Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Patah hati


__ADS_3

saat keduanya masih asik menikmati ciuman hangat di dalam ruangan itu, vani mendengar sensor monitor berbunyi di sampingnya tanda jika akan ada seseorang yang datang.


"mas siapa?"


tanya vani karena melihat seseorang hendak masuk ke dalam ruangan dika.


"emang siapa sih sayang?"


namun dika tak menanggapinya dengan serius.


karena ada seseorang yang akan masuk, saat itu juga vani langsung beranjak dari duduknya.


ceklekk!!


pintu ruangan terbuka.


vani berdiri tepat di samping kursi dika sambil merapikan pakaiannya.


setelah vani beranjak dari atas pangkuannya, dika pun mengalihkan pandangan ke arah pintu lalu ikut berdiri juga.


"ck, emang siapa sih?" gumamnya kesal.


dika ingin melihat siapa orang yang datang, karena telah sangat berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


apalagi seseorang itu tidak mungkin rangga karena mereka sedang pergi begitu pikirnya.


selain rangga tidak ada yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


dika terus memperhatikan kearah pintu masuk, hingga tiba tiba saja seseorang itu muncul di hadapannya.


"hai sayang, apa kabar? aku kangen banget sama kamu"


karin berjalan cepat mendekat lalu memeluk tubuh dika tepat di hadapan vani yang masih berada di sampingnya.


'karin' batin dika mematung saat melihat siapa yang datang.


"aku udah pulang sayang dan sekarang aku udah siap buat nikah sama kamu"


karin tersenyum memeluk dika tanpa melihat kearah vani yang masih berdiri disana.


melihat pemandangan yang sangat menyayat hati itu tepat di hadapannya membuat tubuh vani mematung dengan mata yang berkaca kaca menatap ke arah kekasihnya.


vani merasa kecewa melihat dika yang hanya diam saja saat karin memeluknya.


tak tahan melihat pemandangan di hadapanya, vani pun langsung keluar dari dalam ruangan dika tanpa mengucapkan apapun lagi.


"vani..."


dika hendak mengejar vani saat menyadari kekasihnya itu pergi namun karin langsung mencegahnya.


"sayang kamu mau kemana? jangan pergi dong, aku kan baru pulang. masih kangen banget tau"


karin kembali memeluk dika dengan manja.


"ck! lepasin!!!"


dika melepaskan pelukan karin dari tubuhnya.


"sayang, kamu kenapa?" tanya karin bingung.


"enggak papa" dika memalingkan wajahnya.


"sayang,,,,"


"jangan sentuh aku!"


"sayang, kamu kenapa sih?"


"aku engga papa. kamu yang kenapa, kenapa tiba tiba kamu pulang...?"


"aku udah siap nikah sama kamu sekarang"


"hhh! apa kamu bilang, kamu udah siap nikah sama aku?"


"iya sayang, kita bakal nikah secepatnya"


karin tersenyum sambil menyentuh pipi dika.


"hhh! nikah? emang siapa yang mau nikah sama kamu?"


"iya kamu dong sayang. kita menikah"


"itu enggak pernah akan terjadi karin"


dika tersenyum tipis sambil menggeleng.


"sayang, kamu ngomong apa sih? aku cinta sama kamu"


karin hendak memegang tangan dika namun dika langsung menepisnya.


"cinta kamu bilang? apa yang sebenarnya kamu cintai dari aku karin. apa kamu cinta uang, mau kekuasaan atau keluarga yang terpandang?"


"itu enggak bener sayang, aku cinta sama kamu tulus"


"tulus? kalo kamu memang tulus, kenapa kamu bisa pergi setahun lamanya happy sama teman teman kamu tanpa ngabarin aku disini. itu yang kamu bilang tulus?"


"maafin aku ya, aku cuma.."


"aku selalu nungguin kabar dari kamu setiap hari karin tapi kamu bahkan enggak mau balas chat dari aku sekalipun" dika merasa kecewa.

__ADS_1


"kamu tau kan, aku cuma nikmatin liburan aja disana jadi aku jarang pegang hp sayang"


"kamu bisa ngabisin waktu banyak sama teman kamu tapi enggak sempat buat ngabarin aku?"


"sayang..."


"kamu pergi keliling dunia sama temen temen kamu pake uang dan fasilitas dari aku tapi disana kamu malah lupain aku?"


