
keesokan harinya vani kembali merasa mual di pagi hari, ia berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya hingga benar benar kosong dan membuatnya kembali merasa lemas.
"hoek!!! hoek!!! hoek!!"
"kamu enggak papa kak?"
yuli menopang tubuh vani yang hampir terjatuh.
"aku engga papa kok yul, cuma agak pusing dikit aja"
vani kembali berbaring di atas tempat tidur di bantu oleh adiknya itu.
"ya udah kalo gitu. kamu istirahat dulu deh"
"bukannya kita mau pulang hari ini?"
"iya mungkin sebentar lagi, pak rangga sama pak ray masih di luar"
menjelang siang hari akhirnya mereka pulang bersama vani yang kondisinya masih lemah itu.
sesampainya di rumah vani langsung disambut dengan pelukan hangat dari mama ratih dan ranty juga.
"assalamualaikum"
"walaikumsalam"
"sayang, gimana keadaan kamu nak. kamu baik baik aja kan?" mama ratih memeluk menantunya.
"em, iya ma"
vani mengangguk di dalam pelukan mama mertuannya.
"jaga kesehatan kamu ya sayang"
papa hardi mengusap rambut menantunya itu.
"iya pa"
"selamat ya vani atas kehamilan kamu sekarang kamu jangan sedih lagi ya" ranty pun memeluk vani.
"alhamdulilah mama sama papa senang dengarnya sayang kalian sehat terus ya"
mama ratih kembali memeluk vani. keduanya tersenyum namun air mata masih saja membasahi pipi mereka.
papa hardi dan mama ratih bahagia mendengar kabar kehamilan menantu bungsunya itu meskipun kini putra mereka sudah tiada namun mungkin masih bisa melihat cucunya begitu pikirnya.
"ya udah sekarang kamu istirahat ya sayang. ingat kamu jangan nangis terus nanti kamu bisa sakit kamu enggak boleh stres kasian bayi kamu nanti sayang" mama mengusap lembut rambut vani.
"iya ma kalo gitu vani istirahat dulu ya"
vani mencoba untuk tersenyum meskipun tipis.
"iya sayang pelan pelan ya"
"ayo mbak antar"
ranty memegangi kedua pundak adik iparnya itu bersama yuli yang juga hendak kembali ke dalam kamar agar bisa beristirahat.
mama ratih hanya menatap sendu punggung menantunya yang sedang berjalan itu.
"pa kasian vani" ucap mama ratih
"sabar ya ma kita akan selalu jaga vani dia juga putri kita"
"iya pa"
sesampainya di depan pintu kamar, vani meminta ranty untuk berhenti menemaninya karena dirinya akan masuk sendirian.
"sampe sini aja mbak makasih ya udah nemenin aku"
"oh ya udah kamu istirahat ya jangan nangis lagi oke"
"iya mbak"
vani pun melangkah masuk ke dalam kamarnya yang penuh dengan segala kenangan indah bersama suaminya itu di dalam sana.
hal itu tentu membuat vani kembali mengingat senyuman manis di wajah suaminya apalagi saat mereka sering bercanda dan tertawa.
perlahan vani duduk bersandar di atas ranjangnya lalu tangannya bergerak mengambil figura di atas nakas.
"mas dika aku kangen banget sama kamu"
__ADS_1
setelah merasa lelah menangis vani pun tertidur sambil memeluk bingkai foto suaminya itu.
di dalam kamarnya rangga sedang duduk melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"mas kamu kenapa?"
ranty mengelus lembut pundak suaminya.
"aku lagi mikirin vani sayang. aku enggak tega liat dia,"
rangga menunduk sambil memijat pelipisnya.
"kamu jangan terlalu khawatir mas, vani perempuan yang kuat lagian masih ada kita yang bakalan jagain dia kan" ranty menyemangati suaminya.
"iya sayang. makasih ya kamu udah sayang sama vani kaya adek kamu sendiri" rangga tersenyum tipis.
