
sesampainya di tempat yang mereka tuju yuli merasa bingung namun sekaligus juga merasa takjub karena saat ini ia melihat pemandangan danau yang indah di sore hari.
"wah!!! bagus banget tempatnya sejuk dan seger di sini"
yuli senang menghirup udara segar di sana karena banyak pepohonan yang membuat tempat itu terasa sejuk.
"iya di sini emang udaranya seger dan nyaman banget yul"
"oh iya pak ray sebenarnya tadi mau ngapain sih ngajak saya kesini?"
yuli duduk bersebelahan dengan ray di sebuah kursi panjang dekat danau itu.
"em, gini yul sebenarnya saya mau nunjukin sesuatu ke kamu"
"oh ya apa itu pak?"
"em ini" ray merogoh saku dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati lalu menunjukkan isi yang ada di dalamnya kepada yuli.
ray membuka kotak cincin tepat di hadapan yuli untuk memperlihatkan betapa indahnya sebuah cincin bermata berlian di hadapannya itu membuat yuli merasa sedikit gugup dan canggung.
"wah! bagus banget" kagum yuli menatapnya.
"apa kamu suka?" tanya ray lalu yuli pun mengangguk.
"semua wanita pasti menyukainya pak bukan nilai sebuah cincin yang indah tapi karena wanita itu menunggu sebuah kepastian dari prianya" yuli menatap ray yang juga sedang tersenyum kepadanya.
"kamu benar yul dan hari ini saya ingin memberi kepastian itu kepada wanita yang saya cintai" ray menatap yuli.
"oh ya?" yuli tersenyum semakin gugup namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"iya saya sangat mencintainya, dia begitu istimewa dan berbeda dari wanita yang lain" ray menatap yuli membuat gadis itu semakin menunduk sambil tersenyum.
"apa yang membuat dia begitu istimewa di mata bapak?"
"iya dia cantik, wanita yang sangat lembut dan penuh perhatian" ucapan ray membuat senyum di bibir yuli menipis.
"em, siapa dia?"
kegugupan yuli berubah menjadi keraguan di dalam hati karena pasalnya ciri wanita yang di sebutkan oleh ray itu sangat bertolak belakang sekali dengan dirinya.
"naya, malam ini saya ingin melamarnya. gimana menurut kamu?" tanya ray yang membuat yuli seketika tertegun mendengarnya.
untuk beberapa saat hening di antara keduanya karena yuli hanya diam saja.
"naya? hhh! iya dia memang cantik banget pak. pasti wanita idaman banyak pria"
yuli tersenyum namun terasa sangat menyesakkan di dalam dadanya.
hal itu membuat mata yuli menjadi berkaca kaca namun ia mencoba untuk tidak meneteskan air matanya di hadapan pria yang dicintainya itu.
"kamu memang teman yang baik yuli, makasih ya atas support kamu selama ini saya akan selalu mengingat persahabatan kita" ujar ray.
"em" yuli hanya mengangguk.
"baiklah kalo gitu saya akan segera mempersiapkan lamaran untuk nanti malam. ayo saya antar kamu pulang lebih dulu"
"oh enggak usah pak ray. kebetulan saya masih pengen disini sebentar lagi, nanti saya akan pulang sendiri. tempat ini sangat indah jadi saya mau sedikit lebih lama di sini" yuli menahan air matanya.
"apa kamu yakin?"
"iya"
"baiklah kalo gitu saya pulang duluan ya, ingat kamu jangan terlalu lama disini dan langsung pulang setelahnya"
__ADS_1
yuli mengangguk dan ray pun langsung melangkah pergi meninggalkan yuli sendirian disana.
setelah kepergian ray dari tempat itu yuli terlihat hanya diam saja namun air mata kini sudah tidak dapat ia tahan lagi langsung menetes begitu saja membasahi pipi.
yuli tidak menyangka jika selama ini ternyata ray hanya menganggap dirinya sebatas teman saja namun perasaan yang dimilikinya sudah terlanjur dalam kepada pria itu.
