
ray mengalihkan pandangannya dan seketika air matanya menetes saat menatap putranya yang sudah terbangun dari tidurnya.
arka menatap wajah ayahnya dalam diam tidak seperti biasanya akan selalu mengoceh tidak jelas saat melihat wajah sang ayah namun kali ini arka hanya terdiam karena melihat ayahnya menangis.
"maafin papa ya sayang" cup! ray mengecup kening putranya sambil menangis.
ray yang sedang menangis itu langsung menghapus air matanya saat melihat pintu kamar hendak terbuka.
ceklek!!
"mas ray kamu udah bangun?"
yuli yang baru saja masuk ke dalam kamar pun melihat suaminya sudah duduk di tepi ranjang sambil memeluk putranya.
"iya sayang"
"mas, sarapan udah selesai aku masak kalo kamu laper bisa langsung sarapan ya aku mau ngasi asi dulu buat baby arka soalnya"
yuli duduk di samping ray dan mengambil alih putranya dari dalam gendongan suaminya.
"em, iya sayang makasih ya" ray tersenyum canggung.
"oh ya mas kalo aku boleh nanya tadi malam kamu lembur ya? apa sebanyak itu kerjaan kamu sampe harus pulang subuh"
"em iya sayang, aku harus selesaiin kerjaan aku karena hari ini aku mau full time bareng kalian" ray beralasan sambil tersenyum menatap anak dan istrinya.
"uuh! so sweet banget sih suamiku ini" yuli mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"em ya udah aku keluar sebentar ya sayang aku laper banget nih"
ray lalu mengecup kening istrinya cukup lama seolah ingin meminta maaf sedalam dalamnya kepada sang istri namun ia tidak bisa mengatakannya secara langsung.
"maafin aku ya sayang" gumam ray pelan yang ternyata di dengar oleh yuli.
"maaf buat apa mas?" tanya yuli bingung.
"em, maaf karena tadi malam aku pulangnya kelamaan sampe kamu harus nungguin aku lama banget" ray mengusap usap kedua pundak istrinya.
"iya mas, enggak papa aku ngerti kok tapi aku cuma minta satu hal sama kamu. tolong kasih kabar aku dong minimal kamu angkat telpon atau balas pesan aku ya mas biar aku enggak terlalu khawatir di rumah" yuli mengingatkan suaminya.
"iya iya sayang maaf ya, aku janji deh lain kali kalo aku lembur lagi aku bakal langsung kabarin kamu"
ray tersenyum meyakinkan istrinya agar tidak marah lagi kepadanya.
"hem, aku harap janji kamu itu bisa di pegang ya mas" yuli tidak terlalu menanggapinya.
"iya pasti bisa sayang aku janji ya udah maaf ya" bujuk ray menatap istrinya.
"ya udah iya, aku maafin kamu tapi lain kali jangan sampe lupa sama istri sendiri"
"iya sayang janji!" ray memberikan senyuman terbaiknya.
ray tidak punya pilihan lain selain harus membohongi istrinya itu. kata maaf selalu terucap di dalam lubuk hatinya tanpa bisa ia ucapkan dengan suara lantang dan jelas dari mulutnya.
"maafin aku sayang" batin ray sedih.
sesampainya di meja makan ray kembali kepikiran dengan keadaan naya. ia mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya namun tidak ada balasan apapun dari naya.
ray hanya melihat pesan masuk dari bosnya yaitu dika yang menanyakan tentang keberadaannya.
melihat cukup banyak pesan dari dika di ponselnya ray pun hanya menjawab dengan singkat.
__ADS_1
"gue lagi ada di rumah, besok kita bahas soal kerjaannya" tulis ray dalam pesannya lalu terkirim kepada bosnya itu.
di dalam kamarnya dika yang mendengar ponselnya bergetar pun langsung mengecek pesan yang masuk.
"nah baru nongol nih anak" dika melihat pesan masuk dari sekretarisnya.
"iya baguslah kalo dia lagi baik baik aja"
dika meletakkan ponselnya setelah membaca pesan dari ray dan tidak berniat untuk membalasnya hanya sekedar membacanya saja.
"mas, ayo kita ke rumah yuli ini kan hari libur" ajak vani kepada suaminya.
"nanti sore aja deh sayang sekalian makan malam kita bisa barbaquean juga di rumah mereka kan" dika yang masih malas gerak.
"hem ya udah deh, kita pergi bareng mbak ranty sama dua tuan putri juga kan mas"
"iya sayang"
menjelang sore hari keluarga wijaya bersiap hendak pergi menuju rumah ray dan yuli untuk makan malam bersama.
dika dan vani sedang bersiap di dalam kamar mereka.
"sayangnya aku udah cantik banget tau"
dika memeluk tubuh istrinya dari arah belakang karena melihat vani masih saja bercermin.
"masa sih mas liat deh aku gendut banget kaya gini"
vani manyun menatap pantulan dirinya di dalam cermin memperlihatkan bentuk tubuhnya yang berisi serta perut yang mulai buncit.
"enggak kok sayang justru ini cantik banget tau" dika mengecup pipi vani.
"makasih ya suamiku" vani tersenyum bahagia.
"em, oh iya aku lupa mas emangnya kapan ya acaranya?" vani sudah tidak mengingatnya.
"kayanya hari ini deh sayang acara resepsinya"
"yah, tapi kita ada acara keluarga mas masa mau di batalin lagi sih kan enggak enak sama yuli sama mas ray" vani merasa bingung.
"ya udah sayang kita enggak usah datang ke acara resepsi pernikahan mereka ya. nanti aku bakal kirimin ucapan selamat yang gede sama hadiah mewah buat mereka sebagai permintaan maaf kita" ucap dika pada istrinya.
