Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 108


__ADS_3

tidak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan vani dan meminta dika menunggu di luar ruangan saja.


"sebaiknya bapak menunggu di luar saja ya"


"baik suster"


dika pun akhirnya keluar dari dalam ruangan vani dengan raut wajah sangat cemas.


di luar ruangan rangga ikut khawatir karena melihat dokter berjalan masuk kedalam ruangan vani dengan terburu buru di tambah dika yang keluar dari dalam ruangan dengan wajah cemas.


"dika gimana keadaan vani?"


"tadi vani udah sadar bang, tapi katanya perutnya sakit banget jadi aku langsung panggil dokter"


dika menjelaskan dengan bingung karena ia sangat cemas dengan keadaan istrinya.


"ya ampun vani yang kuat ya sayang, kamu apain menantu mama dika!"


mama ratih kembali marah sambil duduk di atas kursi dengan ranty yang terus memeluknya.


"maafin dika ma" dika berlutut di samping mamanya.


"ma, jangan bilang kaya gitu dong dika juga enggak mungkin nyakitin istri sama anaknya sendiri" rangga kembali membela dika.


sebenarnya bukan untuk membela kesalahan adiknya namun rangga takut jika dika akan merasa frustasi dan akhirnya nekat menyakiti diri sendiri akibat rasa bersalah.


"mama tenang ya mama juga harus kuat. lebih baik kita berdoa aja buat kesembuhan vani sekarang"


ranty pun menenangkan mama mertuanya itu.


"dika, lo mau kemana?"


rangga bertanya karena melihat dika hendak pergi.


"gue mau nyari musholla bang"


dika melangkah pergi meninggalkan yang lainnya.


"ma, pa kita sholat berjamaah juga yuk. kita doa minta sama allah buat keselamatan vani dan bayinya"


ranty memberi saran agar perasaan mereka menjadi lebih tenang.


"iya ma papa setuju ayo ma kita sholat"


papa hardi mengangguk setuju lalu mengajak istrinya dan keluarga yang lain juga.


semua orang setuju dan akhirnya mereka pergi bersama menuju musholla di rumah sakit itu untuk mendoakan kesehatan vani dan bayinya kecuali yuli dan hana yang memang sedang berhalangan sholat maka mereka tetap berada di sana untuk menjaga vani di luar ruangan sekaligus juga menunggu dokter keluar.


saat ini yuli dan hana sedang duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan vani.


"kak, kasian ya kak vani. kenapa ada aja ya masalah yang buat dia sedih"


hana menatap yuli yang berada disampingnya.


"iya han tapi emang semua rumah tangga itu pasti ada masalahnya kan" yuli hanya menatap lurus.


"iya sih tapi ya jangan selingkuh juga dong kak. itu kan namanya masalah yang di buat dengan sengaja"


"huh! ya gimana lagi hana namanya juga khilaf tapi gue heran deh bang dika udah nikah juga masih aja di genitin sama cewek gatel"


"iya namanya juga cakep kak. hem! kayanya aku berubah pikiran deh pengen punya suami kaya bang dika. ganteng sih tapi jadi rebutan banyak cewek"


hana mulai kembali berpikir tentang kriteria lelakinya.


"hadeuh, otak lo ye emang selama ini lo pengen punya suami kaya bang dika" yuli tidak habis pikir.


"ya siapa yang nolak kak punya suami cakep terus tajir dan baik juga"


hana berkata fakta sesuai yang ia lihat selama ini.


"em, bener juga sih" yuli menganggukkan kepalanya.


"ck! malah ikutan dia" gumam hana menggelengkan kepalanya.


setelah selesai sholat dika dan yang lainnya pun kembali masuk ke dalam ruangan vani karena dokter sudah keluar dari ruangan itu setelah selesai memeriksa keadaannya.


"yuli, gimana keadaan vani apa tadi dokter ada bilang sesuatu?"


dika bertanya kepada yuli dan hana karena tadi mereka yang berada di sana menjaga vani saat dokter keluar dari dalam ruangan itu.


"dokter bilang keadaan kak vani udah mulai stabil bang dan yang tadi itu cuma kontraksi palsu aja jadi sekarang dia lagi istirahat"


yuli menjelaskan jika kondisi vani sudah membaik.


