Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 88


__ADS_3

di dalam restoran itu yuli dan hana pun tersenyum sambil melirik vani yang sedang senyum senyum sendiri menatap ponselnya.


"ehem, kaya ada sesuatu. bau bau kebucinan deh"


yuli berbicara keras agar vani mendengarnya.


"apaan sih yul"


vani hanya mengacuhkannya karena tau jika adiknya itu sedang menyindir dirinya.


"habis ini kita kemana lagi ya?" tanya yuli tak sabar.


"em, gimana kalau nonton?" hana tersenyum lebar.


"eh, enggak punya pacar ya lo yang bisa di ajak nonton?"


yuli malas dengan usul adiknya itu.


"enggak, ayo dong plis" hana penuh harap.


"ih! enggak mau ah. bosen tau" yuli menolak.


"ish kakak! aku belum. boleh ya kak vani"


hana mengalihkan tatapannya kepada vani.


"em, ya udah kita nonton aja habis ini ya"


vani menyetujui permintaan hana yang membuatnya kegirangan.


"yes, Alhamdulillah" hana tersenyum senang.


"haish!"


yuli memutar bola mata malas melihat kesenangan hana.


"mbak arin mau kemana lagi habis ini. mbak setuju enggak kalau kita nonton?"


vani menatap arin yang hanya diam saja sejak tadi.


"aku setuju aja ikut kalian" arin pun mengangguk.


"oke kalo mbak setuju" vani tersenyum.


interaksi di antara keduanya memang terasa canggung namun sebisa mungkin vani dan arin mencoba untuk lebih akrab satu sama lain agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka.


setelah menghabiskan ice cream, mereka pun segera menuju bioskop di dalam mall itu.


yuli yang bertugas membeli tiket sedangkan hana dan arin mengantri untuk membeli popcorn mereka berempat.


vani hanya menunggu dan masuk setelahnya karena yuli melarangnya jika harus mengantri.


keempatnya menonton film kesukaan yang baru dengan mata selalu fokus menatap pada layar lebar di hadapan mereka sambil tangan yang bergerak memakan popcorn.


"harusnya kita nonton film horor aja tau" gumam yuli sedikit bosan.


"takut" jawab hana


"huh!! dasar penakut" yuli mengalihkan pandangannya.


"bisa diem gak!" vani masih asik menatap cerita di hadapannya.


setelah selesai nonton film mereka pun lanjut bermain.


banyak permainan disana untuk menyenangkan adiknya namun vani hanya duduk sambil merekam video kedua adiknya yang sedang asik bermain sepuasnya karena vani tidak bisa ikut bermain.


keselamatan bayinya yang paling penting harus ia jaga, tidak ingin mengambil resiko apapun dengan bermain di wahana yang mungkin membahayakan untuk bayinya. ia hanya boleh bermain permainan yang tidak berbahaya untuknya dan bayinya saja.


menjelang sore hari vani dan kedua adiknya lelah bermain mereka pun memutuskan untuk pulang agar kembali beristirahat setelah seharian bersenang senang yang cukup melelahkan.


"pulang yuk capek" ajak yuli dan hana


"iya kak capek"


"aku juga capek. kalian lama banget mainnya"


"hehe. maaf ya kak baby capek ya?"


yuli mengusap perut buncit kakaknya.


"iya" jawab vani tersenyum.


"haha. itu mah emaknya yang capek" timpal yuli.

__ADS_1


ke empatnya masuk ke dalam mobil lalu mobil melaju menuju rumah kedua adik vani untuk mengantar mereka pulang lebih dulu.


sesampainya di depan rumah yuli dan hana pun hendak keluar dari dalam mobil.


"makasih ya kak vani buat traktirannya hari ini" ucap hana sebelum ia keluar dari dalam mobil.


"iya adek adek ku. sama sama" vani mengangguk.


