Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 241


__ADS_3

di luar ruangan ternyata yuli dan vani memutuskan untuk datang ke rumah sakit hendak melihat keadaan naya.


keduanya mematung di ambang pintu ruangan ketika melihat ray sedang menangis sambil memeluk putrinya yang sudah tidak bernyawa lagi.


"apa yang terjadi?" yuli menatap vani di sampingnya.


"aku juga enggak tau yul tapi kayanya mas ray lagi sedih banget deh"


"ayo kita masuk"


vani dan yuli melangkah masuk ke dalam ruangan naya mendekati suami mereka masing masing di dalam sana.


"mas ray" yuli mengusap lembut pundak suaminya.


ray yang sedang menangis pun langsung terdiam menatap ke arah samping dan melihat istrinya sudah berada disana.


"sayang, maafin aku ya aku,,," ray menatap istrinya.


yuli menatap lekat wajah cantik bayi mungil yang berada di dalam pelukan suaminya. ia meneteskan air mata karena merasa sedih atas kepergian bayi yang tidak berdosa itu namun ia juga kembali ingat dengan pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh suaminya karena dengan melihat bayi itu sama saja dengan melihat pengkhianatan ada di depan matanya sendiri, hasil dari perbuatan suaminya.


"hhh!"


sambil menghembuskan nafas beratnya yuli memalingkan wajah dari menatap wajah si bayi. ia tidak sanggup untuk melihatnya di tambah dengan kondisi naya yang sedang kritis di atas bankar.


karena merasa sesak berada di dalam ruangan itu yuli pun langsung berlari keluar hendak menumpahkan rasa sesak di dalam dadanya dengan air mata.


rasanya tidak sanggup melihat kesedihan di mata suaminya terlihat jelas kesedihan seorang ayah yang kehilangan bayinya.


di luar ruangan itu yuli hanya duduk di kursi tunggu sambil terus menangis.


vani pun ikut keluar mengejar adiknya yang sedang sedih sedangkan dika tetap berada di samping sahabatnya.


sebenarnya dika juga merasa bingung harus berada di posisi yang mana karena di satu sisi adalah istri dan adik iparnya namun di sisi lain adalah sahabat sekaligus saudaranya.


keduanya sama sama penting bagi dika akhirnya karena merasa kasihan melihat ray yang tidak ada seorang pun disampingnya maka dika pun memutuskan untuk tetap berada di sisi ray dan menemani sahabatnya itu dalam menghadapi masalahnya begitu pikirnya.


"yuli?" vani mendekati adiknya yang menangis.


"hiks! hiks! hiks"


"aku enggak kuat kak, aku enggak kuat" yuli yang sudah berada di dalam pelukan vani.


"kamu yang sabar ya"


vani mengusap lembut punggung adiknya untuk memberi dukungan.


"cewek itu sekarang kritis kak dan anaknya juga meninggal karena dia nolongin anak aku dari kecelakaan. sebenarnya tuhan mau apa sih dari aku gimana aku mau benci sama dia karena kebaikannya anak ku masih hidup sekarang. tapi di sisi lain tetap aja dia cewek yang udah ngerusak kebahagiaan rumah tangga ku. terus aku harus gimana kak?" hiks! hiks! hiks!


yuli bingung dengan keadaannya, ingin membenci naya karena sudah merusak kebahagiaan rumah tangganya namun benar adanya jika naya juga yang sudah berkorban dan rela kehilangan bayinya demi untuk menyelamatkan anaknya dari kecelakaan itu.


vani pun menangis melihat adiknya sedang menangis ia tidak bisa berbuat apa apa selain hanya berusaha untuk menguatkan yuli saja.


vani juga bingung karena tidak mungkin dirinya bisa marah kepada seseorang yang keadaannya sedang sekarat demi untuk menolong keponakannya sendiri terlebih lagi wanita itu juga sudah kehilangan bayinya karena kecelakaan itu.


hati seorang ibu mana yang tidak akan hancur kehilangan bayinya yang selama ini sudah dinantikan kelahirannya itu.


setelah lelah menangisi kepergian putri kecilnya yang baru saja lahir, ray pun menghapus air matanya dan mencoba untuk terlihat baik baik saja karena bagaimanapun juga saat ini ada dua hati wanita yang jauh lebih hancur karena keegoisan dirinya.


