Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bibir yang menggoda


__ADS_3

melihat interaksi keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang di depannya itu vani pun tersenyum.


'em, kenapa semua orang disini kayanya udah kenal sama aku ya padahal aku belum pernah ketemu sama mereka sebelumnya" batin vani


'hem, pantesan pak dika sama pak rangga itu baik soalnya keluarga mereka juga baik banget'


"ya udah dika, sekarang kamu anterin vani ke kamarnya aja ya biar dia bisa istirahat" ucap mama ratih.


"iya ma. ayo vani" ajak dika.


"iya pak"


vani mengangguk lalu dika mendorong kursi rodanya.


dika mengajak vani menuju kamar tamu yang berada di lantai dua. mereka menggunakan lift yang ada di dalam rumah itu untuk naik ke lantai atas karena memakai kursi roda.


vani kembali tercengang melihat rumah mewah itu ternyata memiliki lift di dalamnya.


'wah!! ini rumah atau mall, pake ada lift segala lagi. mana gede banget pasti capek deh kalo bersih bersih' batin vani tersenyum masam membayangkannya.


vani terdiam sambil berpikir jika seandainya ia memiliki rumah sebesar itu maka dirinya akan merasa kelelahan untuk membersihkan rumah atau bahkan hanya sekedar jalan jalan disekitar rumah luas itu.


'kayanya aku enggak pengen deh punya rumah segede ini. pasti bersihinnya capek' batin vani menggelengkan kepala


ceklek!! dika membuka pintu kamar tamu itu.


"nah, ini kamar kamu"


dika masuk ke dalam salah satu kamar tamu yang berada dekat dengan kamarnya sendiri.


vani juga kagum melihat desain kamar yang indah, kamar itu sangat luas untuk ukuran sebuah kamar. mungkin lebih luas dari pada seluruh bangunan rumah kontrakan mereka pikirnya.


"wah kamarnya gede banget pak" vani menatap sekeliling.


"iya lumayan sih tapi kamar ini enggak lebih luas dari pada kamar di sebelah kok"


"oh ya?"


"hem"


"emang enggak ada kamar yang lain aja pak?"


dika berlutut di hadapan kursi roda vani untuk mensejajarkan tubuhnya.


"kenapa, emangnya kamar ini kurang bagus ya menurut kamu?" tanya dika.


"em bukan gitu pak, justru kamar ini tuh terlalu bagus buat saya jadi saya pengen kamar yang biasa aja"


"enggak ada kamar lain disini"


"masa sih, rumah segede ini enggak ada kamar yang lain lagi pak"


"ada sih, kamar yang lain di sebelah tapi apa kamu yakin mau pindah kesana?"


dika tersenyum semirk.


"hem, boleh deh pak kalo enggak merepotkan"


"kamu yakin?"


"em" vani mengangguk polos.


"tapi saya enggak bisa jamin kamu bakal bisa istirahat disana soalnya di dalam kamar itu pasti jadi panas" goda dika tersenyum jahil.


"enggak papa pak, saya udah biasa kok tidur enggak pake AC di rumah" vani tersenyum.


"siapa bilang di dalam kamar itu enggak ada AC nya?"


"tadi bapak bilang disana panas pasti karena enggak ada AC di dalamnya, lagian saya juga lebih suka suhu kamar yang hangat dari pada dingin"


"ada sih AC nya tapi kalo ada kamu disana pasti jadi panas banget suhunya"


dika tersenyum lalu bangkit di hadapan vani.


"loh kenapa gitu pak?" vani jadi bingung.


mendengar pertanyaan polos vani membuat dika gemas dan heran mengapa ada gadis sepolos ini pikirnya.

