
sore harinya ray mengajak naya untuk jalan jalan di taman yang berada di dekat hotel itu karena ingin membicarakan sesuatu kepada naya.
karena bingung ray pun akhirnya duduk di sebuah kursi panjang yang berada di taman itu.
'apa yang harus gue lakuin sekarang? andai waktu bisa di ulang gue lebih baik enggak pernah datang ke tempat itu sama naya tapi sekarang percuma aja semua udah terjadi' batin ray gundah.
suara naya membuyarkan lamunan ray disana.
"ada apa bapak ngajak saya ketemu di sini?" naya sudah duduk di samping ray.
"naya, saya mau minta maaf sama kamu dan saya mohon tolong kamu ngerti keadaan saya"
"saya enggak butuh permintaan maaf dari bapak karena itu enggak akan mengubah apapun dari keadaan ini"
"iya saya tau, tapi saya.."
"udahlah pak saya juga akan melupakan semuanya"
naya hendak beranjak pergi namun ray langsung menahan tangannya.
"naya tunggu sebentar, saya cuma mau menyelesaikan permasalahan di antara kita"
"apa bapak pikir dengan minta maaf semua masalah di antara kita bisa selesai?"
naya menatap ray dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"terus saya harus gimana?" ray juga menatap naya.
"nikahin saya!"
naya mengatakan hal itu sambil meneteskan air matanya namun ray hanya terdiam dan dengan perlahan tangannya melepaskan lengan naya dari dalam genggamannya.
"itu enggak mungkin naya" ujar ray dengan suara pelan.
"iya saya tau pak maka dari itu tolong lupain semuanya tentang saya dan jangan pernah ungkit masalah itu lagi. hubungan kita hanya sebatas rekan kerja saja jadi saya permisi!"
naya pergi dengan cepat meninggalkan ray yang masih berdiri mematung di tempatnya.
ray kembali terduduk lemas di atas kursi taman itu. ia masih berpikir mengapa dirinya tidak berhasil menemukan siapa orang yang menjadi dalang masalah dirinya dengan naya di hotel itu.
ting!! bunyi pesan di ponselnya membuyarkan lamunan ray. ia segera membaca pesan itu yang ternyata dari dika.
dika sedang memastikan jika ray dan naya sudah sampai dengan aman di hotel kota itu.
ray pun membalasnya dengan kata "semuanya aman"
setelah membalas pesan itu, ray langsung bergegas pergi kembali masuk ke dalam hotel.
malam hari di dalam kamarnya ray sedang memikirkan ucapan naya tentang menikahinya.
"itu enggak mungkin gue kan udah punya istri, lagian perasaan gue yang pernah ada ke naya udah lama hilang" gumam ray berpikir sambil rebahan di atas ranjangnya.
di dalam kamar yang berbeda naya juga sedang memikirkan nasib malangnya.
satu sisi naya tidak mungkin memaksa ray untuk menikahi dirinya karena ray sudah menikah lagi pula ia juga tidak mau merusak kebahagiaan rumah tangga wanita lain namun di sisi lain naya merasa sedih karena sudah kehilangan kehormatan dirinya.
mungkin tidak akan ada lagi seorang pria yang mau menerima dirinya untuk menjadi istri jika pria itu tau tentang kebenaran dirinya yang sudah tidak lagi suci.
naya meneteskan air matanya tanpa bersuara mungkin sekarang ia harus mulai menerima kenyataan pahit yang akan ia jalani di dalam hidupnya itu.
tok!!! tok!!! tokk!!!! terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar naya.
naya yang mendengar suara ketukan pintu pun langsung beranjak untuk membukanya.
ceklekk!!!!
"pak ray?" naya melihat ternyata ray yang datang setelah pintu kamarnya terbuka.
"naya saya cuma mau bilang besok pagi kamu jangan lupa bawa persiapan untuk pergi ya karena kita harus mantau proyek di desa yang jauh dari kota" ray mengingatkan naya.
__ADS_1
"baik pak saya ingat kok. lagian bapak kan bisa ingatkan saya dari chat aja"
"oh iya saya lupa" ray sebenarnya sengaja ingin melihat keadaan naya karena merasa khawatir.
ray takut jika naya stress dan akhirnya akan bunuh diri padahal naya tidak selemah itu.
keesokan harinya naya dan ray pergi ke sebuah desa untuk memantau pembangunan proyek di desa terpencil itu dari pagi hingga petang mereka masih berada di sana.
menjelang malam hari ray dan naya pun berniat segera kembali ke hotel untuk beristirahat namun hujan deras yang mengguyur membuat mereka sulit untuk menembus jalan yang licin serta banyak pepohonan yang tumbang di tengah jalan membuat jalanan pun macet total.
"ck! kayanya kita harus bermalam di dalam mobil deh" ujar ray melihat keadaan yang ada.
"kayanya enggak bisa deh pak" naya melihat sekelilingnya.
"kenapa?"
"soalnya banyak pohon yang tumbang di pinggir jalan ini. kalo kita tetap ada di dalam mobil dan tiba tiba aja ada pohon yang menimpa mobil ini kita akan tewas di dalam mobil ini kan" naya menjelaskan.
"kamu bener juga nay, ayo kita keluar dan cari tempat berlindung yang aman"
"tapi kita enggak punya payung pak"
naya enggan keluar dari dalam mobil karena di luar sedang turun hujan yang sangat deras.
"ayo naya, kamu tutupan pakai jas saya aja kita harus cari tempat yang aman. kamu liat anginnya makin kencang di sini. gimana kalo beneran ada pohon yang tumbang" ray memaksa naya keluar.
mereka pun segera berlari menuju teras rumah penduduk yang ada disana.
