
keesokan harinya dika yang sejak malam ketiduran di dalam ruang kerjanya pun bangun dengan terlambat. ia tidak sempat mandi apalagi untuk sarapan di rumahnya.
karena ada meeting penting pagi ini dika langsung berangkat ke kantor dengan sangat terburu buru. akhirnya ia memutuskan akan mandi dan sarapan di kantor saja.
tanpa berpamitan pada vani seperti biasanya dika pergi dan melupakan istrinya yang masih ia kurung di dalam kamar tadi malam.
vani yang sudah terbangun dari tidurnya, kembali berusaha untuk menggedor pintu.
tokk!!! tokk!! tokk!!!
"mas bukain pintunya!" teriak vani sambil mengetuk pintu berulang kali berharap agar dika membukakannya.
hana yang sedang lewat hendak berjalan menuju pintu kamarnya pun tidak sengaja mendengar suara gedoran pintu dari dalam kamar kakaknya.
karena merasa penasaran hana langsung mendekat untuk memastikan jika pendengarannya itu tidak salah.
"kaya ada suara dari dalam kamar kak vani deh" perlahan hana mendekati pintu kamar kakaknya.
"kak vani, apa kakak ada di dalam?" hana mencoba untuk meyakinkan dirinya.
"iya hana, ini kakak tolong bukain pintunya"
"loh kok pintunya bisa ke kunci dari luar sih?" bingung hana sambil membuka pintunya dengan cepat karena kuncinya memang masih berada di sana.
ceklekk!!! pintu terbuka, vani langsung keluar dari dalam kamarnya.
"huh! makasih ya hana kamu udah bukain pintunya" ujar vani setelah ia berhasil keluar dari dalam kamarnya.
"iya kak. oh iya kok kakak bisa ke kunci di dalam kamar sendiri sih?" tanya hana bingung.
"em, enggak tau nih. mungkin pintunya udah rusak kali" vani mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
"pintunya rusak. masa sih, tapi kok kuncinya kegantung diluar ya kak kaya ada yang sengaja ngunciin gitu atau jangan jangan...." hana mencoba untuk memikirkan sesuatu.
"maksud kamu, jangan jangan apa?"
"jangan jangan bang dika lagi yang sengaja ngunciin pintunya dari luar" hehe nyengir hana.
"em, apaan sih hana ya enggak mungkinlah" vani berkilah dan masih berusaha untuk menghindari ucapan sang adik.
"iya mana tau bang dika itu lupa kalo ada kak vani di dalam kamar. hehe" hana terus menggoda kakaknya.
"ck! kamu itu ada ada aja deh. iya mana mungkin mas dika lupa sama istrinya sendiri" vani mengusap tengkuknya.
setelah mengucapkan kalimat itu vani langsung terdiam dan tertunduk sedih karena hal yang baru saja ia katakan tidak mungkin itu nyatanya saat ini sedang terjadi kepada dirinya.
dimana selama ini dika memang sudah melupakan dirinya bahkan hingga hari ini pun suaminya itu tidak mengingat dirinya yang sedang terkunci di dalam kamar.
"kakak jangan sedih gitu dong" hana merangkul pundak vani yang terlihat sedih.
"enggak papa kok. oh iya afa dimana han?"
vani langsung mengalihkan pembicaraan lagi pula pagi ini ia memang belum melihat putra kesayangannya itu.
"em, afa udah berangkat ke sekolah kak. tadi sih dia nyariin kakak mau pamitan tapi aku bilang enggak usah karena aku pikir kakak lagi capek dan butuh istirahat. lagian tadi afa juga hampir telat berangkat ke sekolah maaf ya kak" hana menyesal karena sudah membuat vani tidak sempat bertemu dengan raffa pagi ini.
"ya udah enggak papa kok han kalo gitu kakak mau masak dulu ya" vani tersenyum.
"iya kak, oh iya aku juga mau langsung pergi ke butik sekarang nih nanti kakak langsung jemput afa aja ya"
"iya oke deh"
hana berjalan menuju kamar hendak segera bersiap dan setelah itu ia akan langsung pergi ke butik sedangkan vani berjalan menuju dapur karena akan memasak.
hari ini vani ingin memasak makanan kesukaan suaminya untuk membujuk dika agar tidak marah lagi kepadanya.
sesampainya di dapur vani langsung membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan makanan yang akan ia masak.
saat masih asik memilih menu yang akan di masak hari ini tiba tiba saja vani kembali merasa pusing di kepalanya dan penglihatannya menjadi buram hingga akhirnya tubuh vani terjatuh di lantai tidak sadarkan diri.
para asisten yang melihat vani pingsan langsung panik dan khawatir dengan keadaan majikannya itu.
