Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Tidur bersama


__ADS_3

di dalam mobil hening pun tercipta karena vani hanya diam saja tidak berniat untuk berbicara.


dika hanya fokus menatap jalanan, sedangkan yuli memilih untuk memainkan ponselnya.


"em, oh ya. berarti mulai sekarang aku boleh dong manggil pak dika itu abang. biar enggak terlalu formal" yuli memecah keheningan.


"ya boleh dong yul, kamu aja yang manggilnya bapak terus. emang aku udah kaya bapak bapak ya" jawab dika.


"em, maaf ya pak. eh, maksudnya bang dika" hehe yuli tersenyum canggung.


'ih yuli apaan sih, ngeselin banget deh' batin vani kesal saat mendengar ucapan adiknya yang justru sok akrab dengan dika padahal dirinya ingin mencoba menciptakan jarak diantara mereka.


"bang dika, gimana kalo kita berhenti sebentar di toko itu. aku mau beli cemilan buat di bawa pulang soalnya kan disana rame jadi kayanya ini enggak cukup deh"


ujar yuli menunjuk sebuah toko kue karena ia ingin membawa buah tangan untuk pulang.


"oh, rame ya?" hhh! dika terlihat gugup.


"em" yuli mengangguk.


*


setelah melewati perjalanan yang melelahkan akhirnya mereka sampai di sebuah desa yang masih sejuk udaranya karena terdapat banyak pepohonan disana.


terlihat rumah warga disana masih berjarak antara satu rumah dengan rumah yang lain.


vani akan pulang ke rumah kakaknya karena ia tidak punya rumah orangtua untuk tempat pulang.


rumah kakak vani dengan rumah orang tua yuli saling berdekatan.


beberapa sepupu mereka yang sudah menikah juga tinggal berdekatan itu sebabnya mereka mengatakan disana ramai.


mobil dika berhenti tepat di halaman depan rumah kak aida karena vani yang memintanya.


sebenarnya dika merasa gugup hendak keluar dari dalam mobil dan bertemu dengan keluarga besar vani disana.


melihat ada sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumahnya, kak aida berserta keluarga yang lain pun keluar dari dalam rumah masing masing hendak melihat siapa yang datang.


"siapa ya?"


kak aida bertanya tanya dari dalam teras rumahnya.


"ayo kita turun" ajak vani kepada yuli dan dika.


"oke deh"


sahut yuli senang karena akhirnya mereka sudah sampai.


"sayang!!" panggil dika saat vani hendak membuka pintu mobilnya.


"iya mas ada apa?" vani berbalik menatap dika.


"aku gugup" ucap dika.


dahinya bahkan sampai mengeluarkan peluh di dalam mobil yang berAC itu.


"kenapa? ayok turun. katanya mau kenalan sama keluarga aku" ujar vani.


"ini semua, rumah keluarga kamu?"


dika menatap semua rumah yang berdekatan disana.


"iya, emangnya kenapa?"


"em, enggak papa kok. hem..." dika tersenyum semakin gugup.


"engga papa kok mas kalo kamu mau langsung pulang. ya anggap aja aku sama yuli naik taksi online jadi taksinya boleh langsung pergi"


tantang vani hendak menguji keberanian dika.


"eh, jangan dong sayang. aku kan bukan supir taksi online" dika menolak pulang.


"ya udah kalo gitu ayo turun dong temuin keluarga aku, masa gini aja kamu udah mau mundur sih. liat mereka udah pada nungguin tuh sampe bingung siapa yang datang"


vani melihat dari dalam mobil kakaknya dan yang lain sudah menunggu di depan namun tak kunjung ada yang keluar dari dalam mobil itu.


"ayok dong turun bang dika, tadi katanya mau kenalan sama calon mertua" celetuk yuli.


"em, i iya..."


akhirnya dika pun ikut turun dari dalam mobil saat melihat vani sudah keluar lebih dulu.


kepulangan mereka disambut hangat oleh kak aida. termasuk abang, bibi dan kakak ipar juga. adik sepupu dan keponakan vani pun sangat ramai disana.