"iya mas aku udah nganggap dika sama vani itu kaya adek ku sendiri. kamu enggak perlu bilang makasih ya" ranty mengusap lembut lengan suaminya.
"kamu tau kan sayang aku belum sanggup buat nerima kenyataan ini. aku enggak bisa nerima kepergian dika secepat ini apalagi dengan cara kaya gini. dia adek ku satu satunya hhh!"
rangga yang akhirnya meneteskan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan saat di hadapan adik iparnya.
"iya mas aku tau, kita semua juga enggak mau hal ini terjadi sama dika. kita semua sayang sama dika jadi kamu harus kuat ya liat vani mas dia bakal ngerasa lebih rapuh kalo ngeliat kita juga nangis" ranty memeluk suaminya.
"dika, kalo gue tau ini bakal terjadi gue enggak akan pergi ke london dik. enggak akan"
air mata seorang abang yang sangat kehilangan adik semata wayangnya itu.
"kamu tenang ya mas. kalo kamu kaya gini nanti kamu bisa sakit. kita berdoa aja semoga semuanya tabah menerima ini" ranty terus memeluk suaminya.
setelah air mata kesedihannya tumpah akhirnya rangga pun memutuskan untuk beristirahat sejenak karena merasa kepalanya pusing sejak kemarin.
"ya udah sayang. tolong kamu jagain rara dulu di luar ya aku pengen istirahat sebentar"
rangga menarik diri lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"iya mas. kamu istirahat ya"
ranty pun melangkah keluar dari dalam kamarnya untuk mencari keberadaan putrinya yang sedang bermain di taman belakang.
di taman belakang rumah yuli dan hana sedang duduk di bangku taman. mereka masih merasa bingung dengan keadaan kakaknya sekarang sedangkan keluarga mereka yang lain sudah kembali ke kampung halamannya sejak kemarin karena banyak pekerjaan juga yang tidak bisa di tinggalkan terlalu lama.
"kak, emang bener ya kalo kak vani lagi hamil?"
"iya" yuli mengangguk.
"em, harusnya kak vani bahagia banget tapi sekarang dia cuma bisa nangis. aku enggak tega deh kak liatnya aku pengen hibur dia juga bingung gimana caranya" hana pun sedih.
"iya sama. sekarang kayanya yang dia butuhin cuma bang dika biar kak vani bisa senyum lagi"
"tapi kan,,"
"jangan bahas itu lagi lah aku jadi makin sedih nih. bang dika tuh orangnya baik banget jadi Allah sayang sama dia" yuli meneteskan air matanya.
"iya kak tapi kak vani kan juga sayang sama dia.."
"haisss kamu tuh ya"
yuli menatap adiknya membuat hana terdiam.
"kan emang bener kak"
"kita semua juga sayang sama bang dika han apalagi keluarganya, kamu liat kan bapak dan ibu wijaya sedih banget deh harus kehilangan anak kesayangannya dengan cara kaya gini"
"iya kak pak rangga juga nangis baru kali ini deh aku liat pak rangga sama pak ray nangis padahal biasanya mukanya pada datar"
hana juga membayangkan wajah sedih dari kedua pria itu.
"haishh ngapain juga kamu merhatiin mukanya bapak bapak itu. ya jelaslah mereka sedih karena adek satu satunya meninggal"
"iya tapi udah takdir semoga bang dika bahagia di sana"
"iya semoga keluarga yang di tinggalkan juga di kasih kesabaran buat nerima kenyataan ini"
"amin"
"oh ya kak kapan kita pulang. em, apa kita enggak bakal ngerepotin kalo tinggal disini terus?" tanya hana.
"aku juga bingung han, aku ngerasa enggak enak sih kalo kita tinggal disini terus apalagi kita enggak punya kerjaan sekarang tapi aku juga enggak tega kalo ninggalin kak vani sendiri apalagi sekarang dia lagi hamil. ya meskipun sebenarnya dia enggak sendirian sih disini" yuli bingung.
