
beberapa hari berlalu, hari ini dika sudah membawa anak dan istrinya kembali pulang ke kota. tidak lupa mereka juga mengajak hana ikut pulang bersama.
hari hari vani kembali berjalan seperti biasanya ia sudah kembali berbaikan dengan suaminya.
hari ini adalah hari libur, hana berniat untuk mengajak kekasihnya mengunjungi rumah kakaknya yang kini ia tinggali.
karena vani pernah meminta hana untuk mengenalkan kekasihnya maka hari ini hana akan mencobanya.
"assalamualaikum"
hana datang dengan menggandeng lengan seorang pria di sampingnya.
"waalaikumsalam. hana, kamu sama siapa?"
dika menatap pria yang sedang berdiri di samping adik iparnya itu.
"em ini temen hana kenalin bang" hana melirik kekasihnya.
pria itu langsung memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan di hadapan dika.
"nama saya farel bang"
farel mengangguk sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan dika yang berdiri di hadapan mereka.
dika yang masih berpikir pun tiba tiba di kaget kan dengan kedatangan vani yang menepuk pelan pundaknya dari arah belakang.
"mas, kok diam aja sih itu..." lirik vani pada tangan farel yang sudah terulur hendak menjabat tangan suaminya itu namun dika malah melamun.
"eh, iya saya dika" dika tersadar lalu menyambut uluran tangan dari farel.
"vani"
vani tersenyum saat farel juga mengulurkan tangan kepadanya untuk memperkenalkan diri.
"nah ini kakak sama abang ipar aku yang pernah aku ceritain ke kamu. aku tinggal bareng sama mereka disini karena keluarga aku yang lain ada di kampung halaman" jelas hana kepada farel tentang keluarganya.
"iya" farel mengangguk mengerti karena sebelumnya hana juga sudah mengatakannya.
"ya udah, ayo silahkan duduk farel kakak buatin minum dulu ya"
vani hendak pergi ke dapur namun dika menahan langsung tangannya.
"enggak usah sayang biar bik ina aja ya yang buatin minumnya kamu disini aja ya sama aku" dika mengajak vani untuk ikut duduk di sofa ruang tamu.
"oh iya udah mas" vani pun akhirnya duduk bersama hana dan farel di sana.
saat ini mereka berempat sudah duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu itu.
"oh jadi kamu temennya hana ya, kamu tinggal dimana? terus siapa nama orang tua kamu dan apa pekerjaan kamu sekarang?" tanya dika secara bertubi tubi kepada farel.
seperti seorang ayah yang sedang bertanya kepada calon menantunya membuat farel merasa gugup. hana menahan tawa saat melirik kakaknya yang sedang mencubit kecil pinggang suaminya itu dari belakang.
"mas"
"aw! sakit sayang" bisik dika pelan di samping istrinya.
"kamu jangan langsung nanya kaya gitu dong mas"
vani bergumam pelan sambil berusaha tetap tersenyum melihat ke arah adiknya dan farel yang ada di hadapan mereka.
"emangnya kenapa sih, kan kita harus tau asal usulnya juga sayang" bisik dika sepertinya sedang tidak mengerti isyarat yang di berikan oleh istrinya itu agar ia bertanya tentang hal ringan ringan saja kepada farel karena mereka baru saja saling mengenal.
"iya mas tapi kan..." gumaman vani terhenti saat farel mulai berbicara untuk menjawab setiap pertanyaan yang dika berikan.
"em, iya bang saya ini temen deketnya hana saya tinggal di komplek citra dekat butik tempat hana kerja. orang tua saya bukan dari kalangan orang yang terpandang di kota ini jadi kayanya walaupun saya sebutin nama mereka pasti abang juga enggak akan mengenal nama itu. pekerjaan saya sekarang cuma jadi seorang fotografer di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang periklanan" jawab farel dengan lugas sesuai dengan keadaan yang ada.
"oh ya, apa nama perusahaan tempat kamu kerja?" lanjut dika bertanya.
