
dika terus memperhatikan bayinya yang sedang menyusu itu hingga rasanya sulit untuk mengalihkan pandangannya dari sana.
"kamu ngapain liatinnya sampe kaya gitu mas?" vani menyadari jika suaminya tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana.
"eh, enggak papa kok sayang. hehe" nyengir dika.
"kamu kok tumben jam segini udah pulang sih mas?" tanya vani penasaran.
"em, iya enggak papa sih sayang soalnya enggak banyak kerjaan di kantor. lagian ini kan udah jam pulang kantor"
"iya tapi kamu pulang udah dari tadi kan mas makanya kamu udah mandi sama udah tidur juga"
"iya aku kangen kalian sayang" dika menjawab sambil terus menatap wajah bayinya yang masih menyusu.
"iya tapikan...."
dika langsung menimpalinya dengan berbicara pada bayi yang masih menyusu itu saat vani terus bertanya.
"sayang udah dong nennya, gantian papa juga pengen tau" dika menoel noel pipi putranya dengan gemas.
"enggak boleh pa, nennya udah punya affa sekarang" vani membahasakan bayinya yang sedang berbicara.
"yah, kok enggak boleh sih sayang dikittt aja boleh ya?" dika masih bernego dengan bayinya.
"hem kamu tuh ya mas...." vani menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.
"hehe, kenapa sih sayang kan emang bener papanya juga pengen tau" dika tersenyum membujuk istrinya.
"enggak boleh dong mas"
"em, sayang aku mau ngomong sesuatu sama kamu" dika terlihat sedikit gugup. ia berpindah posisi menjadi duduk di samping istrinya.
"kamu mau ngomong apa mas?" vani menatap mata dika dengan serius karena penasaran dengan sesuatu itu.
"aku... aku..."dika semakin merasa gugup saat ingin mengatakan maksudnya.
"kamu kenapa sih mas kok kaya anak ABG yang lagi jatuh cinta tapi ragu buat ngucapin gitu sih?" vani meledek dan menertawakan sikap gugup suaminya.
"em.. aku..."
sebenarnya dika ingin mengatakan sesuatu tentang keluhan mama ratih di kantor tadi kepada istrinya namun dika kembali membayangkan bagaimana jika istrinya akan marah karena dirinya membahas tentang arin. dika tidak ingin jika hal itu sampai terjadi lagi.
"aku apa sih sayang?" vani semakin penasaran saat melihat kegugupan suaminya itu.
"aku cinta sama kamu" dika pun beralasan agar vani tidak terus bertanya tentang ucapannya yang menggantung.
sebenarnya hal itu masih sangat membuat vani merasa penasaran karena tingkah dika yang terkesan aneh dalam menjawabnya namun mendengar ungkapan cinta dari suaminya itu langsung membuat senyum mengembang di wajah vani.
"aku juga cinta sama kamu suamiku" vani tersenyum menyandarkan kepala di dada suaminya yang saat ini berada di samping tubuhnya.
dika pun ikut tersenyum memeluk istrinya dari samping dengan sebelah tangan melingkar di tubuh vani dari arah belakang namun dika masih terus berpikir sampai kapan ia akan berada di posisi sulit seperti ini.
bagaimana caranya dika akan meminta izin kepada vani untuk melihat keadaan arin sedangkan hal itu pasti akan menyakiti hati istrinya itu pikir dika merenung.
sebenarnya dika tidak terlalu memikirkan tentang arin namun ia juga masih harus memastikan jika bayi yang sedang di kandung arin itu memang bukan bayinya.
hal itu juga membuat mama ratih bingung dalam menjaga arin yang bahkan tidak makan dengan teratur dirumah.
malam hari di kediaman wijaya terlihat arin kembali menghancurkan barang barang yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"aarrgghh!! ini semua karena raka sama karin aku harus nemuin mereka" kesal arin.
