, makanan apa bos?"
ray bertanya apa nama makanan yang diinginkan oleh bosnya itu namun dika sudah mematikan sambungan telponnya.
"hah!!!! tadi minta minuman yang manis, sekarang minta makanan pedas mana enggak ngasih tahu apa nama makanannya lagi huh!!! nyusahin aja deh lo bos"
gerutu ray dari kejauhan mengumpat bosnya yang sesuka hatinya memerintahnya itu.
ray bergegas menuju restoran untuk mencari makanan pedas yang dika inginkan namun ternyata sangat banyak makanan pedas disana. karena bingung harus membeli yang mana akhirnya ray pun memutuskan untuk membeli semua makanan pedas yang ada di sana.
"hah!!! gue beli aja semuanya biar sekalian bangkrut deh lo bos kan gue enggak perlu jadi sekretaris lo lagi" ujar ray sangkin kesalnya.
ray kembali ke kantor dengan membawa banyak makanan di bantu oleh beberapa orang ajudannya.
sesampainya di kantor ray langsung menuju ruangan dika bersama dua ajudannya yang menenteng semua makanan pedas di kedua tangan mereka.
dika yang melihat kedatangan ray pun melotot ke arahnya karena melihat banyak kotak dan kantong makanan yang mereka bawa.
"bos"
"heh!! lo gila ya ray makanan sebanyak ini buat apa?" ujar dika tak habis pikir.
"ini makanan pedas misterius yang bos minta, kan saya enggak tau harus beli yang mana karena bos enggak bilang nama makanannya apa. ya dari pada saya harus bolak balik kaya tadi lebih baik saya beli semuanya aja" ray meletakkan semua makanan di hadapan dika.
"iya tapi enggak sebanyak ini juga lah ray" dika menatap bungkusan di hadapannya.
"ini semua adalah makanan pedas yang ada di restoran terbesar dan termahal di kota ini bos jadi pasti higienis dan rasanya terjamin silahkan bos habiskan semuanya. oh iya satu lagi bos tagihan semua makanan ini udah masuk ke handphone bos bisa liat sendiri kalo gitu saya permisi"
ray langsung keluar dari dalam ruangan tanpa menunggu jawaban dari bosnya itu.
"heh ray!!! wah! lo gila ya nyuruh gue ngabisin semua makanan sebanyak ini, bisa bisa perut gue meledak. ini sih cukup buat makan satu kampung lo ray" teriak dika namun ray mengabaikannya.
dika bingung melihat banyaknya makanan yang terletak di meja hingga di atas sofa juga.
melihat banyaknya makanan itu saja sudah membuat perut dika mual dan bahkan tidak ingin untuk mencobanya.
"hoek..!!! hoek...!!!"
dika berlari masuk ke dalam kamar mandi karena banyak sekali bau makanan menyengat di dalam ruangannya membuatnya ingin muntah.
setelah dika keluar dari dalam kamar mandi ia pun langsung keluar dari dalam ruangannya hendak memarahi sekretarisnya itu.
"ray, tanggung jawab lo ini semua karena perbuatan lo tau enggak. hoekk....!!!!"
__ADS_1
dika masih merasa mual saat berada di hadapan ray.
"lo kenapa sih, udah kaya anak gadis yang lagi minta pertanggung jawaban aja sama gue. gue harus tanggung jawab apa maksudnya?"
"iya karena lo naruh banyak makanan di dalam ruangan gue jadi bau banget tau gak! gue enggak mau tau ya ray, pokoknya lo harus bersihin sekarang juga semua makanan yang ada di dalam plus bau baunya. kalo sampe masih ada baunya gue pecat lo jadi adek ipar gue" dika pergi dan berjalan menuju ruangan rangga.
"lah kenapa rumah tangga gue yang jadi korbannya sih, lo enggak ingat ya bini gue tuh lagi hamil besar sekarang. masa lo mau ngorbanin pernikahan gue yang bahagia ini karena kekonyolan lo itu sih bos" teriak ray yang tidak di dengarkan oleh dika.
"hah!!! bener bener nyusahin banget deh bos gue hari ini. ya walaupun biasanya juga nyusahin sih" ray mau tak mau harus melakukannya.
ray menelpon jay dan memintanya untuk datang ke dalam ruangan dika sekarang juga.
dika masuk ke dalam ruangan rangga dan langsung duduk di sofa dalam ruangan abangnya itu.
"lo kenapa lagi dik kok muka lo kusut banget sih?" rangga melihat wajah adiknya itu berantakan.
"gue kesal sama ray tuh"
"kenapa, emangnya ray buat salah apa sampe lo kesel banget kaya gitu?" rangga tersenyum miring.
"banyak tanya banget deh lo bang, gue lagi males bicara sama lo tau enggak!!"
"ya elah dik, lo udah kaya anak perawan yang lagi datang bulan aja deh sensi banget kayanya marah marah mulu. entar cepat tua lo baru tau rasa" rangga kembali menatap layar di hadapannya.
"emang gue udah tua bang, tapi lo lebih tua dari gue kok jadi enggak papa lo tenang aja" dika merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"ye!!! rese lo" kesal rangga namun memang benar adanya.
"ah, kepala gue pusing banget nih!" keluh dika merasakan pusing di kepalanya.
"seriusan dik, gimana kalo kita ke rumah sakit aja? gue khawatir sama keadaan lo. mungkin lo pusing karena kecelakaan waktu itu" rangga merasa khawatir.
"hhh! gue enggak papa kok"
"lo yakin?"
"hem"
"emang tadi lo sama ray kenapa lagi?"
"jadi gini ceritanya bang:
akhirnya dika menjelaskan kepada rangga alasan mengapa ia sampai marah kepada ray.
"haha serius lo. ya menurut gue ray enggak salah sih dik"
rangga justru membela ray membuat dika semakin kesal.
"eh! kenapa lo malah jadi belain dia sih. gue kan adek lo"
"iya lo emang adek gue dika tapi lo lupa kalo ray itu juga adek gue. lagian emang lo yang salah kan, kenapa lo mesen makanan tapi enggak tau apa nama makanannya apa aneh banget deh lo dik"
"ah! bodo amat mendingan lo diam deh bang gue ngantuk nih mau tidur" dika memejamkan matanya hendak tidur di atas sofa.
"lo jangan tidur di situ dika, entar kalo tamu gue datang muka lo yang kita dudukin mau?" ujar rangga.
"ck! bentar doang bang" dika masih merasa pusing.
"pindah lo sekarang juga!!!" perintah rangga karena sebentar lagi ia akan kedatangan klien.
"ck! iya iya, rese banget sih semuanya"
dika berjalan menuju ruangan khusus istirahat milik rangga yang berada di dalam ruangan itu.
"balik ke ruangan lo dika!" ujar rangga melihat adiknya hendak masuk ke dalam ruangan istirahatnya.
"enggak mau" jawab dika ketus lalu masuk ke dalam kamar milik abangnya.
__ADS_1
"hem, kayanya mode manjanya lagi kambuh nih anak" rangga menggelengkan kepalanya.