__ADS_1
"nyonya! nyonya kenapa?" ucap mereka dengan panik
"ayo telpon dokter terus kamu telpon pak dika ya"
"baik"
salah satu asisten meminta temannya untuk menelpon dokter agar memeriksa keadaan vani juga mengabarkan pada dika untuk segera pulang dari kantornya.
di kantor dika sedang berada di dalam ruang meeting bersama dengan rangga dan ray serta beberapa petinggi dari perusahaan lain. mereka sedang fokus membahas proyek kerjasama baru yang akan dilakukan oleh beberapa perusahaan besar itu.
drrrtt...!!! drrttt...!!!
dika tidak bisa fokus pada pembahasan meeting karena sejak tadi ponsel di dalam sakunya bergetar.
merasa penasaran dika pun merogoh saku hendak melihat panggilan di ponselnya. setelah melihat ternyata telpon itu dari rumahnya.
dika melirik sekretarisnya agar menatap kearah dirinya juga namun ray hanya fokus menatap ke depan layar yang berada di hadapan mereka.
karena dika tidak menjawab telponnya secara otomatis dari ponselnya terkirim pesan dengan teks 'tinggalkan pesan'. beberapa detik berikutnya pesan kembali masuk ke dalam ponselnya dengan tulisan yang mengabarkan jika 'nyonya pingsan'.
setelah membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya dika terkejut dengan reflek langsung berdiri dari duduknya membuat semua mata secara bersamaan memandang ke arah dirinya.
"pak dika, ada apa?" tanya ray yang melihat wajah khawatir dari bosnya itu.
"ray tolong kalian lanjutkan meeting ya, saya harus pulang sekarang permisi"
dika menatap rangga dan ray secara bergantian begitu juga pada rekan lainnya lalu ia melangkah keluar dari dalam ruang meeting dengan buru buru.
"mari kita lanjutkan saja" ujar ray kepada rangga dan rekan yang lainnya juga.
saat ini vani sudah berada di dalam kamarnya, dokter radit sedang memeriksa keadaan vani dengan di temani oleh beberapa asistennya di sana.
setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan akhirnya vani kembali sadar dari pingsannya.
vani membuka matanya secara perlahan lalu melihat sekeliling ruangan yang ternyata adalah kamarnya. ia juga merasa bingung melihat dokter radit yang sedang berada dihadapannya.
"dokter?" vani memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"apa yang terjadi, saya baik baik aja kan dok?"
"kamu baik baik aja kok vani, cuma kecapekan dan sedikit mengalami dehidrasi" jelas dokter radit.
"tapi dok kenapa ya akhir akhir ini saya sering ngerasa pusing sampe hampir pingsan gitu?" vani merasa jika belakangan ini dirinya mudah merasa lelah.
"iya mungkin itu karena bawaan janin jadi kamu harus istirahat yang banyak, jangan lupa minum vitamin dan susu ibu hamil juga ya"
"janin, maksud dokter sekarang saya lagi hamil?" vani merasa bingung namun sekaligus bahagia.
"em" angguk dokter.
senyum mengembang di wajah vani saat melihat dokter mengangguk. ia mengusap lembut perutnya merasakan kehadiran calon bayi keduanya disana.
"iya vani sekarang kamu lagi hamil, selamat ya"
"em, hhh!!! tapi dokter serius kan?" vani meyakinkan diri.
"iya saya memang bukan dokter kandungan tapi sepertinya hasil pemeriksaan saya tentang kehamilan belum pernah salah sampai saat ini" dokter radit merasa yakin.
vani tersenyum sambil memegangi perutnya. ia sangat bahagia mendengarnya meskipun sedikit bingung karena baru menyadarinya.
"jadi untuk lebih jelasnya kamu bisa periksa langsung ke dokter spesialis kandungan ya" saran dokter radit.
"iya baik dok" vani mengangguk.
