Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Lamaran


__ADS_3

keesokan harinya, di kantor rangga berbicara dengan ray.


"kayanya mulai hari ini lo bakal jadi sekretaris tetap gue deh ray" ujar rangga.


"saya mengerti pak" ray pun mengangguk.


"lo tau kan dika bakal netep di london sampe waktu yang gue sendiri enggak tau kapan"


ray hanya terdiam mendengarnya ia pasti akan merindukan sahabatnya itu pikirnya.


"tolong sekarang lo panggil karin kesini dan pastikan dia nerima pembatalan pernikahan ini" perintah rangga.


"siap bos"


ray langsung beranjak lalu berjalan keluar dari dalam ruangan rangga hendak memanggil karin yang sedang berada di meja kerjanya.


"karin, ayo ikut saya"


ray menatap karin dengan datar setelah sampai di depan meja kerjanya.


"mau ngapain?" tanya karin malas.


tanpa menjawab pertanyaan itu ray pun langsung berbalik badan dan kembali melangkah menuju ruangan rangga.


karin terpaksa mengikuti langkah ray yang akan masuk ke dalam ruangan bosnya itu.


tok!! tok!! tok!!


ray berjalan masuk ke dalam ruangan rangga di ikuti oleh karin di belakangnya.


"permisi pak, ini saya bawakan tersangkanya" ujar ray setelah sampai di depan meja kerja rangga


'ck! rese banget nih orang' batin karin menatap tidak suka ke arah ray namun ray hanya cuek lalu duduk di kursinya.


"karin, silahkan duduk" rangga menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


"ada apa ya mas?"


karin pun duduk di hadapan rangga.


"saya cuma mau menyampaikan kepada kamu tentang keputusan dika untuk pernikahan kalian" ujar rangga.


"maksudnya keputusan apa mas, bukannya kami bakalan nikah sebentar lagi?"


"bukan, karena dika sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan kalian"


"apa! dika batalin pernikahan kami? tapikan udah di umumin di kantor mas"


"iya, dia juga udah pergi dan engga akan balik lagi demi menghindari pernikahan ini."


"tapi kenapa mas?"


"saya enggak tau, kan kamu calon istrinya"


"ck, dika apa apaan sih. dia enggak bisa seenaknya batalin sepihak kaya gini dong"


"bisa saja, karena kamu juga bisa membuat pengumuman pernikahan secara sepihak tanpa konfirmasi dari dika"


"kan tante juga udah setuju mas"


"tapi yang akan menikah tidak setuju karin. kan kamu sudah tau sebelumnya kalau dika telah membatalkan rencana pernikahan kalian tepat di hari kamu pulang waktu itu"


"iya tapi,,,,"


"kalau kamu merasa malu di kantor ini, kamu boleh pergi dari sini dan jangan kembali lagi"


tegas rangga tidak menerima penolakan karin.


"enggak, dika enggak bisa lakuin ini sama aku mas. dia enggak mungkin pergi..."


"bisa aja buktinya dia udah pergi"


"ck! dika ih..."


melihat karin yang tidak mau beranjak dari duduknya ray pun mendekat.


"kamu tidak punya pilihan lain lagi karin, jangan semakin mempermalukan diri mu sendiri" bisik ray membuat karin semakin kesal dan akhirnya memilih pergi dari sana.


dengan kekesalan karin beranjak dan keluar dari dalam ruangan rangga.


beberapa hari kemudian karin pun memutuskan untuk resign karena merasa malu dika sudah membatalkan rencana pernikahan mereka secara sepihak.


di kantin kantor tepatnya saat jam istirahat, jay dan rachel sedang duduk hendak makan siang bersama. mereka pun sudah mendengar kabar tentang bos dengan sekretarisnya itu.

__ADS_1


kabar itu tersebar begitu cepat di dalam kantor hingga seluruh karyawan mengetahuinya. ray bahkan tidak mengerti mengapa berita apapun yang ada di kantornya mudah sekali menyebar seperti virus.


"bang, gue tau sekarang kenapa vani selalu aja nolak lo selama ini" ujar rachel menatap jay.


"kenapa?"


jay sambil menikmati makan siangnya.


