
ray datang dan langsung masuk kedalam ruang keluarga itu karena bagaimanapun juga mereka sudah menganggap ray sendiri bagian dari keluarga wijaya.
"selamat malam om, tante"
ray datang sambil membawa sebuah paper bag di tangannya.
"malam ray, ayo duduk"
"makasih om"
"oh ya kebetulan kamu disini ray jadi rencananya besok kita akan pergi ke tempat terakhir dika untuk melihat tempat itu bersama" papa hardi menatap ray.
"baiklah om kalau begitu saya akan mengatur semuanya besok" jawab ray.
"iya terima kasih ray" papa hardi mengangguk.
"saya kesini juga ingin menyerahkan ini kepada vani"
ray memberikan paper bag di tangannya itu kepada vani.
"apa ini mas ray?" tanya vani saat menerima paper bag itu.
"itu adalah barang barang milik dika yang di temukan oleh polisi saat mengevakuasi mobil. semua barang barang ini masih tersangkut di jok mobil dan tidak ikut terbawa arus karena mobil tenggelam di bagian sungai yang dalam"
sebenarnya ray juga bingung bagaimana bisa barang barangnya tidak hanyut namun justru orangnya yang menghilang di bawa arus sungai itu.
vani membuka paper bag itu dengan mata berkaca kaca air matanya selalu tumpah setiap kali mendengar nama suaminya itu di sebut.
setelah membukanya vani mengeluarkan barang barang milik suaminya dari dalam paper bag itu satu persatu. ia sudah sangat hafal dengan barang barang itu namun ada sebuah kotak asing yang baru saja ia lihat berada di antara barang barang lainnya.
sebuah kotak perhiasan cantik yang masih utuh meskipun sedikit kotor akibat tenggelam di air sungai.
'kotak apa ini' batin vani memegangnya.
vani pun membuka kotak itu secara perlahan karena merasa penasaran dengan isinya.
setelah membuka kotak itu air mata vani kembali jatuh begitu saja membasahi pipi dari mata indahnya saat melihat sebuah kalung dengan mainan kecil berbentuk hati berwarna merah muda yang sangat manis di dalamnya.
semua bentuk perhatian dan sikap romantis dari suaminya selalu membuat vani merasa istimewa.
"manis banget" gumam vani pelan saat menatap kalung yang kini sudah berada di tangannya.
"iya manis banget apalagi kalo kamu yang make vani"
ranty mendekat ke arah vani.
"bener tuh mbak" yuli dan hana ikut tersenyum.
"mbak pakein ya?"
ranty mengulurkan tangannya meminta kalung itu hendak memakainya di leher vani.
dengan ragu vani pun meletakkan kalung itu di tangan ranty karena sejujurnya ia sangat ingin jika suaminya yang akan memakaikan kalung manis itu di lehernya namun vani segera menepis keinginannya mengingat jika hal itu tidak mungkin terjadi.
setelah menerima kalung di tangannya ranty pun berdiri di belakang tubuh vani lalu memasangkan kalung itu.
setelah ranty memakaikan kalung itu di leher vani ia pun melihat kalung itu benar benar terlihat sangat indah berada di leher putih adik iparnya.
"cantik banget"
ranty mengamati kalung yang sudah ia pakaikan di leher adik iparnya itu lalu mengacungkan jarinya.
"kalungnya cantik banget sama kaya yang make cantik"
hana pun tersenyum menanggapinya.
"iya dong siapa dulu yang milih"
yuli tidak sadar mengucapkannya.
setelah tersadar dengan ucapannya yang mungkin akan membuat vani kembali bersedih mengingatnya yuli pun langsung merangkul pundak kakaknya itu.
"eh maksudnya iya kakak aku cantik banget. sekarang ayo duduk ya nanti capek kalo berdiri terus"
yuli mencari alasan sambil mendudukkan vani kembali di atas sofa.
'huh dasar kak yuli' batin hana menggelengkan kepalanya.
vani hanya terdiam saat mendengar ucapan adiknya itu lalu ia pun kembali duduk dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
keesokan harinya keluarga wijaya pun pergi bersama untuk melihat tempat terakhir kepergian dika di sungai itu.
