
sepertinya dika terlalu banyak minum hingga membuat tubuhnya terasa panas.
"gue pusing banget nih mau tidur" dika beranjak langsung melangkah menuju kamar. sedangkan tiga pria lainnya hanya diam sambil menatap kepergian dika karena mereka juga sudah merasa pusing akibat terlalu banyak minum.
"gue juga mau istirahat, ray lebih baik lo sama dokter radit enggak usah pulang. kalian cari kamar yang masih kosong aja disini" rangga pun berdiri dan kembali ke kamarnya.
"baik bos" ray mengangguk.
setelah sampai di depan pintu kamarnya, dika langsung menarik handle pintu dan membukanya. ia berjalan masuk ke dalam dengan langkah sempoyongan lalu kembali menutup dan mengunci pintu kamar dari dalam.
dika melihat istrinya yang sudah tertidur pulas lalu ia berjalan mendekati sisi ranjang dengan masih berjalan sempoyongan karena merasa pusing di bagian kepalanya.
sesampainya di tepi ranjang dika menatap dengan penuh gairah tubuh istrinya yang sedang tidur. ia merasa semakin tertantang ketika melihat posisi tidur istrinya terlentang yang membuatnya kehilangan kesadaran seutuhnya.
dika bergerak naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya, dengan perlahan kini sudah berada di atas tubuh vani. ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bagian leher hingga ke dada istirnya membuat vani melenguh saat merasakan sentuhan lembut itu.
"sshh emhh" vani melenguh dalam tidurnya merasakan sensasi nikmat pada bagian tubuhnya yang di sentuh oleh bibir suaminya itu.
mendengar suara lenguhan dari bibir istrinya, dika pun langsung ******* bibir mungil itu dengan lembut vani merangkul pundak suaminya agar dika memperdalam ciuman mereka.
sebenarnya vani sudah terbangun dari tidurnya sejak dika menyentuhnya. sekarang ia sedang menikmati permainan yang dilakukan oleh suaminya itu namun vani masih enggan untuk membuka matanya dan melihat suaminya secara langsung.
meskipun tidak melihat terlebih dahulu siapa pria yang sedang berada di atas tubuhnya saat ini vani sudah sangat hafal dengan harum tubuh suaminya serta cara dika yang memperlakukannya dengan lembut saat bermain di atas ranjang.
dika menghentikan ciuman lalu menatap istrinya karena masih saja memejamkan mata. vani yang merasa jika suaminya menghentikan ciuman mereka pun akhirnya membuka mata secara perlahan lalu menatap dika yang juga sedang menatap dirinya.
"kenapa berhenti sayang?" tanya vani dengan suara khasnya yang lembut.
"kenapa kamu enggak buka mata buat liat siapa orang yang nyium kamu pas lagi tidur?"
"em, kan aku lagi nikmatin" vani menarik wajah dika semakin mendekat ke arahnya.
"terus kalo ada cowok lain yang datang nyium kamu kaya gini kamu bakal nikmatin juga" dika merasa cemburu.
"kamu ragu sama aku?" vani menatap sedih wajah dika yang tepat berada di atasnya.
"em, bukan gitu sayang maafin aku ya" dika menyesal atas pertanyaannya yang tidak berguna itu.
"kamu tau gak mas tanpa ngeliat kamu secara langsung pun aku udah hafal sama harumnya suamiku ini" vani kembali menarik tubuh suaminya semakin mendekat lalu memeluknya dengan erat.
"hem, masa sih istriku?" dika menoel hidung istrinya.
"iya dong, lagian siapa sih yang berani masuk ke dalam kamar kamu tanpa izin. apalagi sekarang kita lagi ada di dalam rumah kamu sendiri mas"
cup! cup!
vani berulang kali mengecup bibir suaminya lalu beralih pada bagian leher dan dada dika karena ingin suaminya itu melanjutkan permainan mereka. dika yang merasakan sentuhan lembut dari bibir istrinya itu pun kembali pada tujuan awalnya.
"em kamu juga pengen ya sayang?" dika melihat gairah di mata istrinya.
__ADS_1
"em" vani mengangguk membuat dika tersenyum semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya.
"oke ayo kita mulai"
tidak butuh waktu lama dika pun langsung membuka seluruh pakaian yang mereka pakai lalu menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuh mereka.
setelah melakukan pemanasan yang membuat hasrat keduanya kembali memuncak dengan tidak sabar dika segera mengarahkan miliknya pada tubuh istrinya.
mendorong tubuhnya hendak memasuki dengan satu kali hentakan namun justru meleset dari tujuannya dan gagal dika lakukan membuat vani meringis.
"aww! sakit mas, kamu pelan pelan dong" ringis vani karena merasa sakit. dika terlalu terburu buru membuat dirinya tidak tepat menembus masuk milik istrinya.
"maaf ya sayang habisnya kamu sempit banget sih padahal udah pernah melahirkan juga" dika meminta maaf karena perbuatannya sudah menyakiti istrinya.
"iya enggak papa kok mas. lagian kamu lupa ya aku kan lahirannya enggak dari sini" vani sedih mengingatnya.
dika menatap sendu wajah sedih istrinya yang masih mengingat hal itu.
"oh iya pantesan aja rasanya masih sama kaya waktu kita malam pertama sayang"
dika tersenyum menggoda istrinya agar vani tidak merasa sedih lagi mengingat proses lahiran bayi mereka yang tidak sesuai dengan keinginan vani sebelumnya.
vani merasa sepertinya ucapan dika semakin lama semakin melantur akibat pusing.