"dika tolong bantu gue nyiapin acara pemakaman terakhir buat bayi kedua gue ini ya" ray menatap dika.


"lo tenang aja ray gue bakal urus semuanya" dika mengusap pundak sahabatnya.


"tapi tolong lakuin dengan tertutup jangan sampe ada wartawan atau apapun yang meliput ya"

__ADS_1


ray yang masih saja memikirkan tentang nama baik keluarga wijaya.


"pasti! semua bakal aman ray" dika mengangguk.


"makasih ya dik" ray kembali menunduk sedih.


hari itu juga ray harus memakamkan putri kecilnya bahkan sebelum naya tersadar dari komanya.


"maafin saya naya tapi putri kita harus di makamkan hari ini juga. saya harap kamu bisa mengikhlaskannya ya" bisik ray di dekat telinga naya sebelum ia pergi.


dila dan bagas pun hanya bisa menangis menatap kakak mereka yang masih terbaring lemah tidak sadarkan diri sedangkan hari ini juga bayi naya harus dimakamkan.


"kak naya, kakak harus sabar ya aku bakalan ikut ke pemakaman keponakan kami hari ini jadi kak dila yang bakal nemenin kakak di sini"


bagas juga pamit sebelum ikut pergi bersama ray dan dika.


"dila tolong kamu jagain naya dulu ya kami harus pergi sebentar" ray menatap dila.


"em" dila hanya mengangguk tanpa mau menatap ray.


sebenarnya ia masih kesal dengan apa yang sudah terjadi kepada kakaknya karena dila merasa kasihan melihat dua wanita yang sudah menderita akibat perbuatan ray itu.


sebelum mereka pulang membawa bayi ray dan naya untuk di makamkan, dika terlebih dahulu menghampiri istrinya di luar ruangan itu.


dika mendekat karena melihat vani masih terus memeluk adiknya yang sedang menangis itu.


"sayang" panggil dika setelah berada di samping istrinya.


"mas dika"


vani menoleh menatap suaminya dengan wajah yang juga terlihat sedikit pucat itu.


"sayang, kalian pulang aja duluan ya. kasian anak anak di rumah pasti lagi nungguin mamanya pulang. raja pasti udah haus di rumah dan kamu juga harus istirahat"


"iya mas" vani mengangguk.


vani bangkit dari duduknya bersama dengan yuli yang di juga ikut berdiri.


"sshh! aakkhh!"


vani meringis memegangi kepalanya yang sakit.


"sayang kamu kenapa?"


dika merasa khawatir sambil menopang tubuh istrinya yang hampir terjatuh itu.


"kak kamu baik baik aja kan?" yuli juga khawatir dengan keadaan kakaknya.


"shh! kepala aku pusing banget mas" vani masih terus meringis menahannya.


"kita periksa dulu ya sayang kalo gitu" dika hendak mengajak vani menuju ruang pemeriksaan.


"enggak usah mas, aku enggak papa kok cuma butuh istirahat aja kayanya. aku pulang aja mas" vani menahan tangan dika.


"iya di periksa sebentar baru kita pulang ya" dika tetap membawa vani untuk memeriksakan keadaannya.


setelah dokter menjelaskan jika vani hanya kurang istirahat dika pun langsung membawa istrinya itu pulang agar vani bisa segera beristirahat.


"yuli ayo kita pulang, kamu jangan terlalu mikirin tentang ray dulu ya. kamu harus istirahat yang banyak jadi pikirin tentang kesehatan kamu dan anak kamu aja. liat kakak kamu juga enggak bisa tidur karena mikirin kamu. abang enggak mau kalian sampe sakit cuma karena mikirin cowok kaya ray. udah lah ayo pulang"


dika mengajak istri dan adik iparnya pulang.