"makasih ya kak vani buat waktunya hari ini aku seneng banget soalnya udah lama banget kita enggak jalan bareng. baby capek enggak?"


yuli mengusap usap lembut perut buncit kakaknya masih saja berharap mendapat respon gerakan bayi dari dalam.


"eh liat deh, baby gerak kak akhirnya dia mau respon pertanyaan dari aku"


yuli senang karena akhirnya ia bisa merasakan gerakan kecil bayi dari dalam.


"iya dia lagi capek yul, mau cepet sampe rumah biar bisa bobok"


vani sudah merasa kelelahan harus berjalan jalan mengelilingi mall dengan perut yang buncit.


"ya udah kita turun dulu, nanti sampe rumah kamu langsung istirahat ya" yuli agak khawatir


"dah!! hati hati ya" hana dan yuli melambaikan tangan.


"iya dah!!!" vani pun melambaikan tangannya.


mobil kembali melaju menuju kediaman wijaya hingga akhirnya vani dan arin sampai dan turun dari dalam mobil.


"vani makasih ya buat semuanya hari ini" arin juga berterimakasih.


setelah sampai di dalam rumah mereka pun berjalan masuk hendak menuju kamar masing masing.


"iya mbak, sama sama kalo gitu aku ke kamar dulu ya mau istirahat" vani hendak melangkah menuju kamarnya.


"iya hati hati, bareng aja ya biar aku temenin"


arin memegangi tangan vani membantunya untuk berjalan menuju kamar.


"makasih ya mbak"


setelah sampai di depan pintu kamar vani mereka pun hendak berpisah karena arin juga akan menuju kamarnya untuk beristirahat.


"kamu kayanya kecapekan banget deh. kamu langsung istirahat aja ya"


"iya. makasih ya mbak" vani pun mengangguk.


"iya udah kalo gitu aku ke kamar dulu"


arin tersenyum lalu vani pun mengangguk.


vani masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu kamar.


malam harinya setelah pulang dari kantor dika melihat istrinya yang sudah tertidur lelap sebelum makan malam.


setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dika pun mendekati sisi ranjang untuk membangunkan istrinya.


"sayang kok kamu udah tidur sih. kan kita belum makan malam" dika mengusap lembut rambut istrinya.


"em, nanti aja deh mas. aku masih ngantuk nih"


vani menggeliat sambil tetap memejamkan matanya.


"sayang ayo makan malam dulu entar perut kamu sakit kalo baby kita kelaperan loh "


dika terus saja menganggu tidur vani.


vani akhirnya duduk mengikuti ucapan dika dengan mata yang masih tertutup.


"sayang kamu kecapekan ya?"


padahal sejak tadi dika sudah mengatakan agar vani tidak boleh kecapekan.


"enggak kok mas, aku cuma ngantuk"


vani bersandar di tubuh suaminya sambil tetap memejamkan mata.


"sama aja sayang, ya udah makanan kamu aku bawa ke kamar aja ya" dika kembali merebahkan tubuh vani.


"hem" vani hanya bergumam.


dika melangkah keluar dari dalam kamarnya lalu berjalan menuju meja makan seorang diri. sepertinya malam ini ia akan makan malam berdua saja dengan arin.


arin sudah menunggu vani dan dika turun untuk makan malam bersama di meja makan namun ia tidak melihat vani ikut turun untuk makan malam bersama malam ini.

__ADS_1


"hai arin" sapa dika tersenyum.


"em, mas dika dimana vani?" tanya arin setelah dika duduk.


"vani kecapekan jadi dia mau makan di dalam kamar aja"


"ooh" arin menganggukkan kepala.


"bik nani, tolong siapkan makan malam untuk nyonya dan antar ke kamar kami ya"


dika meminta kepada salah satu asisten di rumahnya.


