Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 86


__ADS_3

sesampainya di depan pintu ruangannya dika langsung membuka dan masuk ke dalam bersama ray dan rangga.


namun dika tidak melihat istrinya berada di dalam sana.


"dika, vani dimana?"


rangga pun penasaran karena tidak melihat adik iparnya itu disana.


"gue juga enggak tau tadi katanya udah sampe"


dika bingung namun ia melihat ada rantang makanan yang terletak di atas meja.


"mungkin di sana"


ray menunjuk kearah kursi meja kerja dika yang terlihat sedang menghadap ke arah belakang.


"hhh!"


dika pun tersenyum lalu berjalan mendekati kursi kerjanya untuk memastikan.


setelah sampai ternyata benar vani sedang tertidur disana.


"ya ampun sayang, kamu gemesin banget sih" dika menoel pelan hidung istrinya itu.


karena merasakan seperti ada yang sedang menyentuh hidungnya vani pun membuka mata secara perlahan.


"mas dika, kamu udah pulang?"


vani tidak sadar karena berpikir dirinya sedang tidur di dalam kamarnya.


"kamu yang datang sayang, bukan aku yang pulang"


dika menyadarkan istrinya kalau mereka sedang berada di kantor.


"hem? masa sih"


vani menatap di sekelilingnya untuk memastikan.


"hehe iya ya" nyengir vani.


dika dan vani pun melangkah kembali menuju sofa.


"haha, enak banget sih vani tidurnya"


rangga menatap vani yang berjalan mendekat.


"iya mas, habis aku ngantuk banget karena kurang tidur tadi malam" vani pun duduk di samping suaminya.


saat mendengar keluhan vani tentang kurang tidur. rangga dan ray langsung menatap ke arah dika secara bersamaan.


"kenapa? lo berdua mau bilang kalo vani kurang tidur itu karena gue?"


dika menebak isi pikiran dua orang pria di hadapannya itu tanpa menoleh ke arah mereka.


"terus, kalau bukan lo siapa lagi?"


rangga selera menatap makanan yang di bawa oleh vani.


"iya emang gue lah yang buat ya kali orang lain"


dika tersenyum miring.


"ya ampun dika kasian tau adek ipar gue lo kerjain tiap malam"


rangga random menatap fokus pada makanannya.


"lagian juga kan dia yang minta kenapa lo yang repot sih"


ucapan dika membuat vani membelalakkan matanya.


"ih mas dikaa"


geram vani dengan suara pelan sambil mencubit kecil lengan suaminya dari samping karena merasa malu.


"apa sih sayang, kan emang bener kamu yang minta duluan tadi mal..."


vani langsung menutup mulut suaminya yang jahil itu karena merasa kesal sekaligus malu.


"ppffttt!!"


rangga dan ray menahan tawa melihat wajah vani yang sudah memerah akibat ulah suaminya itu.


"em, oh ya mas kamu belum dapat sekretaris baru?"


vani mengalihkan pembicaraan mereka yang absrud itu dengan bertanya kepada rangga.


"belum nih van, gimana kalo kamu aja yang balik jadi sekretaris mas mau enggak?"


rangga pun melirik ekspresi wajah adiknya.


ray melihat raut wajah vani tersenyum bahagia sambil mengangguk anggukan kepalanya lalu beralih menatap raut wajah dika yang datar.


"enggak boleh, gue enggak akan izinin istri gue kerja lagi"


dika menjawab datar sambil memakan makanannya.


seketika jawaban dika itu membuat senyuman bahagia di wajah vani kembali redup.


"gue janji enggak bakal buat vani capek kok dika"


rangga terus menggoda adiknya.


padahal rangga pun sudah tahu jawaban dika namun ia memang sengaja melakukannya untuk menggoda adiknya. karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil yang selalu mengganggu dikaa terbukti sampai sekarang rangga selalu suka menganggu putrinya hingga menangis.


"enggak!"

__ADS_1


tegas dika sebenarnya malas berdebat dengan rangga.


"oh ya bos, gimana kalo kita panggil karin aja buat jadi sekretaris bos lagi?"


saran ray yang membuat rangga tersedak minumannya.


"uhuk! uhuk! uhuk!"


rangga tersedak saat mendengar ucapan ray yang tidak masuk akal menurutnya itu lalu ia kembali minum dengan benar.


"hati hati mas"


vani melihat rangga karena minum sampai tersedak.


