
malam hari di dalam kamarnya terlihat vani sedang asik menonton drama kesukaannya di temani oleh suaminya.
keduanya duduk berdampingan di atas sofa sambil menikmati cemilan sekaligus menonton drama yang membosankan itu karena dika hanya ingin menuruti keinginan istrinya bukan ingin menonton drama.
"mas" panggil vani dengan mata yang masih fokus menatap ke depan.
"iya sayang?" dika juga masih sibuk menatap ponselnya.
"hana beruntung banget ya bisa di cintai dua cowok yang tulus, aku harap hana bisa dapetin cowok yang terbaik buat dia" vani berbicara sambil menatap lurus ke depan tanpa menoleh.
"iya amin" dika mengangguk namun beberapa detik kemudian ia kembali mencerna ucapan istrinya itu.
"tapi kok kamu bilang cuma hana yang beruntung sih sayang emangnya kamu ngerasa enggak beruntung gitu dapatnya aku?"
dika menoleh menatap istrinya yang sedang terdiam saat mendengarkannya.
"bukan gitu sayang, aku beruntung banget punya kamu" vani tersenyum lalu memeluk lengan suaminya dengan manja.
"hhhh!! percaya banget!" dika dengan nada tak percaya.
"ih serius tau kamu itu lelaki terbaik ku sayang" emuachh!! vani mengecup pipi suaminya agar tidak ngambek.
"hem oh iya sayang, kemungkinan bulan depan mama sama papa bakalan pulang deh jadi mereka mau kita buat tinggal bareng biar enggak kesepian" dika menatap istrinya yang sedang bergelayut manja di lengannya itu.
"oh ya, bagus dong kalo mama sama papa tinggal bareng kita mas. lagian papa sama mama kan juga pasti ngerasa kesepian kalo tinggal cuma berdua aja" vani menegakkan duduknya lalu menatap suaminya.
"iya sih tapi aku tolak!" ucap dika dengan mudahnya.
"dasar anak durhaka! kenapa kamu tolak mas. ya ampun mas dika dari kamu lahir sampai segede gini mama sama papa yang selalu ngerawat kamu dengan penuh kasih sayang yang tulus tapi kamu malah nolak tinggal bareng setelah mereka tinggal berdua. tega kamu mas" ucap vani dramatis.
"ck! denger dulu sayang. aku enggak keberatan kok kalo mama sama papa tinggal di sini bareng kita mereka boleh banget tinggal di sini tapi,,," ucapan dika menggantung.
"tapi apa mas?" vani penasaran menatap suaminya
"tapi kalo mama sama papa minta kita yang balik ke rumah mereka aku enggak setuju dan enggak bisa" dika menatap lurus ke depan.
"loh emangnya kenapa mas?"
vani penasaran entah kenapa dika selalu menolak untuk kembali tinggal dirumah kedua orangtuanya itu.
"enggak papa sih aku cuma pengen kita tinggal disini aja sayang soalnya aku udah nyaman tinggal di sini"
dika menjawab sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"em, bukannya rumah mama juga lebih nyaman ya mas karena banyak kenangan indah kalian waktu masih kecil disana" vani juga bersandar di dada bidang suaminya.
"em, iya sih tapi,,,," ucapan dika kembali menggantung.
"tapi apa sih mas, sebenarnya apa sih yang buat kamu enggak nyaman tinggal disana?"
"entahlah sayang aku enggak tau kenapa, yang jelas aku enggak pengen tinggal di sana lagi" dika tetap pada pendiriannya.
"apa karena rumah itu buat kamu jadi keinget sama arin?" vani menatap mata suaminya
"buat apa? buat apa juga aku ingat sama dia kan ada kamu di sini" dika menggenggam wajah istrinya lalu mengecup bibir manisnya dengan lembut.
vani pun membalasnya, membalas ciuman hangat dari bibir suaminya.
beberapa menit kemudian vani kembali tersadar dan langsung melepaskan ciumannya.
"kenapa sayang?" dika menatap istrinya.
"em, enggak papa kok mas"
vani menatap ke arah pintu kamarnya yang ternyata sudah tertutup dengan rapat. dika mengikuti arah pandangan mata istrinya sambil tersenyum.
"kamu takut aku lupa nutup pintu lagi ya, hem!" dika kembali melumt bibir istrinya.
"mas nanti aja ya aku masih mau nonton drama nih" vani kembali menatap layar di hadapan mereka.
"huh!!!" dika kembali bersandar sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.
__ADS_1
"oh ya mas katanya yuli sama mas ray udah balik tinggal di kota lagi ya terus kapan kita main ke rumah mereka??" vani sambil memeluk suaminya.
"oh ya? em, secepatnya sayang" dika mengecup kening istrinya.
"em, oke deh tapi kamu janji kan mas" vani mengulurkan jari kelingkingnya.
"janji sayang" dika membalas jari kelingkingnya.
"makasih sayang" vani memeluk suaminya.
"oh iya, dimana jagoan papa kok dari tadi kayanya enggak keliatan ya?"
dika mencari keberadaan putranya di sekelilingnya namun tidak melihat raffa di sana.
"em, kayanya afa lagi keluar jalan jalan bareng hana sama luna juga deh mas"
"oh, kamu yakin mau ngasih luna kesempatan kerja di sini sayang?" tanya dika sekali lagi.
"kenapa masih bahas soal itu sih mas luna itu kan gadis yang baik dan periang. dia juga penyayang sama anak kecil. masalah kemaren itu kita lupain aja ya" vani memandang fokus ke depan.
"huh!!! terserah kamu deh" dika mengembuskan nafasnya dengan pasrah.
