
dika berjalan dengan langkah tertatih menuju ruangan istrinya sambil membawa tubuh bayi mungil itu di dalam pelukannya.
rangga dan ray mengikuti langkah dika dari belakang untuk menjaganya.
sekali saja untuk pertama dan terakhir kalinya dika ingin mempertemukan istrinya dengan putra mereka yang telah tiada meskipun vani tidak akan dapat melihatnya karena masih belum sadarkan diri sampai sekarang namun dika ingin melihat ibu dan anaknya itu bertemu.
sesampainya di dalam ruangan vani dika mendekat dan berdiri di samping bankar lalu meletakkan tubuh bayi di atas dada istrinya agar vani dapat memeluk bayi mereka untuk yang terakhir kalinya.
"sayang ini baby kita, sekarang dia udah pergi ninggalin kita. aku harap kamu bisa nerima kenyataan ini setelah kamu sadar nanti ya"
dika mengecup kening istrinya dengan linangan air mata.
"maafin aku ya belum bisa jadi papa yang baik buat anak kita. maaf aku gak bisa jagain anak kita sayang maafin aku...hiks!"
dika memeluk anak dan istrinya sambil menangis meminta maaf.
rangga dan ray yang selalu berada di belakang dika pun ikut menangis melihatnya. mereka sangat sedih atas apa yang terjadi namun saat tersadar ray langsung mengambil ponsel di dalam sakunya hendak menelpon papa hardi untuk memberitahukan tentang kabar buruk itu kepada keluarga wijaya yang lain namun rangga mencegahnya.
"jangan ray, jangan sekarang! gue takut kalo kondisi mama bakal langsung drop karena dengar kabar buruk ini secara tiba tiba" rangga mencegah ray untuk menelpon papanya.
"lalu bagaimana?"
ray bingung karena tidak mungkin mereka merahasiakan tentang kabar ini dari keluarga begitu pikirnya.
"nanti kita bakal pulang sama bayi, biar mama taunya nanti aja di rumah"
rangga takut jika mama dan papanya tidak akan sanggup mendengar kabar buruk itu. terlebih lagi saat ini mereka sedang tidak berada di samping kedua orangtuanya untuk memberikan dukungan.
"baiklah kalo gitu" ray pun mengerti dan kembali berdiri di samping rangga.
saat ketiganya masih larut dalam kesedihan tiba tiba saja bayi yang sedang berada di dalam pelukan ibunya itu pun menangis dan bergerak.
"ooekk!! oekk!! oeekk!"
mendengar suara tangisan bayi dika tertegun menatap putranya yang sedang menangis karena ia berpikir jika saat ini dirinya hanya sedang berhalusinasi melihat anaknya yang kembali hidup.
"sayang apa aku lagi mimpi sekarang?"
dika menatap vani lalu mengalihkan pandangannya kearah bayi mereka namun ia tetap melihat hal yang sama yaitu bayinya menangis dan bergerak di dalam pelukan istrinya.
saat menyadari itu bukan sebuah halusinasi dika pun langsung mengangkat tubuh bayi dan memeluknya.
"sayang kamu nangis beneran?" dika masih tidak yakin.
setelah itu terlihat bayi memuntahkan cairan berlendir dari dalam mulutnya sehingga membuat dika semakin bingung dan panik.
"bang rangga ini bayi gue kenapa ya?"
dika berbalik badan menghadap kearah rangga sambil bertanya dengan bingung.
melihat itu ray langsung berlari keluar dari dalam ruangan untuk memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan bayi sahabatnya itu.
"Alhamdulillah bayi lo masih hidup dika liat dia bisa nangis sekarang, lo dengerkan?"
rangga mengguncang tubuh dika agar adiknya itu tersadar karena saat ini dika hanya bisa terdiam mematung menatap kearahnya.
"ha! lo serius bang ini gue enggak lagi mimpikan?"
dika masih tidak percaya menatap bayinya bergerak di dalam pelukannya itu.
"serius dika ini nyata bukan mimpi Alhamdulilah mukjizat untuk kita masih di kasih kesempatan buat nyayangin dia"
"Alhamdulillah ya Allah makasih engkau masih memberi kesempatan untuk kami menjaganya agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi"
dika sangat bersyukur ia berlutut di lantai sambil memeluk tubuh putranya.
rangga pun ikut berlutut di samping adiknya mengusap punggung dika sambil terharu melihatnya.