"apa lo bilang!! manggil karin balik kesini? yang bener aja ray mungkin otak genius lo udah enggak berfungsi ya?"


rangga tak habis pikir atas saran dari sekretarisnya itu


"emangnya kenapa bos?"


ray bingung dimana letak kesalahannya.


"enggak, gue enggak mau nanti dia besar kepala lagi dan makin sesuka hati di perusahaan ini karena merasa kalo dia di butuhkan" ucap rangga menolak.


"lah kan emang butuh" ray terus menikmati makanannya.


"gue enggak butuh tuh, lagian susah payah gue ngusir dia waktu itu. lo malah minta gue balikin dia sekarang" rangga mengomel.


"bisa diem gak sih lo berdua?" dika menatap datar.


"ray duluan nih" rangga yang menyalahkan ray.


"kenapa gue sih bos kan gue cuma ngasih solusi" ray pun membela diri.


"iya tapi solusi lo itu enggak manusiawi tau enggak"


"lah emangnya karin itu bukan manusia ya bos?"


"bukan kali"


"berisik banget sih lo berdua"


dika kesal karena rangga dan ray selalu membahas tentang sesuatu yang tak penting.


sedangkan vani hanya diam saja tak mau mengomentari percakapan tiga pria di hadapannya itu. karena jujur saja ia tidak merasa tertarik dengan nama yang mereka sebutkan.


setelah selesai makan siang, rangga dan ray mengucapkan terima kasih kepada vani atas masakan yang sudah ia bawakan untuk mereka juga


"makasih ya vani masakan kamu enak banget"


ray mengacungkan dua jempol untuk vani.


"iya sama sama mas ray. makasih ya kalo mas suka sama masakan aku" vani pun membalas dengan tersenyum.


"iya vani, sering sering ya"


"ya udah kalo gitu kita balik keja lagi ya vani dika makasih"


rangga dan ray melangkah keluar dari dalam ruangan dika.


"iya sama sama mas" vani dan dika mengangguk.


setelah rangga dan ray keluar dari dalam ruangan dika vani pun hendak pulang.


"sayang aku pulang ya?" vani menatap dika.


"enggak usah sayang kamu disini aja ya nemenin aku, entar kita pulang bareng"


dika sudah duduk di kursi karena hendak mulai bekerja.


"tapi aku capek mas, bosen juga"


"emangnya kalo di rumah kamu ngapain?"


"em,,, bobok"


"ya udah kamu bisa tidur di dalam ruangan aku sayang"


"em nanti aja deh mas. gimana kalo aku jalan jalan keluar buat liat liat sekeliling kantor ya"


"jangan sayang tadi katanya kamu capek gimana sih?"


dika bingung dengan ucapan vani yang berubah ubah.


"aku engga capek kok mas terus sekarang aku harus ngapain dong" vani bingung harus melakukan apa.


"ya nemenin aku lah"


dika selalu bersikap overprotektif pada istrinya bahkan sebelum vani hamil pun dika selalu melarangnya untuk pergi sendirian.


"aku pengen shoping bareng yuli aja deh" vani akhirnya memutuskan.


"sayang bukannya yuli setiap hari selalu jagain pakaian di butik ngapain kalian shoping?" tanya dika


"iya kan shopingnya enggak harus beli baju mas ada sepatu tas make up dan masih banyak lagi"


"em, iya juga sih. ya udah boleh deh"


"yes, alhamdulilah makasih ya suamiku yang ganteng uhh baik banget deh" emuach!


vani mengecup pipi suaminya lalu berbalik hendak melangkah keluar.


"tapi besok" sambung dika yang membuat vani harus menghentikan langkahnya.


"haish! seharusnya aku enggak muji dia dulu tadi" gumam vani kembali duduk di atas sofa.

__ADS_1


vani merasa bosan menemani dika yang sedang sibuk bekerja itu. akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan suaminya.


vani berniat untuk menemui teman baiknya rachel saja.


"mas, aku keluar bentar ya mau ketemu rachel"


vani langsung melangkah keluar tanpa menatap suaminya yang masih fokus bekerja itu.


dika hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh.


vani masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dimana tempat ruangan rachel berada.


sesampainya di dalam ruangan itu vani pun menghampiri meja kerja rachel disana.


kedatangan vani itu mendapat respon baik dari semua karyawan yang berada di dalam ruangan itu.


