Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 190


__ADS_3

menjelang sore hari rangga dan keluarga kecilnya datang untuk menjenguk dika adik kesayangannya yang sedang sakit terlihat ray juga ikut datang melihat keadaan bosnya.


"assalamualaikum"


"walaikumsalam" vani menyambut kedatangan kakak iparnya dengan senang.


"tante!!"


"sayang" vani memeluk dua keponakannya yang datang.


"tante, adek affa dimana?" tanya rara.


"adek affa lagi main di kamar sayang"


"rara sama rasty mau main ke kamar adek dulu ya ma"


"iya sayang" ranty mengangguk


rara dan rasty langsung menuju kamar raffa untuk mengajak adiknya main bersama.


"mbak mas ayo kita masuk" vani mengajak abang dan kakak iparnya masuk ke dalam ruang keluarga.


"iya ayo"


"dimana dika van?" tanya rangga karena tidak melihat adik kesayangannya.


"em, kayanya masih di kamar deh mas bentar ya aku panggilin dulu"


sejak tadi dika hanya menghabiskan waktunya dengan bermalas malasan di atas ranjang namun sekarang mereka sudah berkumpul di dalam ruang keluarga.


rangga dan ray sedang duduk di sofa yang berbeda karena mereka duduk berhadapan dengan dika dan vani.


"hai dika gimana keadaan kamu?" tanya mbak ranty pada adik iparnya.


"udah lebih baik kok mbak"


"syukurlah kalo gitu"


"vani kamu yang sabar ya kalo dika lagi sakit pasti keanehannya meningkat jauh kan" ujar rangga kepada adik iparnya sambil melirik dika.


"iya mas. aku sabar banget kok" vani pun tersenyum.


"haha, emang aneh sih bos kemaren aja gue di buat pusing keliling keliling mulu" ray masih kesal saat mengingatnya.


"hem, terus aja terus" dika hanya cuek dengan semua candaan rangga dan ray.


"hahaha" mereka larut dalam obrolan sedangkan anak anak sedang bermain bersama dengan hana.


"oh ya, apa mama sama papa udah tau kalo lo sakit dik?"


"ya enggak lah bang, lagian gue baik baik aja kok. gue enggak mau mama sama papa jadi khawatir disana"


"oh bagus deh kalo gitu" rangga mengangguk mengerti.


"emangnya gue anak kecil yang harus lapor mama kalo lagi sakit" gerutu dika.


"haha emang biasanya juga gitu kan" ledek rangga.


"ppfftt" ray menahan tawanya.


"ck! terserah lo deh" kesal dika menanggapinya.


"haha sabar bos" ray hanya tersenyum melihat kedua bosnya yang selalu random.


keesokan harinya dika sudah kembali bekerja di kantor seperti biasanya. begitu juga dengan para karyawan kantor yang sudah menerapkan ketentuan baru yang diminta oleh bos mereka beberapa hari lalu itu.


saat ini dika sedang duduk di atas kursi meja kerjanya, namun tiba tiba ia kembali teringat dengan nama pria yang tertera di layar ponsel istrinya kemarin.


"ck! siapa sih cowok itu. kayanya aku udah ingat banyak kenangan masa lalu yang pernah aku lupain tapi kenapa enggak bisa ingat tentang nama itu ya?"


dika berpikir hingga ia melamun namun ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunannya.


tok.!! tok...!! tok..!!!!


"masuk" dika kembali fokus menatap layar di hadapannya.


"mas" vani yang ternyata datang ke kantor dan berjalan masuk mendekati meja suaminya.


"sayang kamu sendirian aja, raffa dimana? tumben banget nih kamu main ke kantor ada apa" dika menatap istrinya.

__ADS_1


"iya afa masih sekolah, aku kangen sama kamu mas"


vani memeluk dika dengan manja sambil duduk di atas pangkuan suaminya itu.


dika yang melihat sikap manja istrinya itu pun menjadi bingung karena tidak biasanya vani akan bersikap seperti itu kepada dirinya terlebih lagi saat mereka sedang berada di kantor.


"kangen?"