"vani, kamu udah siap kan nak?"
mama ratih melihat vani sedang berjalan bersama kedua adiknya.
"iya ma" vani pun mengangguk.
"ya udah ayo kita berangkat"
ranty mengajak vani dan mama mertuanya.
sesampainya di tepi sungai itu mama ratih pun tak kuasa menahan kesedihannya.
"dika mama dateng nak mama kangen banget sama kamu, kenapa kamu ninggalin mama kaya gini sayang" hiks! hiks!
mama ratih kembali menangis dengan suara yang pelan.
papa hardi pun senantiasa memeluk istrinya agar mama ratih kuat menerima kepergian putra mereka itu.
semua orang di sana pun ikut meneteskan air matanya mengingat dika dengan semua kenangan yang pernah mereka rasakan dari sosok pria tampan yang baik hati itu.
termasuk vani yang saat ini sedang menabur bunga dan meletakkan buket bunga indah yang sudah ia bawa di air sungai yang mengalir itu.
buket bunga indah yang dengan tulus vani rangkai untuk suaminya serta taburan kelopak bunga itu langsung hanyut terbawa arus yang mengalir jauh.
'mas dika semoga kamu tenang disana ya sayang, kalo kamu tau aku akan selalu mencintai kamu disini. aku janji akan selalu jaga dan rawat anak kita dengan baik' batin vani menangis sambil mengusap lembut perutnya.
setelah selesai menabur bunga di tempat itu papa hardi mencoba untuk menghapus air matanya lalu mengajak istri serta anak anaknya yang lain untuk kembali pulang.
"ayo ma kita pulang, papa enggak sanggup kalo kita di sini terus"
papa hardi mengajak istrinya sambil ia memegangi bagian dadanya karena takut penyakit jantungnya akan kambuh di sana.
"iya pa"
mama ratih hanya menangis sambil berjalan menuju mobil untuk pulang.
"ayo kak kita pulang ya"
yuli pun mengajak vani berjalan kembali menuju mobil.
papa hardi terlihat berjalan sambil terus merangkul pundak istrinya yang masih terisak karena kepergian putra bungsu mereka secara tiba tiba. apalagi mereka juga tidak bisa melihat jasad dika untuk yang terakhir kalinya.
"sshh!"
vani memegangi kepalanya yang pusing lalu tubuhnya langsung tumbang.
"kak vani"
beruntung yuli dan hana yang selalu berada di sisi vani langsung menopang tubuh kakaknya yang ambruk di samping mereka.
"vani!!"
semua orang juga ikut panik termasuk mama ratih.
"rangga ayo bawa vani ke rumah sakit" ucap mamanya
"iya ma"
rangga dengan sigap kembali mengangkat tubuh lemah vani masuk ke dalam mobil lalu menyusul yang lainnya juga masuk ke dalam mobil masing masing. mobil pun langsung melaju hendak menuju rumah sakit terdekat.
namun sebelum mereka sampai di rumah sakit vani sudah tersadar saat masih berada dalam perjalanan dan ia pun menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
"vani kamu yakin enggak mau ke rumah sakit?" tanya mama ratih khawatir.
"iya ma. vani baik baik aja kok cuma pusing dikit aja enggak papa kok ma" jawab vani yang sebenarnya masih merasa pusing.
"yuli ini minum tolong kasih ke vani dulu ya" ranty pun memberikan botol minum untuk vani.
"kamu minum dulu ya kak" vani pun mengangguk.
glek! glek!
"makasih ya"
"ya udah. kalo gitu kita langsung pulang aja ya"
rangga pun memutuskan tujuan mereka untuk pulang.
__ADS_1
sesampainya di rumah, mereka langsung kembali untuk beristirahat di dalam kamar masing masing. vani yang merasa tubuhnya masih lemas karena perjalanan yang cukup jauh itu pun di bantu oleh kedua adiknya berjalan masuk kedalam kamarnya.
sepertinya akibat vani yang terus menangis sejak tadi membuat tubuhnya kekurangan cairan.