"hai rachel, apa kabar?"


"hai vani, eh maksudnya bu vani" rachel canggung.


"santai aja. panggil aku vani kaya biasanya ya kita masih temenan kan?" vani tersenyum.


"iya, baiklah vani"


"kamu lagi sibuk ya?" tanya vani


"ya, sedikit lebih sibuk hari ini" rachel juga tersenyum.


"em, sayang banget padahal aku pengen curhat sama kamu" ucap vani murung.


"emangnya kamu mau curhat tentang apa sih, kayanya enggak mungkin ada keluhan deh kalo nikah sama pak dika hihi" goda rachel.


"ih kamu tuh ya, ya pasti semua pernikahan itu ada enak dan enggaknya lah. bukan berarti jadi istri bos itu enak terus" vani menggelengkan kepalanya.


"em, ya udah gimana kalo next time kita ketemu di luar kantor. aku juga kangen banget deh curhat sama kamu"


"em, oke deh aku tunggu waktu luang kamu ya"


"oke deh. oh ya gimana kandungan kamu baik kan?" tanya rachel menatap perut buncit vani.


"Alhamdulilah baik. ya udah rachel kalo gitu aku pergi dulu ya semangat kerjanya" vani melangkah pergi.


"oke, makasih" rachel tersenyum.


vani berjalan jalan hingga ke lantai dasar hendak menuju taman di belakang kantor.


saat vani sedang berjalan menuju taman ia pun bertemu dengan jay yang juga sedang berada di dekat taman.


"hai vani" sapa jay mendekat.


"oh, hai juga pak jay" vani tersenyum.


"em, maksud saya bu vani apa kabar?" jay meralat sapaannya.


"em, panggil vani aja saya baik kaya yang bapak lihat"


"kayanya kamu jauh lebih baik dari kata baik"


"oh ya? apa bener kelihatan kaya gitu?" vani tersenyum


"iya. semua orang pasti bisa melihatnya"


jay selalu terpesona melihat senyuman manis vani namun sayang ia tidak dapat meluluhkan hati gadis itu dulu.


vani memang keliatan lebih fresh dan ceria sekarang meskipun sedang hamil namun justru kehamilannya membuat dirinya terlihat lebih cantik.


"haha pak jay bisa aja deh"


"hem"


"oh ya bapak lagi ngapain di sini?"


"saya baru dari tempat foto copy. ya kamu tau sendiri kan"


"iya, dulu saya juga sering ke tempat foto copy itu. bapak taukan pak dika dulu galak banget" bisik vani kepada jay.


"haha, kamu bisa aja. tapi sekarang pak dika udah enggak galak lagi sama kamu kan?" jay tertawa.


"iya lumayan, jadi makin galak sih"


vani tersenyum miris sambil menundukkan kepalanya.


"kenapa?" jay memegang pundak vani dari samping.


"hem, ya kaya yang sekarang bapak liat. saya udah enggak di izinin buat kerja lagi terus saya juga enggak boleh kerja di tempat lain. dia terlalu sayang sama saya pak jay"


"kamu sabar ya vani. saya yakin pak dika melakukan itu semua demi kebaikan kamu terlebih lagi sekarang kamu lagi hamil. lelaki mana pun pasti akan melakukan hal yang sama untuk melindungi wanita yang dicintainya"


"iya, bapak benar makasih ya"


"ya udah ayo, lebih baik kita balik sebelum pak dika nyari kamu yang pergi terlalu lama dari sisinya"


jay berjalan kembali menuju lift bersama dengan vani.


"bapak bener ayo" vani pun ikut berjalan di samping jay.


vani dan jay berjalan menuju lift secara bersama namun sebelum mereka sampai di dalam lift itu keduanya kaget melihat dika yang sudah berdiri tepat di hadapan istrinya dengan tatapan dingin.


"mas dika?" gumam vani karena tiba tiba saja dika sudah muncul di hadapannya.


"pak dika" jay hanya menunduk hormat.


"ayo kita pulang"


dika menggenggam lengan vani lalu membawa istrinya itu kembali menuju ruangannya tanpa menoleh kepada jay yang sedang berada di sampingnya.

__ADS_1


"em" vani menatap jay yang menganggukkan kepalanya.


jay hanya menatap kepergian dika dan vani dengan wajah yang datar hingga mereka masuk ke dalam lift.


__ADS_2