
setelah anak anak masuk ke dalam kamar bersama hana dan luna yang akan menjaga mereka di sana.
vani dan dika mendekat kepada pasangan suami istri yang sedang bertengkar itu.
"yuli, kamu kenapa?"
vani mendekat lalu yuli langsung memeluk tubuh kakaknya sambil menangis.
"hiks! hiks! dia jahat kak"
yuli mengadu sambil menunjuk kearah suaminya membuat vani menatap ray dengan bingung.
dika dan ray saling bertatapan karena dika sudah mengerti akan masalahnya.
sebenarnya tadi dika sengaja mengurungkan niatnya untuk menelpon ray agar semua sandiwara yang telah ray buat itu selesai. dika tidak tega melihat adik iparnya itu selalu berada dalam kebohongan yang telah ray ciptakan.
ya meskipun berawal karena ketidaksengajaan namun semakin lama ray terlihat semakin menikmati perannya.
"jahat gimana maksud kamu, coba jelasin ke aku jangan nangis ya" vani menatap adiknya.
"ternyata selama ini mas ray udah selingkuhin aku kak, dia udah selingkuh sama naya. hiks! hiks!" yuli mengadu.
"apa! mas ray selingkuh sama naya" vani memperjelas ucapan adiknya dengan ekspresi kaget.
"iya malah mereka udah mau punya anak kak" tangis yulu semakin pilu.
"hah! kamu serius?" vani tak percaya mendengar hal itu dari pria yang selama ini ia anggap baik.
"sayang itu enggak bener semuanya terjadi karena kecelakaan. dika lo tau kan gue enggak ngelakuin itu dengan sengaja" ray menatap dika.
"hem, gue?" kaget dika karena ray sengaja membawa namanya.
"iya lo tolong bantuin gue buat jelasin ya" ray memelas.
'brengsek lo ray' batin dika melotot ke arah ray namun ray tetap meminta bantuan kepada dirinya.
"apa! jadi kamu udah tau tentang semua ini sebelumnya mas?" vani melotot tidak percaya kepada suaminya.
"em, iya sayang tapi aku cuma...."
"dasar semua cowok sama aja" ucap vani kesal.
"tapi aku bisa jelasin sayang" dika hendak membela diri namun vani langsung berbalik badan.
"ayo yul kita ke kamar aja"
vani mengajak yuli pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan dari suaminya lebih dulu. mereka berjalan masuk ke dalam kamar tamu meninggalkan dua pria itu agar yuli dapat menenangkan dirinya.
"sayang"
dika memanggil istrinya dengan memelas namun tidak di gubris oleh vani yang terus berjalan.
setelah istrinya pergi dika pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah ray dengan menatap tajam.
"brengsek lo ray, lo sengaja ya mau buat rumah tangga gue juga berantakan! lo liat kan sekarang istri gue ikutan kesel ke gue karena ulah lo. kan gue udah bilang sama lo jangan bawa bawa gue terlibat dalam masalah lo itu" kesal dika yang hampir meninju wajah ray.
"udah terlanjur dika, jadi please lo bantuin gue ya buat bujuk yuli" ray dengan tatapan memohon.
"malas gue" dika menolak mentah mentah permintaan ray lalu duduk diam di sana tidak mau menatap ke arah ray
setelah beberapa lama berdiam diri masing masing untuk menetralkan perasaan sedih bercampur emosinya ray kembali mendekati dika di hadapannya.
"dika please, bantuin gue ya buat bujuk yuli kalo masalah gue ini udah kelar otomatis lo sama vani juga pasti baikan" bujuk ray agar dika tidak marah padanya lagi
"iya lo selesain sendirilah ray kan cuma elo yang ngerti gimana cara bujuk istri lo sendiri"
__ADS_1
"iya tapi lo bantuin gue juga ya biar yuli enggak pergi apalagi sampe pulang ke kampung"
"iya lo biarin aja lah dulu kalo emang dia mau pergi atau pulang ke kampung. mungkin dia harus nenangin diri dulu di sana"
"tapi gimana kalo semua keluarga di kampung sampe tau tentang kesalahan gue ini. mereka pasti marah dan benci banget sama gue dika dan gue juga enggak bakal punya kesempatan lagi buat minta maaf ke istri gue kan"
"ck! arghh!" ray terduduk lemas menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di samping sahabatnya itu.
dika yang melihat ray sedang frustasi pun tidak tega.
"udah lo tenang aja ray jodoh itu gak kemana, kalo lo sama yuli masih berjodoh pasti suatu hari nanti dia bakal balik lagi ke dalam pelukan lo" dika menyemangati sahabatnya.
"kalo enggak?" tanya ray ambigu.
"iya kalo enggak berarti kalian enggak jodoh dan lo harus lepasin yuli biar dia bisa nemuin kebahagiaannya sendiri tanpa ada cowok kaya elo di hidupnya, gimana sih"
dika kembali membuat ray semakin kesal dengan jawaban simple darinya itu
"enggak bisa gitu dong dik, gue enggak mau kehilangan istri sama anak gue. lo tau kan gue sayang banget sama mereka pokoknya lo harus bantuin gue buat bisa dapetin maaf dari yuli lagi ya"
"heh!!! gue aja belum tau gimana caranya buat dapetin maaf dari istri gue yang lagi ngambek karena masalah lo ini. terus sekarang lo minta gue buat bantuin elo gitu?"
"dika please" bujuk ray dengan wajah penuh harap.
"iya iya entar gue bantuin deh tapi lo harus sabar sekalian lo harus pikirin juga lah gimana caranya minta maaf sama istri lo sendiri. gimana pun juga pasti elo lebih ngerti dan paham dengan isi hati yuli kan" dika memberi saran.