"bukannya kamu udah izinin aku pergi, kenapa sekarang kamu marah"


"aku enggak marah, lagian aku izinin kamu pergi itu karena mama yang minta"


"tapi sekarang aku udah pulang kan sayang"


"iya itu pasti karin, kamu pulang karena aku udah cabut semua fasilitas dan kemewahan yang pernah aku kasih ke kamu. iya kan?"


"itu enggak bener. aku pulang karena aku udah siap buat nikah sama kamu, percaya sama aku"


karin memegang kedua pundak dika.


"percaya sama kamu setelah semua ini? hhh! maaf, tapi hubungan kita udah berakhir karin"


dika melepaskan tangan karin dari bahunya.


"enggak sayang! kamu ngomong apa sih, aku enggak mau kita putus" karin kembali memeluk tubuh dika dengan erat.


"kalo aku enggak bekuin kartu yang ada sama kamu mungkin sampe sekarang kamu belum pulang karin"


dika berusaha untuk melepaskan pelukan karin dari tubuhnya.


karin hanya bisa terdiam melihat kemarahan di mata dika, tatapan mata itu memperlihatkan sebuah kekecewaan yang mendalam.


karin terlalu sepele karena selama ini dika hanya diam saja menuruti semua keinginannya namun sekarang dika tidak akan termakan oleh rayuan karin lagi.


"aku enggak mau kita putus, aku masih cinta sama kamu"


karin mendekat hendak mengecup bibir dika namun dika langsung menolaknya.


"jangan sentuh aku karin" dika menjauhkan diri.


"kenapa sekarang kamu berubah kaya gini, apa karena cewek yang tadi ada disini kamu jadi berubah sayang?"


"diam karin! jangan nyalahin orang lain dalam kesalahan kamu sendiri"


dika tidak ingin karin menyalahkan kekasihnya.


"tapi tadi aku liat cewek itu enggak suka banget ngeliat kita berdua. aku yakin dia alasan kamu jadi kaya gini ke aku. iya kan?"


karin menggenggam kedua tangan dika.


"udahlah karin, jangan nyari alasan terus dan nyalahin orang lain"


"kamu pergi karena mau menikmati kebebasan kan? kamu anggap kalo nikah sama aku, kamu enggak bakal bisa bahagia lagi jadi kamu nyari alasan pergi buat ngehindar dari aku"


"enggak sayang...."


"sekarang kamu bebas karin, pergilah kemana pun yang kamu mau. pergi yang jauh dari hidup ku selamanya dan jangan pernah kembali lagi"


"enggak sayang, itu enggak bener. aku enggak mau pergi" hiks! hiks! hiks!


"aku udah ikhlasin kamu pergi karin"


"aku enggak akan pergi sayang, aku mohon maafin aku ya"


hiks! hiks! hiks!


karin berlutut sambil menangis tersedu sedu di hadapannya membuat dika kembali iba melihat gadis itu.


"karin berdiri, jangan kaya gini"


dika berusaha menarik karin agar berdiri.


"enggak! aku bakal tetap disini sampe kamu mau maafin aku" karin memeluk kaki dika.


"lepasin karin"


"enggak mau" hiks! hiks!


"karin bangun, ayo duduk disini"


dika merangkul pundak karin, membawanya untuk duduk di sofa.


'berhasil, ternyata kamu enggak pernah berubah sayang'


batin karin tersenyum sambil memeluk dika.


karin tau dika tidak akan tega melihat seorang wanita menangis di hadapannya.


*


di dalam kamarnya, saat ini vani masih terus menangis karena tak kuasa menahan sakit di hatinya.


"kan udah di bilang jangan jatuh cinta vani,,, kenapa sih bandel banget" kesal vani kepada dirinya sendiri sambil menghapus air mata.


"hikss!! hikss!!!"


mengingat kekasihnya akan menikahi gadis lain membuat vani sedih hingga ia tertidur di atas ranjang karena merasa lelah menangis.


sore harinya yuli pulang bekerja dan melihat kakaknya sedang melamun sedih.

__ADS_1


vani duduk bersandar diatas ranjang dengan mata bengkak setelah bangun dari tidurnya.


melihat vani menangis yuli pun merasa bingung apa yang sudah terjadi pada kakaknya itu.


