Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 57


__ADS_3

di tempat yang berbeda yuli dan hana pun sudah berada di dalam kamar mereka hendak tidur.


"kak, rumahnya bagus banget ya ada asisten juga. apa ini semua enggak terlalu berlebihan buat kita?"


hana mengamati ruangan di dalam kamar mereka.


"iya sih" yuli sebenarnya hanya fokus menatap banyak kertas di hadapannya.


"em, beruntung banget ya kak vani dapetin cowok kaya bang dika yang baik banget"


hana membayangkan jika suatu hari nanti ia juga akan mendapatkan pasangan yang baik untuknya.


"hem iya sih udah deh mending sekarang kita tidur ya besok aku harus kerja nih"


yuli berbaring sambil memegang kertas di tangannya.


"iya deh" jawab hana pasrah.


"huh!" yuli menghembuskan nafas kasar.


"kakak lagi sibuk banget ya masa mau tidur sampe bawa kertas kerjaan gitu sih?"


"iya gue lagi sibuk banget mendingan lo tidur sekarang jangan ganggu konsentrasi gue nih yang lagi mikir"


yuli menutup wajahnya dengan kertas.


"hem, palingan juga bentar lagi dia ketiduran bukan mikir" gumam hana menggelengkan kepala menatap kakaknya yang absrud.


keesokan harinya dika mengajak vani untuk menikmati liburan mereka dengan jalan jalan.


meskipun harus berpergian dengan menggunakan jaket tebal anti air karena saat ini musim dingin cuaca akan selalu mendung dan lebih sering turun hujan dibandingkan salju namun vani tetap antusias untuk pergi.


dika pun membawa sebuah kamera untuk mengabadikan setiap momen bersama wanita yang dicintainya itu.


"huh dingin banget mas,,,,"


saat ini vani sedang duduk di salah satu kursi yang berada di dalam cafe.


setelah lelah berkeliling keduanya memutuskan untuk menghangatkan diri sejenak di dalam sebuah cafe sambil menikmati segelas coklat hangat saat hujan sedang turun mengguyur kota itu.


"ya udah kalo gitu habis ini kita pulang dulu ya, besok kita jalan jalan lagi"


dika tersenyum sambil menyatukan tangan mereka.


"emm" vani mengangguk setuju.


sesampainya di apartemen vani dan dika langsung mandi dan merebahkan diri di atas kasur yang empuk.


"hem nyaman banget hujan hujan gini tidur"


vani menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal dan hangat.


melihat istrinya masuk ke dalam selimut dika pun ikut masuk lalu memeluk tubuh istrinya di balik selimut itu.


"iya sayang ini tuh cuacanya enak banget buat tidur apalagi kalo kita tidurnya bareng"


dika memeluk erat tubuh istrinya di balik selimut tebal itu.


"ihh, mas aku sesak nafas tau kamu peluknya erat banget kayak gini"


vani membuka selimut yang sedang menutupi tubuh mereka.


"hehe kan biar anget sayang"


"tapi kan"


"ssttt! diam sayang aku ngantuk"


"mas!" panggil vani menatap wajah suaminya.


"hem" dika memejamkan matanya.


"kapan kita liat menara eiffel dari dekat?"


vani yang sudah tidak sabar untuk melihat menara yang menjadi ikon di kota itu dari jarak yang dekat.


"hem, sebenarnya lebih cantik waktu malam sayang tapi karena ini musim dingin kita enggak bisa keluar malam soalnya pasti dingin banget cuacanya jadi besok aja ya" dika memeluk lembut.


"em"


"sayang" dika menatap istrinya.


"hem" vani yang juga sudah memejamkan matanya.


"kamu, capek ya?"


dika tidur dengan posisi miring menghadap ke arah vani.


"emangnya kenapa mas?" vani membuka matanya.


"em yuk"


"kemana?"


dika langsung mencium lembut bibir istrinya lalu vani pun membalasnya dengan senang hati.


mereka larut saling menikmati ciuman hangat hingga tubuh keduanya menuntut yang lebih.


bergerak turun dika mengarahkan wajah pada dua benda kenyal kesukaannya itu lalu melahapnya satu persatu.