"wah! vani? tenyata kalian udah sampe"

__ADS_1


kak aida mendekat lalu memeluk adiknya.


yuli pun memeluk ibu dan kakaknya juga untuk melepas rindu, sedangkan dika hanya terdiam berdiri mematung sambil memegang bungkus makanan di kedua tangannya.


"bang, sini...."


yuli mendekati dika hendak mengajaknya untuk berkenalan dengan yang lain lalu menyerahkan semua bungkus makanan sebagai buah tangan untuk semua orang disana.


dika memang membeli banyak sekali makanan karena yuli mengatakan jika disana ramai.


beruntung dika tak membeli semua makanan yang ada di sepanjang jalan karena terlalu gugup mendengar kata ramai yang yuli ucapkan sebelumnya.


"oh ya dek, ini siapa?"


kakak yuli mendekati kedua adiknya sambil melirik dika yang sedang berdiri di belakang tubuh vani.


"em,,, itu..." vani gugup dan bingung untuk menjawabnya.


"ya calon abang ipar aku lah kak pastinya..."


yuli merangkul pundak vani berniat untuk menggodanya karena gadis itu terlalu malu untuk mengatakannya.


"oh ya? wah!! ternyata permintaan kakak waktu itu beneran di kabulin ya"


kak aida tersenyum karena ia pernah meminta vani untuk pulang sambil membawa calon adik iparnya.


"ya ampun, ganteng banget sih kak" celetuk hana yang merupakan salah satu adik sepupu mereka juga.


"iya dong" goda yuli memainkan alisnya kepada vani yang hanya tersenyum canggung.


hal itu membuat kedua pasangan kekasih itu merasa semakin canggung.


"oh, siapa namanya?" tanya bibi dan kak aida.


"nama saya dika tante"


dika pun memperkenalkan diri kepada bibi dan semua keluarga vani disana.


"oh iya, disini semuanya keluarga vani kok. jadi nak dika jangan sungkan ya" ujar bibi.


"iya tante" dika mengangguk.


vani dan yuli memang sangat dekat satu sama lain dengan sepupunya karena mereka tumbuh bersama dan tinggal dalam lingkungan yang sama sejak kecil.


setelah saling berkenalan satu sama lain, akhirnya dika pun ikut masuk ke dalam rumah kak aida bersama vani sedangkan yuli masuk ke rumah orang tuanya.


saat ini dika dan vani sudah duduk di sofa mini dalam ruang tamu rumah minimalis itu.


kak aida sedang ke dapur untuk mengambilkan minuman yang akan disuguhkan.


dika menatap sekelilingnya sambil mengamati rumah kakak dari kekasihnya itu.


vani yang melihat dika sedang mengamati rumah kakaknya itu pun bertanya.


"kenapa mas, rumahnya kecil ya?" tanya vani.


karena memang seluruh bangunan rumah itu terlihat tidak lebih besar dari pada ruang dapur atau bahkan kamar yang ada di dalam rumah mewah dika di kota.


AC pun tidak ada di dalamnya beruntung masih ada kipas angin yang sedikit menyejukkan.


"eh, bukan kok sayang" dika merasa tak enak.


"ya, inilah kehidupan ku yang sebenarnya mas. jadi kalo kamu pengen berubah pikiran sama hubungan kita. kamu boleh kok mundur dari sekarang" ucap vani to the poin.


"kok kamu ngomongnya gitu sih sayang. aku tuh cinta sama kamu tulus bukan karena harta, soalnya harta aku juga udah banyak" ujar dika.


"iya tapi kehidupan aku ini kan enggak selevel sama kehidupan kamu yang serba mewah"


vani ingin meyakinkan dika jika di luar sana masih banyak wanita lain yang lebih dari pada dirinya untuk dika jadikan pendamping hidup.


"sayang, aku enggak mau yang lain. aku cuma maunya kamu"


tegas dika penuh penekanan membuat vani akhirnya terdiam.


tak lama terlihat kak aida datang dari arah dapur menuju ruang tamu.


"dek, kalo capek istirahat aja dulu sana di dalam kamar kamu"


ujar kak aida sambil membawa minuman untuk dika dan vani.


"iya kak. em, oh ya abang dimana kak?"


vani menanyakan keberadaan abang iparnya.


"abang kamu lagi kerja"

__ADS_1


kak aida pun ikut duduk di sebelah adiknya.