"iya bang makasih ya" yuli pasrah dan ikut pulang.

__ADS_1


dika memutuskan pulang lebih dulu sambil mengantar kedua wanita itu pulang ke rumah dan akan kembali menemui ray lagi setelah memastikan vani beristirahat.


di dalam mobil vani hanya memejamkan matanya karena merasa pusingnya semakin bertambah.


sesampainya di rumah dika langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar karena melihat vani yang sudah jalan sempoyongan.


sedangkan yuli juga langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"kamu istirahat ya jangan mikirin apapun dulu tentang yuli aku yakin semuanya pasti baik baik aja sayang"


dika duduk di tepi ranjang setelah merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"iya mas, maaf ya aku udah buat kamu khawatir" vani mengelus pipi suaminya.


"aku enggak mau kamu sakit, kasian anak kita juga kan sayang"


dika mengecup tangan istrinya yang sedang mengelus pipinya itu.


"iya mas aku bakal lebih jaga kesehatan aku kok" vani mencoba untuk tersenyum.


"ya udah kamu istirahat sekarang soalnya aku mau balik lagi ke ray sayang, enggak papa kan kamu aku tinggal sebentar?" dika menatap istrinya.


"iya enggak papa kok mas lagian kasian juga mas ray sendirian disana. kedua adek naya juga kayanya masih kesal gitu ngeliat dia mas"


"iya sayang, ya udah masalah ray biar nanti aku yang coba buat jelasin ke dia ya kamu jangan pikirin terus apalagi sampe sakit kaya gini"


"iya makasih ya suamiku"


"nih kamu makan dulu ya sayang terus di minum obat sama vitaminnya baru tidur oke. aku enggak bisa nemenin kamu ya soalnya sebentar lagi udah mau gelap kita harus selesein dulu makam bayi ray hari ini juga"


"iya mas kamu pergi aja aku bakalan makan kok"


"papa, mama"


raffa masuk ke dalam kamar papa dan mamanya.


"sayang, afa jagain mama dulu ya papa harus pergi sebentar. emuach" kecup dika pada kening putranya sebelum ia melangkah keluar dari dalam kamar.


"hati hati ya pa" raffa menatap kepergian papanya.


"iya sayang"


dika berjalan keluar lalu menutup pintu kamarnya.


sebelum matahari terbenam bayi ray sudah selesai di makamkan dengan hanya dihadiri oleh beberapa orang yang penting saja.


keluarga wijaya yang lainnya pun tidak mengetahui tentang hal itu karena mereka menutup rapat pemakaman.


semua orang yang hadir sudah kembali pulang, tinggallah ray dan dika serta bagas yang masih berada disana.


'maafin ayah ya sayang. sekarang kamu udah enggak ngerasain sakit lagi kan karena keegoisan dari ayah kamu ini ayah janji akan selalu jagain mama kamu. makasih ya karena kehadiran kamu sangat berarti buat ayah walaupun cuma sebentar kamu udah nyadarin ayah dari rasa egois yang selama ini ayah lakuin. bahagia disana ya sayang ayah mencintai kamu'


ray mengecup nisan bayinya lalu mereka pun kembali pulang ke rumah. matahari sudah terbenam hari pun sudah gelap gulita.


dika mengajak ray kembali pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum kembali ke rumah sakit.


begitu juga dengan bagas yang mereka antar pulang ke rumah naya untuk bersih bersih dan mengambil barang barang yang mungkin akan di perlukan saat berada di rumah sakit.


sesampainya di rumah dika langsung masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya yang masih tertidur pulas lalu ia segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, dika mendekat ke arah box bayi dan melihat putranya yang juga sudah tidur. dika pun ikut merebahkan diri di samping istrinya karena merasa tubuhnya lelah.


matanya hendak terpejam namun dika kembali teringat dengan putra sulungnya yang belum ia lihat malam ini. tidak sanggup lagi menahan rasa kantuknya akhirnya dika pun tertidur sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.

__ADS_1


__ADS_2