Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 104


__ADS_3

hingga pukul 02.00 dini hari dika baru terbangun setelah merasa pusing di kepalanya sudah berkurang.


dika bangun lalu menatap seorang wanita yang sedang berada dalam pelukannya itu.


"hhh!"


dika tersentak membuka matanya saat melihat wajah arin disampingnya.


setelah benar benar sadar dan membuka matanya dika semakin bingung ternyata dirinya sedang berada di dalam sebuah kamar hotel bersama dengan arin bahkan mereka berpelukan tanpa memakai busana.


"akhhh, apa apaan ini?"


dika memegang tengkuknya yang masih terasa sakit akibat pukulan dari orang suruhan karin sebelumnya.


"arin?"


saat melihat arin terlelap di sampingnya dengan tubuh tanpa busana begitu juga dengan dirinya yang pakaiannya sudah berantakan dimana mana dika pun mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi di antara dirinya dengan arin sebelumnya.


"apa yang terjadi! bukannya tadi aku lagi ada di jalan ya kenapa sekarang aku udah ada di sini?" dika mengamati sekeliling kamar hotel itu.


dika kembali mengingat jika tadi dirinya memang sudah pergi menuju hotel dimana arin memintanya untuk datang.


"apa aku sama arin benar benar udah melakukannya?"


saat mencoba untuk mengingat lagi dika sama sekali tidak bisa mengingat kejadian setelah dirinya jatuh pingsan.


"enggak mungkin"


tidak sengaja dika melihat bercak darah di permukaan kain sprei membuatnya membelalakkan mata.


"apa itu, enggak! itu enggak mungkin"


ternyata dika benar benar sudah melakukan itu dengan arin.


"akhh, apa yang udah aku lakuin"


dika meremas rambutnya dengan frustasi.


merasakan ada pergerakan di sampingnya arin pun mulai terbangun dan membuka mata secara perlahan lalu ia menatap dika yang sedang berada di sampingnya itu.


arin tersenyum menatap dika lalu kembali melanjutkan tidurnya dengan memeluk lengan dika.


dika hanya menatap arin dengan bingung sambil berpikir mengapa arin justru tersenyum menatapnya lalu kembali tidur saat tahu ada seorang pria yang tidur disampingnya.


'kenapa dia senyum doang?'


seharusnya arin merasa kaget dan berteriak saat melihat dika bukan malah tersenyum.


"vani!"


dika kembali sadar dan mengingat istrinya di rumah yang pasti sudah menunggunya sangat lama.


sudah dini hari namun dirinya belum kembali pulang ke rumah vani pasti sangat khawatir begitu pikirnya.


dengan gerakan perlahan dika menarik tangannya yang sedang berada di dalam pelukan arin itu.


dika memakai kemeja serta merapikan pakaiannya yang kusut berantakan lalu perlahan turun dari atas ranjang.


setelah merapikan pakaiannya dika bergegas melangkah keluar dari dalam kamar hotel itu dan meninggalkan arin begitu saja.


"hhh! gue harus pulang sekarang"


sesampainya di parkiran hotel itu dika kembali dibuat bingung karena mobilnya sudah terparkir rapi disana.


"sejak kapan gue markirin mobil disini?"


dika masih bertanya tanya dengan bingung.


tidak mau lebih lama memikirkannya dika pun langsung masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobil untuk kembali pulang menuju rumahnya.


sesampainya di rumah dika langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


ceklek!


dika membuka pintu kamarnya secara perlahan melihat istrinya ternyata sudah tertidur di atas ranjang posisi vani bersandar dengan banyak bantal di sampingnya untuk menahan tubuhnya.


tidak mau menyentuh istrinya dalam keadaan yang belum mandi dika langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya terlebih dahulu.


di dalam kamar mandi dika memutuskan untuk berendam sebentar menenangkan dirinya.


"apa yang udah gue lakuin sih!"


dika menyesali perbuatannya dan sangat merasa bersalah kepada vani karena sudah mengkhianati cinta tulus dari istrinya itu.


"maafin aku sayang"


dika meneteskan air matanya sambil merenungi nasibnya yang malang.


setelah selesai membersihkan diri dika langsung menuju ruang ganti untuk memakai baju tidurnya.


dika melangkah secara perlahan mendekati vani yang sudah terlelap lalu ia pun naik ke atas ranjang hendak membenarkan posisi tidur istrinya.


dengan lembut dika mengangkat tubuh vani merebahkan di atas ranjang dengan posisi tidur yang lurus dan benar.