"kamu minum ya mas?"
"hem cuma dikit sayang" jawaban dika membuat vani memutar bola matanya.
"ck! iya dikit tapi kamu sampai mabok gitu mas. udah deh kamu istirahat aja ya, aku juga udah ngantuk lagi nih"
vani pun kembali memejamkan matanya hendak tidur.
"sayang jangan tidur dulu dong baru juga mulai" dika kembali membujuk istrinya.
"ya udah kamu lanjutin aja mas, aku nikmatin kok kaya gini" vani yang enggan membuka matanya.
"enggak mau ah masa kamu malah tidur sih" dika pun berbaring di samping tubuh istrinya namun vani tidak menghiraukan acara ngambek suaminya itu dan tetap melanjutkan tidurnya.
akhirnya mereka kembali tertidur dengan saling berpelukan.
keesokan harinya semua orang bangun dan melakukan aktifitas masing masing. dika yang masih ngambek pada istrinya itu pun berusaha untuk bersikap cuek kepada vani.
awalnya vani tidak menyadari jika suaminya itu sedang ngambek dan malas berbicara dengannya.
"mas, nanti sore kita pulang kan?" vani bertanya sambil mengganti pakaian bayinya setelah selesai mandi.
"hem..." gumam dika singkat dan hanya fokus menatap ponselnya.
"oh ya mas rangga sama mbak ranty juga pulang enggak ya mas?" tanya vani lagi.
__ADS_1
"hem" jawaban yang sama masih dika berikan.
"nanti aku tanyain deh" vani selesai memakaikan pakaian bayinya.
"mas, tolong kamu gendong raffa sebentar ya soalnya aku mau ke kamar mandi dulu nih kebelet" vani beranjak dari atas ranjang.
"hem" jawaban singkat yang masih sama pun terus dika berikan kepada istrinya.
"mas dika, kamu jangan main game mulu dong. ini raffa di jagain" kesal vani masih berusaha untuk berbicara pada dika karena sejak tadi suaminya itu hanya fokus main game di dalam ponselnya saja.
"ck" tanpa bicara apapun dika langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah ranjang dan menggendong putranya.
dika tidak berniat untuk menjawab ucapan istrinya karena masih kesal. ia justru malah bertanya kepada bayinya dan mengacuhkan vani disana.
"anak papa udah mandi ya, udah ganteng kaya papa kan?" dika menggendong raffa lalu mengajaknya jalan jalan keluar dari dalam kamar.
vani yang mendengar ucapan suaminya itu pun hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis lalu ia segera melangkah menuju kamar mandi.
bagaimana pun mereka berusaha untuk mengerti satu sama lain, tetap tidak bisa di pungkiri jika vani dan dika terlahir sebagai anak bungsu. pastinya memiliki sikap manja dan egois yang tinggi, tidak mudah bagi mereka untuk menyatukan jalan pikiran ketika ego sedang menguasai diri. kerap kali ada permasalahan kecil atau pun besar di dalam rumah tangga namun itu hanyalah pelengkap untuk semakin menguatkan cinta diantara keduanya.
menjelang sore hari dika dan rangga memutuskan untuk pulang dari rumah orang tua mereka kembali ke rumah masing masing.
sesampainya di rumah, vani dan dika langsung masuk ke dalam kamar mereka.
di dalam kamar vani pun mulai menyadari sikap dingin suaminya itu karena tidak biasanya dika hanya diam saja ketika melihat istrinya sedang bersantai di dalam kamar.
'kok kaya ada yang aneh ya, tumben banget mas dika diem aja dari tadi terus sekarang cuek banget ke aku padahal biasanya dia langsung gangguin aku kalo lagi di dalam kamar kaya gini' batin vani berpikir.
vani beranjak dari duduknya lalu mendekati dika yang juga sedang duduk di tepi ranjang.
"sayang kok diem aja sih?" vani duduk tepat di samping suaminya.
vani memeluk dika dari samping lalu menyandarkan kepalanya di bagian dada sang suami dengan manja seperti biasanya.
"enggak papa" ujar dika cuek lalu melepaskan pelukan vani dari tubuhnya kemudian ia beranjak dan melangkah keluar dari dalam kamar meninggalkan istrinya itu.
"mas dika kamu kenapa sih?" vani bertanya tanya pada dirinya sendiri dengan bingung. ia merasa sedih karena ini pertama kalinya dika tidak membalas pelukannya bahkan suaminya itu justru terus menghindari dirinya.
cukup lama vani melamun di dalam kamarnya memikirkan kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai membuat suaminya itu marah dan mendiamkan dirinya seharian ini.
"em, emangnya aku ada salah apa ya ke suami ku?" vani terus memikirkan tentang kesalahannya.
"apa mungkin karena...?" vani menutup mulutnya dengan tangan ketika mengingat apa yang terjadi tadi malam saat ia sudah tertidur.
"apa karena tadi malam aku tinggal tidur ya?" vani akhirnya menyadari kesalahannya.
sekarang vani yakin pasti hal itu yang menjadi penyebab dika marah kepadanya karena ia merasa tidak melakukan kesalahan yang lain kepada suaminya.
"kalo gitu aku harus gimana ya?" vani masih terus berpikir bagaimana cara untuk membujuk suaminya yang sedang ngambek itu.
__ADS_1