
siang hari tiba, rangga pun mengajak vani dan yuli untuk mencari tempat makan lebih dulu agar vani bisa makan walaupun hanya sedikit pikirnya.
"kak ayo makan dulu biar ada tenaga. liat kamu lemes banget kaya gini"
yuli menyodorkan makanan di hadapan vani.
"iya vani, ayo kamu makan dulu ya sedikit aja biar kamu kuat buat nunggu sampe malam"
rangga juga menyemangati adik iparnya itu sedangkan ray hanya menatap vani yang terlihat diam.
"aku enggak mau yul" tolak vani.
"dikit aja pliss!" bujuk yuli.
"hoek! hoek! enggak bisa aku mual banget"
vani tetap menolak makanan sambil menutup mulutnya.
"itu pasti karena asam lambung kamu udah kambuh. habisnya kamu sih enggak mau makan dari kemarin"
yuli bingung harus melakukan apa agar vani mau makan.
"ya udah emangnya kamu pengen makan apa vani? seenggaknya kamu harus makan atau minum sesuatu ya"
rangga kembali membujuk adik iparnya.
"aku mau es krim" minta vani dengan suara pelan.
"apa! es krim?"
yuli hampir saja mengeluarkan tanduk harimaunya saat mendengar permintaan dari sang kakak.
'hhh! sabar yuli sabar' batin yuli menenangkan dirinya.
"uhuk! em vani apa kamu yakin?"
ray pun hampir tersedak makanan mendengarnya.
"iya boleh ya mas" vani menatap rangga.
"em, i iya boleh" rangga mengangguk.
"pak rangga kok malah boleh sih, entar kalo kak vani makin masuk angin gimana?"
yuli sedikit berbisik padahal vani sendiri dapat mendengarnya dengan jelas.
"biarin aja lah yul, kasian vani juga enggak mau minum air putih dari tadi" jawab rangga.
"iya tapi kan"
"bener yul, kasian vani" ray menimpali.
"huhh! ya udah deh kamu boleh makan es krim kak tapi jangan banyak banyak ya" yuli tetap khawatir.
siang berganti sore lalu sore pun akhirnya berganti menjadi malam hari yang gelap namun pencarian masih tetap tidak membuahkan hasil apapun.
"kak ini udah larut malam tapi kayanya belum ada hasil apapun" yuli menatap vani.
vani hanya diam saja tidak menjawab apapun membuat yuli semakin khawatir dengan keadaan kakaknya.
"kak? kamu baik baik aja kan?" tanya yuli.
hoek!! hoek!!
vani kembali merasa mual dan pusing karena belum makan sejak tadi.
"sshh! aku enggak papa kok. ayo kita keluar kayanya itu pak polisi mau ngomong sesuatu deh"
vani mengajak adiknya untuk keluar dari dalam mobil.
"eh, iya iya ayo"
mereka pun keluar dari dalam mobil berjalan mendekati.
"maaf pak rangga ini adalah hari terakhir pencarian kita karena selama beberapa hari tetap tidak ada hasilnya sama sekali jadi kami akan menghentikan pencarian terhadap kasus kecelakaan pak dika karena sudah tidak ada kemungkinan jasad akan di temukan lagi"
"pihak kepolisian harus menyatakan bahwa saudara radika wijaya sudah meninggal dunia dengan jasad yang hanyut terbawa arus sungai"
salah satu polisi menetapkan keputusan akhir di hadapan ray dan rangga serta vani yang juga berada di sana.
rangga dan ray menitikkan air mata kesedihan di pipi saat mendengar keputusan itu dari pihak kepolisian setempat.
rangga tak kuasa membendung air matanya mengingat semua kenangan saat bersama adik semata wayangnya.
"dika kenapa lo pergi secepat ini, kenapa lo ninggalin gue sama papa mama juga dengan cara kaya gini sih dik" hh!
rangga kembali menjatuhkan lututnya ke tanah sambil menunduk sedih.
saat mendengar pernyataan yang di ucapkan oleh pihak kepolisian itu tentang kematian suaminya, vani pun tidak kuasa menahan isak tangisnya.
__ADS_1
"enggak! itu enggak mungkin kan yul, suamiku enggak mungkin ninggalin aku"
"mas dikaaa!" teriakan vani melemah.