"emh!"


vani menggeliat dan terbangun saat merasakan ada seseorang yang menyentuhnya.


"emh, mas!"

__ADS_1


vani membuka matanya perlahan dan tersenyum menatap dika yang sudah kembali dan berada di sampingnya.


"mas dika, kamu udah pulang?"


vani memeluk tubuh dika dan menyembunyikan wajahnya di pangkal leher suaminya itu.


"iya sayang" cup!


dika pun tersenyum lalu mengecup pipi istrinya.


"hem, wangi"


vani menghirup aroma tubuh suaminya yang maskulin itu. ia merasa tenang saat menghirup aroma tubuh dika yang sangat segar karena baru saja selesai mandi.


"aku kangen" gumam vani semakin erat memeluk tubuh suaminya yang harum.


vani merasa sangat nyaman berada dalam pelukan suaminya hingga ia kembali terlelap dalam pelukan dika.


merasa vani sudah kembali tertidur dika pun mengusap lembut rambut istrinya lalu mengecup kening vani.


cup!


saat sedang mengecup pipi istrinya dika kembali teringat dengan arin yang ia tinggalkan begitu saja dalam keadaan yang dika sendiri bingung melihatnya.


'maafin aku ya sayang aku nyesel banget!' batin dika memeluk erat tubuh istrinya dengan mata berkaca kaca.


dika sangat merasa bersalah karena sudah mengkhianati istri yang sangat dicintanya itu.


"maafin papa ya nak" cup!


dika juga mengecup dan mengelus lembut perut istrinya.


sambil masih memeluk tubuh istrinya dika pun kembali berpikir bagaimana mungkin dirinya bisa berada di dalam kamar hotel itu bersama dengan arin sedangkan ia hanya ingat jika dirinya sedang berada di jalan menuju ke hotel dan belum sampai di hotel itu.


dika semakin bingung melihat mobilnya sudah terparkir di sana namun ia tidak bisa mengingatnya. apa mungkin itu karena efek minuman sehingga dika tidak bisa mengingat jika dirinya sudah melakukan hal itu dengan arin pikirnya.


hampir frustasi dika memikirkannya apakah benar ia sudah mengkhianati istri yang dicintainya itu atau tidak.


hati kecil dika berkata jika dirinya tidak pernah melakukan hal itu dengan arin namun dika juga tidak dapat mengingat apapun setelah ia keluar dari dalam mobil saat itu karena pingsan dan tidak sadarkan diri.


'iya gue yakin kalo gue enggak mungkin ngelakuin itu sama arin' batin dika merasa yakin


'tapi darah itu?'


dika kembali bimbang mengingat bercak darah di sprei tempat tidurnya dengan arin. rasanya kepala dika ingin meledak memikirkan hal itu yang terus berputar di otaknya.


"aakhh!"


setelah pusing memikirkan tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan arin dika memutuskan untuk tidur menyusul istrinya ke dalam dunia mimpi yang indah.


dika tidur sambil memeluk tubuh istrinya dan mengusap lembut perut buncit istrinya sampai ia benar benar terlelap.


keesokkan harinya di pagi hari sebelum berangkat ke kantor dika dan vani sarapan bersama dengan papa dan mamanya seperti biasanya.


ray datang menyapa semua orang yang sedang berada di meja makan.


seperti biasanya ray datang karena ingin menjemput dika untuk berangkat ke kantor bersama.


"pagi juga mas ray" vani tersenyum ceria membalasnya


"ray ayo kita sarapan bersama"


mama ratih dan papa hardi mengajak ray untuk sarapan bersama.


"terima kasih tante, om"


ray pun duduk menerima tawaran sarapan dari mama ratih.


"oh iya dimana arin?" tanya papa hardi menatap dika dan vani secara bergantian.


"em, enggak tau deh pa mungkin masih ada di dalam kamarnya soalnya vani belum ada liat dari tadi"


vani menjawab pertanyaan papa mertuanya sedangkan dika hanya diam saja mendengarnya.


"oh gitu ya" papa hardi mengangguk.


dika menghentikan sarapannya karena tiba tiba saja ia merasa selera makannya hilang saat mengingat arin.


"mas, kamu kenapa kok berhenti makannya?" tanya vani saat melihat dika yang tidak melanjutkan sarapannya.


"aku udah kenyang sayang, mau langsung berangkat ke kantor aja soalnya ada meeting pagi ini"


dika beralasan lalu beranjak dari duduknya dan langsung menatap ray.