"Alhamdulilah" mereka bersyukur secara bersamaan mendengar kabar baik itu.


mendengar tentang kondisi vani dan bayinya yang sudah kembali stabil akhirnya mama ratih setuju untuk pulang.


keluarga vani juga pulang bersama hana dan yuli untuk beristirahat di rumah saja karena tidak mungkin mereka tidur di dalam ruangan vani.

__ADS_1


sama seperti sebelumnya rangga dan dika stay menemani vani di dalam ruangannya bersama ray juga tentunya.


ketiganya pun langsung beristirahat di atas sofa dalam ruangan itu karena sudah merasa lelah sedangkan dika tetap berada di samping istrinya.


keesokkan harinya dika terbangun dari tidurnya saat merasakan ada pergerakan dari tempat tidur istrinya.


"sayang kamu udah bangun?"


dika menatap vani namun vani hanya diam saja melihatnya.


"sayang apa kamu mau minum?"


dika menawarkan namun tetap tidak mendapat respon apapun dari istrinya itu.


"sayang, kamu jangan diam aja dong"


dika mencoba tersenyum kepada vani namun vani hanya memasang wajah datar.


"vani kamu udah bangun?"


rangga yang baru saja bangun dari tidurnya pun melihat interaksi sepasang suami istri yang sedang tidak bersahabat disana.


vani hanya menganggukkan kepalanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari rangga.


"mas rangga aku mau pulang"


vani hanya menatap rangga dan tidak mau melihat keberadaan dika di sampingnya.


"em, iya udah nanti kita izin sama dokter ya tapi sekarang kamu harus makan dulu biar makin cepat sembuhnya"


rangga menjawab keinginan vani sambil melirik dika.


"em" vani pun hanya mengangguk mengerti.


"aku suapin kamu ya"


dika memegang sendok makan hendak menyuapi istrinya.


"enggak perlu, aku bisa sendiri"


vani langsung mengambil alih sendok di tangan dika hendak memakan buburnya sendiri.


dika hanya menatap vani yang sedang berusaha untuk memakan makanannya sendirian.


"sshh! aw!" vani meringis kesakitan.


tangan vani terasa sakit ketika memegang sendok, melihat hal itu dika kembali berniat untuk menyuapi istrinya saja.


"aku bantu suapin aja ya" tawar dika lagi.


"mas rangga, bisa bantu aku?"


vani menatap rangga hendak meminta bantuan dari abang iparnya saja.


rangga yang merasa bingung pun langsung menatap dika untuk meminta persetujuan dari adiknya itu.


dika mengangguk pelan untuk menyetujui permintaan dari istrinya agar vani mau makan.


"em, oke deh ayo mas suapin kamu ya"


rangga tersenyum dan menyuapi vani dengan lembut.


"makasih ya mas" vani menerima suapan itu dengan lahap.


setelah selesai menyuapi adik iparnya makan rangga pun meminta vani untuk kembali beristirahat lalu mengajak adiknya untuk keluar dari dalam ruangan.


"sekarang kamu istirahat lagi ya vani"


"iya mas" vani pun mengangguk.


"dika, gue mau bicara sama lo" bisik rangga lalu keluar dari dalam ruangan vani dan langsung diikuti oleh ray juga.


dika menatap vani yang tidak mau menatapnya bahkan istrinya itu sudah tidur membelakangi dirinya.


dika pun berdiri dan melangkah keluar dari dalam ruangan untuk menemui rangga.


ceklek!


saat ini ketiga pria itu sudah berada di luar ruangan vani untuk membicarakan sesuatu.


"ada apa?"


dika bertanya dengan malas karena vani tidak mau berbicara dengannya.


"sekarang lo jelasin semua sama ray gimana kronologis ceritanya sampe lo bisa tidur sekamar sama arin. biar ray bisa nyelesein masalah lo ini"


rangga tidak ingin masalah adiknya itu berlarut larut.


"jadi gini bang waktu itu,,,,"

__ADS_1


dika pun menceritakan kejadian yang ia alami beberapa hari yang lalu kepada ray dan rangga.


"em, maksud lo kejadiannya pas kita ngerayain kesuksesan kerja sama perusahaan waktu itu?"


"iya" dika mengangguk.


