
dengan langkah cepat naya masuk ke dalam rumahnya dan langsung mengunci pintu agar ray tidak mendekatinya lagi.
brakk!!!! pintu tertutup dengan keras.
tokk! tokk!!! tokk!!
"naya! buka pintunya kita harus bicara"
ray terus mengetuk pintu namun naya tetap tidak mau membukanya.
"hikss! hikss! hikss!" naya menangis di balik pintu yang sudah tertutup.
'maafin saya pak ray tapi seharusnya kita memang tidak pernah saling berdekatan' batin naya menangis.
"naya" tok! tok! tok!
"sshh! aww!!"
naya kembali merasa pusing di kepalanya namun akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di dalam kamarnya saja dan mengabaikan ray yang masih menunggu di luar rumah
"naya maafin saya"
ray yang sudah cukup lama menunggu di luar pun akhirnya memutuskan untuk pergi karena risih dengan tatapan orang orang yang lewat sejak tadi melihat ke arahnya.
keesokan harinya vani kembali datang ke kantor sambil membawakan makan siang untuk suaminya. kali ini ia mengajak raffa ikut bersamanya.
"sayang dimana affa, katanya mau datang bareng jagoan papa hari ini"
"iya mas, affa tadi ikut tapi mas rangga ngajak affa main ke ruangannya"
"oh gitu" dika mengangguk mengerti.
"kamu lagi sibuk banget ya mas aku khawatir sama kesehatan kamu kalo kaya gini"
"aku enggak papa kok sayang kamu enggak usah terlalu khawatir ya, kan ada ray yang selalu bantuin aku tapi akhir akhir ini ray emang agak aneh sih aku jadi bingung liatnya"
"aneh gimana mas?"
"dia tuh kaya lagi ada masalah lain tapi aku enggak tau apa karena dia juga enggak mau cerita"
"ya udahlah mas kan enggak semua masalah pribadinya harus diceritain ke orang lain walaupun sama sahabatnya sendiri" vani berpikir positif.
"iya sih tapi aneh banget sayang, dia bener bener kaya bukan ray yang dulu"
"maksud kamu mas ray berubah jadi kesatria gitu"
"ck! vani"
"hehe canda mas"
"oh ya sayang kapan jadwal kamu check up kandungan, aku hampir aja lupa. maafin papa ya sayang papa terlalu sibuk ya akhir akhir ini" dika mengusap perut istrinya.
"enggak papa mas kalo kamu sibuk aku bisa pergi bareng hana aja kok" vani tidak mau menambah kesibukan untuk suaminya.
"enggak! enggak! kali ini aku harus ikut anterin kalian. aku pengen denger detak jantungnya lagi kaya dulu lagi" dika mendekatkan telinganya ke perut istrinya.
"apa detak jantungnya kedengaran mas?"
vani tersenyum saat dika menempelkan telinga di bagian perutnya.
"em enggak nih" dika menggelengkan kepalanya.
"iya jelas dong mas kalo bisa kedengeran langsung buat apa juga dokter pake alat khusus buat meriksa detak jantung bayi di dalam hehe" vani tertawa melihat kepolosan suaminya itu.
"iya sayang, makanya papa mau ikut ya"
"ya udah sekarang papa siapin makannya dulu ya"
"oke deh sayang" dika tersenyum senang.
setelah dika selesai makan siang vani duduk di samping suaminya yang sedang menatap layar di hadapannya.
"mas"
"hem"
"em, kata dokter kita udah bisa liat jenis kelamin bayi kita bulan ini gimana ya kalo bayi kita laki laki lagi mas?"
vani menatap suaminya yang masih fokus pada layar di hadapannya.
__ADS_1
dika langsung mengalihkan pandangannya setelah mendengar pertanyaan dari istrinya itu.
"bagus dong, berarti affa bakalan punya teman main bola di rumah kaya yang dia mau"
"kalo bayi kedua kita perempuan gimana?"
"lebih bagus dong sayang itu berarti kita bakal punya anak sepasang" dika tersenyum senang.
"tapi bukannya kamu pengen banget ya kita punya anak perempuan?" vani menatap lekat suaminya.
