
setelah vani menghapus air mata. ia beranjak lalu berjalan menuju pintu hendak keluar dari dalam kamar menemui dika di ruang tamu.
ceklek!
vani keluar dari dalam kamar dan melihat dika yang masih setia menunggu disana.
vani berjalan mendekati sofa dimana dika sedang duduk menunggu dirinya.
"mas"
panggil vani setelah berdiri di hadapan dika.
dika menoleh karena mendengar suara gadis itu lalu vani pun duduk di sampingnya.
"maafin aku ya, tadi aku lagi badmood aja"
vani menatap dika yang hanya diam saja.
"em, iya enggak papa" dika hanya merespon singkat.
"kamu marah ya?"
vani menatap dika yang sedang tidak menatap ke arahnya.
"enggak kok, ya udah aku pulang dulu ya. nanti kalo kamu udah siap buat pulang langsung kabarin aja, biar aku jemput" ucap dika sambil berdiri dari duduknya.
"em, kamu enggak mau ngajak aku pulang hari ini mas?" vani menunduk.
"katanya kamu belum mau pulang"
"iya sih tapi aku udah berubah pikiran"
"oh, ya udah kalo gitu ayo kita pulang sekarang aja. takutnya nanti kamu berubah pikiran lagi" dika tersenyum.
vani pun menatapnya lalu tersenyum malu. memang benar ia sangat plin plan dengan keputusannya.
akhirnya sore itu juga vani dan yuli ikut pulang ke kota bersama dika.
*
hari pun berganti saat ini vani dan yuli sudah kembali ke kota dan bekerja seperti biasannya.
vani kembali bekerja menjadi sekretaris rangga seperti sebelumnya.
setiap hari vani di sibukkan dengan bekerja karena akhir akhir ini pekerjaannya di kantor sedang banyak.
kini hubungan antara vani dengan dika juga sudah mulai membaik pikirnya.
siang ini, vani dan dika sedang makan siang bersama tanpa rangga dan ray karena kedua pria itu sedang bertemu dengan klien di tempat yang berbeda.
dika yang melihat vani hanya mengaduk aduk makanan di hadapannya pun bertanya.
"sayang kamu kenapa?" dika menggenggam tangan vani.
"enggak papa"
"em, aku suapin ya" dika tersenyum.
"enggak usah deh mas, aku emang lagi males makan aja"
"kamu sakit?" dika memegang pipi vani.
"enggak" vani menggeleng.
"terus kenapa kamu enggak mau makan, apa karena ada aku ya?"
dika merasa jika belakangan ini sikap vani berubah kepadanya.
"bukan"
"terus kenapa sayang?"
"engga papa kok mas. maaf ya aku udah buat kamu khawatir" vani mengusap lembut lengan dika.
"iya sayang"
dika pun mengerti dengan sikap vani yang sering berubah ubah itu.
*
tak terasa dua minggu berlalu, hubungan antara vani dan dika masih berlanjut dengan baik.
hari ini karin yang sudah sembuh pun kembali masuk kantor untuk bekerja seperti biasanya namun saat ia hendak menuju meja kerjanya karin melihat vani yang sedang duduk disana.
"ehem, kamu siapa ya? ini meja kerja saya"
__ADS_1
karin menatap vani yang menduduki kursinya.
melihat wajah karin vani langsung ingat jika wanita itu yang pernah memeluk kekasihnya beberapa waktu lalu.
vani menatap karin dengan tidak suka lalu ia berdiri dari duduknya dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan bosnya tanpa menjawab pertanyaan dari karin karena vani sangat malas berbicara dengan wanita itu.
"dasar tidak sopan" kesal karin melihat vani yang pergi begitu saja
vani berniat untuk memberi tahu rangga saja tentang kedatangan karin pikirnya agar ia tidak perlu berurusan dengan wanita itu.
tok! tok! tok!
vani mengetuk pintu ruangan bosnya.
