
ketika sedang makan, dika melihat ada sesuatu yang menempel di sudut bibir vani. dengan lembut ia pun menyentuh bibir gadis itu untuk membersihkan sisa makanan menggunakan tisu di tangannya.
"makannya pelan pelan dong" dika tersenyum.
hal itu membuat vani tertegun saat merasakan perlakuan manis dari bos tampannya. mereka bertatapan hingga akhirnya dika mengalihkan pandangannya dengan rasa canggung setelah tersadar.
"em, maaf"
dika pun kembali fokus untuk melanjutkan makannya.
"em" dengan gerakan cepat vani langsung membersihkan sendiri bibirnya menggunakan tisu lalu memalingkan wajahnya ke arah yang berbeda karena saat ini perasaannya sedang tidak karuan.
vani mengusap tengkuknya untuk menetralkan perasaan aneh yang sedang ia rasakan.
beberapa saat kemudian mereka kembali melanjutkan makan siangnya hingga selesai.
"Alhamdullilah"
vani bersyukur setelah selesai makan.
"kamu udah kenyang?"
"udah" vani mengangguk.
"ya udah, jangan lupa di bayar ya"
"hem?" vani membulatkan matanya.
"kenapa?"
dika tersenyum jahil menatap wajah polos vani yang saat ini sedang tertegun.
"em" vani menggelengkan kepala sambil tersenyum memaksa.
"mbak! bill ya"
waiters pun datang membawa bill setelah dika memanggilnya.
"silahkan billnya mbak"
waiters memberikan tagihan itu kepada vani.
"hah? em..."
vani merasa ragu melihat bill di tangannya.
dika tersenyum geli sedangkan vani merasa canggung.
"maaf ya, tadi saya cuma bercanda"
dika menyodorkan black card miliknya kepada pelayanan sambil tersenyum menatap vani.
waiters pun mengambil kartu dari tangan dika lalu segera menyelesaikan pembayarannya dan setelah itu mengembalikan kepada pemiliknya.
"baiklah mas, mbak terima kasih banyak atas kunjungannya ya. permisi"
waiters tersenyum melihat tingkah gemas pasangan muda di hadapannya itu. ia mengira mungkin keduanya sedang bertengkar hingga si pria membuat wanitanya marah.
dika mengangguk namun vani hanya menatap ke arah yang berbeda.
suasana menjadi hening saat keduanya hanya fokus menatap ponsel masing masing hingga suara dika terdengar memecah keheningan.
"em, kamu masih marah ya?" dika menatap vani yang hanya diam saja sejak tadi.
"enggak" vani menggelengkan kepalanya tanpa mau menatap ke arah dika.
"saya minta maaf ya, kalo bercandanya terlalu berlebihan tadi" dika masih merasa bersalah.
vani akhirnya menoleh dan menatap dika.
"em, enggak papa kok pak. lagian kenapa saya harus marah ke bapak. kan emang saya yang makannya banyak tadi" hhh!
vani nyengir sambil menunduk malu mengingat lahapnya ia makan di hadapan dika tadi.
"iya enggak papa dong, kan emang saya yang ngajak kamu makan di sini"
dika tersenyum melihat vani yang tersipu malu.
"makasih ya pak udah traktir saya hari ini, lain kali saya yang traktir bapak ya"
"oke, berarti kita bakal lunch bareng lagi dong"
"iya kalo bapak mau" hehe
"pasti mau dong, makan gratis" hehe
"seorang bos juga seneng ya pak kalo makan gratis" vani tersenyum gemas.
"iya dong, mana ada yang nolak makan gratis"
"hehe, kirain bos gengsi di traktir karyawannya"
"ya enggaklah, malah saya seneng banget"
"duh. bapak udah ganteng, rendah hati pula"
gumam vani tersenyum dan kembali melamun menatap keindahan di hadapannya itu.
"hem? kamu bilang apa tadi?"
__ADS_1
dika pura pura tidak mendengarnya padahal sebenarnya ia sudah dengar.
