
setelah menetralkan nafasnya, vani langsung mendorong tubuh dika yang menindihnya itu lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"kamu apa apaan sih mas, entar kalo ada yang liat gimana?" protes vani kesal kepada dika.
"iya maaf sayang. aku khilaf, habis bibir kamu menggoda sih" hehe
"khilaf khilaf mulu deh kamu tuh, padahal pasti sengaja kan? kamu ingat dong kita lagi dimana"
"iya iya, kamu protes mulu deh sayang. padahal tadi kamu juga menikmati banget kan? mana sekarang udah makin pinter lagi balesnya"
dika tersenyum membuat vani malu dan menutup wajahnya.
"ih mas, aku malu..."
namun ia merasa apa yang dika katakan itu memang benar adanya.
"haha, kenapa harus malu sih sayang. bagus dong kalo kamu makin pinter sekarang jadi makin panjang durasinya deh"
ucap dika menggoda sambil memeluk vani yang merasa malu.
"ih, tau ah! kamu mesum..."
vani mendorong tubuh dika lalu berlari menuju pintu keluar.
"hhh! lucu banget sih kamu"
ia tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari gadis yang dicintainya itu.
vani langsung masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di atas ranjang kesayangan miliknya.
"huh!"
vani mencoba memejamkan mata namun saat matanya tertutup muncul bayangan dika yang sedang menciumnya baru saja.
entah mengapa vani tidak menolak saja ciuman itu karena bagaimanapun juga ia sudah berniat untuk melepaskan dika dari hidupnya dan mengakhiri hubungan ini.
namun rasanya vani tak sanggup untuk melepaskan pria yang dicintainya itu.
"iihh,,,, kenapa sih...!!!"
vani kesal pada dirinya sendiri sambil berteriak di dalam kamar. beruntung tak ada orang yang mendengar teriakannya itu.
*
di tempat yang berbeda rangga berusaha untuk menelpon seseorang yang tak lain adalah dika, adiknya sendiri. ia hendak menanyakan tentang keberadaannya ada dimana saat ini.
setelah telpon di jawab oleh dika rangga pun langsung mengomel kepada adiknya yang nakal itu.
Rangga: halo, dika! lo dimana sih kok enggak ngantor?
Dika: hem, gue lagi liburan.
Rangga: liburan dimana? perasaan lo enggak ada tuh ngajuin cuti ke gue.
Dika: ke rumah calon mertua gue lah. jadi lo suruh aja ray buat handle semuanya ya.
Rangga: rumah calon mertua?
Dika: iya, kan lo sendiri yang kemaren bilang kalo gue harus nikah secepatnya. ya udah, ini gue lagi proses pendekatan sama calon mertua iya kali gue datang tiba tiba langsung ngelamar tanpa aba aba dulu padahal kenal juga belum.
Rangga: calon mertua lo yang mana?
Dika: yee, enak aja yang mana lo kan udah tau.
Rangga: oh dia, haha gercep juga ya lo.
Dika: iya dong bang entar keduluan orang lagi.
Rangga: oke deh, semoga berhasil ya lo di terima jadi mantu.
Dika : ya pasti di terimalah bang. gue kan tipe menantu idaman semua orang tua haha.
Rangga: iya deh, iya adek gue emang menantu idaman. ya udah kalo gitu gue mau lanjut kerja lagi ya, ada meeting sebentar lagi nih.
Dika: oke sip!
setelah telpon terputus dika pun meletakkan ponselnya lalu berbaring di atas ranjang hendak beristirahat sejenak.
*
siang harinya mereka keluar dari dalam kamar masing masing hendak makan siang bersama.
__ADS_1
abang dan kakak ipar vani pun ikut bergabung untuk makan siang bersama di rumah kak aida karena vani baru saja pulang hari ini.
saat ini mereka sudah berkumpul di meja makan dan duduk di kursi masing masing.
vani pun membantu kakaknya menyiapkan makan siang.
"hai sayang, dira mau makan apa? bibi suapin dira ya" ucap vani kepada dira keponakannya.
"enggak usah bik, dira kan udah gede jadi bisa makan sendiri"
"oh oke deh, kalo gitu ini dira makan yang banyak ya sayang"
vani mengambilkan ayam goreng untuk keponakannya itu.
"makasih bik" dira tersenyum manis.
"sama sama sayang" vani mengecup keningnya.
"oh iya bik, bibik makin cantik deh" puji dira kepada adik dari ibunya itu.
"oh ya? dira juga makin gede makin cantik" vani mencubit gemas pipi dira.
"iya dong bik, dira kan mau cantik kaya bibik" hehe
"pasti nanti kalo udah gede dira bakalan lebih cantik dari pada bibi, jadi dira harus makan yang banyak ya biar dira cepat gede"
vani mengusap lembut rambut ponakannya itu.
"oke siap bik" dira tersenyum hingga terlihat gigi ompongnya.
dika yang melihat percakapan vani dengan keponakannya itu pun tersenyum. ia pun jadi teringat dengan cerewetnya rara di rumah.
"oh iya, om itu siapa bik?" tanya dira menatap dika yang berada di samping bibinya itu.
"em, ini namanya om dika sayang. teman bibik" jawab vani sambil tersenyum.
"oh, kirain pacar bibi hehe" senyum dira polos.
