Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 185


__ADS_3

saat makan dika melihat hal tidak biasa dari istrinya itu dan mencoba untuk menegurnya.


"sayang?"


dika menatap istrinya makan dengan sangat lahap tidak seperti biasanya.


"hem" mulut vani masih penuh terisi oleh makanan.


"makannya pelan pelan aja dong sayang" dika menyodorkan air putih agar vani meminumnya.


"makasih sayang"


vani tersenyum menatap suaminya yang juga sedang menatap dirinya itu.


"kamu kok makannya kaya di kejar harimau gitu sih"


"iya kan aku lagi lapar mas"


raffa yang sudah sering melihat keromantisan di antara papa mamanya itu pun hanya cuek saja menanggapinya.


terkadang hana merasa canggung saat berada di antara pasangan suami istri itu namun sekarang hana sudah terbiasa melihatnya.


"uhhh! sweet banget sih kalian, pengen deh suatu hari nanti bisa kaya kakak sama abang bahaginya"


"aamiin, pasti suatu hari nanti kamu bakal jauh lebih bahagia hana. semoga kamu dapat cowok yang baik, penyayang dan bertanggung jawab"


"makasih ya kak"


"sama sama"


dika tersenyum menatap kedua wanita di hadapannya itu.


setelah selesai makan malam, dika langsung beranjak menuju ruangan kerjanya karena hendak lembur lagi menyelesaikan pekerjaan malam ini.


hana dan raffa pun sudah masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.


raffa langsung tertidur setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sedangkan hana masih asik chating ria dengan dimas.


hana tidak berhenti tersenyum melihat balasan pesan karena dimas selalu memujinya dan membuat hana merasa istimewa saat bersamanya.


di dalam kamarnya vani masih gelisah dan tidak bisa memejamkan mata karena suaminya belum kembali ke dalam kamar mereka.


saat ini vani sangat ingin berada dalam pelukan suaminya


vani kembali teringat pada janji dika pagi tadi.


"ihh!!! mas dika dimana sih kok belum balik juga ke kamar" vani merasa kesa.


jam di dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 malam.


karena merasa bosan menunggu akhirnya vani pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya lalu berjalan menuju ruangan kerja suaminya.


ceklek!


vani membuka pintu ruangan kerja suaminya dan melihat dika masih berada disana sambil fokus menatap layar di hadapannya. ia berjalan mendekat lalu memeluk tubuh dika dari arah belakang.


"mas"


"hem"


"kamu lama banget sih" vani meletakan dagunya di atas pundak suaminya.


"kamu kok belum tidur sih sayang?"


"aku enggak bisa tidur mas" jawabnya manja.


"kenapa?"


"aku nungguin kamu dari tadi tau?" vani mengelus bagian dada suaminya.


"kamu tidur duluan aja ya, aku masih ngerjain ini sebentar lagi nanggung sayang" ujar dika memberi pengertian pada istrinya.


"enggak mau, aku maunya tidur bareng kamu mas"


vani melepaskan pelukannya lalu beralih duduk di atas pangkuan suaminya itu.


"kamu takut tidur sendirian hem? ya udah sana kamu tidurnya di dalam kamar afa aja bareng hana juga sayang"


dika menatap istrinya yang sudah berada di dalam pelukannya itu.


"aku enggak mau mas, aku maunya tidur bareng kamu ngerti enggak sih"


vani menyembunyikan wajahnya di bagian pangkal leher dika.


"sayang aku harus seleseiin kerjaan dulu, nanti kamu jadi kurang tidur kalo nungguin aku. mungkin sampe satu atau dua jam lagi baru selesai"

__ADS_1


"pokoknya aku mau tidur sekarang" vani memeluk suaminya yang masih fokus pada pekerjaannya itu.


akhirnya dika pun membiarkan saja istrinya itu duduk di atas pangkuannya sambil memeluk tubuhnya agar vani bisa tertidur disana.


bukannya tertidur di dalam pelukan suaminya, vani justru terus bergerak mengelus bagian dada suaminya yang tidak peka akan keinginannya.