"oh" vani mengangguk lalu minum segelas air.


glek! glek! glek!


vani menghabiskannya karena merasa sangat haus walaupun tadi ia hanya diam saja saat berada di dalam mobil.


"ya udah deh, aku mau tidur dulu ya kak"


vani beranjak dari duduknya lalu melangkah hendak masuk ke dalam kamarnya.


"ehh, kamu mau ninggalin dika sendirian disini?"


kak aida menatap vani sambil menggeleng.


"loh, maksud kakak aku harus ngajak mas dika masuk ke kamar aku buat tidur bareng gitu?" tanya vani heran.


"hah!" kak aida tak habis pikir mendengarnya.


"kalo boleh ya ayuk..." ajak vani


"vani....!!!" kak aida membelalakkan mata menatap adiknya itu.


dika hanya tersenyum mendengar ucapan absrud pacarnya itu.


mendengar adiknya ingin mengajak dika tidur bareng di dalam kamarnya, kak aida langsung menjewer telinga vani dengan gemas.


"ih, kamu tuh ya vani... jangan macem macem deh. maksud kakak kamu anterin dulu dika ke kamar tamu biar dia juga bisa istirahat. masa kamu istirahat di dalam kamar sendiri terus dia nungguin kamu disini aja" kata kak aida.


"aduh!! ampun kak, siapa juga yang macem macem sih. iyakan enggak papa dong mas dika ngobrol bareng kakak disini. lagian tadi juga niatnya ikut buat kenalan sama keluarga aku bukan buat numpang tidur" vani melirik dika.


"iya, tapi kan kalian baru sampe. udah deh anterin sana kasian masih capek" kak aida kembali ke dapur.


"iya iya"


vani memanyunkan bibirnya sambil mengusap telinga yang panas akibat mendapat jeweran dari kakaknya itu.


"mas ayo, aku anterin ke kamar" ajak vani.


"iya ayo" dika mengangguk lalu melangkah mengikuti vani dari belakang.


mereka pun masuk ke dalam kamar tamu yang berukuran kecil itu jika di bandingkan dengan ukuran kamar mereka yang ada di kota.


hanya terdapat satu ranjang dan satu lemari pakaian di dalamnya.


"kamu istirahat disini aja ya mas, aku mau ke kamar aku dulu" vani berbalik hendak pergi.


"eh, tunggu sayang"


namun dika menarik tangan gadis itu hingga membuat mereka terjatuh di ranjang dengan posisi vani berada di atas tubuh dika.


keduanya saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat hingga akhirnya vani tersadar dan hendak berdiri dari posisi itu namun tubuhnya langsung di tahan oleh dika yang memeluknya dengan erat.


dika langsung membalik posisi mereka hingga kini tubuh vani yang berada di bawahnya.


"kamu mau kemana sih sayang? tadi katanya mau tidur bareng aku" dika membelai pipi vani dengan lembut.


"mas kamu apa apaan sih. lepasin aku! nanti kalo kakak liat gimana?"


vani mencoba untuk mendorong tubuh dika yang sedang menimpa tubuhnya itu namun percuma saja karena tubuh dika jauh lebih besar dan kuat dari pada dirinya.


"iya enggak papa dong kalo kakak kamu liat. malah bagus, kita bakal langsung di nikahin sekarang juga" ujar dika santai.


"kamu udah gila ya..?" vani melotot ke arahnya.


"iya aku gila karena kamu"


dika tersenyum lalu mengecup kening vani dengan penuh sayang membuat gadis itu memejamkan matanya.


cup!


semakin turun dika pun mengecup bibir manis sang kekasih lalu melumvtnya dengan lembut.


vani melingkarkan kedua tangannya di pundak dika lalu membalas ciumannya.


keduanya saling menikmati ciuman hangat itu hingga vani hampir kehabisan nafas membuat dika terpaksa mengakhirinya.


sambil tersenyum dika mengusap lembut bibir vani untuk menghapus bekas ciuman mereka di bibir kekasihnya itu.


seperti biasa vani akan langsung menghirup udara yang banyak untuk kembali menetralkan nafasnya.


"huh! huh!"


dika tersenyum melihat vani yang terengah engah karena ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2