Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 216


__ADS_3

sejak melakukan hal itu bersama naya ray merasa dirinya tidak pantas untuk menyentuh istrinya namun sekarang ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjauhi naya dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. ray juga akan selalu setia kepada istrinya saja.


ray mulai permainan dengan mencumbui bagian punggung istrinya sedangkan tangannya sudah merambat ke mana mana hingga bermain di dua gunung kembar milik istrinya lalu membuka satu persatu pakaian mereka yang masih tersisa.


yuli mengambil alih permainan dan mulai mencumbui bagian leher hingga ke dada bidang suaminya membuat darah ray berdesir hebat.


rasa panas menjalar kemana mana hingga membuat ray tidak dapat menahan diri lagi. ia langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh istrinya lalu mendorong miliknya masuk ke dalam tempat ternyaman itu.


"sshh! akhhh" lenguhan keduanya saling bersahutan di dalam kamar luas itu.


saat ray sedang asik bermain di atas tubuh istrinya sambil menghentakkan tubuhnya kuat disana. entah kenapa tiba tiba saja ia kembali teringat dengan naya bahkan juga mengingat malam ketika mereka sedang melakukan hal yang sama beberapa waktu yang lalu itu.


"ck!" ray berusaha menepis pikiran itu dan fokus hanya kepada istrinya saja.


karena merasa kesal dengan pikirannya sendiri ray pun akhirnya mempercepat gerakan pinggulnya membuat yuli meringis namun tetap merasa nikmat.


"akkhh! mass sshh!!"


lenguhan yuli tidak tertahan saat hentakan demi hentakan dari suaminya itu menghujam tubuhnya.


akhirnya ray tersadar dan dapat menikmati permainan bersama istrinya setelah mendengar lenguhan merdu dari bibir ranum itu.


lenguhan yuli kembali menyadarkan ray bahwa wanita yang saat ini sedang bersamanya adalah istrinya sendiri.


beberapa hari kemudian sesampainya di kantor dika langsung masuk ke dalam ruangan rangga dengan kekesalan terlihat jelas di raut wajahnya.


brakk!


"apa apaan sih ini bang?"


dika menghempaskan beberapa berkas di hadapan rangga.


rangga hanya menatap berkas itu dengan wajah datarnya lalu beralih menatap wajah adiknya yang sedang kesal.


"lo tenang dulu dika kita bakal bahas tentang ini di ruang meeting pagi ini" rangga menanggapinya dengan kepala dingin.


"iya tapi kenapa kaya gini sih bang?" dika masih kesal.


"lo nanya ke gue, iya sama gue juga enggak tau dika. gue kaget berat pas liat perusahaan kita punya hutang dan kerugian sebesar ini. ya udah nanti kita tanya ray aja ya" rangga mencoba untuk menenangkan adiknya.


"ray? dimana dia! kenapa belum datang juga" dika semakin kesal karena hari ini ray tidak datang tepat waktu seperti biasanya.


"sabar dika, lebih baik lo tunggu aja" rangga kembali menenangkan adiknya.


sudah bosan mereka menunggu akhirnya ray pun datang. ia langsung masuk ke dalam ruangan rangga yang juga sudah ada dika di dalamnya.


"selamat pagi bos, maaf saya sedikit terlambat" ray menunduk menghadap rangga.


"sedikit lo bilang? hhh! gue udah bosen nunggu lo disini" dika masih duduk di tempatnya.


"ray coba tolong jelaskan kenapa ini bisa terjadi?"


dengan hati hati rangga bertanya sambil menyodorkan beberapa berkas di tangannya kepada ray.


"seperti yang bapak tau ada beberapa pengkhianat kecil di dalam kantor ini yang menyebabkan kerugian besar pada perusahaan" ray menatap rangga.


"siapa! kenapa cuma gue yang enggak tau?" protes dika tidak terima.


"maaf pak dika tapi saya pikir itu bukan hal yang besar jadi saya akan menyelesaikan semuanya" ray menatap dika.


"oh jadi maksud lo gue enggak bisa menyelesaikannya gitu?" dika merasa di sepelekan.


"bukan begitu pak maaf pak dik" ray hanya mengalah dengan ucapan dika.


"udah dong dika lagian lo kenapa sih sensitif banget hari ini kaya tadi malam enggak di kasih jatah aja deh" rangga kembali duduk di atas kursinya.


"tau nih bos" ray pun melirik dika yang masih kesal.


"terserah" jawab dika malas.

__ADS_1


"ya udah sekarang lo berdua keluar dari ruangan gue" usir rangga pada dua orang itu.


"elo ngusir gue?" dika kembali protes.


"iya emang kenapa?"


"ck! rese lo"


"tuh kan beneran nih anak pasti tadi malam tidurnya di belakangin sama vani nih" rangga masih terus saja menggoda adiknya.


"terserah lo deh bang"


dika berjalan keluar dari dalam ruangan rangga namun tidak dengan cara yang biasa saja.


brakkk!!!


sambil berjalan keluar dengan sengaja dika membanting sesuatu terlebih dahulu di dalam ruangan abangnya itu.


rangga dan ray pun hanya geleng geleng kepala menatap kepergian dika hingga tubuhnya tidak terlihat di balik pintu keluar.


"hhh! ray lo ada masalah apa sih sama tuh anak?" tanya rangga kepada ray yang masih berada di sana.


"tidak ada mungkin bos dika lagi ada banyak pekerjaan di kantornya juga pak" jawab ray.