__ADS_1


dika membungkukkan badannya dengan kedua tangan yang bertumpu memegang kedua sisi kursi roda hingga membuat wajahnya tepat berada di hadapan gadis itu.


vani terdiam mematung menatap wajah dika yang berada sangat dekat dengannya.


dika semakin mendekatkan wajahnya kearah vani membuat tubuh gadis itu bergerak mundur ke belakang hingga bersandar di kursi roda demi memberi jarak di antara mereka.


namun dika justru semakin mendekat hingga vani bisa merasakan hembusan nafas dika di wajahnya.


secara perlahan vani memejamkan matanya sambil merasakan hembusan nafas itu.


dika yang melihat vani memejamkan mata pun mengalihkan pandangannya turun ke bibir yang terlihat lembut itu.


ia berusaha menahan diri saat menatap bibir mungil milik sekretarisnya itu.


bibir merah muda yang mengundang hasratnya sebagai seorang pria dewasa yang normal.


dika juga memejamkan mata lalu mendekatkan bibirnya di telinga vani sambil berbisik.


"karena kamar itu adalah kamar saya jadi pasti akan terasa panas kalo kamu ada disana"


mendengar bisikan itu membuat vani merasa geli karena bibir dika yang sengaja menyentuh daun telinganya dan hembusan nafas di bagian tengkuk lehernya membuat darah vani berdesir.


setelah berbisik dika pun langsung melangkah keluar dari dalam kamar itu sambil tersenyum.


saat tersadar vani langsung membuka mata dan mengusap tengkuknya, menetralkan rasa aneh yang sempat ia rasakan


"ih!! pak dika nyebelin banget" omelnya setelah dika sudah keluar dari dalam kamar itu.


vani menutup wajah dengan kedua tangannya karena merasa malu mengingat kejadian yang baru saja ia alami. bisa bisanya ia berpikir jika dika akan menciumnya saat itu.


"huh! jantung ku"


vani menetralkan nafasnya yang sejak tadi tidak karuan karena ulah bos tampannya.


"tenang vani, oke tenang" huh!! vani menarik nafas untuk menenangkan diri sendiri.


saat vani masih melamun, datang dua asisten wanita yang masuk ke dalam kamarnya.


mereka hendak membantu vani membersihkan diri dan mengganti pakaian atas perintah dika.


"permisi mbak, kami di tugaskan oleh pak dika untuk membantu mbak vani membersihkan diri" ucap asisten itu.


sebenarnya vani merasa risih jika ada orang lain yang melihat bagian tubuhnya meskipun sesama wanita namun mau bagaimana lagi ia juga harus segera mandi.


setelah vani selesai mengganti pakaian, kedua asisten wanita itu pun keluar dari dalam kamar agar vani bisa segera beristirahat.


saat ini vani sudah berbaring di atas kasur mewah yang super empuk di dalam kamar itu.


"ya ampun kasurnya empuk banget sih enggak kaya kasur aku di kontrakan yang keras. ini juga baju yang di kasih pak dika bagus banget kayanya pasti mahal deh" vani mengomentari semua barang barang di dalam kamar itu.


tidak butuh waktu lama vani langsung tertidur pulas di atas ranjang mungkin karena tubuhnya masih terasa lelah membawanya menuju alam mimpi yang indah.


sama halnya dengan vani setelah selesai mandi dika pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya hendak beristirahat.


sambil tersenyum dika menatap langit langit di dalam kamarnya, berusaha untuk memejamkan mata karena tubuhnya terasa sakit akibat tidur dengan posisi duduk saat menjaga vani di rumah sakit kemarin malam.


ketika memejamkan mata ia kembali teringat dengan wajah vani saat pandangan mereka bertemu tadi.


mengingat bibir merah muda sekretarisnya itu ingin rasanya dika melahapnya saat itu juga namun ia kembali teringat pada kekasihnya yang entah dimana keberadaannya sekarang.


"ck! huh!"


dika mulai bimbang dengan perasaannya sendiri, ia bingung mengapa sekarang ada dua wanita di dalam hidupnya.


padahal dulu dika bahkan tidak sempat untuk memikirkan seorang wanita pun hingga karin datang ke dalam hidupnya. ia berpikir akan menikahi gadis itu lalu kisahnya selesai namun sekarang berbeda setelah vani hadir dalam hidupnya mengapa perasaannya berubah begitu saja.


dika pusing memikirkan perasaannya sendiri hingga ia tertidur pulas di atas ranjang.