"sekarang kamu istirahat dulu ya kak. ingat jangan nangis lagi kasian baby di dalam sini"
yuli mengingatkan setelah vani duduk di tepi ranjangnya.
"iya makasih ya kalian juga langsung istirahat aja" jawab vani mengangguk.
"iya udah. kalo gitu kita balik ke kamar dulu ya nanti kalo kamu butuh sesuatu telpon aja oke"
"iya" vani mengangguk.
vani merebahkan tubuhnya yang lemah di atas ranjang empuk yang kini terasa sangat menyakitkan.
malam harinya saat vani baru saja keluar dari dalam kamar mandi di dalam kamarnya itu. tiba tiba saja ia merasa perutnya sangat sakit.
"shh! aw! aduh perut aku sakit banget"
vani memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, ia takut terjadi sesuatu dengan calon bayinya.
"ssh! aw! sakit hhh! sayang, kamu bertahan ya nak jangan tinggalin mama juga dong. mama enggak sanggup kalo harus kehilangan kamu juga"
vani mengelus lembut perutnya sambil menahan rasa sakitnya itu.
vani melangkah dengan tertatih sambil berpegangan pada dinding kamar hendak mengambil ponsel di dekat ranjang untuk menghubungi seseorang agar menolongnya.
"sshh! bertahan ya sayang mama mohon"
vani pun memutuskan untuk menelpon rangga saja agar segera membawanya ke rumah sakit.
drt!! drt!
handphone rangga berdering di atas meja. rangga yang melihat panggilan itu dari adik iparnya pun langsung menjawab telpon dengan cepat.
klik! telpon pun terhubung setelah rangga menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Rangga: ya halo, ada apa vani?
Vani: shh! mas rangga, tolongin aku dong perut aku sakit banget nih. ucap vani meringis kesakitan.
Rangga: apa! perut kamu sakit? oke oke mas ke atas sekarang ya.
tut!! telponnya putus.
"ada apa mas?"
ranty yang mendengar ucapan suaminya di telpon pun mendekati dan bertanya.
"vani sakit sayang ayo kita ke kamarnya sekarang" ajak rangga.
"i iya ayo"
rangga pun langsung bergegas menuju kamar adiknya di ikuti oleh ranty yang sejak tadi ada di samping suaminya itu untuk melihat kondisi vani di dalam kamarnya.
sesampainya di dalam kamar adiknya. rangga terkejut melihat vani yang sudah jatuh pingsan di dekat tempat tidurnya.
"vani!"
rangga dan ranty menghampiri tubuh vani yang sudah tergeletak di atas lantai lalu kembali menggendongnya untuk membawa vani segera ke rumah sakit.
malam itu vani harus kembali di rawat di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah bahkan dokter sangat khawatir dengan kondisi kandungan vani yang masih baru memasuki bulan keduanya itu karena kondisi ibunya yang lemah membuat keadaan janin di dalam kandungan juga tidak stabil sejak beberapa hari terakhir.
hal itu tentu membuat semua orang khawatir dengan keadaan vani dan calon bayinya.
terutama mama ratih yang sangat tidak tega melihat kondisi menantu bungsunya itu.
"ya ampun pa, gimana keadaan vani sekarang ya"
"ma, maaf ya karena mama jagain papa terus kita jadi enggak bisa ikut nemenin vani di rumah sakit"
papa hardi merasa bersalah karena saat ini kondisi beliau juga sedang drop.
"pa, enggak papa kita doain aja ya mudah mudahan vani sama calon cucu kita bisa cepat sehat lagi kan keadaan papa juga lagi kaya gini vani pasti ngerti kok"
"iya ma" papa hardi mengangguk.
di rumah sakit ada rangga dan yuli yang menjaga vani. ray pun selalu menemani bosnya itu di mana pun berada.
__ADS_1
sedangkan ranty dan hana di rumah untuk menjaga kedua mertuanya yang keadaannya juga sedang lemah.
setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya vani sudah di bolehkan untuk kembali pulang ke rumah. mereka bersyukur karena saat ini kondisi vani dan kandungannya sudah mulai membaik.