"em, gimana keadaan kamu mas. apa masih sering pusing?"


vani bersandar di dada suaminya sambil memainkan jarinya di pundak dika seperti anak kecil.


"aku udah baik kok sayang kamu jangan khawatir ya" dika mengusap rambut istrinya.


"em" vani semakin memeluk tubuh suaminya itu dengan erat dan tangannya terus bergerak kesana kemari.


"sayang ini kantor" peringat dika agar vani tersadar karena saat ini sentuhan dari tangan nakal istrinya itu membuat tubuhnya bereaksi.


"emangnya kenapa sih, biasanya juga kamu yang mau kaya gini walaupun kita lagi di kantor" vani sebenarnya sadar dengan apa yang sedang dilakukannya.


"iya sayang, tapi kamu kok aneh banget sih hari ini tiba tiba datang terus bersikap kaya gini lagi aku jadi merinding tau enggak" dika mengusap tengkuknya.


"ih mas dika! kamu pikir aku ini hantu apa" vani memanyunkan bibirnya.


"hehe. maaf ya sayang habisnya sikap kamu ini bikin aku takut tau soalnya kadang kamu kan cuek tapi kadang manja banget" dika nyengir lalu kembali fokus menatap pekerjaannya.


"biarin. emangnya kamu enggak suka kalo aku manja ke kamu ya?" vani kembali bersandar di pelukan suaminya.


"bukan gitu sayang. aku suka kok kamu manja tapi...." ucapan dika menggantung karena vani langsung menimpalinya.


"sstt!! mas yuk" ajakan vani yang masih berada di dalam pelukan suaminya itu.


"hem, kemana sayang?" dika yang sedang sibuk menatap pekerjaannya pun sontak menoleh.


"kesana"


tunjuk vani kearah ruangan kamar yang menjadi tempat istirahat suaminya saat berada di dalam kantor itu.


"ke kamar, kamu mau tidur?" dika ikut menoleh ke arah pintu kamarnya.


"em" vani mengangguk.


"ya udah ayo tapi kamu turun dulu dong sayang berat nih" dika yang merasa sulit untuk beranjak.


"ah, kamu berat banget sih sayang" dika langsung menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju ruangan kamar itu.


"kamu kan yang minta badan aku berisi kaya gini mas?" vani memanyunkan bibirnya.


"hehe. iya sih sayang biar makin gede" nyengir dika.


"ih! gede apanya?" vani menepuk dada suaminya.


"pipinya dong sayang" jahil dika.


"alasan" vani menyipitkan matanya.


"emang bener kok. emangnya aku pernah bohong ya ke kamu" dika tersenyum menatap istrinya.


ceklekk!!!


dika membuka pintu dengan tangan yang juga sedang menggendong tubuh istrinya.


setelah mereka masuk kedalam ruangan kamar itu, dika pun merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"ya udah, sekarang kamu istirahat disini ya. aku masih banyak kerjaan nih mau lanjut kerja lagi" cup!


dika mengecup kening istrinya lalu berbalik badan hendak keluar dari dalam ruangan itu.


"ih, mau kemana sih!" vani menarik tangan suaminya hingga tubuh dika tidak seimbang dan terjatuh menimpa istrinya yang sedang berbaring.


cup!


vani melvmqt bibir suaminya dan menahan tubuh dika agar tidak pergi.


dika pun membalas ciuman dari istrinya dengan lembut namun setelah beberapa menit kemudian dika kembali tersadar dan segera melepaskan ciumannya.


"em sayang. kita lagi di kantor loh ini, gimana kalo ada yang datang?" dika bangkit lalu duduk di tepi ranjang.


"kalo gitu kamu kunci aja pintunya mas" vani juga bangkit lalu duduk di atas pangkuan suaminya.

__ADS_1


vani mendorong tubuh dika agar berbaring lalu ia kembali mengecup bibir suaminya itu.


"emh!"


