Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 169


__ADS_3

setelah panggilan video itu berakhir vani mematikan ponselnya dan melihat tangan dika yang masih terus berada di pundaknya.


"pak dika masih betah meluk saya kaya gini?"


vani menatap tangan dan wajah dika secara bergantian padahal panggilan video itu sudah berakhir sejak tadi.


"eh! maaf ya habisnya nyaman sih hehe" dika menarik tangannya dari pundak vani.


"hem ayo pak! katanya kita mau makan bareng"


"iya ayo"


mereka melangkah bersamaan hendak masuk ke dalam rumah.


saat masih berjalan menuju meja makan vani kembali menggoda suaminya.


"kalo bapak enggak mau saya suapin gimana kalo saya aja yang minta di suapin sama bapak" vani tersenyum jahil lalu berjalan cepat meninggalkan dika.


"emangnya kamu mau saya suapin?" dika melangkah lebih cepat untuk mengejar vani yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


"emm" vani mengangguk menatap dika yang sudah berada di sampingnya.


"tapi saya enggak bisa" dika menolak permintaan vani.


sedih memang saat ini yang vani rasakan karena dika menolak permintaannya namun ia berusaha tetap tersenyum.


"saya cuma bercanda kok pak" sambil mengalihkan pandangannya.


padahal vani memang sangat ingin dika menyuapinya makan seperti dulu lagi.


"oh ya apa makanan kesukaan kamu?" tanya dika setelah mereka sampai di meja makan.


"saya suka semuanya kok pak asalkan masih bisa di makan karena enggak ada yang favorite" vani tersenyum sambil mengambil makanan dan meletakkannya di piring.


"kamu ini ada ada aja deh" dika tersenyum.


mereka mulai menyantap makanan yang ada di hadapan masing masing.


"oh iya, besok kita berangkat jam 07.00 ya ke kantor cabang" ujar dika di sela sela makannya.


"baik pak" vani mengangguk.


"saya enggak mau ada kata telat" peringat dika.


"hem" vani tersenyum jengah.


"oh ya, apa saya boleh tanya sesuatu pak?" ujar vani.


"ya tanya aja"


"hubungan bapak sama mbak rissa itu apa?"


vani merasa penasaran dengan status hubungan di antara suaminya dengan wanita gila seperti rissa.


"rissa, em sampai sekarang kami cuma temanan aja memangnya kenapa?"


"enggak papa sih pak. oh ya sejak kapan bapak kenal sama mbak rissa?"


"sejak kuliah di london"


"apa bener hubungan kalian cuma sebatas teman aja pak. maksud saya, kata orang enggak ada persahabatan yang sejati antara pria dengan wanita karena kebanyakan pasti persahabatan itu akan berakhir jadi cinta. apa bapak enggak pernah punya perasaan lebih sama mbak rissa dia kan cantik?"


vani merasa sangat penasaran dengan isi hati suaminya yang sesungguhnya.


"saya sih enggak ada perasaan lebih sama rissa. iya dia emang baik tapi entah kenapa saya ngerasa enggak bisa nyaman saat bersama dia. rissa juga selalu bilang kalo dia cinta sama saya tapi saya enggak percaya"


"kenapa?"


"iya karena sampe sekarang dia enggak bisa masuk ke hati saya dan gak bisa bikin saya nyaman"


"terus siapa wanita yang ada di hati bapak sekarang?" vani menatap dika.


dika menatap mata vani yang sedang menatapnya dengan serius itu lalu mendekatkan wajahnya.


"kamu" dika tersenyum.


"s-saya?" tunjuk vani pada wajahnya dengan gugup serta mata membulat karena dika menatapnya dengan serius.


"ppfftt haha muka kamu lucu banget" dika tertawa melihat wajah bingung vani yang terlihat lucu baginya.


"ck!"


vani memutar bola matanya karena melihat dika tertawa berarti dika hanya bercanda dengan ucapannya pikirnya.