"ternyata seleranya itu pak dika, ya pantes aja lo di abaikan" haha rachel tertawa mengejek.


"ck! rese lo hel"


"em, tapi bener sih. apalagi pak dika juga suka sama dia"


"iya, mereka saling cinta tapi kenapa sekarang malah pergi menghilang setelah pengumuman pernikahan pak dika sama karin ya?"


"enggak tau" jay mengendikkan bahunya.


"atau jangan jangan...."


"jangan jangan apa?"


"jangan jangan vani sama pak dika udah kawin lari lagi. karena pak dika enggak mau nikah sama si nenek sihir karin itu" haha rachel tertawa dengan candaannya.


"hhh! kamu ada ada aja deh"


jay tertawa namun sambil kembali berpikir.


'apa bener mereka....?' batin jay memikirkan.


"ya bisa aja kan bang"


"udahlah kamu enggak usah mikirin tentang mereka lagi sekarang mendingan kamu makan yang banyak biar cepat gede" ucap jay


"yee, enak aja. gue udah segede ini juga" protes rachel tak terima.


*


di halaman belakang rumah kak aida, terlihat vani sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil melamun.


hana datang menghampirinya karena melihat kakaknya itu terlihat sedang sedih.


"kak vani..!"


"ya ampun kak vani enggak denger" ia berjalan mendekati vani disana.


"kak vani...."


hana pun menyentuh pundak kakaknya itu agar vani tersadar dari lamunannya.


"eh, hana. kamu ngapain?" tanya vani yang baru tersadar.


"em, kakak lagi ngapain sendirian disini? kok aku perhatiin kakak sering melamun mulu sih sepulang dari kota minggu lalu"


hana pun sudah duduk di samping kakaknya.


"em, enggak papa kok kakak cuma pengen nenangin diri aja disini"


"kayanya kakak lagi galau deh atau kakak emang lagi patah hati ya?" goda hana.


"ck! apa sih hana, enggak kok. kakak cuma,,,"


"cuma putus sama abang ganteng yang waktu itu ya?"


"em..." vani mengangguk pelan.


"kenapa kok bisa putus sih?"


"enggak papa mungkin enggak jodoh"


"jadi sekarang kakak jomblo dong hehe" hana mencoba untuk menghibur kakaknya.


"apaan sih kamu masih kecil udah tau jomblo"


"ih kakak! aku kan udah gede udah mau lulus sekolah juga" hana manyun.


"kamu itu masih kecil jadi enggak boleh tau soal pacaran dulu. masih harus kuliah terus cari kerjaan yang bagus demi masa depan"


"iya iya aku tau kok tapi kenapa sekarang kakak malah berhenti kerja? bukannya kakak udah dapet kerjaan bagus yang sesuai sama keinginan kakak selama ini ya. kan sayang kalo berhenti" tanya hana polos.


"iya... tapi kakak mau nyari kerjaan yang lain aja biar nambah pengalaman baru juga" hehe vani beralasan.


"oh gitu ya kak, bagus juga sih kalo kita punya banyak pengalaman kerja di tempat yang beda"

__ADS_1


hana percaya dengan alasan klasik yang vani berikan.


"iya bener"


vani tersenyum masam berpikir jika dirinya pandai berbohong atau memang hana yang terlalu polos.


-


malam ini vani sudah masuk ke kamarnya pun memutuskan untuk langsung tidur.


saat hendak makan malam bersama suami dan anak anaknya aida mencari keberadaan vani yang tidak terlihat disana.


"vani dimana ya?" ia berjalan menuju kamar adiknya hendak mengajak makan bersama.


ceklekk!


kak aida membuka pintu kamar vani dengan perlahan agar tidak mengagetkan adiknya itu.


setelah masuk ia melihat vani sedang tiduran dengan posisi tengkurap di atas ranjang sambil memeluk guling sebagai penyangga dagunya.


aida mendekati sisi ranjang dan melihat vani sedang memegang ponsel yang terdapat foto pria tampan di dalamnya.


ia pun duduk di tepi ranjang dengan perlahan dan melihat vani yang ternyata sudah tertidur dengan posisi itu.


karena tak tega membangunkan adiknya yang sudah terlelap akhirnya aida pun mengambil ponsel dari dalam genggaman tangan vani lalu meletakkannya di atas nakas kemudian ia pun membenahi posisi tidur vani agar lebih nyaman dan menyelimuti tubuh adik kesayangannya itu.


setelah memastikan vani tidur dengan nyaman aida pun keluar lalu menutup pintu kamarnya.