selama ini ray tidak pernah menolak ajakan pergi bersama dengannya. mereka sudah sangat dekat bahkan pergi dan pulang bekerja selalu bersama. tak jarang keduanya pun meluangkan waktu untuk lunch dan dinner bersama layaknya sepasang kekasih.
ternyata yuli salah menilai kedekatan di antara mereka selama ini. ia berpikir jika ray juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya namun kenyataannya tidak, ray hanya menganggap dirinya sebagai seorang sahabat.
cukup lama berdiam diri disana hingga hujan deras turun membasahi seluruh tubuhnya namun yuli tidak berniat untuk beranjak ataupun pulang karena hatinya terlalu sakit dan tidak tau harus bagaimana cara menumpahkan kesedihannya.
rasanya tidak mungkin yuli menangis sambil mengadu seperti anak kecil kepada kakaknya. ia tidak mau terlihat lemah dan konyol hanya karena mencintai pria yang tidak pernah mencintai dirinya apalagi sampai berharap kepada seseorang yang tidak menginginkannya.
waktu terus berjalan hingga malam hari sepertinya hujan pun tak ingin berhenti turun dan terus mengguyur bumi dengan lebatnya.
di dalam rumah vani terlihat gelisah dan sangat khawatir dengan keadaan adiknya yuli yang tidak kunjung pulang dari butik. ponselnya juga tidak dapat dihubungi membuat vani merasa panik.
"aduh!! yuli dimana sih kok belum pulang ya udah jam segini. handphonenya juga enggak aktif lagi buat makin khawatir aja deh" vani terus berjalan mondar mandir dengan gelisah di dalam kamarnya.
"sayang, kamu kenapa sih kok kayanya dari tadi gelisah banget aku perhatiin. mending sekarang kita tidur aja yuk kan raffa juga udah tidur tuh dari tadi karena cuacanya dingin banget jadi mendukung deh kayanya buat ehem..." dika malah menggoda istrinya yang sedang gelisah itu.
"mas, kamu gimana sih kan aku udah bilang dari tadi kalo aku tuh lagi khawatir banget sama yuli soalnya dia belum pulang sampe sekarang terus hpnya juga enggak bisa di telpon nih"
"iya iya maaf sayang, em mungkin aja hpnya lobet terus yuli ketiduran di butik atau mungkin juga dia lagi sama ray sekarang. aku kan udah bilang sama kamu kalo malam ini ray mau ngelamar calon istrinya"
"kalo gitu tolong kamu telpon mas ray sekarang ya atau kirim pesan ke dia tanyain dia lagi bareng yuli atau enggak"
"iya tapi...."
"pliss mas"
"iya deh sayang"
tidak butuh waktu lama, ray pun langsung menbalas pesan dari dika dengan mengatakan jika ia tidak sedang bersama dengan yuli saat ini.
setelah melihat balasan pesan yang ray tulis di dalam chatnya itu. dika langsung beranjak dari duduknya lalu segera menelpon ray tanpa ragu lagi.
setelah telpon tersambung dika pun langsung bertanya tentang keberadaan yuli kepada sahabatnya itu.
Ray: ya halo dik, ada apa?
Dika: maksud lo apa yuli lagi enggak ada bareng lo sekarang?
Ray: iya emang gue lagi enggak bareng sama dia sekarang dika. lagian lo kan tau kalo malam ini gue lagi ada acara mau ngelamar calon istri gue.
Dika: apa!! maksudnya lo mau ngelamar cewek tapi bukan yuli?
Ray: maksud lo apa sih dik, kenapa jadi yuli. gue kan mau ngelamar naya.
Dika: oh gitu. maksud gue lo tau enggak yuli ada dimana sekarang. coba lo cek deh sekarang dia lagi ada di butik atau enggak soalnya dari tadi vani khawatir banget nih sama dia.
Ray: maksud lo, yuli belum pulang dari tadi?
Dika: kalo dia udah pulang ngapain juga gue cariin dia gimana sih lo. dia belum pulang dari tadi tau enggak.