"ya udah deh mas kalo gitu ayo kita pergi sekarang" vani memeluk lengan suaminya.
"ayo sayang"
dika memeluk pinggang istrinya dan mereka pun berjalan keluar dari dalam kamar.
malam ini keluarga wijaya sedang berkumpul di rumah ray untuk makan malam bersama kecuali rangga dan kedua orang tuanya yang masih berada di london.
terlihat dokter radit dan arin beserta putri mereka pun ikut menghadiri acara makan malam keluarga wijaya itu.
semuanya berkumpul dan saling bercanda satu sama lain. mereka juga melakukan panggilan video kepada rangga agar mereka bisa berkomunikasi meskipun dari jarak jauh.
keluarga yang bahagia itu saling bercerita satu sama lain dengan gembira. anak anak pun bermain sambil bercanda, mereka sangat menikmati pertemuan hingga larut malam.
pagi kembali menyapa bumi hari ini ray dan dika kembali bekerja seperti biasanya.
sesampainya di kantor dika dan ray langsung berjalan menuju meja kerja masing masing.
naya terlihat tidak masuk kantor hari ini membuat ray merasa semakin khawatir. berulang kali ray mencoba untuk menelpon naya namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
"dimana sih kamu naya!" ray frustasi karena naya tidak menjawab telpon darinya.
dika keluar dari dalam ruangannya hendak bertanya kepada ray tentang pertemuan dengan klien kemarin malam namun ia melihat ray yang sepertinya sedang kacau.
"ray" panggil dika setelah keluar dari dalam ruangannya.
"iya pak?" ray menjawabnya dengan malas.
"gimana pertemuan kemaren...." bahkan sebelum dika selesai bertanya ray sudah menjawabnya lebih dulu.
"saya udah membatalkan semuanya pak" ray dengan cepat mengatakan apa adanya.
"loh, kenapa?"
dika bingung karena dirinya merasa bahwa ia bahkan belum mendapat informasi apapun tentang pertemuan itu dan belum membuat keputusan apapun juga namun ray sudah membatalkannya sepihak pikirnya.
"karena,,, saya akan jelaskan nanti saja pak tapi bapak tenang aja saya akan urus semuanya dengan lebih baik"
ray tidak ingin memberi tahu tentang alasan yang sebenarnya.
"em, santai ray sebenarnya lo enggak perlu jelasin tentang apapun juga sih. gue yakin elo tau apa yang terbaik buat perusahaan ini tapi kok keliatannya lo gelisah banget ya. apa ada hubungannya sama pertemuan malam itu?" dika merasa ada yang aneh.
"em, enggak ada pak saya baik baik aja kok" elak ray.
"oke tapi gue harap lo masih ingat ray kalo gue ini juga sahabat lo"
dika mengingatkan bahwa tidak ada yang perlu ray sembunyikan dari sahabatnya sendiri.
ray menganggukkan kepalanya sambil berkata iya lalu dika kembali masuk ke dalam ruangannya.
"kenapa sih ray aneh banget kayanya hari ini, seumur umur baru kali ini juga dia ngambil keputusan sendiri tentang perusahaan tanpa minta pendapat dari gue dulu" dika bertanya tanya setelah kembali duduk di kursi kerjanya.
tentu saja dika merasa ada yang aneh dengan sikap sekretarisnya itu.
memang dika sudah memberikan hak yang sama kepada ray untuk membuat sebuah keputusan di kantornya namun biasanya ray pasti akan bertanya terlebih dahulu tentang apapun itu kepada dika baru ia akan membuat keputusan.
"ah! udahlah mungkin dia lagi gak dapet jatah aja dari istrinya" pikir random dika.
akhirnya dika mengabaikan pemikiran anehnya dan tidak ingin memikirkan lebih jauh karena dirinya sangat percaya kepada sahabatnya itu.
dua hari berlalu dengan kegundahan hati ray, ia tidak bisa fokus bekerja dan selalu memikirkan tentang naya.
hari ini dika memutuskan untuk mengirim ray dan naya ke luar kota seperti yang sudah mereka bahas sebelumnya.
"ray naya hari ini kalian harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari, saya harap kalian bisa menyelesaikan masalah di sana dengan cepat dan kembali tepat waktu karena saat ini kondisi perusahaan sedang tidak baik baik saja maka saya tidak bisa ikut pergi meninggalkan kantor di sini tanpa adanya pemimpin. kalian mengerti kan?" dika menatap dua sekretarisnya itu.
"mengerti pak" ray dan naya mengangguk bersamaan.
"oke ray kamu tenang aja selama beberapa hari pergi hana akan menemani istri dan anak kamu di rumah. tentang penjagaan rumah saya pikir kamu pasti lebih mengerti apa yang harus dilakukan untuk menjaga rumah kamu"
"baik pak sudah saya lakukan" ray mengangguk.
"baiklah sekarang kalian boleh pergi dan hati hati di jalan ya kalian harus pulang dengan keadaan baik baik juga"
"baik pak kalo begitu kami permisi"
ray dan naya pun akhirnya bergegas pergi menuju kantor cabang yang berada di luar kota.
di dalam perjalanan ray merasa bingung harus bersikap bagaimana kepada naya.
akhirnya mereka hanya diam membisu di dalam mobil melewati perjalanan hingga sampai di dalam sebuah hotel yang akan mereka tempati selama beberapa hari di sana.
__ADS_1
ray dan naya pun masuk ke dalam kamar masing masing untuk segera beristirahat.