__ADS_1


hal itu tentu membuat lenguhan vani keluar begitu saja dari bibirnya.


"sshh mas emh"


vani semakin menekan wajah suaminya di bagian dadanya lebih dalam.


ketika hasrat vani sudah berada di puncak kenikmatannya. tiba tiba saja dika menghentikan aksinya hingga membuat vani merasa kesal.


"aku lupa sesuatu"


dika menghentikan aktivitas kesukaannya lalu berdiri dari tidurnya.


"mas kamu mau kemana?"


vani melihat suaminya beranjak dari ranjang hendak pergi.


"maaf ya sayang aku harus keluar sebentar, soalnya aku lupa sesuatu. entar kita lanjut lagi bye sayang" emuach


dika mengecup kening istrinya lalu segera keluar dari dalam kamarnya.


"ihh, mas dika jahil banget deh"


vani karena dika membuat moodnya benar benar hancur.


akhirnya vani kembali merapikan pakaiannya yang sudah berantakan lalu terlelap di atas ranjang tanpa bertanya lagi dika mau pergi kemana karena ia sudah merasa kesal.


beberapa jam berlalu dika pun kembali masuk ke dalam kamarnya melihat vani yang sudah tertidur di atas ranjang.


"sayang"


dika mengusap lembut rambut istrinya itu membuat vani kembali menggeliat dan membuka matanya secara malas.


"hem" jawabnya cuek.


"kamu laper enggak? gimana kalo kita masak spaghetti bareng yuk" dika tersenyum.


"males" jawab vani cuek.


"kamu marah ya?"


"enggak tuh"


"beneran kamu enggak laper?"


"hem laper sih tapi aku enggak mau makan spaghetti"


"terus kamu mau makan apa dong?"


dika menatap istrinya dari dekat sambil mengusap rambut istrinya itu.


"aku mau makan kamu"


vani menarik pundak dika lalu menyatukan bibir mereka.


"ck! males"


"aku janji nanti kita bakal lanjutin yang tadi oke?"


"hem, ya udah deh ayo kita makan tapi kamu yang masak ya mas"


vani beranjak lalu mereka melangkah menuju dapur hendak masak bersama.


"oke sayang apasih yang enggak buat kamu"


dika merangkul pinggang istrinya sambil berjalan.


setelah selesai memasak dika pun meletakkan dua piring berisi spaghetti itu di atas meja lalu meminta vani untuk mencicipi hasil masakannya.


"nah gimana rasanya sayang?"


"em, lumayan sih"


"hem, datar banget sih jawabannya"


vani hanya diam menatap fokus pada makanannya itu sambil terus menikmatinya.


"oh ya mas. sejak kapan kamu bisa masak?"


"iya sejak lama dong, aku sama bang rangga selalu belajar masak bareng waktu kami masih kecil"


dika bercerita tentang kenangan masa kecilnya yang selalu di jaga dan disayangi oleh rangga.


"oh ya, jadi waktu kecil kalian itu temenan ya mas. engga kaya sekarang yang selalu bertengkar"


"umur kami kan beda lumayan jauh sayang jadi bang rangga tuh sayang banget sama aku, dia juga selalu ngajarin aku banyak hal" dika tersenyum.


"mas rangga tuh, abang idaman banget ya" vani memuji abang iparnya itu.


"iya, dia baik banget"


dika memuji rangga yang tidak pernah ia lakukan saat berada di hadapan rangga secara langsung karena jika bertemu mereka akan selalu berdebat.


"oh ya mas berapa lama kita disini?"


"kenapa kamu udah bosen ya?"


"em, bukan gitu mas disini nyaman banget kok"


"kamu yakin?"

__ADS_1


"em" vani mengangguk.


"ya udah kita nikmati aja dulu di sini sayang nanti kita pikirin lagi mau pergi kemana yang penting kita barengan terus ya"


"hem" vani hanya mengangguk.


setelah selesai makan malam vani dan dika pun kembali untuk beristirahat.


di pagi yang sejuk itu vani sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap indahnya hujan yang turun dengan cukup deras dari balik tirai jendela kaca di dalam kamarnya.


vani masih merasa sedikit kesal kepada suaminya yang telah merusak moodnya sejak kemarin malam itu.