"terus, apa aku harus buang anak aku sendiri kalo dia lahir sebagai anak laki laki? kenapa kamu nanya kaya gitu sih perempuan atau laki laki itu sama aja sayang aku bakalan tetap sayang sama kalian"
"em, gimana kalo aku enggak bisa kasih kamu anak perempuan mas?" mata vani berkaca kaca.
"itu bukan salah kamu sayang tapi udah kehendak dari sang pencipta. apapun yang di titipin buat kita, kita harus jaga dengan baik kan?" dika menggenggam wajah istrinya.
"em" vani mengangguk mengerti.
"kamu lihat deh contohnya aku sendiri sayang, papa sama mama dulu juga pengen banget punya anak perempuan tapi anak kedua mereka lahir sebagai anak laki laki yaitu aku. apa mereka ngebuang aku terus di ganti sama anak perempuan? enggak kan"
"em" vani menggelengkan kepalanya.
"ya udah kamu jangan nanya kaya gitu lagi ya sayang lagian pertanyaan kamu aneh banget tau"
dika menyatukan kening mereka sambil menggosokkan hidungnya di hidung vani.
"tapi mas aku juga pengen bisa ngelahirin anak cewek buat kamu tau" vani manyun.
"iya tapi kamu enggak boleh dong jadi sedih kalo kali ini belum berhasil sayang, entar kita coba lagi oke"
"ih dasar mesum"
"tapi kamu suka kan" dika meletakkan jarinya di bibir vani.
kkkcckkk.....!!!
"aw!! sayang kamu apa apaan sih sakit tau"
teriak dika saat vani menggigit jarinya dengan kuat hingga berbekas.
"kamu sih siapa suruh mesum!!" vani yang kesal pun memalingkan wajahnya.
"akhhh! siapa yang mesum sih" huufft!
"iya kamu yang mesum mulu"
"siapa juga yang mesum aku tuh cuma..."
"mama! papa! stop!!" raffa datang dan menghentikan perdebatan aneh di antara kedua orang tuannya itu.
"sayang papa kamu nih" vani mengadu kepada putranya.
"aku? kenapa jadi aku yang salah sih. mama kamu nih yang enggak mau disalahin padahal emang salah"
"apa salahnya kan aku cuma bilang fakta kamu yang enggak mau ngaku" weee
"stop!! udah dong mama papa berantemnya dilanjutin nanti malam aja di dalam kamar"
ucapan raffa membuat kedua orang tuanya melongo.
"eh maksudnya lanjutin nanti di rumah hehe" ralat raffa.
"oke kita liat aja nanti siapa yang menang" dika tersenyum menyeringai.
"oke! siapa takut" vani memicingkan matanya menatap sorot mata licik suaminya.
"ya ampun affa punya mama sama papa kok gini banget ya, capek deh" raffa menepuk jidatnya.
hari demi hari berlalu, hari ini di kantor rangga melihat ray yang sedang duduk termenung di atas kursi kerjanya.
rangga mendekat berniat untuk menghampiri sekretaris dari adiknya itu.
ray yang sejak tadi hanya melamun sambil memikirkan sesuatu itu pun kaget dengan kedatangan rangga.
"hai ray, gimana tentang penyelidikannya?"
rangga yang tiba tiba saja sudah berada di hadapan ray langsung menyadarkannya dari lamunan.
"eh! pak rangga, maaf pak saya belum menyelesaikan semuanya tapi akan segera saya selesaikan pak" ray reflek berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"elo sebenarnya kenapa sih ray kayanya gue perhatiin belakangan ini lo sering banget ngelamun"
"em, saya enggak papa kok pak mungkin cuma kecapekan karena banyak yang harus di pikirin akhir akhir ini" ray menunduk tidak nau menatap rangga.
"hem, iya gue harap apapun masalah yang lagi lo hadapin sekarang. lo bisa seleseiin semuanya dengan baik ray karena setiap masalah itu pasti ada solusinya" rangga menepuk pelan pundak ray lalu melangkah pergi.
"iya pak" ray mengangguk.