"iya kak, kasian kak vani di saat lagi kaya gini dia butuh banget dukungan dari kita semua"
__ADS_1
"hem"
saat mereka masih termenung sedih ranty pun datang menghampiri keduanya
"ehem.."
ranty mendekati dua gadis yang sedang kebingungan itu.
"boleh mbak gabung?" tanya ranty menatap mereka.
"eh mbak ranty, boleh banget mbak"
mereka mengangguk bersama dengan tersenyum.
"makasih" ranty pun duduk di hadapan mereka.
"em oh ya kalian tadi lagi ngomongin apa sih?"
ranty sebenarnya sudah sempat mendengarnya.
"eh, enggak ngomongin apa apa kok mbak" yuli canggung
"mbak denger kalian mau pulang ya?" tanya ranty
"em, iya kita enggak enak kalo terus ngerepotin di sini mbak" yuli menjawab pelan.
"kalian jangan ngomong kaya gitu dong kalian ini kan adek dari nyonya pemilik rumah ini jadi kalian enggak mungkin ngerepotin disini. kalian mau kan tetap tinggal disini buat nemenin vani seenggaknya sampe nanti keadaan vani lebih baik lagi, kalian tau kan sekarang dia masih butuh banget dukungan dan semangat dari kalian juga"
ranty membujuk keduanya agar tetap tinggal.
"em, iya mbak. ya udah kami bakal tetap disini buat nemenin kak vani sampe nanti dia bisa menerima semuanya dengan baik"
yuli menjawab dengan tersenyum canggung.
"makasih ya. kalo gitu mbak ke dalam dulu ya mau nemenin rara main"
ranty berdiri dari duduknya hendak masuk ke dalam rumah.
"iya mbak" mereka mengangguk secara bersamaan.
malam harinya keluarga wijaya sedang makan malam bersama di meja makan. mereka menatap vani yang terlihat hanya mengaduk aduk makanan di piringnya saja tanpa berniat untuk memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"vani, ayo di makan sayang dikit aja ya" bujuk mama ratih.
"em, vani enggak selera ma" jawabnya menunduk.
"vani, apa kamu pengen makan sesuatu? kalo ada yang pengen kamu makan bilang aja sama mbak ya nanti mbak masakin buat kamu" ranty pun bertanya.
vani hanya menggelengkan kepalanya sambil masih menunduk.
"tapi kamu harus makan dikit aja vani itu pun kalo kamu sayang sama bayi kamu"
rangga berbicara dingin hanya berusaha untuk terlihat tegar di hadapan vani.
rangga berpikir jika semua orang hanya bersikap lembut kepadanya maka vani akan terus menangis.
ranty pun menatap suaminya yang bersikap ketus itu namun beberapa saat kemudian vani mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
semua orang yang melihatnya pun tersenyum akhirnya vani mau memakan makanannya.
setelah selesai makan malam mereka pun kembali duduk di dalam ruang keluarga untuk berbincang.
semuanya sedang duduk di sofa dalam ruangan itu.
"pa, kalo emang anak kita udah meninggal dan jasadnya hanyut di sungai itu mama mau pergi kesana buat liat tempat itu sekalian nabur bunga kepergian anak kita pa"
mama ratih sedih memecah keheningan sebelumnya.
mendengar permintaan dari istrinya papa hardi pun setuju untuk mengunjungi tempat terakhir anak bungsunya itu besok karena ia juga ingin melihat tempat itu secara langsung. tempat yang menjadi saksi bagaimana kecelakaan itu sudah merenggut nyawa putra bungsunya.
"baiklah ma besok kita semua akan kesana"
papa hardi sudah memutuskannya.
saat mengingat tempat itu vani kembali meneteskan air matanya dalam diam. ia tidak sanggup untuk melihatnya lagi namun rasanya vani juga ingin kembali kesana.
yuli yang setia berada di samping kakaknya mengusap lembut pundak vani saat melihatnya menunduk sedih.
"maaf, permisi tuan nyonya ada tuan ray yang datang"
kepala pelayan yang datang memberi tahu.
__ADS_1
"baiklah"
papa hardi mengangguk lalu pelayan itu pun pergi.