
hari ini seperti biasanya ray selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan naya di rumahnya setelah pulang dari kantor.
rumah itu cukup jauh dari rumah ray yang lain sehingga ray selalu pulang hampir larut malam ke rumahnya.
sore ini ray melihat naya yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah. ia pun berjalan menghampirinya.
"hai naya gimana keadaan kamu hari ini?" ray duduk di samping istrinya.
"baik pak" jawab naya singkat seperti biasanya.
"jangan lupa kamu harus makan dan istirahat yang cukup. em, kamu juga harus rutin minum susu ibu hamil"
"iya, makasih pak atas perhatiannya"
"em, uang yang saya transfer kemarin cukup kan buat biaya keperluan kamu. kalo kurang bilang aja saya akan tambahin" ray menatap naya.
"sangat cukup pak jadi enggak perlu di tambahin lagi"
"ya udah kalo gitu, hari ini kamu mau kemana? saya temenin ya" ray tersenyum menatap naya.
"em, apa kita boleh jalan jalan keluar rumah pak bukannya bapak bilang saya harus tetap di rumah"
"iya boleh dong naya kalo dekat sini aja kan enggak papa"
"saya mau banget pak. kita makan di luar ya malam ini, saya pengen banget makan ayam bakar di luar sama bapak" naya mengutarakan keinginannya.
"oke kalo gitu saya mandi dulu ya kamu siap siap aja" ray pun beranjak dari duduknya.
"makasih pak" naya tersenyum senang lalu berjalan menuju kamarnya.
malam ini ray mengajak naya untuk dinner di luar sesuai keinginannya membuat hati naya senang karena jujur saja naya merasa sangat bosan bila selalu berada dalam rumah sepanjang hari.
di dalam kamarnya dika sedang duduk di sofa sambil menatap layar dihadapannya. vani yang melihat suaminya sedang sibuk pun mendekat lalu duduk di samping dika.
"sayang, kamu kenapa sibuk terus sih?" vani memeluk lengan suaminya dengan manja.
"eh sayang, aku enggak papa kok kamu kok belum tidur?"
dika mengalihkan pandangannya menatap istrinya.
"iya nih, baby kita belum mau tidur kalo papanya masih sibuk kerja terus padahal udah malam"
vani manyun sambil mengelus elus perut buncitnya.
"em, baby kangen ya sama papa? pasti baby pengen papa jengukin nih ma"
dika memainkan alisnya sambil mengusap usap perut istrinya.
"itu sih pasti mau papanya" vani mengerti keinginan suaminya.
"iya sih tapi mama juga pengen kan?"
dika menoel hidung istrinya lalu tangannya bergerak hendak menutup laptop di hadapannya.
"eh! kamu mau ngapain mas?"
vani melihat wajah suaminya yang sedang menyeringai.
"mau makan kamu sayang" dika langsung menggendong tubuh istrinya menuju ranjang.
"ih! mas apaan sih turunin enggak?"
"enggak"
"em, ya udah kalo gitu"
"eh! tumben kamu langsung pasrah gitu hem?"
"iya, kan percuma juga debat sama kamu mas cuma buang buang energi aja tau"
vani pasrah saat dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"oh ya bagus dong sayang kamu emang harus simpan energi kamu yang banyak buat malam ini" bisik dika menyeringai.
cup! dika langsung melahap bibir mungil istrinya lalu vani pun membalasnya.
"emuchh! hhh!"
"stop mas!" vani mendorong tubuh dika yang mulai bergerak mencumbui bagian tubuhnya itu.
"ada apa sih sayang, aku udah enggak tahan lagi nih"
__ADS_1
"mas, pintunya di kunci dulu dong gimana kalo affa tiba tiba masuk?" tunjuk vani kearah pintu.
"hem iya iya"
akhirnya dika berjalan ke arah pintu dengan langkah malasnya.
setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya itu dika pun langsung kembali berjalan menuju ranjangnya namun tiba tiba dika memelas saat menatap sesuatu disana.
"haiishh sayang!!!"
dika menyesal saat melihat remot control di atas nakas.
"kenapa sih mas?" vani bingung.
"ngapain juga aku capek capek jalan ke pintu kan ada tombol kunci otomatisnya di sini" dika menunjuk nakas.
"iya udah deh mas masa gitu aja kesel sih"
vani menarik lengan suaminya agar mendekat kepadanya.
"ck!!!" dika pun duduk di tepi ranjangnya.
"ya udah sini sekarang terserah kamu nih mau gigit dimana aja bebas"
vani menantang suaminya dengan mendekatkan bagian leher putihnya di dekat wajah dika.
melihat istrinya yang sudah menawarkan diri, dika pun langsung memeluk tubuh vani dan melahap bibir manis yang selalu menjadi candunya itu.
vani membalasnya dengan baik agar tidak membuat mood suaminya berantakan lagi.
di tempat yang berbeda setelah selesai makan malam bersama ray pun kembali mengantar naya pulang.
"sekarang kamu istirahat ya"
"makasih ya pak"
"hem. saya pulang dulu ya"
"hati hati pak"
ray melangkah pergi hendak kembali pulang ke rumahnya.
sesampainya di rumah, kepulangan ray sudah disambut oleh istri dan anaknya di dekat pintu.
ray tersenyum masuk ke dalam rumahnya dan melihat putranya masih belum tertidur padahal malam sudah menjelang larut.
"walaikumsalam liat sayang papa udah pulang"
yuli berbicara kepada putranya yang sedang berada di dalam gendongannya itu.
"eh, anak papa belum bobok ya sayang?" ray langsung menggendong putranya di dalam pelukannya.
"belum nih pa, kayanya baby arka lagi kangen banget sama papa deh" yuli tersenyum.