"menurut gue sih, kayanya emang ada orang yang sengaja deh ngelakuin ini buat ngerusak hubungan lo sama vani tapi gue enggak tau siapa bukannya lo enggak punya musuh bos?"


pendapat ray setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu


"em, tapi mungkin juga sih ini kerjaan saingan bisnis yang mau ngancurin reputasi keluarga kita" rangga menimpali.


"kalo iya, kayanya mereka terlalu berani deh ngelakuin hal kaya gitu bos" ray menatap rangga.


"iya tapi yang buat gue bingung kenapa harus arin? apa dia juga terlibat atau cuma korban?" rangga bingung.


"atau,,,, emang masih ada yang lo sembunyiin dari kami berdua dika?" tanya ray mengintimidasi.


"maksud lo?" dika menatap tidak suka atas pertanyaan itu.


"gue tau tentang hubungan lo sama arin selama ini jadi pertanyaan gue cuma satu apa hubungan kalian memang sejauh itu?" ray memicing menatap bosnya sendiri.


"apaan sih lo gue enggak tau" dika menghindarinya.


"ya tapi gue yakin arin pasti tau sesuatu" ray menatap dika.


dika bingung harus berkata jujur atau tidak menurutnya selama ini hubungannya dengan arin tidak pernah sejauh itu atau memang dika yang tidak sadar jika hubungan mereka sudah lebih jauh dari yang ia bayangkan.


setelah selesai berbicara dengan rangga dan ray di luar ruangan dika pun kembali masuk kedalam ruangan vani sedangkan ray dan rangga segera pergi ke kantor untuk kembali bekerja sekaligus ingin mencari bukti jika dika memang tidak bersalah.


ceklek!


dika membuka pintu ruangan vani dengan perlahan dan melihat istrinya yang sedang tertidur. ia berjalan mendekat lalu duduk di samping bankar vani


tangan dika dengan perlahan mengusap lembut bagian perut istrinya yang buncit.


"maafin papa ya sayang ini semua salah papa, karena papa kamu sama mama jadi ngerasain sakit kaya gini sekarang"


dika berbicara kepada calon bayinya yang masih belum lahir itu.


merasa ada yang sedang menyentuh bagian perutnya vani langsung terbangun dan membuka matanya.


melihat istrinya itu bangun dika pun langsung menarik tangannya menjauh dari sana karena takut vani akan semakin marah jika melihatnya.


"hai sayang, kamu udah bangun ya"


dika tersenyum manis menyapa istrinya itu.


melihat dika tersenyum kepadanya vani pun langsung berbalik badan membelakangi dika. ia kembali tidur tanpa berniat untuk menjawab sapaan dari suaminya itu.


dika hanya terdiam menatap punggung istrinya, ia mengerti jika saat ini vani sedang kecewa padanya.


menjelang siang hari mama ratih dan ranty pun kembali datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan vani.


sesampainya di dalam ruangan, mama ratih senang karena melihat kondisi vani yang sudah membaik dan bisa kembali tersenyum manis seperti biasanya.


"hai sayang gimana keadaan kamu?" tanya mama ratih kepada menantunya bungsunya itu


"Alhamdulillah udah baikan ma"


vani tersenyum melihat kedatangan mama mertuanya.


jujur saja sejak tadi vani sudah merasa lelah harus berpura pura tidur agar dika tidak menggangunya terus menerus.


"syukurlah kalo keadaan kamu udah baik sekarang vani"


ranty juga mendekati adik iparnya


"tante cantik sakit apa?"


rara yang ikut datang bersama mamanya pun ikut mendekati tantenya.


"tante enggak sakit kok sayang"


vani tersenyum sambil mengusap lembut rambut rara.


"adek bayi enggak papa kan di dalam?"


rara mendekatkan telinganya di perut vani.


"adek rara baik baik aja kok sayang"


ranty menjawab pertanyaan putrinya yang sedang penasaran itu.


"ya udah kamu banyak istirahat aja ya sayang biar cepat sembuh jadi kondisi kalian juga semakin baik" mama ratih tersenyum.


"iya ma" vani pun mengangguk.


ranty yang melihat sejak tadi dika dan vani sama sekali tidak saling berbicara sedikit pun merasa iba karena melihat wajah sedih adik iparnya yang sedang di cuekin oleh istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2