Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 231


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit naya langsung mendapat penanganan dari dokter.


"apa yang terjadi dengan naya?"


ray yang sebenarnya mengerti tentang apa yang terjadi mencoba untuk bertanya kepada bagas yang sedang berada di sampingnya.


"bapak nanya kakak saya kenapa? harusnya bapak yang ngerasain semua sakit dan kesedihan yang di rasain sama kak naya sekarang. ini semua salah bapak, apa enggak cukup bapak datang cuma untuk menghancurkan kehidupan kakak saya?"


bagas terlihat emosi setelah mengingat jika ray adalah pria yang sudah menikahi kakaknya beberapa bulan yang lalu.


"bagas cukup! kendalikan emosi kamu. kita lagi berduka sekarang di tambah keadaan kak naya yang kritis. tolong kamu jangan nambah masalah lagi" dila menahan lengan adiknya yang bergetar.


"hhh! maafin aku kak" akhirnya bagas pun diam dan hanya terduduk menahan kesedihannya.


ray pun ikut duduk menunggu bersama kedua adik naya di luar ruangan itu.


"bagas, kamu tunggu disini ya jagain kak naya dulu kakak mau keluar sebentar nyoba cari pinjaman buat bayar biaya rumah sakit karena sekarang kakak sama sekali enggak megang uang" ucap dila kepada adiknya.


"iya kak, kakak hati hati ya" bagas mengangguk.


dila mengangguk lalu beranjak hendak segera pergi namun ucapan ray menghentikan langkahnya.


"tunggu, kalian enggak usah khawatir tentang biaya rumah sakit. saya yang akan nanggung semua biayanya"


ray menghentikan langkah kaki dila yang hendak pergi.


"maaf pak, apa bapak serius? kami tidak mau merepotkan" dila menatap ray.


"saya serius, sebagai permintaan maaf dari saya. saya berjanji mulai sekarang saya enggak akan pernah biarin naya berada dalam kesulitan lagi sampai kapan pun" ray menatap dila dan bagas secara bergantian.


"apa janji itu bisa kami pegang?" bagas merasa tidak yakin.


"kami memang lagi dalam kesulitan pak tapi kami enggak mau merepotkan bapak"


"tolong percaya sama saya lagipula saya enggak merasa di repotkan sama sekali. kalian bisa pegang janji saya"


ray mencoba untuk meyakinkan keduanya.


"baik kami akan kasih kesempatan" jawab dimas.


dila dan bagas sebenarnya tidak punya pilihan lain untuk saat ini selian menerima kebaikan dari ray karena jujur saja keduanya bingung harus mencari pinjaman dimana.


beberapa jam kemudian, kondisi naya sudah membaik. ia pun sudah tersadar dari pingsannya.


naya membuka matanya lalu menatap kedua adiknya yang sedang berada di sana menunggu kesadarannya.


"dila, bagas. shhh!! maaf ya kakak udah ngerepotin kalian" naya menatap keduanya secara bergantian.


"kak, kami enggak ngerasa di repotin kok yang penting sekarang kondisi kakak sama calon baby baik baik aja" dila mendekat lalu mengusap lembut perut naya.


"syukurlah kalo dia baik baik aja" naya juga memeluk bayinya yang masih berada di dalam perutnya itu.


"iya kak" bagas pun tersenyum.


"makasih ya kalian udah jagain kakak" naya tersenyum.


"oh iya kak, kita berdua keluar dulu ya soalnya ada yang mau ketemu sama kakak"


dila pun mengajak bagas untuk keluar dari dalam ruangan kakaknya.


"maksudnya?" tanya naya bingung.


tidak lama kemudian naya melihat ray yang masuk ke dalam ruangannya.


"hai naya, apa kabar?" ray menatap naya.

__ADS_1


"pak ray?"


"em, saya baik"


naya hanya menunduk dan tidak berani menatap mata ray.


"saya boleh duduk?" ray menatap kursi di samping bankar.


"em" naya pun mengangguk.


ray duduk di samping naya yang sudah duduk bersandar di atas bankarnya.