"masss"
vani meminta suaminya untuk ikhlas karena merasa sepertinya dika sangat terpaksa menerima keputusan itu namun dika langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"sayang papa lagi ngapain sih di dalam sini, lagi bobok ya. please gerak dong sayang papa pengen ngerasain nih" dika mengelus elus lembut perut istrinya yang mulai menonjol.
"papa, enggak usah yang aneh aneh deh baby kan emang belum bisa gerak dari dalam sini karena masih kecil tau" vani memanyunkan bibir dengan mata malasnya.
"hehe. oh iya kalo gitu ayo dong papa mau lebih sering jengukin baby biar dia cepat gede sayang"
dika langsung menggendong tubuh istrinya lalu berjalan menuju ranjang.
"ihh!! mas dika turunin enggak?" vani menepuk nepuk dada suaminya.
"enggak" dika tidak mau di tolak lagi.
dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan lembut lalu ikut naik ke atas ranjang.
"iya sayang, kita nonton drama romantisnya sambil bobok di sini ya"
dika pun mengecup bibir istrinya seperti adegan drama yang sedang mereka tonton itu.
hari ini seperti biasanya dika hendak berangkat ke kantor namun kali ini ia akan pergi bersama ray yang sudah datang untuk menjemputnya.
"pagi pak dika" ray menyapa bosnya yang hendak berjalan masuk ke dalam mobil.
"pagi ray lo udah pulang ya" tanya dika sambil terus berjalan.
"sudah pak, terima kasih untuk waktu cuti panjangnya" ray tersenyum sedikit menunduk.
"em, iya sama sama" dika pun masuk ke dalam mobilnya.
ray langsung masuk dari pintu bagian depan karena akan menyetir mobil.
setelah beberapa minggu akhirnya ray sudah kembali tinggal di kota bersama istri dan anaknya.
di dalam perjalanan menuju kantor dika bertanya kepada ray yang sedang fokus menyetir di depannya.
"kapan lo pulang kok gue enggak tau sih?" tanya dika.
"baru kemarin bos, iya gue emang enggak buat acara apapun. mungkin lain waktu kita bisa makan malam bareng di rumah gue ya" ray tersenyum menatap dika dari dalam kaca di depannya.
"okay gimana kalo malam ini?" tanya dika.
"boleh! tapi kayanya malam ini enggak bisa deh soalnya lo sibuk banget hari ini" jawab ray.
"ck! ah sayang banget oke next time ya" dika mengangguk.
"baik pak" ray kembali fokus menyetir.
__ADS_1
sesampainya di parkiran dika dan ray turun dari dalam mobil lalu mereka berjalan masuk ke dalam gedung kantor.
"apa aja jadwal hari ini ray?" tanya dika sambil berjalan di lobby kantor hendak menuju lift untuk naik ke lantai atas tepatnya ruangan dika.
"jadwal bapak sangat padat hari ini ada tiga kali meeting dan dua pertemuan dengan calon klien kita" jawab ray.
"apa! banyak banget sih. padahal malam ini gue ada janji sama anak dan istri gue buat ngajak mereka makan malam di luar" gumam dika semakin pelan.
"bapak boleh pergi kok biar saya yang akan menangani semua sisanya" ucap ray.
"oh beneran? thanks ya ray" dika menepuk pelan ray.
"sama sama pak" ray pun mengangguk.
"tapi ngomong ngomong kenapa jadwal gue padat banget hari ini?" dika melangkah keluar dari dalam lift.
"pak rangga sudah pergi ke london jadi hanya bapak yang harus menangani semuanya" ucap ray mengingatkan.
"oh iya, bulan depan mama sana papa bakal pulang" dika mengingatnya.
"benar pak" ray mengangguk.
"ya udah, gue masuk dulu ya" dika meninggalkan ray di luar ruangannya.
tidak lama naya datang menghampiri meja kerja ray di depan ruangan dika.
"permisi pak ray, saya di panggil pak dika ke ruangannya" ucap naya kepada ray.
"oh, baik silahkan masuk" ray mempersilahkan.
"terima kasih pak" naya mengetuk pintu ruangan dika sebelum masuk.
tok!! tok!! tok!!!
"masuk!" terdengar jawaban dika dari dalam ruangannya.
"permisi pak" naya melangkah masuk.
"silahkan duduk naya" dika menunjuk kursi di hadapannya.
"baik pak" naya duduk di hadapan dika.
"ray, tolong masuk ke dalam ruangan saya sekarang!" dika memanggil ray dari telpon.
tidak lama ray pun masuk ke dalam ruangan dika.
"ada apa pak?"
"silahkan duduk ray" ucap dika karena melihat ray yang hanya berdiri di sampingnya.
"baik pak" akhirnya ray pun duduk di samping naya yang juga duduk di sana.
"begini ray, naya saya minta mulai hari ini kalian bisa bekerja sama dengan lebih baik lagi" dika menatap kedua sekretaris di hadapannya.
"baik pak" ray dan naya mengangguk bersamaan.
"beberapa hari lagi saya akan mengutus kalian berdua untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota jadi kalian harus bekerja sama dengan lebih baik, mengerti"
"mengerti pak" ray mengangguk.
"okay, ini adalah proyek yang akan kalian pantau di luar kota jadi kalian harus mempelajarinya bersama" dika meletakkan sebuah map di hadapannya.
"baik pak kami akan berusaha melakukan yang terbaik" ray mengangguk.
"oke terima kasih. mulai hari ini naya akan bekerja di meja yang sama dengan ray karena bang rangga sedang pergi" dika menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.
"baik pak" naya mengerti.
"silahkan keluar" dika menatap keduanya setelah selesai dengan ucapannya.
"baik permisi pak"
__ADS_1
mereka berdua pun keluar dari dalam ruangan dika.