"em, yaudah kita bahas ini nanti aja di ruang meeting ya"


"baik pak, kalo begitu saya permisi"


ray hendak berbalik namun ucapan rangga kembali menghentikan langkahnya.


"oh ya ray, elo ada liat naya enggak ya kayanya hari ini dia enggak datang lagi deh" tanya rangga yang penasaran.


"em, maksud bapak?" ray bingung.


"iya dari kemaren naya itu enggak masuk kantor. aneh sih biasanya dia paling enggak suka kalo harus cuti dan libur panjang" rangga memikirkan sekretarisnya itu.


"em"


setelah keluar dari dalam ruangan rangga ray menatap meja kerja naya yang kosong ia bahkan baru menyadarinya setelah rangga mengatakan jika naya tidak datang.


di meja kerjanya ray merasa frustasi karena memikirkan tentang dika yang bersikap aneh hari ini. di tambah dengan masalah yang terjadi di kantor bahkan naya juga sudah beberapa hari tidak bekerja membuat ray semakin pusing.


"hhh! kenapa masalahnya jadi berat gini sih. gue bahkan enggak sepusing ini waktu ngurus semua kerjaan di dua kantor" ray menghembuskan nafas kasar.


hari ini ray pergi menuju rumah naya atas perintah dari rangga. ia harus melihat keadaan naya karena tidak ada kabar sama sekali dalam beberapa hari ini.


ray pun mengendarai mobilnya menuju rumah naya yang sebelumnya bahkan belum ia ketahui. beruntung ray sudah meminta orang lain untuk mencari alamat lengkap rumah naya sehingga ia hanya tinggal mengikuti lokasi yang sudah di ketahui sebelumnya.


sebenarnya ray bisa meminta anak buahnya saja untuk memantau keadaan naya di rumahnya namun ia juga merasa khawatir dengan keadaan wanita itu hingga akhirnya memutuskan untuk melihatnya secara langsung.


mobil ray berhenti tepat di halaman rumah minimalis yang berada di sebuah komplek perumahan kecil jauh dari kata mewah di rumah sempit itulah naya tinggal sendirian.


padahal jika di lihat dari penghasilannya bekerja sebagai sekretaris seorang pemimpin perusahaan ternama wijaya group. naya seharusnya bisa membeli rumah atau sebuah unit apartemen mewah di pusat kota.


ray turun dari dalam mobilnya dan melangkah dengan ragu mendekati rumah itu. apakah benar seorang gadis yang di carinya tinggal di dalam rumah itu pikirnya.


tokk!!! tokk!!! tokk!!


"assalamualaikum" ray mengetuk pintu rumah naya.


"walaikumsalam"


ceklek! naya membuka pintu dari dalam.


"pak ray!"


naya kaget setelah membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang.


"naya, saya mau bicara" ray menatap gadis itu.

__ADS_1


"em, silahkan duduk pak"


naya mempersilahkan ray untuk duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.


"makasih"


ray duduk di ikuti oleh naya juga duduk di sampingnya.


"bapak mau bicara soal apa ya?"


to the poin naya yang tidak berniat untuk membuatkan teh.


"kamu beneran tinggal di sini nay?" ray masih tak percaya.


"bohong pak" naya menjawab dengan malas.


"em, kenapa kamu enggak ngantor selama beberapa hari?"


"emangnya kenapa, bapak kangen ya?" naya bercanda.


"iya saya kangen naya. ck! udah cukup ya saya lagi serius" ray memudarkan senyuman di bibir naya.


"maaf pak tapi beberapa hari ini saya sedang sakit jadi saya izin sakit"


"kamu sakit apa?"


"kepala saya pusing pak"


"kamu udah ke dokter"


"belum, saya enggak punya uang"


"naya, ayolah jangan pura pura miskin gitu dong. gaji kita juga sama gimana mungkin aku percaya kalo kamu itu enggak punya uang untuk berobat"


"maaf pak tapi itu kenyataannya. ada sesuatu yang enggak bisa saya ceritain ke bapak tentang masalah pribadi saya jadi tolong jangan paksa saya buat cerita" naya menunduk.


"hem baiklah tapi kamu enggak ada kan izin sama pak rangga kalo kamu sakit buktinya dia lagi nyariin kamu"


"iya maaf pak sebenarnya saya mau resign dari kantor" ucapan naya membuat ray membelalakkan matanya.


"apa! resign, enggak bisa naya! sekarang kamu siap siap kita ke kantor hari ini juga kamu enggak bisa ninggalin kantor dalam keadaan kaya gini" ray memegang tangan naya hendak menariknya pergi.


"tapi pak saya masih sakit" naya menolak.


"emangnya kamu sakit apa, hem?" ray menatap naya.


"em, saya sakit hati...." gumam naya pelan.


"kamu enggak bisa jawab. kamu cuma alasan aja iya kan, ayo cepat saya tunggu kamu" ray berdiri dari duduknya.


"tapi pak, saya gak bisa" naya ragu.


"naya ayolah saya tau kamu sengaja kan mau menghindar dari saya"


"em"


"saya enggak akan ganggu kamu lagi nay"


"baik tunggu sebentar ya pak" naya kembali masuk untuk mengambil ponsel dan tas kecil.


"hem" ray pun menunggu.


naya keluar dengan tas kecil di tanganya lalu menutup pintu rumah dan berjalan masuk ke dalam mobil ray.


"ayo pak saya sudah siap"


naya duduk di samping ray yang akan menyetir mobil.


ray pun melajukan mobilnya kembali menuju kantor.

__ADS_1


__ADS_2