*


satu tahun berlalu begitu cepat. dalam satu tahun terakhir vani sudah kembali mendapat pekerjaan baru di kota.


sayangnya setelah beberapa bulan bekerja, vani harus kembali kehilangan pekerjaannya karena ada beberapa atasan yang tidak menyukai kehadirannya disana.


tak menyerah, vani kembali melamar pekerjaan baru di perusahaan yang berbeda dan kembali mendapatkan pekerjaan.


meskipun sering kali keluar masuk perusahaan yang berbeda namun sisi baiknya ia mendapat lebih banyak pengalaman baru.


bukan hanya pengalaman vani juga mengenal banyak teman baru di sekitarnya.


sejak resign terakhir dari sebuah perusahaan properti vani memutuskan untuk tidak mencari pekerjaan di sebuah perusahaan besar lagi seperti dulu.


ia ingin mengganti pengalaman dengan bekerja di tempat yang berbeda dari sebelumnya.


vani menerima tawaran dari seorang temannya untuk bekerja di sebuah restoran karena ingin mencoba suasana baru yang berbeda. akhirnya ia memutuskan untuk bergabung disana.


delapan bulan terakhir, vani sudah bekerja di sebuah restoran berbintang sebagai asisten pribadi dari bosnya yang bernama raka.


seiring berjalannya waktu cinta pun tumbuh di antara mereka. bukan hanya menjadi asisten pribadi dari bosnya itu tetapi vani juga akan menjadi calon istri raka karena mereka sudah memutuskan untuk segera menikah tahun ini.


di taman yang sudah dihias indah dan romantis itu raka melamar gadis pujaan hatinya.


"vani, maukah kamu menjadi istriku?"


ujar raka berlutut di hadapan gadis itu sambil memegang sebuah kotak cincin yang indah.


mendapat kejutan lamaran dari bos sekaligus kekasihnya itu membuat vani tertegun karena ia tidak menyangka jika raka akan melamarnya secepat ini.


perjalanan cinta mereka tidaklah semudah itu, raka memang sangat mencintai vani dan sudah menyatakan perasaannya kepada gadis itu namun dengan berbagai alasan vani mencoba untuk menolak secara halus agar raka tidak tersinggung.


vani hanya ingin fokus bekerja saja, tidak ingin masa lalunya terulang kembali jika ia memiliki hubungan dengan atasannya namun pada akhirnya vani tetap menerima raka sebagai kekasihnya karena raka selalu baik kepadanya.


'em, gimana ya? apa aku harus nerima lamaran pak raka. mungkin kalo nikah aku bakalan bisa ngelupain dia?' batin vani sambil menatap pria di hadapannya itu.


padahal dua tahun sudah berlalu namun hingga sekarang vani masih sulit untuk melupakan bos tampan yang dulu pernah mengisi hatinya.


"em, iya mas. aku mau"


vani mengangguk menerima lamaran itu.


raka tersenyum dan langsung memeluk vani dengan erat karena merasa bahagia akhirnya gadis yang sangat dicintainya itu bersedia untuk menikah dengannya.


sebab dulu vani selalu menghindar dan sering menolak raka yang pesonanya hampir tidak bisa ditolak oleh semua gadis yang melihatnya.


"makasih ya sayang, aku janji bakal selalu bahagiain kamu" ujar raka saat memeluk vani.


"em"


vani mengangguk sambil menatap cincin yang kini tersemat di jari manisnya dengan perasaan yang tidak menentu. ia kembali teringat dengan cincin yang dulu juga pernah menghiasi jari manisnya itu.


'cukup vani, cukup! tolong jangan inget dia lagi sekarang dia udah jadi milik orang lain enggak pantas kamu masih mencintai suami orang' batin vani menepis sesuatu yang sedang ia pikirkan.


akhirnya vani pun memejamkan mata lalu membalas pelukan hangat dari raka.

__ADS_1


__ADS_2