"lagian mana mungkin saya suka sama cewek aneh kaya kamu" dika minum setelah selesai makan.

__ADS_1


"awas aja nanti bapak kesemsem sama saya"


"hhhh! enggak mungkin"


"ck! saya udah selesai makannya, kalo gitu permisi pak saya mau tidur duluan"


vani beranjak dari duduknya hendak melangkah menuju kamar karena ia tau penjaga villa akan membersihkan meja makan setelahnya.


"vani tunggu!"


"akh!"


dika menarik tangan vani secara tiba tiba membuatnya kehilangan keseimbangan hingga akhirnya vani terjatuh di atas pangkuan suaminya itu.


vani merasa sangat nyaman berada di dalam dekapan hangat suaminya hingga ia tidak ingin melepaskan pelukan itu.


vani menikmati pelukan dika sambil tersenyum bahagia karena sangat merindukan pelukan itu


"vani berdiri! kamu berat tau" ujar dika karena vani tidak kunjung menarik diri dari dalam pelukannya.


"ehh!! maaf ya pak habisnya nyaman sih hehe"


vani dengan cepat menarik diri dan kembali berdiri dengan tegak di sana.


"hhhh! enggak papa itu emang wajar karena semua wanita yang berada di dalam pelukan saya akan selalu merasa nyaman"


dika berbisik di telinga vani dengan mesra lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


bisikan itu membuat tubuh vani merinding ia mengusap tengkuknya untuk menetralkan perasaan anehnya.


"ck! buat merinding aja deh kaya hantu" omel vani lalu berjalan menuju kamarnya.


di negara yang berbeda terlihat yuli sedang berada di dalam dekapan hangat suaminya. setelah selesai dengan olahraga malam keduanya pun tertidur di balik selimutnya.


melihat suaminya yang sudah memejamkan mata lebih dulu di sampingnya, yuli pun hendak ikut tidur namun tiba tiba saja ia kembali kepikiran dengan kakaknya.


"hem, gimana ya keadaan kak vani sekarang apa dia sama bang dika udah baikan? tapi terakhir telpon dia bilang kalo mereka udah enggak tinggal bareng lagi"


"mas ray!" yuli pun membangunkan suaminya yang sudah terlelap.


"hem" mata ray masih terpejam.


"em, pernah enggak sih bang dika curhat sesuatu ke kamu mas. gimana tentang hubungan dia sama kak vani" tanya yuli padahal ia tau suaminya sudah tidur.


"besok pasti kamu pergi kerja lagi mas" yuli kesal karena suaminya selalu sibuk dengan pekerjaan.


"iya iya besok aku libur dan bakal ajak kamu jalan jalan ya sayang"


"serius mas?" yuli tersenyum senang.


"hem"


"atau jangan jangan sekarang kamu lagi mimpi ya makanya ngomong kaya gitu" yuli kembali manyun.


"ck! serius sayang aku janji" ray memeluk tubuh istrinya lebih erat.


"em, okay deh" yuli pun akhirnya ikut tertidur di dalam dekapan suaminya.


hari ini vani dan dika pergi bersama ke kantor cabang.


saat berada di dalam mobil ponsel dika pun berdering menandakan ada panggilan masuk. ia segera menjawab panggilan telpon yang ternyata dari rissa.


Dika: halo, iya riss ada apa?


Rissa: halo, dika kamu di mana sih kok dari kemaren enggak ada di kantor?


Dika: iya riss, aku lagi di luar kota nih ada kerjaan.


Rissa: kamu pergi bareng vani ya?


Dika: iya emangnya kenapa?


dika menatap vani yang berada di sampingnya namun vani hanya menatap lurus ke depan mengabaikan suaminya yang sedang telponan dengan rissa disampingnya.


Rissa: kapan kamu pulang?


Dika: em, belum tau sih mungkin minggu depan.