"sayang kamu kenapa belum tidur?"


dika mengecup rambut istrinya yang sedang bersandar di dadanya itu.


"hem" vani mulai sedikit kesal karena malam ini suaminya tidak mengerti keinginan dirinya.


vani memejamkan mata, berusaha untuk tidur di dalam pelukan suaminya itu namun ia tetap tidak bisa tidur.


vani kembali membuka mata lalu bergerak membenarkan posisi duduknya kemudian memeluk tubuh dika lebih erat.


vani pun meletakkan wajah di pangkal leher dika membuat ia dapat menghirup aroma maskulin dari tubuh suaminya.


bukan mengantuk namun justru membuat vani semakin menginginkannya, menginginkan sesuatu yang selalu ia pikirkan sejak tadi.


vani mengecup leher hingga ke bagian dada suaminya dengan lembut. tangannya bergerak membuka satu persatu kancing piyama yang sedang dika pakai.


setelah berhasil membuka kancing piyama suaminya vani memasukkan tangannya untuk meraba bagian punggung dan dada suaminya sambil terus mengecup dengan bibir mungilnya.


dika yang akhirnya mengerti keinginan istrinya itu pun hanya tetap diam dan membiarkan saja vani melakukan sesuatu yang diinginkannya disana karena ia masih harus melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.


vani terus bermain di bagian dada suaminya dan berusaha agar dika juga menginginkan hal yang sama dengannya.


hal itu tentu saja membuat tubuh dika bereaksi namun ia berusaha untuk menahan diri agar tetap fokus pada pekerjaan dan menyelesaikan berkas yang sangat dibutuhkannya untuk meeting besok pagi.


melihat suaminya yang tidak membalas perbuatannya vani pun tetap tak mau berhenti dan semakin bersemangat menikmati permainan.


dika yang terus menerus merasakan sentuhan lembut dari bibir mungil istrinya itu membuat dirinya semakin sulit untuk mengendalikan diri agar tetap fokus mengerjakan pekerjaannya. ia menghembuskan nafas secara perlahan mencoba untuk menetralkan rasa panas yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.


semakin lama dika semakin kehilangan konsentrasinya untuk bekerja karena ia sudah tidak dapat menahan dirinya lagi akibat ulah istrinya yang bermain di dadanya membuat darah dika berdesir hebat.


usahanya agar tetap fokus bekerja pun hanya sia sia saja karena saat ini dika sudah menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu mulai memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan lembut yang di berikan oleh istrinya.


sensasi lembut dari bibir istrinya itu benar benar membuat tubuh dika seperti melayang hingga tak sadar ia melenguh saat merasakannya.


saat masih asik bermain di dada bidang suaminya, vani merasakan sesuatu yang sudah mengeras dan menonjol di bagian bawah sana bersentuhan dengan pahanya.


vani tersenyum karena hal itu berarti suaminya juga sudah menikmati sentuhan darinya dan menginginkan hal yang sama dengan dirinya.


"kenapa berhenti hem?"


dika memeluk pinggang istrinya lebih erat lalu vani pun merangkul leher suaminya dengan kedua tangan.


dika memiringkan kepala lalu mendekatkan wajahnya hendak menyatukan bibir mereka.


dengan perlahan vani memejamkan matanya untuk menerima dan menikmati sentuhan lembut itu.


dika melumt bibir manis istrinya dengan lembut, dengan senang hati vani langsung membalas dan memperdalam ciuman hangat di antara mereka karena itulah hal yang sudah diinginkannya sejak tadi.


tangan dika bergerak secara perlahan membuka piyama yang di pakai oleh istrinya dan memperlihatkan pundak mulus vani dengan lekukan tulang selangka yang sangat menggoda.


dika mengecup mesra bagian leher dan pundak istrinya itu membuat darah vani semakin berdesir hingga ia melenguh merasakannya.


saat hasrat keduanya semakin menuntut, terutama vani yang sudah sangat menginginkannya sejak tadi tiba tiba saja dika kembali teringat pada pekerjaannya yang masih belum selesai dan menghentikan aktifitasnya.