"iya tapi, gimana kalo ada yang dengar suara seksi kamu yang merdu itu nanti"


"biarin"


vani tidak mau mendengarkan suaminya dan terus melakukan keinginannya.


dika yang mendapat banyak sentuhan lembut dari istrinya pun ikut terhanyut menikmatinya namun setelah beberapa saat berlalu dika kembali tersadar mengingat pekerjaannya masih belum selesai.


"nanti malam aja ya sayang di rumah" dika menahan tubuh istrinya lalu bangkit dari tidurnya.


"ih! kamu jahat banget deh mas, tapi kan aku maunya disini" vani kembali memeluk suaminya.


"aku harus kerja sayang" dika masih terus menolak sesuatu yang sebenarnya selalu ia inginkan itu namun saat ini pekerjaannya benar benar tidak bisa di tunda lagi.


"sebentar aja" bujuk vani tidak mau berhenti.


"enggak bisa sebentar sayang. nanti harus dua ronde" bisik dika pada istrinya


"ih kamu nyebelin deh" ngambek vani.


"ck! kamu lucu banget deh" dika menoel hidung istrinya lalu bangkit dari duduknya.


"tau ah" vani benar benar kesal karena dika tidak mau menuruti keinginannya.


"mendingan sekarang kamu istirahat aja ya, aku mau lanjutin kerja dulu sayang. oke"


setelah merapikan pakaiannya dika berbalik dan berjalan keluar dari dalam ruangan itu meninggalkan vani yang merasa kesal sendirian di dalam sana.


meskipun merasa kesal namun seharusnya vani mengerti jika suaminya itu memang sedang sibuk.


dika kembali duduk di atas kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


tidak lama vani pun keluar dari dalam ruangan kamar itu, dengan langkah cepat ia berjalan menuju pintu keluar dari dalam ruangan suaminya tanpa menoleh kepada dika.


"sayang kamu enggak jadi tidur?" tanya dika yang melihat istrinya berjalan menuju pintu keluar.


"enggak" jawab vani ketus tanpa menoleh.


"mau kemana?" dika melihat wajah kesal istrinya.


"mau pulang" jawab vani singkat.


"ya udah hati hati ya" dika tersenyum menahan tawanya melihat raut wajah istrinya yang manyun itu.


vani tidak menjawabnya dan langsung keluar dari dalam ruangan suaminya.


brak!


di luar ruangan itu ray yang sedang duduk di meja kerjanya melihat vani keluar dari dalam ruangan bosnya dengan wajah yang tidak bersahabat.


ray menyapa dan bertanya kepada vani agar rasa kesalnya berkurang namun ternyata bukannya berkurang rasa kesal vani justru semakin bertambah.


"hai vani! kamu sendirian aja raffa dimana?" tanya ray menyapa.


"enggak tau, udah deh mas ray kamu jangan nanyain aku lagi badmood banget nih" jawab vani ketus dan berlalu dari hadapan ray begitu saja.


"ya ampun galak juga nih anak kalo lagi marah" gumam ray menggelengkan kepalanya.


ceklek!


dika keluar dari dalam ruangannya karena mendengar suara istrinya yang seperti sedang marah. ia bertanya kepada ray apa yang sedang terjadi.


"ray kenapa lo?" tanya dika tersenyum menahan tawanya.


"tau tuh bini lo kenapa sih? kok galak banget hari ini, padahal biasanya selalu tersenyum dan bersikap manis" adu ray kepada bosnya.


"gue juga bingung, akhir-akhir ini sikapnya emang aneh. moodnya suka berubah ubah setiap detik" jawab dika.


"kurang lo ajak piknik kali" ray tersenyum jahil.


"bener juga sih. ya udah deh besok gue cuti dua minggu ya buat ngajak istri gue piknik" dika lebih tersenyum jahil.


"eh enggak ada akhlak ya lo bos kerjaan lagi banyak gini mau di tinggal gitu aja" kesal ray karena dika ingin cuti di waktu yang tidak tepat.


"haha. kan ada elo si genius yang serba bisa ray" dika pun kembali masuk dan menutup pintu ruangannya.

__ADS_1


"rese lo" umpat ray kesal.


dika hanya tertawa di dalam ruangannya karena sudah berhasil membuat ray kesal.


__ADS_2