"em, tadi saya nanya.. kenapa sih bapak enggak pernah makan di kantin kantor?"
vani tersadar, langsung mengalihkannya pada pertanyaan yang sebelumnya tidak dika jawab.
"masih penasaran?"
dika tersenyum melihat tingkah aneh gadis itu.
"banget" vani mengangguk.
"em, ya karena selama ini pak rangga selalu ngajak makan di luar sih. katanya kalo kami bertiga makan di kantin kantor nanti semua karyawan sulit buat makan" jawab dika serius.
"loh! emangnya kenapa pak, kok bisa gitu sih"
vani merasa bingung sambil memikirkannya.
"hhh! ya karena kalo kami ada disana mereka bakal sibuk mandangin wajah tampan kami ini sampe lupa makan. haha" dika pun tertawa.
"ck! bapak ih, kirain serius karena apa" vani manyun.
"lagian kamu nanya mulu sih. ya udah, ayo kita balik ke kantor aja" ajak dika.
"baik pak"
vani setuju lalu mereka beranjak dan berjalan hendak keluar dari dalam resto itu.
saat sedang berjalan tiba tiba saja vani menghentikan langkahnya karena melihat seseorang yang sangat ia kenali.
meski hanya terlihat dari belakang saja namun vani tidak mungkin salah mengenali adiknya.
"loh itu bukannya?"
vani berpikir sambil terdiam di hadapan dika.
"ada apa?"
tanya dika karena melihat vani menghentikan langkahnya lalu ia mengalihkan pandangan ke arah yang sama.
"tunggu sebentar ya pak, saya mau nemuin adik saya dulu"
vani berjalan ke arah meja sedangkan dika hanya diam di tempat sambil memperhatikan.
"eh ada yuli, kamu ngapain disini?"
vani menghampiri lalu tersenyum melihat adik sepupunya itu.
"eh! em, kak vani. kamu ngapain disini?" yuli terlihat sedikit gugup.
"hem dia yang ditanya, malah nanya balik"
"iya tau lagi makan tapi bukannya ini masih jam kerja ya?" vani mencurigai sesuatu.
"iya, kan ini jam istirahat kak hehe" yuli nyengir.
"hem, oke deh kalo gitu aku duluan ya"
vani tersenyum sambil mengusap pundak yuli, namun tatapannya fokus menatap ke arah pria yang sedang makan bersama adiknya itu.
"kamu hutang satu penjelasan sama aku"
vani sedikit berbisik di dekat telinga yuli.
"em"
yuli tersenyum sambil memberi sebuah isyarat kepada vani agar tidak bertanya tentang pria di hadapan mereka itu sekarang.
"iya iya, ya udah kamu hati hati ya kak. bye!" yuli langsung melambaikan tangannya.
vani dan dika melanjutkan langkah keluar dari dalam resto menuju parkiran.
keduanya langsung masuk ke dalam mobil lalu dika melajukan mobilnya menuju kantor.
dalam perjalanan dika menoleh melihat vani yang hanya diam sambil memikirkan sesuatu.
"kamu kenapa kok malah bengong?" tanya dika, karena melihat vani hanya diam saja sejak tadi.
"em, saya kekenyangan pak" jawab vani asal.
"ppfftt! kamu ada ada aja deh. jadi kalo kamu udah kenyang terus kamu jadi patung gitu"
dika tertawa karena jawaban konyol dari vani.
vani mendengarnya, namun hanya diam tidak merespon ucapan dika karena ia masih larut dalam pikirannya sendiri.
"masa sih?"
vani masih terus memikirkan tentang adiknya.
dika yang mendengarnya pun kembali di buat bingung oleh vani yang berbicara sendirian.
"kamu kenapa sih, kok malah ngomong sendiri?" tanya dika heran.
"eh, enggak papa pak, saya cuma ngantuk"
vani yang lelah pun menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata untuk menghindari pertanyaan dari dika.
"hhh!"