"kak vani kamu sabar ya"
yuli mencoba untuk menenangkan vani.
"jangan tinggalin aku mas dika. mass..."
ucapan vani melemah sebelum ia kembali jatuh pingsan.
"kak vani!"
beruntung yuli selalu ada di samping kakaknya itu dan langsung menopang tubuh vani saat ia hendak terjatuh.
"vani!"
dengan sigap rangga pun langsung mengangkat tubuh vani lalu masuk ke dalam mobil dan langsung membawa adik iparnya itu ke rumah sakit terdekat.
sesampainya di rumah sakit, rangga dan ray bersama yuli duduk menunggu di luar ruang ICU dengan wajah sangat khawatir saat vani masih di tangani oleh dokter.
"kak vani kamu harus kuat kak" yuli sangat khawatir
setelah selesai memeriksa keadaan vani dokter pun keluar dari dalam ruangan itu.
"em, dokter bagaimana dengan keadaan adik saya?"
rangga bertanya cepat saat melihat dokter yang keluar dari dalam ruangan vani di periksa.
"untuk saat ini kondisinya cukup lemah pak dan itu juga membuat kondisi janin yang ada di dalam kandungannya ikut lemah" jelas dokter.
"hah!! maksud dokter janin di dalam kandungan itu? apa kakak saya lagi hamil?" tanya yuli.
"iya benar, usia kandungannya masih lima minggu jadi tolong di jaga kondisi dan kesehatan ibunya juga ya"
"alhamdulilah, em baik dok kami akan menjaganya" rangga mengangguk sambil bersyukur.
"kalo begitu saya permisi dulu pak"
dokter lalu pergi meninggalkan mereka.
"baik terima kasih dokter"
ray mengangguk sedangkan rangga dan yuli kembali terdiam mematung. mereka masih sibuk dengan pikiran masing masing mencerna penjelasan dari dokter.
setelah tersadar dari pikiran masing masing mereka pun segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi vani yang masih belum sadarkan diri.
"ray tolong urus semuanya ya, segera pindahkan ruang rawat vani ke dalam ruangan VVIP rumah sakit ini. kita akan menginap sampai besok pagi karena kondisi vani masih lemah dan ini juga udah larut malam"
perintah rangga kepada sekretarisnya itu.
"baik pak" ray pun berjalan keluar dari dalam ruangan.
"yuli kamu tolong jaga vani sebentar ya saya akan menghubungi keluarga di rumah"
rangga juga keluar dari dalam ruangan vani setelah yuli mengangguk.
setelah rangga keluar dari dalam ruangan itu. yuli menatap sendu tubuh kakaknya yang sedang terbaring lemah itu. ia duduk di atas kursi tepat di samping bankar vani.
"kak vani bangun dong. kamu harus semangat dan tetap sehat ya kamu tau enggak? tadi dokter bilang kalo kamu lagi hamil. itu berarti kamu enggak sendirian lagi sekarang. ada baby di dalam perut kamu yang harus kamu jaga"
yuli mencoba untuk menghibur diri sambil bercerita kepada vani padahal saat ini dirinya juga ingin menangis.
seharusnya kebahagiaan vani dan dika semakin lengkap dengan kehadiran calon buah hati mereka namun apalah daya takdir berkehendak lain.
di luar ruangan rangga sedang menelpon istrinya ingin mengabarkan jika mereka tidak bisa pulang malam ini.
setelah telpon tersambung ranty pun langsung menjawab telpon dari suaminya.
Rangga: halo sayang.
Ranty: halo mas, kok kalian belum pulang sih gimana pencariannya?
Rangga: pencarian udah di hentikan sayang dan polisi juga udah menyatakan untuk menutup kasus kecelakaan dika jadi mereka ngumumin kalo dika emang udah meninggal dan jasadnya hanyut terbawa arus sungai.
Ranty: astaghfirullah!! terus vani gimana mas. apa dia baik baik aja waktu dengar kabar ini?
Rangga: enggak terlalu baik sayang. ini aku mau ngabarin kalo kami belum bisa pulang malam ini karena vani lagi di rawat di rumah sakit soalnya tadi dia pingsan lagi setelah dengar pernyataan itu dari polisi.
Ranty: ya ampun vani. terus gimana kondisinya sekarang mas udah baik baik aja kan?