"em, sayang nanti aja ya soalnya aku harus selesain ini dulu sekarang"


dika menahan hasrat istrinya yang sudah semakin tidak tertahan.


mendengar ucapan dari suaminya itu, vani pun langsung menghentikan aktivitasnya lalu kembali menatap mata dika yang juga sedang menatapnya.


"tapi, aku kan pengen mas. kamu jahat banget sih"


vani menunduk dengan mata yang mulai berkaca kaca karena mendapat penolakan dari suaminya yang tidak pernah ia tolak jika dika yang memintanya.


"sayang maafin aku ya, aku enggak maksud buat nolak kamu tapi aku...."


ucapan dika terhenti karena vani langsung menimpalinya.


"iya iya, aku ngerti kok. kamu lagi sibukkan ya udah kamu lanjutin kerja aja aku mau tidur di kamar!"


vani kesal hendak berdiri dari pangkuan suaminya namun dika langsung menahannya agar vani tetap berada disana.


"sayang, maafin aku"


dika memeluk tubuh istrinya dan tidak mau melepaskan meski vani memberontak sambil memukul mukul dadanya.


"lepasin mas, ih!"


vani semakin kesal karena dika memeluk tubuhnya dengan sangat erat dan tidak membiarkannya untuk pergi padahal dika sudah menolaknya.

__ADS_1


dika tau istrinya itu pasti akan menangis di dalam kamar jika ia membiarkan vani pergi dengan keadaan hati yang sedang kesal seperti itu.


"maaf ya sayang, please jangan pergi" dika tetap memeluk tubuh vani di dalam dekapannya.


dika sangat menyesal karena seharusnya ia menuruti saja keinginan istrinya dan tidak berusaha untuk menolaknya namun pekerjaan yang belum selesai membuat dika justru tidak sengaja menolak hasrat istrinya sehingga membuat vani menangis.


"mas Lepasin!! hhh!!! hhh!!"


vani dengan nafas yang tersengal dan suara lemah pun berusaha menyadarkan suaminya karena merasa sulit bernafas saat dika memeluknya dengan sangat erat.


"maaf sayang, aku enggak sengaja"


dika langsung melepaskan pelukannya karena melihat vani yang kesakitan.


"hhhh!!! huhh!!!!"


plak!!


"ih jahat banget sih! kamu mau bunuh aku ya?" vani menepuk dada suaminya.


"ya enggak dong, aku enggak sengaja maaf ya sayang"


"ck! alesan"


"aku tuh cinta mati sama kamu jadi ya enggak mungkinlah aku mau bunuh kamu" dika memegang kedua sisi wajah istrinya.


"iya bilang aja kamu mau nikah lagi terus nyari daun muda yang lebih seger gitu"


"iya enggak mungkin lah sayang lagian mama muda tuh jauh lebih menggoda tau dari pada daun muda"


dika tersenyum mengecup kening vani lalu memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


vani terdiam dalam dekapan hangat suaminya kekesalan itu tidak membuat niatnya berubah.


"mas!"


"hem?"


"yuk"


"kemana?"


"bobok"


"masih mau?"


dika merasa heran karena biasanya istrinya itu akan kehilangan mood setelah merasa kesal.


"em" vani mengangguk.


"tumben?"


"em, enggak tau nih"


"bentar ya"


"jangan lama lama"


"iya sayang"


dika menyimpan data yang sudah ia buat sebelumnya lalu menutup laptopnya.


"oke"


"udah?"


"udah yuk"


"kemana?" vani menatap suaminya.


"makan" dika tersenyum.


"makan apa?"


"makan kamu" dika hendak menggendong istrinya.


"di sini aja" vani menahan suaminya.


"serius?"


"em" vani pun mengangguk.


"oke deh sayang" dika kembali duduk dengan pasrah.


dengan posisi yang sama seperti sebelumnya vani ingin melakukannya dengan posisi duduk di atas kursi dika hanya menuruti saja keinginan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2