"emuachhh!! papa juga kangen sama arka, maaf ya sayang papa terlalu sibuk akhir akhir ini"
ray mengecupi wajah putranya yang sedang berada di dalam pelukannya itu.
"em, cuma kangen sama anaknya doang nih!" yuli manyun.
"iya enggak dong sayang, pastinya papa juga kangen sama mamanya dong" cup! ray pun mengecup kening istrinya.
"ya udah kalo gitu papa mandi dulu, siap itu kita makan malam bareng ya"
yuli memeluk lengan suaminya sambil berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
"em, aku udah mandi dan makan malam juga sayang" ucap ray menatap istrinya.
"masa sih mas mandi dimana kok tumben?" yuli bingung.
"em, di kantor sayang terus pesen makanan deh karena udah laper" jawab ray beralasan.
"oh gitu ya. padahal aku udah nungguin kamu biar kita bisa makan malam bareng mas" yuli menjadi murung.
"em, maaf ya sayang aku janji besok kita makan malam bareng ya" ray memeluk istrinya.
"iya deh mas" yuli mengangguk.
pagi datang menyapa, hari ini ray sedang menemani naya ke dokter kandungan. mereka hidup bahagia menjalani hari hari layaknya pasangan pada umumnya.
ray sangat cerdas, karena dirinya mampu membagi waktu untuk selalu membahagiakan kedua wanita yang menjadi istrinya itu dengan baik secara bersamaan.
__ADS_1
namun ray jangan sampai lupa istilah sepandai pandainya tupai melompat suatu saat pasti akan jatuh juga.
meskipun yuli terlihat bahagia saat ini namun pertanyaan besar muncul di dalam hatinya karena belakangan ini suaminya itu selalu punya alasan untuk pergi meskipun di hari libur bekerja.
"ck! mas ray dimana sih?"
yuli merasa kesal ia pun mencoba untuk menghubungi suaminya yang sedang mengingkari janji itu.
"kok enggak di jawab sih" kesalnya karena ray tidak kunjung menjawab telpon darinya.
di dalam mobil ray sedang menyetir hendak mengantar naya pulang ke rumahnya.
naya melihat ponsel ray yang sejak tadi bergetar di hadapannya.
"pak, itu handphone bapak..." naya menatap layar ponsel bertuliskan istriku call.
"em, iya biarin aja saya kan harus ngantar kamu pulang dulu baru setelah itu saya akan pulang" jawab ray sambil menatap ponselnya.
"tapi lebih baik bapak jawab dulu biar istri bapak enggak khawatir" ucap naya.
"hhh!" ray menarik nafasnya panjang lalu menjawab telpon dari istrinya.
Ray: iya halo sayang?
Yuli: kamu dimana sih mas katanya janji hari ini mau ngajak baby arka jalan jalan masa batal lagi sih.
Ray: iya sayang, ini aku mau pulang masih di jalan lima belas menit lagi aku sampe ya.
Yuli: ya udah deh hati hati ya.
Ray: iya.
ray mematikan sambungan telponnya lalu melirik sekilas wajah naya di sampingnya. ia berpikir naya akan kesal karena mendengar panggilan sayang darinya untuk istrinya.
ternyata naya tidak perduli dan hanya memejamkan matanya karena merasa lelah atau mungkin naya hanya berusaha untuk menutupi kesedihan di hatinya.
"naya, kamu capek ya?" tanya ray.
"enggak kok pak saya cuma sedikit lelah" jawab naya.
'lelah dengan keadaan ini yang entah sampai kapan harus menjalaninya' batin naya.
"ya udah nanti kamu langsung istirahat aja ya setelah sampai di rumah" ray kembali fokus menyetir.
"em" naya hanya mengangguk.
setelah sampai di rumah, ray langsung mengantarkan naya masuk ke dalam kamarnya.
"kamu istirahat aja ya, saya harus langsung pulang nih soalnya"
"iya pak makasih ya udah nemenin saya check up hari ini"
naya menatap ray yang sedang berdiri di hadapannya.
"kamu jangan bilang kaya gitu dong ini kan udah jadi tanggung jawab saya"
ray berlutut di hadapan naya yang sedang duduk di tepi ranjangnya.
"em, saya mohon bapak jangan terlalu baik" naya menunduk murung
ray menatap lekat wajah naya yang tertunduk dan sedang berusaha untuk menahan air matannya.
keadaannya yang serba salah itu membuat naya sangat tertekan karena ray selalu bersikap baik kepadanya dan juga keluarganya membuat naya merasa nyaman.
namun di sisi lain naya juga harus mencegah perasaannya yang mungkin akan tumbuh untuk pria baik di hadapannya itu karena sikap baik ray bisa membuat naya semakin jatuh cinta kepadanya.
memang ray adalah ayah dari bayi di dalam kandungannya namun pria itu juga milik wanita lain.
"maafin saya naya, mungkin semua kebaikan yang saya kasih ke kamu ini enggak bisa menebus kesalahan yang udah saya buat ke kamu tolong jangan sedih ya"
ray mengusap lembut air mata yang menetes di pipi naya.
"saya enggak papa kok pak lagian saya juga salah kan jadi bapak jangan ngerasa bersalah sendirian. tolong tinggalin saya sendiri pak"
naya menghapus air matanya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang agar ray pergi.
"kalo gitu saya pergi dulu ya"
ray hendak memegang perut naya namun naya langsung menghindar dengan tidur membelakanginya.
ray pun keluar dari dalam kamar naya dan segera pulang ke rumah karena istrinya sudah lama menunggu.
__ADS_1
sesampainya di rumah ray melihat wajah kesal istrinya kemudian ia harus membujuk yuli agar memaafkan keterlambatannya itu.