__ADS_1
"YN group bang namanya enggak terlalu bersinar kaya perusahaan wijaya group pastinya"
farrel hanya menjawab apa adanya karena menurutnya memang tidak ada yang perlu ia tutup tutupi dari siapapun tentang keadaan hidupnya yang sebenarnya.
sejak awal farel sebenarnya sudah merasa ragu untuk menginjakkan kakinya ke dalam rumah mewah putra bungsu dari keluarga wijaya itu namun karena keinginan hana untuk memperkenalkan pada keluarganya farel akhirnya mencoba untuk memberanikan diri agar hana tidak meragukan ke seriusan hubungan mereka lagi.
siapa yang tidak mengenal perusahaan wijaya gruop yang namanya begitu bersinar di dunia bisnis bahkan hingga internasional.
sejak awal hubungan mereka farel memang selalu mencari alasan untuk tidak datang menemui hana di rumah karena dirinya tahu hana tinggal di rumah siapa hana saat ini.
farel merasa ragu apakah pria seperti dirinya akan dapat di terima dengan baik di dalam keluarga besar yang sangat kaya raya dan terpandang di negaranya itu. sehingga farel selalu mengulur waktu untuk sekedar berkunjung ke rumah yang saat ini hana tinggali.
meskipun begitu karena cintanya pada sang pujaan hati akhirnya farel harus memberanikan diri untuk tetap maju melawan keraguan di dalam hatinya.
"oh ya? em apa kamu masih betah kerja disana karena perusahaan saya juga masih membutuhkan seorang fotografer untuk beberapa produk iklan yang akan kami rilis"
dika kembali mendapat remasan di punggung oleh istrinya.
"mas bisa enggak sih jangan bahas tentang kerjaan dulu hem!" geram vani lalu mengelus lembut punggung suaminya yang sudah terasa panas sebelumnya.
"em"
farel bingung menjawabnya karena bekerja di perusahaan besar seperti wijaya group itu memang keinginan banyak orang termasuk farel sendiri namun ia masih merasa ragu jika secepat itu harus mendapatkan pekerjaan di sana.
"oh iya farel sejak kapan kalian saling kenal?"
dika mengalihkan pembicaraannya karena menurut vani itu adalah pertanyaan yang salah padahal menurut dika tidak ada salahnya sebab ia hanya menawarkan pekerjaan yang lebih baik saja kepada farel.
"em ayo silahkan di minum dulu tehnya farel" tawar vani sambil tersenyum menatap farel.
vani hampir saja lupa menawarkan minuman dan cemilan yang sudah di hidang kan di hadapan mereka.
"iya terima kasih kak" farel merasa sungkan.
keempatnya mengangkat cangkir masing masing dan mulai meminum teh di hadapannya serta menikmati beberapa cemilan juga.
suasana di ruang tamu itu cukup menegangkan bagi farel karena kegugupan yang ia rasakan. padahal dika dan vani hanya bersikap biasa saja tidak terlalu mengintimidasi.
"kami udah cukup lama saling kenal bang sekitar dua tahun" farel menjawab pertanyaan dika sebelumnya
"oh ya? udah lama juga ya, kok baru hari ini abang liat?" dika santai sambil memakan cemilan di hadapannya.
"iya karena saya mau serius sama hana bang" farel menjawab mantap namun lagi lagi dika mematahkan senyumannya.
"oh gitu, berarti selama dua tahun ini kamu enggak serius dong makanya baru hari ini kamu datang dan bilang mau serius sama hana?" dika dengan nada bicara yang biasa saja namun sangat menohok untuk farel.
"bukan gitu bang, selama ini kami masih mencoba untuk mejalani perkenalan lebih dekat dulu biar saling kenal satu sama lain dan enggak mau terburu-buru jadi memang belum berkenalan dengan keluarga masing masing" farel masih tetap berusaha tersenyum.
"oh bagus sih tapi lama juga ya proses perkenalan kalian sampe dua tahun loh"
dika mengangguk anggukkan kepalanya membuat istrinya geleng geleng kepala mendengarnya.
'suamiku ini bener bener ya' batin vani hanya tersenyum di bibirnya.
"em dimana kalian ketemu?"
dika bertanya seperti seorang wartawan saja padahal ia bertanya sambil menatap ponselnya.