Rissa: ih lama banget sih kok kamu enggak ajak aku.


Dika: udah dulu ya riss aku sibuk harus meeting nih.


tut!!


dika pun langsung mematikan sambungan telponnya agar rissa tidak terus bertanya yang membuatnya pusing.

__ADS_1


setelah mematikan teleponnya dika menatap vani yang hanya diam saja di sampingnya.


"vani kamu kenapa kok diam terus sih biasanya enggak bisa diam" tanya dika bingung.


"enggak papa pak"


"kamu masih ngantuk ya?"


"iya nih pak" jawab vani asal.


dika hanya tersenyum menahan tawanya saat mendengar jawaban dari sekretarisnya yang aneh itu.


sesampainya di kantor mereka melakukan meeting dengan para staf dan direktur dari beberapa perusahaan lain.


siang harinya vani dan dika memutuskan untuk makan siang di sebuah cafe terdekat dari kantor.


"vani makan yuk"


"iya pak" vani mengangguk.


"ayo dong jalannya cepetan dikit kamu lama banget sih"


dika menggenggam tangan vani mengajaknya berjalan lebih cepat. vani hanya menurut saja mengikuti langkah kaki dika.


akhirnya mereka sampai di cafe lalu duduk berhadapan sambil mencicipi menu di atas meja.


"em, enak juga" dika mencicipi rasa makanannya.


"iya pak enak"


di sela sela makan pasangan suami istri itu, tiba tiba saja ada seorang pria yang menghampiri meja vani dan dika.


"vani!!"


seorang pria yang baru saja lewat menghampiri meja karena merasa mengenali vani yang sedang duduk sambil menikmati makan siang itu.


"eh! mas diki?"


vani tersenyum menatap pria itu yang ternyata adalah diki tetangga vani saat berada di kampung halamannya.


"iya, ternyata kamu juga masih ingat sama aku" diki pun membalas senyuman.


"pasti dong mas, masa aku lupa sih" vani asik mengobrol dengan diki karena sudah lama mereka tidak bertemu.


dika yang melihat interaksi antara dua orang dihadapannya itu pun hanya cuek dan fokus pada makanannya saja.


"oh ya btw kamu ngapain di sini mas?" tanya vani.


"em, iya aku baru buka cabang cafe disini. kamu sendiri ngapain disini?" tanya diki lalu melirik kearah dika yang berada disampingnya.


dika sedang duduk santai sambil menyantap makan siangnya tanpa peduli melihat diki dan vani yang sedang mengobrol itu.


"aku lagi makan siang mas" jawab vani apa adanya.


"haha, iya aku tau tapi maksud aku kenapa kamu ada di kota ini?" diki mengulang pertanyaannya.


"oh, aku lagi ada kerjaan dari kantor untuk beberapa hari aja di sini mas"


"oh gitu em, ini suami kamu ya?" diki menatap ke arah dika yang dari tadi hanya memasang wajah cueknya.


"em itu...ee..." vani bingung menjawabnya.


jika vani mengatakan iya maka dika akan berpikir dirinya hanya mengaku ngaku saja namun jika vani mengatakan tidak juga rasanya tidak mungkin karena dika memang benar suaminya.


"iya, saya suaminya memangnya ada apa ya?"


dika menatap diki dengan tersenyum tipis karena melihat vani bingung harus menjawab apa.


"em, enggak papa mas saya cuma nanya aja emangnya enggak boleh ya"


"enggak" jawab dika dingin.


"hhh!"


diki yang melihat sikap cuek dika itu pun tersenyum malas.


vani hanya diam melihat kedua pria yang sedang berdebat di hadapannya itu.


"ee, ya udah vani kalo gitu aku kesana dulu ya. permisi"


diki tersenyum kepada vani dan hanya melirik dika yang memasang wajah datar.


"iya mas"


vani mengangguk lalu diki pun berjalan menjauh dari sana.

__ADS_1


__ADS_2