__ADS_1
dika geleng kepala semakin bingung, menahan tawa memikirkan tingkah vani yang aneh.
setelah kenyang makan, vani pun tertidur di dalam mobil bosnya karena merasa sangat mengantuk.
hingga mobil dika berhenti tepat di parkiran kantor, ia hanya diam sambil memandang ke arah vani yang masih tertidur disampingnya.
dika tersenyum melihat wajah polos gadis yang masih tertidur pulas itu. ia menatap lebih dekat wajah sekretarisnya dengan mencondongkan tubuh ke arah vani.
tangan dika bergerak menyingkapkan helaian rambut yang menutupi wajah gadis itu.
"cantik!"
ujar dika tersenyum tanpa sadar ketika sedang menatap wajah vani yang polos.
saat ia masih asik memandangi wajah gadis itu dari jarak yang sangat dekat. tiba tiba saja vani membuka matanya dan langsung kaget melihat wajah dika berada di dekat wajahnya.
"aakkhh!!!"
vani reflek langsung mendorong tubuh dika agar menjauh darinya.
dika pun langsung menarik diri lalu kembali duduk dengan tegak di atas kursinya.
dengan canggung ia mengalihkan pandangan kearah luar mobil karena merasa gugup.
"bapak mau ngapain?"
vani memicingkan mata dengan curiga sambil menyilang kan kedua tangan di bagian dada.
"em, itu saya cuma... mau bangunin kamu aja buat bilang kalo kita udah sampe. lagian kamu kenapa malah tidur di dalam mobil saya sih"
ujar dika dengan nada kesal mengomel padahal sebenarnya ia sedang gugup.
"em, maaf ya pak habisnya nyaman sih" hehe
"oops!!"
mata vani membulat dan langsung menutup mulut saat menyadari ucapannya sendiri.
"oh ya?" dika tersenyum miring.
"eh, maksudnya mobil bapak yang buat nyaman banget hehe" vani ngeles sambil nyengir.
"hhh! alasan aja kamu"
"beneran kok pak" vani merasa canggung.
"bilang aja kalo kamu nyaman sama orangnya"
dika tersenyum semirk lalu membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan vani yang masih mematung di tempatnya.
vani tertegun sambil mencerna ucapan dika yang terlalu kepedean itu.
'hem, masa sih aku nyaman sama pak dika?' batinnya berpikir.
"haishh! apaan sih yang aku pikirin"
vani menepis pikiran konyol dari dalam otaknya lalu ikut keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan cepat menyusul bosnya yang sudah jalan duluan.
***
hari demi hari berlalu, saat ini vani masih sibuk dengan pekerjaan yang doble karena menjadi sekretaris dika. ia selalu mengajak vani pergi kemana pun termasuk kantornya yang lain.
sedangkan rangga dan ray belum kembali dari luar kota kemungkinan mereka akan lebih lama di sana.
semakin hari hubungan diantara vani dan dika juga semakin dekat. hanya saja mereka selalu berusaha untuk menepis perasaan yang kerap muncul di antara keduanya.
vani tidak ingin berharap lebih kepada bosnya itu, walaupun sudah lama menyadari tentang perasaan aneh yang sering muncul ketika ia sedang bersama dengan dika.
hari ini, sudah tiba jam pulang kantor namun dika masih harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
dika pun menelpon meja kerja vani dari dalam ruangannya.
kring!! kring!!
bunyi telpon di meja kerja vani berbunyi, gadis itu pun langsung menjawabnya.
"halo?"
"halo vani"
"iya pak"
"kamu pulang duluan aja ya soalnya saya masih harus lembur"
"oh baik pak, terima kasih"
vani tersenyum senang dan langsung menutup telponnya.
"tapi,,,,"
tut! tut! tut!
belum selesai dika berbicara namun telponnya sudah dimatikan.
"haish!! berani banget sih dia" kesal dika.
"hem, bagus deh aku enggak perlu nunggu pak dika sampe selesai lembur hari ini"
vani langsung membereskan semua barang di mejanya lalu berjalan menuju lift hendak segera turun ke lantai dasar.
__ADS_1