"uhuk! iya siap bos"


saat mendapat tatapan itu dari dika membuat ray harus mengakhiri sarapannya yang belum selesai.


glek! glek!


ray pun langsung meminum air di dalam gelasnya lalu berdiri mengikuti bosnya itu untuk berpamitan.


"ya ampun dika kamu liat dong, ray itu belum selesai makannya"


mama ratih protes dengan kelakuan kedua putranya itu.


"biarin aja ma, ray bisa lanjut sarapan di kantor kok iya kan ray?" dika menatap ray.


"iya bos, enggak papa kok tante om"

__ADS_1


ray hanya tersenyum meskipun hatinya mengumpat bosnya itu.


cup! dika mengecup kening istrinya dan di balas vani mengecup punggung tangan suaminya.


"papa kerja dulu ya sayang"


dika mengusap lembut calon bayinya.


"iya pa, hati hati ya"


"iya sayang"


tidak lupa dika pun mengecup punggung tangan kedua orang tuanya untuk pamit karena akan segera pergi ke kantor begitu juga dengan ray yang ikut pamit kepada om dan tante yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya itu.


"dika pamit ya ma, pa"


"pamit om tante"


"iya kalian hati hati ya nak"


mama ratih dan papa hardi tersenyum pada keduanya.


"iya ma"


vani mengikuti langkah suaminya sampai ke depan teras rumah meninggalkan kedua mertuanya yang masih berada di meja makan.


"kalian hati hati ya mas"


vani sambil menyerahkan tas kerja milik suaminya itu.


"iya sayang, em kamu enggak usah ke butik ya hari ini kamu di rumah aja kasian nanti baby kecapekan bentar lagi kan mau acara tujuh bulanan"


dika mengusap perut vani lembut.


"iya mas" vani mengikuti keinginan suaminya.


"papa pergi dulu ya sayang, jagoan papa sehat terus ya" emuach


dika mengecup perut istrinya sambil mengajak anaknya berbicara.


"iya papa hati hati ya, semangat kerjanya"


vani menyemangati suaminya yang hendak pergi ke kantor.


"pasti sayang, kalian berdua adalah penyemangat aku" dika mengusap lembut pipi istrinya.


"dah!! sayang i love you"


dika tidak pernah lupa untuk mengatakan ucapan romantis kepada istrinya saat hendak pergi atau sebelum tidur.


"love you too sayang" vani melambaikan tangannya.


tin! tin! suara klakson mobil yang hendak melaju.


setelah dika masuk ke dalam mobil, ray pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor.


belum lama mobil dika pergi terlihat arin pulang dengan berjalan tertatih.


"loh mbak arin dari mana, kenapa kok jalannya kaya gitu?" tanya vani penasaran saat melihat arin jalan tertatih.


"em, aku enggak papa kok vani tadi aku habis dari jalan jalan pagi tapi malah jatuh jadi kaki aku masih sakit" jawab arin beralasan.


"oh, kalo gitu kita ke dokter ya mbak"


vani khawatir dengan kaki arin yang baru saja sembuh.


"eh, em enggak usah vani aku enggak papa kok cuma butuh istirahat aja, aku ke kamar dulu ya"


arin hendak melanjutkan langkahnya.


"em aku anterin ya mbak"


vani membantu arin berjalan menuju pintu lift lalu naik ke lantai atas menuju kamar arin.


"makasih ya vani" keduanya berjalan menuju kamar arin bersama


sesampainya di depan pintu kamar arin vani pun mengajak arin untuk masuk.


ceklekk!


mereka sudah sampai di dalam kamar arin lalu arin duduk di tepi ranjang.


"duduk pelan pelan ya mbak" vani memegangi lengan arin.


"makasih ya vani padahal kamu juga susah buat jalan"


arin menatap perut buncit vani yang sudah semakin membesar.


"iya sama sama mbak, enggak papa kok"


"em, ya udah aku istirahat dulu ya"


"oh iya itu leher mbak arin kenapa?"


vani curiga melihat banyak tanda dan bekas ciuman di leher arin.


bagaimanapun vani tau pasti jika tanda itu adalah bekas sebuah ciuman dari seseorang karena dirinya juga sering memilikinya akibat ulah dari suaminya begitu pikirnya.


"em enggak papa kok ini cuma bekas di gigit nyamuk"

__ADS_1


arin berbohong untuk menutupi kebenarannya.


"masa sih? segede apa ya nyamuknya" gumam vani merasa canggung kemudian melangkah menuju pintu keluar dari dalam kamar arin.


__ADS_2