"ya sudah saya harap kamu bisa menjaga kehamilan kamu dengan baik karena saat ini kondisinya belum stabil jangan terlalu kecapekan dan juga stress yang berlebih ya" pesan dokter radit.
"terima kasih dokter" vani menerima beberapa vitamin yang di berikan oleh dokter sambil mengangguk bahagia.
"kalo gitu, saya langsung permisi ya karena masih ada pasien yang menunggu di rumah sakit"
"iya dokter"
__ADS_1
setelah itu dokter melangkah keluar dari dalam kamar vani di antar oleh salah seorang asisten yang ada di sana.
"alhamdullilah" vani bersyukur atas kehamilannya.
vani sungguh baru menyadari jika dirinya memang sudah terlambat datang bulan belakangan ini namun ia tidak menyadari tentang kehamilannya itu karena dirinya tidak pernah merasakan mual seperti saat pertama hamil raffa dulu pikirnya.
beberapa asisten yang masih menemani vani di dalam kamar itu pun mendekat dan memberi ucapan selamat kepada majikannya. mereka ikut tersenyum bahagia mendengar kabar kehamilan vani.
"selamat ya nyonya" ujar para asisten bersamaan sambil menunduk.
"makasih ya bik"
vani memeluk asisten pribadinya yang sudah berusia tidak muda lagi itu. vani sudah menganggap beliau seperti ibu di rumahnya.
tidak lama kemudian dika yang merasa sangat cemas pun terburu buru datang dan langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.
"sayang?"
dika masuk ke dalam kamar dan langsung mendekati istrinya yang masih duduk bersandar di atas ranjang.
melihat kedatangan dika, para asisten yang sejak tadi menemani vani pun langsung melangkah keluar dari dalam kamar majikannya.
"mas dika" vani tersenyum melihat kepulangan suaminya.
"kamu baik baik aja kan sayang, maafin aku ya udah kasar sama kamu semalam. maaf"
dika mengecup kedua punggung tangan vani dengan penuh penyesalan lalu memeluk erat tubuh istrinya itu.
"iya aku udah maafin kamu mas, lagian aku juga baik baik aja kok"
"sayang kamu kenapa kok bisa sampe pingsan sih terus tadi dokter bilang apa?"
kini dika sudah kembali bersikap lembut kepada istrinya seperti biasa.
"aku enggak papa kok mas tadi kata dokter aku pingsan karena kecapean aja" jawab vani agar suaminya tidak merasa khawatir.
"syukurlah kalo kamu enggak papa sayang" dika merasa lebih tenang.
"iya mas tadi dokter juga bilang kalo aku lagi...."
sambil tersenyum vani menggenggam tangan suaminya lalu meletakkan tangan dika di bagian perutnya agar dapat merasakan kehadiran calon bayi mereka itu.
"kenapa sayang? apa perut kamu sakit sampe tadi kamu pingsan atau jangan jangan asam lambung kamu kambuh lagi ya" dika terlihat bingung dan semakin khawatir.
"bukan sayang, dokter bilang aku lagi hamil"
"kamu hamil sayang?"
"iya mas beneran jadi bentar lagi afa bakalan punya adek" vani mengangguk dan tersenyum.
"alhamdulillah, ini kamu serius kan sayang?"
dika merasa terharu lalu memeluk tubuh vani dengan erat karena bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya itu.
sudah sejak lama mereka menginginkan kehadiran anak kedua namun karena kecelakaan yang di alami dika tahun lalu membuat mereka harus menunggu waktu lebih lama hingga ingatan dika kembali.
"serius dong mas, tapi tadi dokter bilang lebih baik kita cek langsung ke dokter kandungan aja biar kita bisa tau berapa usia kandungan aku sekarang. kayanya udah beberapa bulan deh" vani berpikir bagaimana ia bisa sampai lupa.
"iya nanti kita ke dokter ya sayang" dika mengusap lembut rambut istrinya.
"sekarang aja deh mas" vani sudah tidak sabar ingin melihat calon bayi mereka.
"jangan dong sayang kan kondisi kamu masih lemes aku enggak mau kalo sampe terjadi sesuatu sama kalian nanti jadi kita ke dokternya besok aja ya" bujuk dika.
"iya deh mas" vani menurut saja.
"ya udah sekarang kamu istirahat dulu ya"
"em, iya mas"
vani merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
__ADS_1