"aku juga harus nemuin dika, enggak! kayanya aku harus nemuin vani aja biar dia enggak ngelarang dika buat nemuin aku lagi" arin menatap kaca rias di dalam kamarnya.
mama ratih yang sedang membawa segelas susu hangat untuk arin pun kembali terkejut mendapati kamar arin yang sudah berantakan.
mama ratih beralih menatap arin yang sedang duduk di atas lantai dengan keadaannya juga terlihat sangat kacau.
"arin kamu kenapa nak?" mama ratih membantu arin untuk kembali duduk di atas ranjangnya.
"aku mau mas dika ada di sini tante aku mohon" minta arin dengan air mata di pipinya.
"baiklah sayang. tante akan telpon dika sekarang ya.
di kediaman rangga, putrinya rara terus saja merengek kepada mama dan papanya itu. rara meminta agar mereka datang ke rumah raffa. karena ia ingin bertemu dan bermain dengan adiknya itu.
"papa mama, ayo dong kita main ke rumah raffa. rara kan pengen ketemu sama adek" rara menarik tangan papanya.
"iya sayang tapi besok ya. ini udah malam, adek raffa juga pasti udah tidur." rangga membujuk putrinya yang terus merengek.
"iya sayang. kita ke sananya besok aja ya. rara jangan nangis lagi okay" ranty ikut memberi pengertian kepada putrinya itu.
"huh!!! iya udah deh tapi janji ya pa, besok kita ke rumah adek."
"iya sayang papa janji deh, sekarang rara tidur dulu ya" emuach rangga mengecup kening putrinya.
"oke deh pa" rara langsung berbaring di atas ranjangnya lalu rangga menarik selimut untuk menyelimuti putrinya.
setelah rara tertidur pulas, rangga dan ranty memutuskan untuk kembali ke dalam kamar mereka yang berada di samping kamar rara.
setelah sampai di dalam kamar mereka pun merebahkan diri di atas kasur empuk mereka.
"hem, aku juga bingung sayang nanti kita bahas lagi ya sekarang kita tidur dulu aku capek banget" rangga pun meneruskan tidurnya hingga terlelap.
-
malam itu juga setelah mama ratih menelpon dika pun langsung bergegas pergi menuju rumah orang tuanya. kebetulan saat itu istrinya sudah terlelap jadi dika tidak tega untuk membangunkannya.
dika pergi tanpa meminta persetujuan dari istrinya karena ia berpikir saat ini bukan waktu yang tepat.
dika melajukan mobilnya dengan cepat sampai di kediaman orang tuanya.
sesampainya di rumah utama. mama ratih yang sudah menunggu dika pun langsung meminta dika untuk membujuk arin agar mau makan atau sekedar meminum susunya.
dika pun bergegas masuk ke dalam kamar arin hendak membujuknya makan karena kondisi arin yang sudah lemah.
ceklekk...!! pintu kamar arin terbuka.
dengan perlahan dika berjalan mendekati arin yang sedang duduk di atas ranjangnya sambil menangis.
arin menunduk sambil menyembunyikan wajahnya di atas lengan yang bertumpu pada lututnya. ia tidak menyadari kedatangan dika disana. karena saat ini arin sedang menangis sambil merenungi kesalahannya.
hati dika terenyuh melihat gadis malang di hadapannya itu. menangis ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada arin saat ini.
dika pun berpikir seandainya waktu itu keluarganya tidak membawa arin ke kota itu mungkin saat ini arin tidak akan mengalami hal seperti saat ini. apalagi arin sudah tidak memiliki siapa pun selain mereka yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
dika duduk di tepi ranjang arin sambil terus menatap sendu gadis yang sedang menunduk sedih itu.
"arin?" panggil dika mengusap rambut gadis itu agar arin menyadari kedatangannya.
__ADS_1
arin mengangkat wajahnya saat merasakan usapan lembut di rambutnya.
"mas dika?" arin menatap dika yang berada di hadapannya.
dika tersenyum mengangguk membalas arin yang sedang menatapnya.