__ADS_1
"ini papa sayang makasih ya kamu enggak pergi ninggalin papa sama mama disini"
dika tak henti mengecupi pipi bulat putranya sambil memeluknya.
"sayang, liat anak kita udah bisa nangis sekarang"
dika beranjak mendekati istrinya lalu kembali meletakkan bayi mereka di pelukan vani karena ini juga kali pertama ia mendengar suara tangisan bayi mungilnya itu.
sesampainya di dalam ruangan vani dokter pun langsung meminta dika untuk segera membawa bayinya kembali ke dalam ruangan bayi untuk di periksa.
"pak dika ayo kita bawa bayi bapak kembali ke dalam ruangannya agar tubuhnya tetap hangat di dalam box"
"baik dokter"
dika mengangguk lalu berjalan keluar menuju ruangan bayinya yang tetap di ikuti oleh rangga dan ray.
sesampainya di dalam ruangan bayi dika pun menaruh bayinya ke dalam box kaca itu agar suhu tubuh bayinya kembali stabil.
"Alhamdulillah ini merupakan keajaiban dari tuhan karena bayi bapak bisa kembali hidup dengan izin Nya. selamat ya pak dika semoga setelah ini kondisi bayi bapak semakin sehat" ucap dokter kepada dika setelah selesai memeriksa keadaan bayi dika yang sudah stabil.
"iya Alhamdulilah makasih dokter"
"sama sama pak dika"
"oh iya dok tadi bayi saya sempat muntahin cairan seperti lendir gitu apa itu enggak masalah buat kesehatannya?" tanya dika penasaran.
"itu bukan masalah pak dika justru hal itu sangat baik untuk kesehatannya karena bayi bapak sudah berhasil mengeluarkan racun yang sempat tertelan ke dalam tubuhnya" ucap dokter menjelaskan.
"racun maksud dokter?" tanya dika bingung.
"iya pak dika seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya menjelang kelahiran bayi bapak, bu vani sudah mengalami pecah ketuban serta pendarahan yang hebat membuat bayi cukup banyak menelan air beracun itu" jelas dokter.
"oh gitu ya dok syukur lah kalo itu kabar baik"
"iya pak dika kalau begitu saya permisi dulu"
dokter berjalan keluar dari dalam ruangan bayi.
setelah dokter pergi rangga mendekati adiknya dan langsung memeluk dika.
"dika selamat ya. Alhamdulilah gue ikut seneng dengernya" rangga mengusap punggung adiknya memberi semangat.
"makasih ya bang" dika membalas pelukan abangnya.
setelah itu ray pun memeluk sahabatnya yang sudah bisa kembali tersenyum itu.
"selamat ya dik, Alhamdulilah keadaan bayi lo udah membaik sekarang"
"thanks ya ray kalian selalu ada buat gue"
"itu pasti dika"
beberapa menit berlalu setelah kondisi bayinya mulai stabil dika pun kembali menuju ruangan istrinya sedangkan rangga dan ray masih stay menjaga bayi dika.
sesampainya di dalam ruangan vani dika langsung memeluk tubuh istrinya yang masih berbaring tidak sadarkan diri itu.
"Alhamdulillah anak kita enggak ninggalin kita sayang." dika pun mengecupi wajah istrinya.
"kamu cepat sembuh ya, biar bisa main sama baby"
sudah lebih satu minggu vani dirawat namun ia masih tetap tidak sadarkan diri dokter mengatakan jika vani mengalami koma untuk jangka waktu yang belum bisa di pastikan kapan ia akan kembali sadar dari komanya.
dika masih setia menemani istrinya di rumah sakit dan tidak mau pergi meninggalkan vani meskipun hanya sekedar untuk ke kantor.
hanya sesekali saat ada meeting penting saja baru dika akan pergi ke kantor lalu setelah itu ia akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga anak dan istrinya lagi.
kondisi bayi mereka juga sudah semakin membaik setelah hari itu. dika memutuskan untuk tidak memberitahukan tentang kejadian di malam itu pada kedua orang tuanya agar mereka tidak khawatir terus menerus terlebih lagi saat ini kondisi bayinya memang sudah lebih baik.