"yah basah kan" naya mengusap kedua lengannya karena merasa kedinginan.
"maaf ya"
ray memberikan jasnya untuk di pakai oleh naya agar ia tidak merasa kedinginan namun percuma karena jas itu sudah basah saat mereka berlari dari seberang sana menuju rumah warga itu.
seorang wanita paruh baya yang tinggal di rumah itu keluar melihat ray dan naya sedang berteduh di teras rumahnya.
"ya ampun kalian dari mana nak? kasian banget mereka kedinginan pak" ujar ibu kepada suaminya.
"kami dari kota buk tadi sedang melakukan pekerjaan di daerah sini tapi hujannya deras sekali membuat jalanan macet karena banyak pohon yang tumbang. kami boleh numpang berteduh kan pak buk" ray meminta izin kepada pasangan pemilik rumah itu.
"oh gitu, iya tentu boleh nak ayo masuk aja ke dalam kalian ganti pakaian dulu terus makan biar enggak kedinginan lagi di sini" tawar ibu pemilik rumah.
"wah! makasih banyak ya buk atas kemurahan hatinya"
ray menarik tangan naya untuk ikut masuk ke dalam rumah itu.
"pak ray bapak yakin mau masuk?" bisik naya di dekat ray.
"ya iya dong naya, emangnya kamu mau apa kedinginan di luar sana?" ray meyakinkan naya.
"tapi pak saya takut!" naya hendak menolak.
"kan ada saya, kamu enggak usah takut ya"
ray menggenggam tangan naya dan tidak melepaskannya.
sesampainya di dalam ruang tamu rumah itu semua terlihat sedikit berbeda, naya mengusap tengkuknya merasa ada yang aneh.
"nah ini silahkan di minum tehnya nak" ibu pemilik rumah datang membawa dua cangkir teh hangat.
"makasih buk" ray dan naya serentak mengangguk lalu dengan perlahan meminum teh hangat itu bersamaan.
"oh ya, siapa nama kalian?" tanya bapak pemilik rumah.
"nama saya ray pak" ray memperkenalkan dirinya.
"kalo saya naya buk" naya juga mengenalkan diri.
"oh" bapak dan ibu pemilik rumah itu pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
"ini ada pakaian anak ibu sama bapak yang masih tinggal bisa di pakai untuk ganti pakaian kalian yang basah ya"
ibu pemilik rumah meletakkan sepasang pakaian untuk ray dan naya.
"memangnya anak bapak sama ibu kemana?" tanya ray penasaran.
"anak bapak sama ibu udah menikah dan sekarang mereka tinggal di kota dengan pasangan masing masing jadi udah jarang pulang" bapak dan ibu dengan haru menceritakan tentang kedua anak mereka.
"oh gitu, bapak sama ibu yang sabar ya mudah mudahan anak bapak sama ibu bisa segera pulang untuk melihat keadaan bapak sama ibu di sini" naya dan ray prihatin.
"iya nak makasih ya doanya, oh iya kalian bisa ganti baju di dalam kamar yang disana ya. itu juga kamar anak ibu yang perempuan. soalnya di rumah ini cuma ada dua kamar aja"
"iya buk makasih" naya dan ray kembali mengangguk.
"kalian ini pasangan suami istri kan?" tanya sang pemilik rumah membuat keduanya bingung harus menjawab apa.
"em...?"
"iya buk benar. kalo gitu kami permisi dulu ya pak mau ganti pakaian mari"
ray mengajak naya untuk masuk ke dalam kamar itu.
pasangan suami istri itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"ish lepasin! bapak apa apaan sih ngapain ngajak saya masuk ke sini?"
naya langsung menepis tangan ray yang sedang menggenggam tangannya setelah mereka masuk ke dalam kamar itu.
"iya saya mau ganti pakaian, lagian emangnya kamu mau saya tinggalin di sana sendirian?"
"iya enggak sih pak jujur saya sebenarnya takut ada disini"
naya kembali mengusap tengkuknya karena merasa rumah itu agak seram.
"nah itu kamu takut, ya udah ayo ganti pakaian di sini aja"
ray hendak membuka pakaiannya di hadapan naya.
"kenapa bapak malah bilang kalo kita ini suami istri sih?"
"emangnya kamu mau tidur luar kalo kita jawab enggak"
"iya enggak lah tapi bapak yang tidur di luar"
"ih gamau saya takut di luar serem" ray terus membuka pakaiannya di hadapan naya.
"ih bapak stop!!" naya menghentikan ray.
"emang kenapa sih nay kan kamu udah pernah liat"
"ck! dasar pak ray mesum"
"saya kedinginan nih"
"jangan pak ray emangnya bapak mau pake pakaian bekas yang bapak sendiri enggak tau gimana orangnya dulu. kalo orang yang punya baju itu punya penyakit kulit gimana bisa ketularan kan?" naya membuat ray kembali berpikir.
"kamu bener juga ya nay"
"ya udah enggak usah di ganti"
"hhh! tapi baju saya ini basah dan dingin naya gimana mau tidur juga" ray menghembuskan nafasnya pasrah.
"enggak papa pak dari pada kena penyakit kulit" naya berjalan menuju ranjang yang ada di sana.
"ya ampun kok ranjangnya kecil sih mana cukup buat kita berdua" ray menatap ranjang singel di hadapannya.
"ini emang cuma buat satu orang aja pak"
"ya udah kalo gitu kamu aja yang di bawah" ujar ray.
__ADS_1
"ish! tega banget sih" naya pun hanya pasrah.