"hhh!"
ray kembali duduk di kursinya dengan tertunduk lemas, ia merasa pikirnya sangat kacau saat ini.
di satu sisi kedua bos sekaligus sahabatnya itu sangat percaya kepadanya dan selalu membanggakan dirinya serta kecerdasan yang ia miliki selama ini namun kini ray sendiri merasa dirinya adalah orang paling bodoh dan tidak berdaya menghadapi masalah yang datang pada dirinya sendiri.
karena masalah ini bukan hanya menyangkut dirinya sendiri namun juga menyangkut rumah tangganya. ray tidak ingin menyakiti hati anak dan istrinya namun di sisi lain dirinya juga tidak mungkin tega kepada naya dan calon anaknya yang lain apalagi membiarkan mereka menjalani hidup dengan penuh hinaan kedepannya.
ray merenung sambil memikirkan tindakan apa yang harus dilakukan, ia berdiri dari duduknya dan memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang ada di kantor terlebih dahulu baru memikirkan hal lainnya karena saat ini ray juga masih bingung harus melakukan apa pada hubungannya dengan naya.
dengan langkah cepat ray berjalan menuju ruangan dika.
tok!! tok!! tok!!
setelah mengetuk pintu ray langsung masuk ke dalam ruangan sahabatnya itu tanpa menunggu persetujuan dika.
"dika gue mau bicara" ray tiba tiba masuk.
"eh! sejak kapan elo enggak sopan gitu kalo di kantor" protes dika kepada ray.
"enggak usah buang buang waktu lagi dika, ada yang lagi berusaha buat nyerang kita sekarang"
"maksud lo apa sih gue baru ngecek semuanya baik baik aja kok"
"perketat keamanan data perusahan sekarang juga karena ada yang lagi berusaha buat meretas keamanan data dari perusahaan"
ray mengambil alih komputer di hadapan dika lalu menunjukkan masalah yang ia maksud.
"oh ya? kayanya ini seru deh" dika tersenyum saat menatap layar di hadapannya.
"dika lo jangan main main lagi, sekarang cepat serang balik" ray ikut melihat layar di hadapannya.
ada banyak sekali virus yang masuk ke dalam komputer itu berusaha untuk merusak data penting di dalamnya.
"iya iya. lo tenang aja dia belum ahli melakukannya dasar bocah" dika tersenyum menatap layar dengab tangan yang sibuk mengetik tombol di papan keyboardnya.
"emang lo tau siapa yang ngelakuin?"
"enggak kalo gue tau juga dia pasti udah enggak ada di bumi ini lagi sekarang" dika tersenyum semirk.
"enggak usah sembarangan deh kalo ngomong, lo bunuh nyamuk aja enggak tega" ray masih serius menatap layar.
"selembut itu kah gue?" dika menanggapinya dengan santai sambil tersenyum.
"hem, lebih dari itu" ray malas menanggapinya.
"hhh!!! iya sih apalagi kalo lagi bareng sama dia" dika sambil membayangkan wajah istrinya.
"apaan sih lo, masih sempat sempatnya ngebucin dulu" ray melirik dika.
ddrt!! ddrt!!
ponsel dika bergetar di atas meja, ia langsung menatap layar ponsel di sampingnya yang bertuliskan my wife call.
"baru juga di bayangin udah muncul beneran" gumam dika tersenyum sambil menatap ponselnya.
"ray, tolong lo lanjutin perang ini ya istri gue lagi nelpon nih"
dika menatap ray karena hendak segera mengangkat telpon dari istrinya.
"hah!! istri lo yang mana?"
ray masih tidak mengalihkan pandangannya dari layar di hadapannya. sepertinya ia terlalu serius melihat banyaknya serangan yang datang dari orang misterius itu.
"ray, istri gue cuma satu" dika melirik tajam.
"oh iya, oke"
"kenapa nyonya wijaya itu nelpon di saat yang enggak tepat sih" gumam ray yang masih di dengar oleh dika.
"ck!" dika kembali menatap ray dengan lebih tajam karena berani berbicara tentang istrinya.
__ADS_1
"santai dika"
ray tersenyum melihat tatapan tajam dari bosnya itu.