
dika berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian tidak lama rangga juga ikut masuk menyusulnya.
ceklek! pintu ruangan dika terbuka.
"dika, apa apaan ini! selama ini lo bilang kalo itu cuma jebakan dan lo ada disana karena lo pingsan tapi kenapa sekarang arin bisa hamil?"
rangga tidak habis pikir dengan ucapan adiknya yang tidak sinkron dengan kenyataannya saat ini.
"iya mana gue tau bang"
"pantesan aja ya selama ini gue sama ray enggak bisa nemuin bukti apa pun yang menunjukkan kalo elo itu enggak bersalah"
"maksud lo apa? lo nuduh gue emang ngelakuin itu sama arin"
"iya mungkin aja karena elo emang udah mabuk berat dan enggak sadar sama apa yang udah lo lakuin"
"enggak bang. kalo emang gue enggak sadar gimana caranya gue bisa ngajak arin masuk ke dalam kamar hotel itu, lagian lo berdua juga enggak bisa nemuin cctv kalo gue masuk dari lobby hotel itu kan"
"terus gimana mungkin arin bisa hamil kalo elo enggak ada apa apain dia?"
"iya, mana gue tau mungkin aja dia ngelakuinnya sama orang lain"
"tapi dia kan enggak punya pacar?"
"lo tau dari mana dia enggak punya pacar, lagian kalo cuma buat ngelakuin hal kaya gitu doang elo enggak harus punya pacar dulu kan bang"
"iya emang benar dika, elo enggak harus punya pacar dulu buat bisa ngelakuin itu. buktinya arin bisa ngelakuin itu sama suami orang"
rangga menyindir dika lalu bergegas keluar dari dalam ruangan adiknya.
"ck! arrgghh"
teriak dika frustasi sambil melempar barang barang yang berada di atas mejanya karena bahkan sekarang abangnya sendiri tidak mempercayai dirinya lagi.
di dalam kamar vani menghapus air matanya, ia berusaha untuk kuat menghadapi masalah yang sedang di jalaninya saat ini.
"aku harus kuat demi anakku, aku enggak mau sampe terjadi sesuatu lagi sama dia"
vani menghapus air matanya lalu mengatur nafas agar lebih tenang lagi.
sejak itu hubungan di antara vani dan dika semakin hari semakin menjauh.
vani masih berusaha tetap menjadi istri yang baik untuk suaminya meskipun hanya sampai anak mereka lahir nanti namun arin kerap sekali menjadikan anak yang ada di dalam kandungannya menjadi sebuah alasan agar dika dekat dan perhatian kepadanya hal itu membuat vani merasa cemburu.
suatu malam di dalam ruang keluarga vani sedang duduk sambil menonton drama di televisi.
dika datang langsung memeluk vani sambil mengusap perut buncit istrinya itu.
"sayang lagi ngapain nih"
dika bersikap manja pada istrinya yang hanya fokus menatap kearah tv di depan.
melihat vani yang hanya bersikap cuek kepada suaminya arin pun mendekat dan duduk di samping mereka.
"mas dika kayanya anak kita juga pengen di sayang sama papanya nih"
arin memegang tangan dika agar mengusap perutnya juga.
dika hanya diam sambil menatap arin lalu mengalihkan pandangan ke arah perutnya yang masih terlihat rata itu.
tangan dika bergerak perlahan karena arin menariknya agar dika menyentuh perutnya juga.
dengan terpaksa dika melakukannya karena mama ratih selalu mengatakan jika dirinya harus bisa adil pada kedua anaknya.
vani yang melihat dika tidak menolak untuk menyentuh perut arin pun hanya diam menatap suaminya itu.
"em, liat sayang papa juga sayang sama kamu kan?"
arin tersenyum memegangi tangan dika yang sedang berada di perutnya itu sedangkan dika hanya diam saja.
dika langsung menarik tangannya dari perut arin saat menyadari tatapan istrinya yang sedang berada di samping mereka.
vani mengalihkan pandangannya yang sudah berkaca kaca itu lalu beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
"sayang"
dika mengikuti langkah istrinya dan meninggalkan arin begitu saja.
arin tersenyum senang melihat vani cemburu kepadanya.
"sayang dengerin aku dulu" dika menahan langkah istrinya.