"baik tuan"


pelayan itu mengangguk lalu segera pergi melakukan perintah dari dika.


arin makan dengan tangan yang gemetar. entah kenapa perasaan aneh sering kali menghampirinya berulang kali ia berusaha untuk menolak gejolak dan rasa canggung yang dirasakan ketika sedang berhadapan dengan pria di dekatnya itu.


arin juga sangat berharap jika ia tidak akan pernah jatuh cinta kepada pria beristri yang ada di hadapannya itu.


"oh ya arin, gimana kerjaan kamu di butik apa kamu betah kerja disana?" tanya dika di sela sela makannya.


"em, aku betah kok mas kerja disana yuli sama hana baik banget sama aku terus karyawan yang lain juga" jawab arin tersenyum sedikit gugup.


"oh baguslah kalo gitu" dika fokus meneruskan makannya.


"mas dika, boleh gak aku nanya sesuatu?"


"hem, iya boleh apa itu?"


dika menatap arin karena penasaran dengan pertanyaannya.


"apa kamu punya mantan pacar selain vani dulu?" tanya arin dengan wajah polosnya.


"hhh, kamu bilang apa. mantan pacar?"


dika menggeleng sambil tersenyum miring.


arin pun mengangguk polos menatap dika dan menantikan jawaban darinya.


dika berpikir ia akan mendapat pertanyaan yang cukup penting dari arin namun ternyata pertanyaannya sangat tidak penting untuk dika sehingga membuatnya tertawa kecil.


"enggak ada" jawab dika datar.


"masa sih. em, berarti vani adalah wanita pertama dalam hidup kamu?" tanya arin tidak percaya.


"iya, vani adalah wanita satu satunya dalam hidupku. dia yang pertama dan juga yang terakhir buat aku"


dika tidak ingin memperpanjang pertanyaan absrud arin namun arin masih tetap penasaran.


"kapan pertama kali kamu ketemu sama vani?"


"beberapa tahun yang lalu waktu dia kerja di kantor"


"terus kamu jatuh cinta dari pertama kali melihatnya?"


arin ingin tahu kisah perjalanan cinta dua insan itu.


"enggak, aku enggak percaya sama hal itu. aku suka dia seiring berjalannya waktu setelah aku kenal sifat dan karakternya lebih dulu"


dika menjawab pertanyaan arin yang sebenarnya malas untuk ia jawab itu namun karena melihat arin yang sangat penasaran tentang dirinya dan vani sebelum menikah dulu. dika pun akhirnya menceritakan sedikit kepada arin.


"apa yang buat kamu jatuh cinta sama dia?"


"em, entahlah aku juga enggak tau apa yang buat aku jatuh cinta sama dia tapi aku tau aku ngerasa nyaman sama dia"


tak terasa dika pun menyelesaikan makannya.


'iya lagian enggak perlu ada alasan khusus buat jatuh cinta sama gadis secantik vani' pikir arin sambil mengangguk anggukkan kepala menanggapi cerita dari dika.


"ya udah arin, aku balik ke kamar dulu ya mau mastiin kalo vani makan dengan baik malam ini"


arin mengangguk lalu dika pun bergegas naik tangga menuju kamar mereka.


dalam perjalanan menuju kamarnya dika merasa bingung kenapa arin malah bertanya tentang mantan kekasihnya namun ia memilih untuk mengabaikannya saja.


di meja makan itu arin masih melamun sambil memikirkan sesuatu seorang diri.


'mas dika enggak punya mantan pacar. masa sih?' arin terus saja memikirkan sesuatu hal yang tidak penting itu.


meskipun begitu arin tetap merasa penasaran, benarkah pria seperti dika tidak punya mantan kekasih sebelumnya. vani memang sangat cantik namun dika bahkan pernah tinggal cukup lama di london untuk menyelesaikan pendidikannya. apakah selama berada di luar negeri tidak ada wanita disana yang bisa membuatnya merasa tertarik begitu pikir arin.


saran author jangan terlalu percaya dengan ucapan laki laki arin. author geleng geleng kepala nih.

__ADS_1


__ADS_2