"oke dik makasih ya" ray mengangguk setuju.
"ya udah mending sekarang lo pulang aja dulu sana, gue mau bujuk vani biar dia enggak ngambek lagi sama gue" usir dika.
"oke thanks ya dika gue titip mereka dulu disini. gue pulang ya bye!"
"walaikumsalam"
ray pun akhirnya pulang ke rumahnya dengan kesedihan, ia bingung harus melakukan apa saat ini.
"sshh! akh!!! hhh sakit" naya meringis sambil memegangi perutnya.
"kak naya?"
dila yang sebelumnya sudah mendengar keributan di depan pintu rumah pun melihat kakaknya sudah terduduk di lantai kesakitan sambil bersandar di dinding.
"nyonya? nyonya kenapa?" mini pun khawatir.
"shh! sakit mini" keluh naya.
"kita ke rumah sakit ya kak"
dila dan bagas juga sangat khawatir kepada naya.
"saya telpon bapak ya bu" ucap mini dalam paniknya.
"jangan mini!!"
naya menghentikan mini yang hendak menelpon ray dan memberi kabar tentang keadaan naya.
"kenapa nyonya?" mini merasa bingung.
"jangan, enggak usah. saya enggak papa kok"
naya sudah merasa lemas dengan wajah pucat.
"tapi keadaan nyonya?"
"udah enggak usah mbak mini, mending kita bawa kak naya ke rumah sakit aja ya pake supir" saran dila.
__ADS_1
"bagas, ayo bantu kak naya masuk ke dalam mobil biar kita bawa ke rumah sakit sekarang" ucap dila.
"iya kak ayo" bagas mengangguk.
mereka pun segera membawa naya ke rumah sakit tanpa memberi kabar kepada ray.
di dalam kamar yuli hanya menangis sambil memeluk kakaknya, vani pun berusaha untuk menenangkan adiknya yang sedang sedih itu.
"hiks! hiks! hiks!" tangis yuli.
"yuli kamu yang sabar ya"
"kenapa dia tega banget kak hiks!"
"kakak juga enggak nyangka mas ray tega ngelakuin itu"
"dia jahat kak, kalo dia emang enggak pernah cinta sama aku kenapa harus kasih harapan terus sih"
"mungkin niatnya enggak kaya gitu yul"
"dari awal dia emang cinta sama cewek itu kan kak, aku bodoh banget karena ngira dia bakal jatuh cinta sama aku setelah kami nikah dan punya anak" hiks!
"kakak ngerti ini berat banget buat kamu, dulu kakak juga ngerasain hal yang sama waktu mas dika sama arin"
"tapi bang dika cuma di fitnah kak kalo aku emang beneran dia sendiri yang udah ngaku"
"iya sih tapi kakak harap kamu bisa kuat ya yul. kamu jangan nangis terus dong"
"aku baik baik aja kok kak"
"sekarang kamu istirahat aja dulu ya biar kamu bisa lebih tenang. apapun keputusan kamu kakak bakal dukung kok tapi kamu harus pertimbangin dengan baik dan jangan ambil keputusan di saat marah"
"em iya kak, makasih ya" yuli mengangguk
"ya udah kakak keluar sebentar ya"
vani pun keluar dari dalam kamar itu dan membiarkan adiknya menenangkan diri sendiri lebih dulu. mungkin yuli butuh waktu untuk sendirian pikirnya.
vani berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu ia duduk di tepi ranjang sambil masih berpikir.
tidak lama dika juga masuk ke dalam kamar dan duduk di samping istrinya yang sedang melamun memikirkan sesuatu itu.
"sayang maafin aku ya, aku enggak pernah bermaksud buat nyembunyiin ini semua dari kamu. aku cuma enggak tega aja sama ray karena dia kelihatan tertekan banget..." dika berusaha untuk kembali membujuk istrinya.
"mas, coba kamu ceritain semua yang kamu tau tentang masalah ini ke aku. aku masih enggak habis pikir sama perbuatan mas ray ini loh" vani menatap suaminya.
"jadi gini ceritanya yang aku tau sayang"
dika akhirnya menceritakan semua tentang permasalahan yang ia ketahui dari awal permasalahan itu kepada istrinya.
"jadi mas ray udah nikah sama naya?"
tanpa sadar vani meneteskan air matannya dalam diam saat mendengar cerita dika lalu menyandarkan kepalanya di bagian dada suaminya itu.
"itu yang aku tau sayang, kamu jangan nangis ya. aku bakal kasih ray pelajaran karena dia udah buat kamu nangis hari ini" dika langsung memeluk istrinya.
"aku baik baik aja kok mas kamu enggak perlu ngelakuin apapun ke mas ray karena mungkin sekarang dia udah dapat pelajarannya sendiri, aku cuma kepikiran sama yuli aja" vani menunduk sedih.
"aku serba salah sayang, di satu sisi sahabat aku sendiri dan di sisi lain adek ipar aku. maafin aku ya aku terpaksa diam walaupun aku tau ray salah"
dika yang merasa bersalah pun berlutut di hadapan istrinya.
"kamu jangan kaya gini dong ayo bangun mas aku enggak marah kok aku cuma kecewa aja sama kamu" ucap vani.
"itu sama aja sayang, pokoknya aku enggak bakal bangun sebelum kamu maafin aku" dika tetap berlutut.
__ADS_1
"ya udah kamu di situ aja sampe besok"
vani pun berbaring di atas ranjang tanpa memperdulikan drama suaminya yang hendak meminta maaf itu.