"apa lagi sih mas"
vani tidak mau menatap wajah suaminya.
"aku cuma....."
"aku tau kok mas. aku paham tapi aku cuma minta satu hal sama kamu, tolong jangan lakuin itu di hadapan ku"
"maafin aku ya sayang"
vani pergi tidak mau lagi mendengarnya karena sudah merasa bosan dengan permintaan maaf dari suaminya itu.
suatu hari saat sedang duduk santai di ruang keluarga mama ratih mencoba untuk berbicara dengan dika terkait kehamilan arin.
"dika mama mau bicara sama kamu tentang arin" mama ratih menatap putra bungsunya.
"mama mau ngomong apa tentang arin?" tanya dika dengan malas.
"kapan kamu mau nikahin arin?"
ucapan mama ratih membuat dika membelalakkan matanya.
"apa!! maksud mama aku harus nikahin arin juga?"
dika tak percaya mendengar pertanyaan dari mamanya itu.
"iya dika, cepat atau lambat pasti semua orang bakal tau tentang kehamilan arin. kalo kamu enggak nikahin arin itu akan jadi aib buat keluarga kita kan"
"tapi ma, dika kan udah nikah sama vani, dika juga sayang banget sama istri dika ma" dika menunduk dengan suara lemas.
mama ratih juga bingung harus mengatakan apa karena sebenarnya mama ratih sangat menyayangi vani namun ia juga tidak mungkin membiarkan cucunya yang lain harus terlahir tanpa status yang jelas meskipun itu akan sangat menyakiti hati menantu bungsunya itu.
"jadi mama juga mau aku nikahin arin?"
"iya sayang, apa kata orang nanti kalo mereka dengar kabar bahwa seorang radika wijaya enggak mau mengakui kesalahannya dan enggak mau bertanggung jawab atas perbuatannya"
"ya udah ma kalo itu emang yang terbaik buat semuanya"
dika menunduk sedih menerima keputusan itu dengan sangat berat hati karena jika dirinya menikahi arin maka mau tidak mau dika juga harus siap untuk kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
"kamu kenapa dika kok keliatan sedih banget, kamu cuma harus bersikap adil sama dua istri dan anak kamu aja kan"
"enggak semudah itu ma karena kalo dika nikahin arin berarti dika juga harus siap buat lepasin vani"
rasanya dika ingin mengadu pada mamanya jika keputusan ini sangat berat untuknya namun apa boleh buat mengadu pun tidak ada artinya karena justru sekarang mamanya sendiri yang meminta dika untuk segera menikah dengan arin.
"maksud kamu?"
"iya ma, vani minta aku buat ceraiin dia setelah anak kami lahir nanti" dika tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"apa!! cerai?"
mama ratih merasa syok membuat tubuhnya lemas.
"mama!!!"
dika memegang kedua pundak mamanya dari samping, papa hardi juga langsung mendekat saat melihat istrinya yang hampir pingsan.
"mama baik baik aja kan?"
papa hardi mengambil alih pegangan dari tangan putranya untuk memeluk istrinya.
"pa vani pa, vani mau ninggalin dika"
"mama yang tenang ya, kita memang enggak bisa larang vani kalo dia mau pergi karena gimana pun juga ini semua adalah kesalahan putra kita. vani juga berhak bahagia dan milih jalan hidupnya sendiri ma"
__ADS_1
dika semakin tertunduk sedih saat mendengar ucapan papanya itu namun memang benar apa yang papanya katakan, vani tidak akan pernah bisa bahagia jika harus tetap bertahan bersama dengan dirinya karena bagaimana pun vani akan memendam rasa sakit setiap hari saat melihat suaminya bersama dengan istri yang lain.
"maafin dika ma"
dika berjalan perlahan meninggalkan kedua orang tuanya di sana sambil masih menunduk murung.
padahal dulu dika pernah berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan wanita yang sangat dicintainya itu namun nyatanya kini justru dirinya lah yang sudah menyakiti hati vani dan membuat istrinya menangis.
"tapi pa, gimana cucu kita?"
mama ratih tidak mau jauh dari cucu keduanya yang sudah sangat ia nantikan kelahirannya itu.