"dira tau dari mana kata itu hem? masih kecil enggak boleh bahas soal itu dulu ya sayang"
"hehe iya bik, maaf..."
vani geleng kepala melihat kelakuan dira yang bahkan belum genap berusia lima tahun sudah mengerti tentang kata pacar.
"ini mas, makan yang banyak ya biar cepet gede"
vani berkata sedikit ketus kepada dika.
"makasih ya" dika tersenyum menerimanya.
"apanya yang gede van?" sahut kakak iparnya yang sedang duduk berhadapan dengan kursi vani sambil tersenyum jail.
"eh kakak. em, itu apanya ya" hehe
vani gugup sambil cengengesan bingung sendiri dengan ucapannya.
melihat vani yang salah tingkah membuat dika tersenyum menahan tawanya.
"haha! kamu ada ada aja deh van" kakak iparnya tertawa.
setelah selesai mengambil makanan untuk dirinya sendiri vani pun kembali duduk di kursinya dengan tersenyum canggung.
melihat vani yang duduk dengan canggung dika pun mendekat berniat untuk kembali menggoda kekasihnya itu
"emangnya apa lagi sih yang kurang gede sayang?" bisik dika mendekat tersenyum jahil.
"ih mas, kamu apaan sih"
vani mencubit kecil paha dika dan melotot ke arahnya.
"aw, iya ampun sayang sakit..." bisik dika dengan suara pelan.
"ya, kamu sih siapa suruh otaknya mesum" bisik vani balik.
"aku kan cuma nanya, bukan mesum sayang. kamu sendiri yang pikirannya kemana mana"
saat masih berdebat dengan suara pelan, tiba tiba saja rio menegur keduanya.
"kalian kenapa sih bisik bisik terus, kalo mau bisik bisik sana di dalam kamar aja"
"eh! emang boleh ya bang?" hehe canda dika.
__ADS_1
"haha. boleh boleh, asalkan kalian udah siap juga abang gantung di tiang listrik" ujar rio.
"haha kalian ini, bercanda mulu" kak aida melerainya.
"uhuk, uhuk ehem"
dika pun bersusah payah menelan makanannya sampai tersedak karena ucapan abang dari kekasihnya itu.
melihat dika yang tersedak vani langsung mengambilkan minum dan menyodorkannya pada dika.
"pelan pelan dong mas makannya"
vani mengelus lembut punggung dika agar merasa lebih tenang.
"makasih ya sayang"
dika tersenyum menerima perhatian lembut dari kekasihnya itu.
hal ini membuat dika semakin menyayangi gadis itu karena ia merasa nyaman dengan perhatian lembut vani.
"abang kamu galak juga yank"
dika dengan suara pelan berbisik masih menyambung percakapan.
"makanya kamu jangan macem macem sama adeknya ini. entar kamu di gantung di tiang listrik loh. mau?"
"eh, aku enggak macem macem kok sayang. cuma mau satu macem doang maunya kamu hehe" dika nyengir.
"oh ya, kamu berapa hari cuti dek?" rio menatap vani.
"em, cuma beberapa hari aja bang"
"kok cepet banget sih"
"iya rencananya mau lama sih, tapi...."
vani menggantung ucapannya sambil melirik dika yang berada di sebelahnya namun dika hanya fokus pada makannya saja.
"tapi apa, kamu takut di pecat ya haha" kak aida tertawa mengejek adiknya itu.
"enggak sih kak, mana berani bos aku mecat aku yang ada juga dia yang takut aku pecat" haha
vani bercanda sambil melirik bosnya yang sedang berada di sampingnya itu namun keluarganya tidak tahu jika bos vani adalah dika.
"hahaha kamu ada ada aja deh" kakaknya menggelengkan kepala mendengar jawaban adiknya yang absrud.
mendengar ucapan vani itu dika hanya tersenyum tidak perduli dengan perkataan vani tentang bosnya karena ia tau jika kekasihnya itu hanya bercanda saja.
setelah selesai makan siang bersama, vani pun keluar dari dalam rumah kakaknya berniat untuk mengunjungi rumah keluarga yang lainnya termasuk rumah yuli yang berarti rumah bibinya juga bersama dengan dika.
"assalamualaikum" mereka masuk ke dalam rumah bibinya lalu duduk di sofa ruang tamu.
"walaikumsalam vani apa kabar kamu?"
kakak yuli menyambut salam mereka lalu duduk bersama di atas sofa.
"baik kak" vani bersalaman.
"apa kabar vani, wah!!! kamu makin cantik aja nih"
kakak ipar yuli datang sambil membawa minuman.
"alhamdulillah baik kak. kakak juga makin cantik, makin berisi juga badannya pasti bahagia banget ya hidup sama abang" haha vani menggoda kakak ipar dari sepupunya itu.
"bukan makin berisi aja van tapi makin bulat ini" haha balas kakaknya tertawa.
"eh ada vani sehat kan nak?" bibinya juga ikut bergabung.
"alhamdulilah bik vani sehat. bibik juga sehat kan?"
vani salim mengecup punggung tangan bibinya.
"alhamdulilah kita semua disini juga sehat"
"ya sehat dong ma, sehat lahir batin malah"
yuli ikut duduk bersama yang lain.
"iya bagus dong kalo gitu"
mereka saling bercerita dan bercanda membuat suasana lebih nyaman.
__ADS_1
cukup lama mengobrol bersama hingga tidak terasa sudah sore hari.
akhirnya vani dan dika pamit pulang dari rumah bibinya dan kembali ke rumah kakaknya setelah berkunjung.