"di cafe waktu kami lagi kumpul sama temen temen yang lain bang. kebetulan temennya hana itu teman saya juga jadi akhirnya kita saling kenal lebih dekat" farel sabar menjawabnya.
"oh kebetulan banget ya?"
"ya ampun udah dong mas nanti farel jadi gugup kalo di tanyain terus. farel enggak usah terlalu di pikirin ya pertanyaannya. suami kakak emang gitu orangnya kadang suka bercanda" vani ingin mencairkan suasana
"iya kak enggak papa" farel hanya mengangguk sambil tersenyum.
"iya iya sayang, oh iya affa dimana?"
__ADS_1
dika bertanya kepada istrinya agar berhenti bertanya kepada farel.
"ada di dalam kamar lagi main sama luna kayanya mas" jawab vani.
"farel apa kamu ada rencana untuk melamar hana dalam waktu dekat?"
dika belum berhenti bertanya karena ia harus memastikan jika farel tidak akan menyakiti hana.
"iya pasti bang tapi mungkin tahun depan" farel menatap hana begitu juga sebaliknya.
"oh bagus lah" dika mengangguk anggukkan kepalanya.
"iya bang dika lagian aku juga emang belum mau buru buru nikah kok hehe" hana menanggapi.
"ooo oke, em kalian kenapa sih keliatan gugup banget kaya gitu santai aja kali"
dika kembali meminum tehnya farel pun mengikuti dika menyeruput teh yang masih hangat itu.
"iya kita biasa aja kok bang dika abang aja yang nanya kaya wartawan" gumam hana yang suaranya semakin lama semakin pelan.
meskipun ucapan hana masih terdengar oleh dika namun ia hanya tersenyum menahan tawannya saat mendengar keluhan adik iparnya itu.
"iya santai aja kalo perlu kamu sering main kesini ya farel biar lebih akrab terus kamu juga tau gimana hana kalo lagi di rumah iya kan mas?"
vani menatap dika dan mulai berniat akan menjahili hana bersama sama.
"emangnya gimana hana kalo lagi di rumah sayang, aku kan jarang ketemu hana kalo di rumah" dika sengaja memulai perannya
"ihh! kalo hari libur kan kamu di rumah maa kamu tau kan hana itu jarang mandi" vani tersenyum.
"oh iya, males mandi terus bangun juga kaya kebo
dika sangat senang dengan peran yang dilakukannya membuat keduanya tersenyum menahan tawa mereka.
tentu hal itu membuat hana merasa malu di hadapan kekasihnya.
"ih udah dong kak vani enggak usah fitnah gitu lagian yang jarang mandi itu kan kakak terus yang kalo tidur kaya kebo tuh bang dika?"
hana yang mulai kesal pada sepasang suami istri di hadapannya itu pun tak tinggal diam.
"haha, oh iya masa sih sayang kita enggak gitu kan?" dika menatap istrinya.
"iya kita enggak gitu kok mas" vani tersenyum.
"terserah" hana hanya memutar bola matanya jengah melihat kerandoman pasutri di depannya itu.
"udah dong mas liat hana ngambek tuh" vani meminta suaminya untuk berhenti bercanda.
"iya maaf ya hana" dika masih dengan senyum jahilnya.
"farel, kamu juga pasti udah ngertikan sikap kekanakan hana ini. kakak harap kamu bisa terus bimbing dia biar lebih dewasa lagi" ucap vani kepada farel.
"iya kak. pasti kita akan mencoba untuk saling memahami satu sama lain" jawab farel tersenyum.
"bagus kalo gitu kamu udah cukup dewasa ternyata" dika menyahuti.
"jangan mulai lagi deh bang" hana mulai jengah.
"apasih hana sensi banget hari ini" lirik dika.
akhirnya mereka larut dalam obrolan sambil bercanda bersama dan saling mengenal lebih banyak.
menjelang sore hari farel pun memutuskan untuk pulang karena ia sudah cukup lama berada di rumah mewah itu.
"bang, saya pamit pulang ya"
"oh kamu mau pulang, oke deh hati hati ya farel"
__ADS_1
"iya bang. assalamualaikum"
"walaikumsalam" dika dan vani pun tersenyum saat farel berpamitan dengan sopan.