"naya tolong tatap saya"


ray mengangkat dagu naya yang sedang menunduk lalu menegakkan pandangan naya menggunakan tangannya.


naya pun mengangkat wajahnya lalu menghadap ke arah wajah ray yang berada di sampingnya.


tatapan mereka bertemu terlihat mata keduanya berkaca kaca seakan memiliki kesedihan yang terpendam.


"kenapa nay, kenapa kamu bohongin saya kaya gini? kamu bilang di dalam surat itu kalo calon bayi kita udah enggak ada terus ini apa, bayi siapa ini nay?" ray sambil mengusap lembut perut naya yang buncit.


"maafin saya pak tapi ini demi kebaikan kita, terutama kebaikan rumah tangga bapak. saya enggak mau bapak sampe bertengkar sama istri bapak karena saya. jadi saya harus mundur" naya kembali mengalihkan pandangannya.


"naya kamu kan udah setuju sebelumnya demi calon bayi kita ini. kita akan menjalani hubungan tersembunyi kenapa sekarang kamu memilih pergi" tanya ray.


"sudahlah pak saya enggak mau merusak rumah tangga orang lain. jadi mulai sekarang bapak lupain tentang kami" naya kembali menunduk menahan air matanya.


"gimana caranya saya bisa lupain kalian gitu aja naya, kalo saya tau kalian ada di dalam kesulitan kaya gini apa saya harus pura pura enggak liat" ray menggelengkan kepala.


"terus bapak mau apa sekarang? saya udah capek pak ray, saya capek karena takdir selalu bercanda di dalam hidup saya. sekarang saya enggak tau harus bagaimana, ibu saya juga udah enggak ada hikss!! hikss!!"


naya menangis karena masih merasa sedih dengan kepergian ibunya.


"naya, kamu yang sabar ya saya ngerti perasaan kamu" ray memeluk tubuh naya agar merasa lebih tenang.


"ayolah dika, please kali ini aja" ray memohon di dalam telpon.


"lo gimana sih ray, ngapain lo harus nginep segala?" dika merasa heran.


"dika naya lagi di rumah sakit sekarang"


"iya terserah lo deh, oke gue bakal bantuin" dika langsung mematikan teleponnya.


dika kembali menelpon adik iparnya dan memberi kabar jika saat ini ray belum bisa pulang dari luar kota karena pekerjaannya belum selesai.


yuli yang malang hanya bisa percaya apalagi saat dika yang mengatakan hal itu secara langsung kepadanya.


beberapa hari setelahnya keadaan naya sudah mulai membaik. ray pun mengajak naya untuk kembali pulang ke rumah yang sebelumnya telah naya tinggalkan.


"naya, kamu mau kan tinggal di rumah itu lagi?" tanya ray.


"saya enggak mau pak, saya mau tetap tinggal di sini karena kalo saya tinggal di sana itu sama aja saya akan sulit untuk melupakan bapak" jawab naya.


"tapi nay saya enggak tega kalo harus ninggalin kamu di sini. kamu mau ya ikut tinggal disana plis" ray memohon.


"untuk apa saya tinggal di sana pak kalo kehadiran saya juga enggak penting buat bapak"


naya mengalihkan pandangannya dari ray.


"naya, saya akan kasih rumah itu buat kamu biar kamu enggak bakal ngerasa lagi numpang kalo tinggal disana"


"enggak pak ray, emangnya apa hak saya atas harta bapak sampe sampe saya harus dapat rumah. saya enggak mau karena itu bukan hak saya" naya menolak.


"nay anggap aja ini sebagai bentuk permintaan maaf dari saya dan saya mau ngasih rumah itu untuk anak kita. saya enggak mau dia mengalami kesulitan"

__ADS_1


"terserah bapaklah, saya udah berulang kali nolak tapi kalo bapak maksa oke saya udah capek berdebat sama bapak"


naya akhirnya diam ia benar benar merasa lelah berdebat dengan ray karena kondisi tubuhnya juga belum fit.