"ma sampe kapan pun vani akan tetap jadi putri kita dan anaknya juga akan tetap jadi cucu kita mama tenang ya"
memang terkesan egois jika mama ratih ingin vani tetap menjadi menantunya namun mereka sangat menyayangi vani dan calon cucunya juga.
sore harinya dika masuk ke dalam kamar dan melihat vani yang sedang terlelap dalam tidurnya.
dika melangkah mendekati sisi ranjang dengan perlahan duduk di tepi ranjangnya.
"sayang maafin aku ya, aku enggak bisa nepatin janji aku buat selalu jagain kamu. aku udah gagal jadi suami yang baik buat kamu. aku juga bukan papa yang baik buat anak kita" dika kembali meneteskan air matanya.
ternyata vani tidak benar benar sedang tidur ia mendengar semua ucapan suaminya meskipun suara dika terdengar pelan, secara perlahan vani membuka mata lalu menatap dika dengan tatapan sendu.
mata vani terlihat bengkak kerena habis menangis, ia pun duduk lalu menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur menghadap kearah suaminya.
"mas, kamu jangan ngomong kaya gitu. aku baik baik aja kok disini"
"aku yang enggak bisa baik baik aja sekarang sayang, gimana aku bisa jalanin hidup tanpa ada kamu disini"
"mas kamu pasti bisa, sebelum kita ketemu dulu kamu selalu jalanin hidup kamu dengan hebat tanpa ada aku disini"
vani memegang kedua sisi wajah dika dan menghapus air mata di pipi suaminya.
"tapi itu dulu sebelum kita ketemu, sekarang beda sayang aku enggak bisa"
dika menatap mata istrinya sambil menggelengkan kepala.
"enggak ada bedanya mas, kamu cuma perlu lupain aku dan buka hati kamu buat arin. kalian juga sebentar lagi punya baby mungkin kamu bakal lupa sama anak kita kalo nanti kamu udah sibuk main sama anak kalian"
vani kembali terisak tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya tanpa ada dika disisinya.
"itu enggak mungkin sayang, aku pasti akan selalu mencintai kamu sama anak kita juga"
"iya mas aku percaya"
"sayang kenapa aku harus lepasin kamu buat bahagiain dia, aku bakal nikahin arin tapi cuma buat status aja sampe anak itu lahir setelah itu kami akan pisah. kamu mau kan kembali sama aku lagi?"
dika mengucapkan ide gila yang baru saja dipikirkannya.
"tapi mas pernikahan bukan sebuah permainan, kamu enggak bisa seenaknya nikahin terus cerein arin gitu aja"
"tapi aku cinta banget sama kamu vani, aku cuma mau jalanin sisa hidupku bareng sama kamu aja"
dika terus membujuk istrinya agar tidak pergi meninggalkan dirinya.
"aku juga cinta sama kamu mas dika, malah lebih dari rasa cinta kamu ke aku selama ini. kamu enggak tau seberapa besar aku mengagumi kamu dari dulu kan tapi takdir kita berkata lain mas"
"kalo gitu boleh kan kita tetap bersama buat hadapin semua masalah yang datang. aku enggak mau kita pisah sayang"
"aku pasti bakal selalu ada di samping kamu buat hadapin masalah yang datang tapi semua wanita di dunia ini enggak bakal sanggup kalo harus liat suaminya ada di dalam pelukan wanita lain mas"
"aku bakal berusaha buat cari jalan keluarnya sayang tapi kamu jangan pergi ya tetap di sini sama aku"
"kehidupan poligami itu terlalu sulit mas dika. mungkin kamu bisa berlaku adil sama kami berdua tapi aku enggak yakin kalo aku enggak bakal egois dan mau milikin kamu seutuhnya"
dika terdiam ia tidak ingin berdebat dengan istrinya terus menerus membahas perpisahan.
"udah ya cukup sayang aku enggak mau bahas perpisahan lagi sama kamu. sampe kapan pun kamu cuma milik aku"
dika beranjak lalu berjalan keluar dari dalam kamar mereka meninggalkan vani.
vani hanya memejamkan mata mendengar ucapan dika yang tidak akan membiarkan dirinya pergi. apakah vani akan sanggup untuk berbagi suami dengan arin atau tidak.
__ADS_1