"hai sayang, kamu lagi ngapain?"


dika datang lalu merangkul pundak istrinya itu.


"lagi main golf" vani malas bicara.


"aku temenin ya" dika pun tersenyum lebar.


"hem" vani hanya tersenyum tipis.


"lucu banget sih istri aku"


dika gemas mencubit pipi chuby istrinya.


"udah ah mas aku mau ke dapur dulu laper"


vani berdiri hendak melangkah keluar.


"eits, tunggu dulu dong sayang"


dika menarik lengan vani hingga terduduk di atas pangkuannya.


"aw! ih lepasin mas"


vani jatuh di atas pangkuan suaminya itu dan tidak bisa melepaskan diri karena lengan dika menahan tubuhnya.


"aku juga laper sayang"


bisik dika menyatukan kening mereka.


"iya, nih aku mau buatin kamu sarapan dulu ya mas"


"enggak perlu sayang aku maunya makan kamu aja"


dika berbisik lalu berbaring sambil menarik tubuh istrinya yang agar ikut berbaring di atas tubuhnya lalu dika pun langsung mengunci tubuh vani agar tidak bisa pergi lagi.


vani hanya diam sambil memejamkan matanya menerima setiap sentuhan lembut dari bibir suaminya.


sepasang pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu itu akhirnya membuat pagi yang sejuk itu menjadi sebuah pagi yang penuh kehangatan di antara keduanya.


di belahan bumi lain, menjelang sore hari ini rangga sedang membujuk putrinya agar mau makan.


rangga bahkan tidak pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya hari ini karena suhu tubuh putrinya yang sangat panas sejak pagi tadi membuat rangga sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya itu.


setelah memanggil dokter dan di beri obat penurun demam kini kondisi rara sudah cukup membaik.


"sayang makan dikit lagi ya"


rangga sedang menyuapi putrinya untuk makan.


"em, rara udah kenyang pa"


rara dengan suara yang masih lemah menggelengkan kepala untuk menolak suapan dari papanya itu.


"tapi rara masih makan dua suap doang sayang. nanti kalo rara udah sembuh papa janji deh bakal ngasih apa pun yang rara minta"


"rara enggak mau, rara enggak percaya lagi sama papa buktinya kemaren itu rara minta adek aja enggak di kasih sampe sekarang" rara kesal.


"em sayang adek itu enggak bisa di beli, papa juga lagi usaha terus sama mama buatin adek buat rara yakan ma?"


rangga menatap istrinya yang sedang duduk di sampingnya itu.


"em iya sayang"


ranty bingung bagaimana cara menjelaskan kepada putrinya itu.


"mana buktinya! rara enggak pernah tuh liat papa sama mama buatin adek buat rara"


rara meminta bukti dengan polosnya.


"ya ampun sayang, rara emang enggak boleh liat dong rara kan masih kecil. udah ya sekarang rara makan dulu tahun depan pasti rara bakal punya adek"


rangga kembali membujuk putrinya.


"beneran pa? janji ya" rara mengulurkan jari kelingkingnya.


"iya sayang papa janji.sekarang rara bobo dulu ya"


rangga pun membalas dengan jari kelingking juga lalu meminta rara untuk beristirahat.


"oke pa" dengan tersenyum rara pun kembali tertidur.


cup! rangga mengecup kening rara lalu menyelimuti tubuh putrinya.


"mas, kamu ngapain janji sama anak kita kalo tahun depan rara bakal punya adek. gimana kalo kita belum di kasih rezeki buat punya baby lagi" bisik ranty kepada suaminya.


"kamu tenang aja sayang. mudah mudahan secepatnya, ya kalo rara belum bisa punya adek dari kita kan seenggaknya rara bisa punya adek dari dika"hehe. rangga nyengir.

__ADS_1


"kamu nih ya mas ada ada aja deh"


ranty menggelengkan kepalanya lalu terdiam menatap bingung kepada puteri semata wayangnya itu.


__ADS_2