Ray: tadi gue sempat pergi bareng dia ke danau buat cerita kalo malam ini gue bakal ngelamar naya tapi waktu gue mau anterin dia pulang dia malah nolak dan bilang mau pulang sendiri.
Dika: apa!!! danau???
Ray : iya danau yang enggak jauh dari butik.
Dika: lo gila ya, bawa yuli kesana tapi enggak anterin dia pulang lagi. denger ya ray kalo sampe terjadi sesuatu sama dia gue habisin lo.
__ADS_1
ttuttt!!!
dika mematikan ponselnya dengan panik dan langsung meraih kunci mobil di atas nakas.
"mas gimana, mas ray bilang apa?" vani pun semakin cemas saat melihat suaminya terburu buru ingin pergi setelah mematikan teleponnya.
"kita harus cari yuli di dekat danau sekarang sayang" dika terus bejalan mengambil jaket di dalam lemarinya.
"apa! di danau?" vani kaget mendengar dimana adiknya itu berada malam malam begini.
"aku jelasinnya nanti aja ya. sekarang ayo kita pergi dulu" ajak dika.
mereka pun berjalan keluar dari dalam kamar hendak segera pergi mencari yuli.
"hana...!!!" vani memanggil adiknya.
"iya kak ada apa, loh kakak mau kemana?" tanya hana menghampiri vani karena mendengar panggilan dari kakaknya itu.
"kakak mau nyari yuli keluar, tolong kamu jagain raffa dulu ya di dalam kamar"
"iya kak tapi emangnya kak yuli dimana sekarang?" hana juga khawatir.
"kita belum tau pasti tapi kakak enggak bisa tenang sebelum yuli pulang. kalo dia pulang sebelum kakak pulang kamu tolong langsung kabari kakak ya. ya udah kakak pergi sekarang ya" ujar vani.
"iya, hati hati ya kak" angguk hana.
setelah mereka keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil. dika langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. ia memutuskan untuk menyetir mobil sendiri agar lebih cepat sampai di tujuan.
"mas hati hati jalannya masih licin nih" ujar vani karena saat ini hujan masih turun meski sudah tidak deras seperti sebelumnya.
"iya sayang, tapi menurut kamu enggak mungkin kan yuli masih ada di danau itu sampe sekarang?" tanya dika sambil fokus pada jalanan.
"aku juga enggak tau mas, lagian kenapa dia bisa sampe ada disana ya?"
"ray yang ngajak yuli kesana karena mau cerita kalo dia bakal ngelamar naya malam ini" jawaban dika membuat vani tertegun.
"maksud kamu mas ray dan naya...?"
"iya sayang, ternyata ray mau ngelamar naya bukan yuli"
"ya ampun, aku pikir selama ini mas ray punya perasaan yang sama ke yuli tapi ternyata adikku terlalu berharap banyak ke dia"
"enggak sayang, ini bukan salah yuli kok emang ray aja tuh yang suka ngasih harapan palsu" dika mengusap lengan istrinya yang sedang menunduk sedih.
"pasti sekarang yuli lagi sedih banget karena cintanya cuma bertepuk sebelah tangan mas" mata vani mulai berkaca kaca membayangkan bagaimana perasaan adiknya saat ini.
"jangan jangan yuli patah hati terus mau bunuh diri di danau lagi sayang" ucapan dika membuat vani marah.
plak!!! vani menepuk lengan suaminya.
"ih!! apaan sih kamu mas, jangan ngomong kaya gitu dong lagian yuli enggak selemah itu tau. sampe mau bunuh diri segala karena putus cinta"
"iya kaya kamu" dika melirik istrinya.
"emangnya aku pernah bunuh diri?" vani tidak terima atas ucapan suaminya.
"udah deh kita jangan debat lagi capek tau"
"ck! kamu tuh yang mulai"
"vani!! kamu bisa diem enggak?" dika berbicara dengan nada tegasnya.
vani akhirnya terdiam dan kembali merasa gelisah. bisa bisanya mereka berdebat dalam situasi begini pikirnya.
__ADS_1