"apa ini beneran kamu mas. aku enggak lagi halusinasi kan?" arin tidak percaya lalu memegang pipi dika dengan kedua tangannya.
"iya ini aku arin" dika melepaskan genggaman tangan arin dari wajahnya namun ia tetap menggenggam kedua tangan arin di tangannya.
"mas aku senengnya banget kamu datang. aku kangen sama kamu" arin memeluk tubuh dika sambil tersenyum.
"udah kamu jangan nangis lagi ya aku janji bakal sering datang buat nemaenin kamu disini tapi kamu juga janji ya kalo kamu harus mau makan dan jaga kesehatan kamu" dika membalas pelukan arin.
"iya mas aku janji bakal jaga kesehatan anak kita" arin mengangguk dalam pelukan pria yang dicintainya itu.
arin memang sadar jika dirinya telah bersalah karena sudah mencintai suami orang lain namun ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri jika ia sangat mencintai dika. ia sangat bahagia saat dika memberinya perhatian.
"kalo gitu kamu makan dulu ya baru siap itu minum susunya" dika tersenyum setelah melepaskan pelukannya.
"iya mas" arin mengangguk sambil tersenyum.
arin memang gadis yang penurut terlebih lagi pada orang yang disayanginya dirinya akan rela melakukan apapun demi seseorang tersebut.
"bagus, gadis pintar" dika mengambil piring di atas nakas lalu menyuapi arin untuk makan.
arin pun menghabiskan makanannya dengan lahap karena dika menyuapinya dengan sabar. setelah itu arin juga meminum susunya hingga gelas itu kosong.
dika tersenyum menatap arin yang kembali ceria dan bersemangat itu.
"ya udah sekarang kamu istirahat ya" dika memegang kedua pundak arin.
"mas, boleh enggak kalo kamu usap perut aku?" arin meminta dika untuk memberi perhatian juga kepada bayinya.
dika terdiam menatap wajah arin lalu mengalihkan pandangannya pada perut arin yang sudah mulai terlihat membuncit itu.
"em" dika mengangguk lalu menggerakkan tangannya mengusap lembut perut arin.
dika melakukannya agar arin tidak bersedih lagi meskipun dirinya yakin jika bayi itu bukanlah anaknya namun dika tidak tega melihat arin terus bersedih. apalagi bayi itu juga tidak berdosa bagaimana mungkin bayi itu di hukum atas kesalahan yang tidak dilakukannya.
"liat sayang papa kamu juga sayang sama kamu kan" ucap arin saat dika mengusap perutnya.
dika hanya tersenyum tipis namun tidak berniat untuk mengajak bayinya berbicara.
"ya udah arin kalo gitu kamu istirahat ya" dika menarik kembali tangannya meminta arin untuk segera beristirahat.
"mas tapi kamu temenin sampe aku tidur ya" minta arin memegang tangan dika.
"ya udah ayo kamu tidur sekarang ya" dika menarik selimut menutupi bagian kaki hingga ke perut arin.
"keliatannya kamu gelisah banget mas. apa vani enggak tau kalo kamu datang ke sini?" tanya arin menatap dika.
"vani tau kok, kamu enggak usah pikirin itu ya. pokoknya sekarang kamu harus janji sama aku kalo kamu bakal selalu jaga kesehatan kamu dan bayi kamu juga. kamu harus nurut sama mama karena itu demi kebaikan kalian, kalo kamu enggak mau nurut aku enggak bakal datang lagi nemuin kamu besok" dika memperingati arin.
"iya mas. aku janji bakal selalu jagain anak kita dengan baik tapi kamu juga janji ya bakal datang terus buat perhatiin keadaan kami" arin sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"iya aku janji"
dika membalas kelingking namun setelah itu ia kembali berpikir bagaimana caranya akan sering menemui arin sedangkan dirinya tidak berani meminta izin kepada istrinya itu.
__ADS_1