
di sebuah supermarket vani sedang membeli beberapa buah segar yang akan ia bawa ke butik hari ini.
"em, yang mana ya? kok aku pengen makan semuanya ya" vani menatap dua buah di tangannya.
"em semua aja deh" karena bingung harus membeli yang mana maka vani memutuskan untuk membeli saja semua jenis buah buahan yang di sukainya.
tak hanya itu vani juga membeli banyak coklat serta ice cream dengan berbagai rasa sepertinya hari ini ia sedang ingin memakan makanan yang manis.
tidak lupa vani juga membeli berbagai macam cemilan lain untuk di bagikan kepada karyawannya di butik.
"em, udah cukup deh kayanya" vani menatap dua troli yang penuh dengan banyak jajanan.
bukannya membeli bahan sayuran untuk di masak namun semua makanan di dalam troli hanyalah buah buahan serta cemilan yang akan ia bawa ke butik hari ini.
"pak tolong bantu saya bawa semuanya ya" minta vani kepada supir pribadinya.
"baik nyonya"
supir itu membawa beberapa kantong plastik besar dan meletakkannya di dalam mobil.
setelah selesai membayar vani pun berjalan keluar dari dalam supermarket menuju mobil namun tiba tiba saja ada seseorang yang menghentikan langkahnya.
"vani!" panggil seseorang itu.
"mas diki" gumam vani kaget saat melihat kehadiran mantan sahabatnya itu.
"em, boleh aku bicara sebentar sama kamu?" tanya diki menatap vani.
"kamu mau ngomong apa mas. di sini aja ya, aku enggak mau ada salah faham lagi"
"aku cuma mau ngasih kamu ini. kamu jangan lupa datang ya" diki memberikan sebuah undangan pernikahan.
"oh, kamu mau nikah ya mas selamat ya! nanti aku bakal datang" vani tersenyum.
"em, iya makasih. kalo gitu aku pergi dulu ya"
"iya" vani mengangguk.
diki melangkah pergi dari sana meninggalkan vani yang masih berdiri di tempatnya.
vani langsung memasukkan undangan itu ke dalam tasnya lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
sesampainya di butik vani dengan tersenyum membagikan semua cemilan dan buah buahan yang sudah ia bawa kepada karyawan yang sedang bekerja di butiknya.
"kak vani!" hana mendekat dan melihat kegiatan apa yang sedang kakaknya itu lakukan.
"mama" raffa pun langsung memeluk mamanya.
"sayang, anak mama udah pulang sekolah ya"
"wahh! banyak banget jajanannya ma afa mau satu boleh?"
"boleh dong sayang ambil aja yang afa mau oke"
"oke ma"
"jadi kakak pergi cuma mau beli jajan?"
"iya kakak pengen shoping tapi capek jadi beli jajan aja deh. nih buat kamu"
"hem iya enggak salah sih, makasih ya kak" hana menerima ice cream dari kakaknya.
"iya sama sama"
vani tersenyum lalu membawa banyak makanan yang akan ia makan sendiri di dalam ruangannya.
"bibi ayo kita makan ice cream" ajak raffa menarik lengan hana menuju ruangan mamanya.
"iya iya" hana mengikuti langkah keponakannya.
malam ini setelah selesai makan malam bersama terlihat vani sedang duduk bersandar di atas ranjangnya.
vani asik memainkan ponsel di tangannya namun tiba tiba saja ia kembali teringat dengan undangan yang diki berikan kepadanya siang tadi.
__ADS_1
vani segera membuka kembali tasnya dan mengambil undangan itu dari dalamnya. ia menatap undangan di tangannya serta membaca tulisan di dalamnya.
tertera di dalam undangan itu nama dari pasangan yang akan menikah.
"diki dan karin?" vani berpikir jika ia pernah mendengar nama wanita itu.
"karin bukannya? ah mungkin namanya doang yang sama kali ya" vani menepis pikiran sebelumnya.
dika yang baru saja masuk ke dalam kamar pun melihat istrinya sedang melamun di tepi ranjang lalu ia tersenyum miring dengan perlahan berjalan mendekati vani hendak menutup mata istrinya dengan telapak tangan dari arah belakang.
"ck! mas dika ngapain sih?"
"kok kamu tau sih kalo aku yang datang kan mata kamu tertutup sayang"
dika melepaskan tangannya dari wajah istrinya membuat vani memutar bola matanya.
"haisshh!!! kamu tuh ada ada aja deh mas ya walaupun mata aku ketutup sekalipun aku bakal tau kalo itu kamu"
"uhh so sweet banget istriku" dika tersenyum memeluk istrinya dari belakang.
"iya karena sekarang kita lagi ada di dalam kamar sih makanya aku bisa tau kalo lagi di luar aku enggak yakin bisa nebak kamu mas" vani memudarkan senyuman dika.
"ck!! tega banget sih kamu sayang" dika patah hati lalu duduk di tepi ranjang.
"enggak usah drama deh mas" vani duduk di atas pangkuan suaminya.
"sayang ini apa?" tanya dika saat melihat sebuah undangan di tangan istrinya.
"oh ini undangan dari mas diki mas" vani menunjukkan kepada suaminya.
"oh mantan kamu mau nikah" dika menanggapi cuek.
"bukan mantan aku mas kan cuma temen"
"temen tapi jalan bareng terus makan bareng dan lain lain bareng juga" dika mengalihkan pandangannya.
"ish! terserah kamu deh mas lagian dia juga nikahnya sama mantan kamu tau" ucapan vani membuat dika mengernyitkan dahinya.