"ya masuk" jawab rangga dari dalam.
ceklek!
vani pun masuk ke dalam ruangan rangga.
"permisi pak"
"vani, ada apa?"
rangga bingung melihat vani yang masuk ke dalam ruangannya padahal ia tidak sedang memanggil sekretarisnya itu pikirnya.
"maaf pak, ada seseorang yang ingin menemui bapak" ucap vani.
tak lama karin datang dan langsung berjalan masuk ke dalam ruangan rangga.
"siapa?"
rangga beralih menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu.
"mas rangga, aku udah sembuh jadi mulai hari ini aku udah bisa kerja lagi"
karin masuk lalu duduk di hadapan rangga tanpa di minta.
"iya baguslah" rangga mengangguk.
"tapi tadi aku liat ada orang lain yang lagi duduk di meja kerja ku mas"
karin menoleh sedikit ke belakang untuk melirik vani yang masih berdiri disana.
"iya kamu memang sudah kembali tapi maaf ya karin mulai sekarang kamu saya pindahkan tugas" ujar rangga
"kamu akan jadi sekretaris direktur mulai sekarang"
"apa!! kenapa aku yang di pindahin sih mas? aku enggak mau. harusnya dia yang kamu pindahin bukan aku. apalagi posisi aku harus turun jadi sekretaris direktur, itu berarti posisi aku bakal lebih rendah dari pada gadis itu dong dia cuma sekretaris pengganti ku selama aku cuti bukan untuk selamanya kan mas" karin tidak terima.
"tapi saya sudah mengambil keputusan ini dan saya harap kamu bisa menghargainya. lagi pula menurut saya vani memang lebih pantas untuk berada disini karena dia bisa bekerja lebih baik dari pada kamu. yang penting dia selalu bekerja secara profesional tidak melakukan apapun sesuai keinginannya sendiri seperti kamu. kamu bekerja hanya saat kamu ingin saja lalu mengambil cuti sesuka mu juga, kamu pikir kantor ini milik papa mu" peringat rangga
"tapi mas, aku kan udah..."
"satu lagi karin, kita sedang berada di kantor jadi panggil saya pak rangga bukan mas karena saya adalah bos kamu" ucap rangga penuh penekanan.
"tapi kan aku udah izin sebelum cuti mas" karin masih membela dirinya.
"iya tapi kamu izin bukan hanya untuk beberapa hari saja melainkan untuk beberapa bulan dan itu sangat merugikan perusahaan. lebih baik kamu terima atau kamu tidak usah kembali untuk bekerja lagi" ucap rangga tegas.
"ck!" mendengar ancaman dari rangga yang akan memecatnya karin pun segera pergi dengan wajah kesal.
sebelum pergi karin menatap vani dengan tatapan tidak suka kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan rangga.
sedangkan vani hanya tertunduk ia tidak ingin melihat wajah karin.
"vani kamu boleh kembali bekerja" rangga menatap vani.
"baik pak terima kasih, saya permisi"
vani pun menunduk lalu keluar dari dalam ruangan rangga dan kembali duduk di meja kerjanya.
karin yang tidak terima dengan keputusan rangga pun segera mendatangi ruangan kerja dika untuk mengadu.
"sayang,,,"
karin langsung masuk ke dalam ruangan dika tanpa mengetuk pintu dan mengabaikan ray yang sedang berada di luar ruangan itu.
"karin? kenapa kamu masuk ke ruangan aku" dika menatap karin yang mendekatinya.
"aku mau ngadu tentang keputusan mas rangga. aku enggak mau di pindahin tugas jadi sekretaris direktur sayang. aku mau disini aja jadi sekretaris kamu ya"
karin memeluk dika yang masih duduk di atas kursinya.
"karin lepasin, ini kantor lebih baik sekarang kamu pergi dan terima aja keputusan dari bang rangga"
__ADS_1
dika hendak melepaskan pelukan karin yang saat ini sedang duduk di atas pangkuannya itu.