Rangga: kondisinya masih lemah sayang karena vani enggak mau makan terus tadi dokter juga bilang..."
Ranty: bilang apa mas?
Rangga: bilang kalo vani hamil sayang.
Ranty: apa!! hamil mas. alhamdullilah.
__ADS_1
Rangga: iya sayang mas juga senang sih dengarnya tapi sedih juga ngeliat keadaan vani kaya gini.
Ranty: iya bener mas, saat lagi kaya gini seharusnya dika ada di sampingnya.
Rangga: udah dulu ya sayang. tolong bilang sama mama papa buat jangan khawatir karena kami baik baik aja di sini.
Ranty: iya mas.
tut!!
setelah vani di pindahkan ke ruang perawatan yang lebih nyaman. akhirnya rangga dan ray bisa beristirahat di atas sofa dalam ruangan itu. sedangkan yuli tetap duduk di samping tempat tidur kakaknya untuk menunggu vani hingga sadar.
setelah semuanya tertidur tidak lama kemudian vani pun tersadar dengan perlahan ia membuka matanya.
"mas dika"
dengan suara pelan vani memanggil nama suaminya sambil menatap langit langit dalam ruangan itu.
"kak vani kamu udah sadar?"
yuli melihat vani sudah membuka matanya.
"kita ada di mana?" vani menatap adiknya.
"kita lagi di rumah sakit tadi kamu pingsan kak"
"aku haus yul" vani ingin minum.
yuli pun langsung membantu vani untuk duduk bersandar lalu mengambilkan segelas air putih untuk kakaknya.
"ini kak minum dulu" yuli menyerahkan segelas air itu.
glek!! glek!! glek!!
vani meminumnya sampai habis.
vani kembali menatap sekelilingnya ia melihat rangga dan ray yang sedang tertidur di atas sofa demi menjaganya.
"apa aku terlalu merepotkan kalian?" vani menunduk
"kamu ngomong apa sih kak, enggak sama sekali kamu enggak ngerepotin siapa pun kok. kami semua sayang sama kamu"
"hiks! hiks! hiks!" vani kembali menangis.
"udah kamu jangan nangis lagi dong kak, kasian baby nya"
"bayi, maksud kamu apa yul?" vani tidak mengerti.
"iya kalo kamu nangis terus kasian baby yang ada di dalam sini kak nanti dia juga ikut sedih"
yuli mengelus lembut perut vani yang masih terlihat rata.
"bayi!! bayiku ?"
vani juga langsung meraba dan mengelus bagian perutnya.
"iya bayi kamu sama bang dika, tadi dokter bilang kalo kamu lagi hamil kak. selamat ya sebentar lagi kamu bakal jadi seorang ibu" yuli memeluk vani.
"kamu serius?"
vani masih tidak percaya saat ini ia sedang mengandung buah hatinya bersama suaminya itu.
"loh kok enggak percaya sih. ya iya serius dong ngapain juga aku bohongin kamu kak. emang selama ini kamu enggak tau? dokter bilang usianya udah lima minggu loh"
"aku emang enggak tau tapi kamu beneran enggak bercanda kan yul" vani kembali meyakinkan sekali lagi.
"iya serius kak. sumpah loh aku enggak bohong"
"ya ampun beneran kamu ada di sini sayang?"
vani tersenyum sambil terus meraba bagian perutnya.
"beneran dong mama"
yuli menirukan suara bayi kecil sambil tersenyum.
"alhamdullilah"
vani pun tersenyum bahagia sambil terus mengusap lembut bagian perutnya itu.
vani merasa sangat bersyukur atas kehadiran calon bayinya itu. meskipun dika sudah pergi meninggalkannya setidaknya sekarang ia masih memiliki alasan untuk tetap kuat dan bertahan demi bayinya.
"makasih ya sayang kamu udah hadir disini, kehadiran kamu sangat berarti buat mama sayang mama janji akan selalu jagain kamu" vani menitikkan air mata bahagia.
"nah! gitu dong kak kalo kamu senyum kaya gini kan jadi cantik banget. jangan sedih lagi ya kak"
yuli senang akhirnya vani kembali tersenyum.
"iya makasih ya yul" vani membalas pelukan dari adiknya.
__ADS_1