*


sore harinya vani sudah bangun dan sekarang ia sedang bermain bersama rara yang di temani oleh ranty di taman belakang rumah.


vani selalu berbicara formal membuat ranty berpikir untuk mengganti panggilan yang lebih nyaman diantara mereka.


"em, vani boleh nggak kalo kamu manggil saya mbak aja enggak usah pake ibu biar lebih enak ngobrolnya"


ujar ranty meminta vani untuk memanggilnya dengan sebutan mbak saja agar mereka bisa lebih akrab.

__ADS_1


"em, tapi ibu kan istri bos saya" vani merasa sungkan.


"iya itu kalo di kantor, kan di rumah kita bisa kaya adek kakak aja. iya kan" pinta ranty.


"em, iya mbak" vani tersenyum menurutinya.


"nah, gitu dong kan lebih enak ngobrolnya" ranty juga tersenyum.


"mbak, rara cantik banget deh. pinter lagi"


"makasih ya, rara emang anak yang ceria kaya papanya" ranty tersenyum memandang kearah putrinya.


"berapa usianya sekarang mbak?" tanya vani.


"mau empat tahun" jawab ranty.


"hem, apa sebentar lagi rara mau punya adek ya mbak?"


tanya vani karena sejak tadi rara selalu mengatakan jika dirinya ingin punya adik agar tidak merasa kesepian lagi.


"hem, iya rara selalu minta adek tapi kayanya belum rezeki deh doain ya semoga keinginan rara buat punya adek lekas terwujud"


"amin, pasti mbak" vani tersenyum.


"makasih ya vani"


"em"


"tante..." rara menghampiri keduanya.


"rara cantik banget sih"


vani gemas mencubit pipi gembul rara dengan lembut.


"tante juga cantik" rara tersenyum manis.


mama ratih pun datang menghampiri cucu dan menantunya yang sedang bermain dengan vani di taman belakang.


"hai sayangnya oma, lagi ngapain nih?" sapa mama ratih pada cucu kesayangannya itu.


"oma! sini deh"


rara menarik tangan omanya agar lebih cepat berjalan dan ikut bergabung.


"iya iya. ini oma mau kesitu kok sayang"


mama ratih mengikuti permintaan cucunya.


"mama" ranty tersenyum menyapa mama mertuanya.


"vani, kamu di sini juga" mama ratih tersenyum.


"iya buk" vani mengangguk.


ketiga wanita itu pun mengobrol bersama di selingi canda dan tawa sambil menemani rara bermain di taman.


di sela sela mengobrol itu tiba tiba saja mama ratih teringat pada putra bungsunya.


"oh ya ranty, dika dimana ya kamu ada liat dia enggak?" tanya mama ratih pada menantunya.


"hem, enggak tau tuh ma kayanya dika masih tidur di kamar deh. soalnya ranty juga belum ada liat dika dari tadi"


"oh gitu ya, tumben dia tidurnya lama biasanya juga enggak pernah gitu"


"mungkin kecapekan kali ma atau mungkin tadi malam dika kurang tidur"


saat menyadari ucapannya ranty langsung melirik vani karena merasa ada yang salah dengan perkataannya itu.


benar saja raut wajah vani langsung berubah sedih karena merasa bersalah.


"maaf ya buk, pak dika memang kurang istirahat karena jagain saya tadi malam di rumah sakit" vani menunduk.


"vani kamu jangan sedih ya, kamu enggak salah kok. lagian emang itu udah jadi tanggung jawab dika buat jagain kamu. kan kaki kamu sakit ini karena udah nolongin dia"


mama ratih membelai lembut rambut vani agar ia tak merasa bersalah lagi.


"iya vani, kamu jangan merasa bersalah gitu ya. maaf tadi mbak enggak maksud ngomong kaya gitu loh" ujar ranty menyesal.

__ADS_1


"iya enggak papa kok mbak" vani tersenyum.


__ADS_2