"kamu kenapa kak, kok nangis?"


yuli mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


vani yang merasa sangat sedih langsung memeluk adiknya itu untuk menumpahkan kesedihannya disana.


"hiks! hiks! hiks!"


vani masih enggan menjawab pertanyaannya dan terus menangis di dalam pelukan yuli.


"udah, jangan nangis dong. nanti muka kamu jadi jelek loh"


yuli mencoba menenangkan hati sang kakak.


"nih minum dulu, terus tarik nafas yang dalam kalo udah tenang baru deh kamu cerita. siapa yang udah buat kamu sampe nangis kaya gini"


yuli dengan tenang menyodorkan segelas air kepada kakaknya.


glek! glek! glek!


vani meminum air sampai habis dalam gelas.


beberapa menit setelah merasa lebih tenang akhirnya vani menceritakan keluh kesah yang membuatnya sedih itu kepada adiknya.


"ternyata kamu bener yul" ucap vani datar.


"bener apa?" yuli merasa bingung.


"aku bukan satu satunya cewek di dalam hidup pak dika"


vani bercerita dengan mata yang kembali berkaca kaca.


"kamu serius?"


"iya, tadi pacarnya dateng terus langsung meluk pak dika di depan mata aku tapi dia cuma diem aja di peluk sama cewek itu" hiks!


"benerkan aku bilang juga apa. enggak mungkin cowok kaya pak dika itu masih jomblo kak"


"cewek itu juga bilang kalo dia udah siap buat nikah sama pak dika..." hiks! vani tertunduk kembali meneteskan air matanya.


"wah! parah itu pak dika, udah punya calon istri ternyata tapi masih aja nyosor cewek lain. eh, maksudnya suka sama cewek lain. hehe"


yuli sedikit bercanda agar bisa mengurangi kesedihan di wajah kakaknya.


"hem,, tapi aku juga bingung sih"


"bingung kenapa?"


"aku kesel sama dia karena udah bohongin aku, tapi aku masih sayang sama dia. gimana dong"


"apa! lo masih sayang sama cowok kaya gitu? bener bener ya otak lo udah geser! kalo gue jadi elo udah gue hajar tuh cowok sama ceweknya sekalian" huh!!!!


yuli kesal sambil mengepalkan tangannya sendiri.


"loh! kenapa malah aku yang hajar mereka yul, kan aku yang udah jadi orang ketiga diantara mereka" vani bingung dengan polosnya.


"lah iya bener juga, lagian kenapa sih lo cantik gini malah jadi pelakor"


"ya mana aku tau kalo dia punya pacar"


"nah! itu lo udah tau kan sekarang, jadi saran gue mending lo mundur aja deh kak dari pada entar netizen pada ngirainnya lo itu perusak hubungan orang"


"hem, iya sih yul aku juga enggak mau ngerusak hubungan orang lain kok"


"nah bagus kalo gitu!! kakak ku yang cantik dan baik hati memang enggak boleh nyakitin hati orang lain"


yuli tersenyum merangkul pundak vani untuk menyemangatinya.


"ku pikir dia selingkuh, ternyata akulah selingkuhannya"


gumam vani tersenyum tipis dengan kemirisan asmaranya. baru saja merasakan indahnya cinta namun ia harus menerima luka dan pahitnya cinta.


"yang sabar ya kakak ku" yuli memeluk vani.


"em, makasih ya yul kamu selalu ada buat nemenin aku" vani membalas pelukannya.


"eh, tapi kamu enggak pernah ngelakuin hal yang aneh aneh kan sama pak dika?"


yuli memicingkan matanya curiga.


"ck! iya enggaklah yul"


"ya mana tau kan lo bucin, di butakan oleh cinta sampe mau menyerahkan segalanya demi cinta haha"


"eh, elo tuh yang di butakan cinta, sampe gak bisa liat mana yang tulus mana yang modus"


"ih, siapa yang modus?"


"ya cowok itu, udah jelas dulu ada yang serius mau ngelamar. eh, lo malah milih yang belum jelas asal usulnya"


"apaan sih lo, kenapa jadi gue" kesal yuli


"hehe maaf ya. makasih kamu udah hibur aku"


"sama sama" mereka pun berpelukan.

__ADS_1


vani merasa sangat beruntung karena memiliki adik yang selalu menghiburnya disaat sedih.


__ADS_2