"maksud kamu?" tanya dika bingung.
"hah!!! karin? bukannya dia..." dika kaget sambil berpikir.
"em, aku juga enggak tau sih mas ini karin mantan kamu atau bukan lagian enggak ada fotonya" vani melihat bolak balik undangan di tangannya.
"iya terserah sih bagus lah kalo karin nikah itu berarti dia udah tobat sayang"
"tobat! emangnya selama ini karin penjahat ya mas"
"ya iya lah kan dia yang udah nyulik kamu dulu bareng mantan kamu yang satunya itu, lagian kenapa dia suka banget sih sama mantan mantan kamu"
"iya mungkin karena dia juga mantan kamu kali mas" vani tersenyum menahan tawanya.
"apa hubungannya coba" dika malas membahasnya.
"iya jadi hubungannya adalah mantan aku sama mantan kamu itu berjodoh" vani menyatukan kedua jari tangannya.
"enggak ada hubungannya sayang, yang penting itu adalah kita berjodoh" dika memeluk istrinya.
"kangen" vani menyatukan kening dengan suaminya.
"aku juga" dika merebahkan tubuhnya sambil menarik istrinya yang sedang berada di dalam pelukannya itu.
cup! malam itu kembali berlalu dengan indah.
hari ini adalah hari libur ray pergi hendak menjemput anak dan istrinya di kampung karena yuli akan kembali tinggal bersama dengannya di kota.
karena ini hari libur dika pun sedang berada di rumahnya. saat ini ia sedang berada di dalam ruang kerjanya.
tok!! tok!! tokk!!! luna mengetuk pintu ruangan itu.
"masuk" jawab dika dari dalam ruangan.
ceklekk!!
__ADS_1
luna berjalan masuk dengan langkah perlahan mendekati meja kerja dika.
"bapak memanggil saya?"
luna masuk ke dalam ruangannya karena dika yang meminta untuk bertemu.
"iya luna, silahkan duduk" dika menunjuk kursi di hadapannya.
"baik pak"
luna mendekat lalu duduk di depan kursi yang berhadapan langsung dengan dika dari jarak yang sangat dekat.
"luna, tolong kamu jelaskan sama saya apa yang sebenarnya terjadi malam itu"
"maksud bapak kejadian apa?"
"apa yang sedang kamu lakukan di depan pintu kamar saya beberapa hari lalu sampe kamu juga sempat berdebat dengan hana waktu itu?"
"em, itu saya cuma mau mastiin kalo mas afa udah tidur karena saya enggak tau kalo mas afa akan tidur di kamar bapak sama ibu malam itu"
luna merasa gugup ia menunduk karena tidak berani menatap mata dika.
"oh ya? berapa lama kamu berdiri disana, kamu cuma mau memastikan afa sudah tidur atau sekalian kamu juga mau memastikan kalo papanya sudah tidur?"
dika bertanya menyelidik sambil menekan kata papanya dalam ucapannya itu.
"beneran saya cuma sebentar kok pak mana berani saya melakukan itu" luna menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"oh ya? kamu enggak berani melakukan hal itu"
dika merasa kesal karena luna masih saja mencari alasan untuk menghindar dan tidak ingin mengakuinya.
"iya pak" luna mengangguk cepat.
"kamu yakin enggak mau jawab dengan jujur pertanyaan dari saya?" tanya dika sekali lagi.
"saya sudah jujur pak"
"kalo gitu sekarang juga angkat kepala kamu dan tatap wajah saya ini" perintah dika dengan nada tegas.
"saya tidak berani pak" luna menggelengkan kepalanya.
"lakukan atau kamu akan menyesal" dika menatap luna semakin dekat.
"baik pak"
dengan perlahan luna menegakkan pandangannya untuk menatap mata dika.
"sekarang kamu jawab dengan jujur luna" dika masih tetap menatap mata luna.
"saya, saya sudah jujur pak"
"baiklah luna mulai hari ini kamu saya pecat dan sekarang pergilah!!!" dika menggerakkan tangannya menyuruh luna keluar dari dalam ruangannya itu
"tapi apa salah saya pak?" luna meneteskan air matanya.
"apa kamu lupa, kalau di setiap sudut rumah ini memiliki CCTV bahkan juga ada di dalam kamar saya sendiri atau apakah kamu ingin melihat isi CCTV yang ada di dalam kamar saya secara langsung agar semuanya lebih jelas terlihat. apa saja yang sedang saya lakukan bersama istri saya di dalam kamar saya sendiri. apakah itu yang ingin kamu lihat disana, apa yang ingin kamu lihat luna?"
dika menahan kesalnya dengan suara tertahan agar tidak berteriak kepada gadis di hadapannya itu.
"pak, saya minta maaf tapi saya enggak bermaksud untuk melakukannya. saya mohon jangan pecat saya pak"
luna memohon sambil berlutut di hadapan dika karena bagaimanapun juga ia sedang mempertaruhkan pekerjaan kakaknya yang sudah di amanahkan kepada dirinya.
"keluar!!"
"pak saya mohon"
"keluar sekarang!!" tegas dika karena luna tidak mau pergi.
"enggak pak, saya minta maaf tolong jangan pecat saya pak saya janji enggak akan mengulanginya saya enggak akan bersikap lancang lagi" luna memohon sambil menangis.
"lagi? apa baru sekarang kamu sadar! itu sudah terlambat luna sekarang kamu pergi!!!"
__ADS_1
dika tidak mau memberikan kesempatan namun luna terus memohon agar dika memberinya kesempatan.