__ADS_1
hari ini bayi dika sudah di perbolehkan untuk di gendong dan di bawa keluar dari dalam ruang inkubator.
dengan perasaan yang bahagia dika menggendong dan mengecup pipi bayi mungilnya dengan lembut. ia sangat terharu melihat bayinya yang kini sudah bisa menangis karena merasa haus dan lapar namun sayang sekali vani belum sadarkan diri untuk memberi ASI kepada bayi mereka sehingga bayi mungil itu harus meminum susu formula untuk menghilangkan rasa haus dan laparnya.
saat ini di dalam ruangan vani dika sedang menggendong putra mereka sambil memberikan susu formula pada bayinya itu.
"sayang minum susu yang banyak ya biar anak papa sehat terus dan cepat gede nanti kalo kamu udah boleh pulang kita main bareng mama juga ya"
"liat deh sayang, mama masih betah tidur terus padahal kamu juga pengen di peluk mama iya kan sayang?"
dika tersenyum menatap bayinya yang sedang meminum susu dari dalam botol itu.
rangga dan ray pun sudah kembali bekerja dengan normal di kantor karena mereka tidak bisa melalaikan kantor begitu saja.
saat dika masih mengajak putranya itu berbincang tidak lama pintu ruangan pun terbuka.
ceklek!
terlihat mama ratih baru saja datang ke rumah sakit bersama dengan suami dan menantu sulungnya serta membawa rara juga ikut bersama mereka.
"wah liat cucu oma sama opa ini udah bisa minum susu yang banyak sekarang" mama ratih tersenyum mendekati cucunya.
"om rara pengen liat adek bayinya dong" minta rara sambil tersenyum menatap bayi dalam gendongan dika.
"boleh dong sayang sini" dika pun mengalihkan gendongan bayinya kepada mama ratih setelah baby menghabiskan susu dalam botolnya.
"aduh cucu gantengnya oma baik budi banget sih enggak rewel ya sayang" mama ratih pun duduk sambil memeluk baby agar rara bisa melihat adiknya.
"adek yang ganteng cepat besar ya biar bisa main sepeda bareng kakak nanti. oh ya adek tau enggak? kemarin kakak udah bisa naik sepeda loh" rara bercerita kepada adiknya yang masih bayi tentang dirinya yang sudah belajar main sepeda.
"iya sayang, adek bayi pasti cepat gede biar bisa main sama kak rara" ranty tersenyum melihat rara yang bersemangat.
"ranty tolong kamu gendong baby dulu ya. mama mau liat keadaan vani dari dekat"
mama ratih kembali mengalihkan gendongan cucunya kepada ranty.
"iya ma"
setelah itu mama ratih pun berjalan mendekati tempat tidur vani menantu bungsunya itu.
"sayang gimana keadaan kamu sekarang?"
mama ratih mengusap kening menantu bungsunya yang masih tertidur nyenyak selama satu minggu itu.
papa hardi pun mendekat mengusap punggung istrinya karena melihat mama ratih yang kembali meneteskan air matanya melihat kondisi vani yang masih terbaring lemah dengan bantuan selang oksigen di hidungnya.
"sabar ma, pasti sebentar lagi vani akan sehat. papa udah minta rangga memberikan perawatan khusus dari dokter luar negeri untuk putri kita" papa hardi menenangkan istrinya.
"apa enggak lebih baik kita bawa aja vani kesana pa?"
"enggak bisa ma, bayi gimana? sedangkan dika enggak mau jauh dari keduanya. walaupun vani belum sadar tapi saat dekat ibunya bayi pasti tenang banget kan"
"iya pa" mama ratih pun mengerti.
saat ini di kantor rangga sedang bicara dengan ray perihal tentang dalang penculikan vani seminggu yang lalu.
"ray gimana tentang penculikan vani waktu itu, apa lo udah nemuin bukti siapa pelakunya?" tanya rangga kepada ray.
"udah bos pelakunya ada dua orang, anak buah kita masih mencari keberadaan mereka sekarang karena penculiknya udah kabur ke luar negeri tapi bos tenang aja saya akan pastikan kalo kita akan menemukan keduanya meskipun mereka sembunyi di lubang semut sekali pun"
"bagus! lebih percepat gerakan kalian jangan terlalu lama biarkan mereka masih bebas keliaran di luar sana karena udah buat dika hampir kehilangan semangat hidupnya gue enggak akan biarin mereka" rangga pun berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"baik pak"
ray pun merasa pusing memikirkan pergerakan anak buahnya sendiri karena sangat lambat menyelesaikan misi mereka.
waktu satu minggu sudah cukup lama bagi ray namun tidak mungkin juga ia memecat semua anak buahnya pikirnya.
__ADS_1