"makasih naya" ray tersenyum.


naya merasa bingung melihat sikap ray kepada dirinya padahal ia sudah berusaha untuk menjauh namun ray terus saja mengejarnya.


ray merasa khawatir melihat keadaan naya dan kedua adiknya di desa itu. mereka sudah tidak aman lagi untuk tinggal di sana karena kebanyakan orang di kampung itu sudah membenci kehadiran mereka.


tidak hanya naya namun ray juga membawa kedua adik naya untuk tinggal di kota agar bisa menemani naya saat berada di dalam rumah.


mengajak adiknya juga merupakan permintaan dari naya sendiri karena dirinya tidak mungkin meninggalkan kedua adiknya di kampung apalagi ibu mereka sudah tiada.


sesampainya di rumah itu, kedatangan naya pun sudah di sambut dengan senang hati oleh mini asistennya.


"selamat datang kembali nyonya" mini tersenyum.


"mini kamu masih disini?"


naya tersenyum senang dapat kembali bertemu dengan sahabatnya itu.


"pasti nyonya saya bakal selalu nemenin nyonya di sini"


"makasih ya mini" naya pun memeluk mini.


"nyonya, calon baby udah gede sekarang" mini juga mengusap perut naya yang sudah membuncit.


"iya Alhamdullilah dia baik baik aja dan sebentar lagi baby bakalan lahir"


naya tersenyum tidak sabar menanti kelahiran anaknya.


"amin, oh iya mbak sama mas ini siapa?" mini menatap dila dan bagas secara bergantian.


"dila sama bagas ini adek saya mini bolehkan mereka juga tinggal di sini" tanya naya membuat mini bingung.


"nyonya, ini kan rumah nyonya jadi kenapa malah minta izin sama saya" mini bingung.


"iya makasih ya" naya pun tersenyum.


"ya sudah kalian baik baik di sini ya, saya harus pulang sekarang. mini tolong kamu jagain mereka ya kalau ada apa apa langsung hubungin saya aja"


ray menatap naya namun naya tidak mau menatapnya.


"baik pak" mini mengangguk.


"dila, bagas saya pamit ya tolong kalian jagain kakak kalian ya" ray juga menatap kedua adik naya.


"baik pak" dila dan bagas hanya mengangguk.


ray pun berjalan keluar dari dalam rumah itu meninggalkan naya yang hanya diam saja.


satu bulan kemudian keluarga wijaya kembali menggelar acara syukuran yang meriah untuk menyambut putra kedua dika.


penambalan nama putra kedua radika itu pun berjalan dengan lancar. mereka hanya mengundang keluarga terdekatnya dan beberapa rekan bisnis saja namun semua persiapannya terlihat begitu mewah.


tersemat kini nama raja putra wijaya menjadi nama dari putra kedua vani dan dika tersebut. raja yang artinya adalah harapan nama itu adalah pemberian dari oma dan opa raja sendiri yaitu papa hardi dan mama ratih.


mereka berharap kelak putra putra wijaya akan menjadi harapan terbaik dalam keluarga. dika dan vani pun sangat setuju dengan nama pilihan dari orang tuanya.


nama raffa dan raja memiliki dua arti yaitu kebahagiaan dan harapan. kedua nama putra wijaya tersebut ramai menjadi perbincangan masyarakat karena artinya yang begitu indah. keluarga terpandang itu selalu menjadi sorotan para media dalam setiap acaranya.


naya pun melihat acara syukuran putra wijaya tersebut dari televisi di dalam rumahnya. rasanya ia juga sangat ingin datang dan mengucapkan selamat secara langsung kepada mantan bosnya itu atas kelahiran putra kedua mereka namun naya kembali sadar jika itu tidak mungkin.


naya mengusap perut buncitnya sambil tersenyum menatap tv di hadapannya.

__ADS_1


"sayang, seandainya nanti bunda bisa buat acara syukuran yang meriah juga buat kamu"


naya menatap kearah perutnya sambil berbicara dengan bayi di dalam kandungannya namun naya sadar hal itu tidak mungkin terjadi.


__ADS_2