"aku enggak mau. kalo emang mas rangga mau mecat aku enggak masalah tapi nanti setelah kita nikah"
"kita enggak bakal jadi nikah karin tolong kamu ngerti ya"
"aku enggak mau ngerti itu sayang karena aku cinta sama kamu dika..."
karin mengecup bibir dika dengan lembut lalu membelainya, memperdalam ciuman mereka karena dika hanya diam saja.
tidak mendapat penolakan dari dika karin pun terus melakukan keinginannya itu. ia bergerak manja di atas pangkuan dika membuat tubuh dika memanas.
dika pun langsung memeluk tubuh karin serta membalas ciumannya.
karin merasa senang karena dika sudah mulai terpancing olehnya, tangan karin bergerak membuka jas yang sedang dika pakai dan keduanya pun larut dalam ciuman hangat mereka di dalam ruangan itu.
tangan dika bergerak liar kemana mana menyentuh bagian tubuh karin yang sedang duduk di atasnya.
dika yang sempat terbuai menikmati ciuman itu pun akhirnya tersadar karena mengingat wajah kekasihnya.
reflek dika langsung berdiri dari duduknya membuat tubuh karin terjatuh ke lantai.
bruk!!!
"aw!"
karin meringis kesakitan merasakan benturan di tubuhnya.
"sayang sakit...." kesal karin.
"maaf"
dika hendak melangkah pergi namun karin memeluk kakinya agar dika tidak pergi.
"sayang jangan pergi" karin memeluknya dengan erat.
"karin lepasin" dika menarik kakinya.
"enggak mau" karin tetap berada disana.
"karin kamu apa apaan sih"
dika masih berusaha menjauhkan tubuh karin.
"enggak mau sayang, jangan pergi" karin tetap ngotot.
"karin! lepasin aku..!!!"
dika membentaknya dengan keras karena emosinya sudah mulai tidak terkendali.
"ck!"
melihat kemarahan pria itu karin langsung melepaskan pelukannya dari kaki dika.
dika pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
brakk!! pintu kamar mandi tertutup dengan cukup keras.
"ck! udah gila aku! bisa bisanya aku nerima ciuman dari karin itu" umpat dika kesal sambil terus membasuh wajahnya dengan air keran di wastafel.
'maafin aku sayang, aku khilaf' batin dika mengingat vani kekasihnya.
setelah selesai dika pun keluar dari dalam kamar mandi dan melihat karin yang masih berada disana.
"kenapa kamu masih disini?" tanya dika malas lalu kembali duduk di atas kursi kerjanya.
"aku mau kamu jelasin sama aku siapa gadis yang sekarang jadi sekretaris mas rangga itu"
saat ini karin sudah duduk di atas kursi yang berada di hadapan meja kerja dika.
"kaya yang kamu liat, dia sekretaris bang rangga yang selama ini gantiin posisi kamu waktu kamu pergi"
"bukan itu dika, maksud aku siapa gadis itu buat kamu? apa karena dia kamu jadi berubah kaya gini dan mau lupain aku sekarang?"
"hhh! kita jangan bahas itu sekarang ya, pliss kamu keluar dulu deh dari ruangan aku" dika menatap karin.
"tapi aku mau kamu jelasin siapa dia dika" karin menggenggam tangan dika.
"iya aku bakal jelasin tapi nanti enggak sekarang" dika memalingkan wajahnya.
"kamu janji ya. aku tunggu penjelasan kamu"
"iya sekarang kamu keluar dari ruangan ku" usir dika dengan wajah datar karena tidak mau menjawab semua pertanyaan dari karin.
dengan terpaksa akhirnya karin pun keluar dari dalam ruangan dika.
__ADS_1
di luar ruangan ada ray yang sedang duduk di kursi meja kerjanya. ia hanya tersenyum tipis menatap cuek karin yang keluar dari dalam ruangan dika dengan wajah kesal.