
malam harinya setelah kondisi vani lebih membaik, dika mengajak vani untuk melihat keadaan arin karena vani terus saja memaksanya.
ceklekk!
dika mendorong kursi roda vani masuk ke dalam ruangan arin. mereka melihat arin yang sudah sadar namun masih terbaring di atas bankarnya.
"gimana keadaan kamu arin?" tanya dika saat mereka sudah berada di samping bankar arin.
"aku udah lebih baik mas, tapi kaki ku..."
arin merasa sedih karena kakinya tidak bisa digerakkan.
"udah jangan nangis ya, kaki kamu pasti baik baik aja"
dika memeluk arin berusaha untuk menenangkannya.
melihat suaminya memeluk wanita lain di hadapannya vani pun berusaha untuk mengerti dan menahan rasa cemburu di hatinya karena keadaan arin yang saat ini sedang sedih.
rangga yang melihat tindakan reflek dika itu pun berusaha untuk mengajak vani berbincang agar ia tidak terlalu fokus menatap ke arah dika dan arin yang sedang berpelukan.
"vani, kamu baik baik aja kan?"
rangga yang melihat vani menunduk sedih
"em, iya mas" vani pun mengangguk.
dika dan vani memang akan selalu merasa berhutang budi kepada arin karena gadis itu pernah menyelamatkan dika saat kecelakaan dan juga menolong vani yang hampir terjatuh dari atas tangga.
hal itu membuat vani selalu berusaha untuk menahan diri meskipun hatinya merasakan cemburu kepada arin yang mendapat perhatian lebih dari suaminya.
namun entah mengapa, karena ingin menunjukkan rasa terima kasihnya yang sangat besar kepada arin membuat dika harus memberikan banyak perhatian kepada gadis itu.
dika juga selalu menyuapi arin untuk makan ketika berada di rumah sakit namun vani hanya mampu terdiam melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hati itu di depan matanya.
keesokan harinya, arin sudah di perbolehkan pulang oleh dokter namun ia tetap harus check up secara rutin agar kakinya kembali pulih dengan cepat.
sesampainya di rumah dika pun mendorong kursi roda arin hingga masuk ke dalam kamar lalu ia juga menggangkat tubuh arin dan merebahkannya di atas ranjang agar arin dapat beristirahat dengan baik.
"sekarang kamu istirahat aja ya. ingat! jangan berusaha buat jalan dulu karena dokter belum mengijinkan"
peringat dika sambil tersenyum menatap arin.
"iya, makasih ya mas"
arin pun tersenyum saat tatapan mereka bertemu.
"ya udah aku keluar dulu ya kamu tidur aja kalo butuh sesuatu kamu bilang aja ke aku oke"
dika tersenyum manis membuat arin merasa tersipu dengan tatapan dan senyuman itu.
"em" arin hanya mengangguk sambil menundukkan pandangannya untuk menjawab karena merasa gugup.
dika pun keluar dari dalam kamar arin dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
ceklek!!!
dika masuk ke dalam kamarnya dan tersenyum melihat vani yang sedang duduk di atas ranjang sambil mengusap lembut perut buncitnya.
"sayang?" dika mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"iya mas"
"gimana perut kamu masih sakit enggak?"
dika mengelus calon bayinya.
"udah baikan kok mas"
"oh ya, jagoan papa sehatkan di dalam sayang?"
dika mendekat lalu mengecup perut istrinya.
"iya papa"
__ADS_1
vani tersenyum sambil mengusap rambut dika yang sedang mengajak calon bayinya berbicara itu.
"hehe dia gerak sayang"
"he'em" vani pun mengangguk.
hari hari berganti setiap harinya dika juga selalu perhatian dan memperlakukan arin sama seperti yang arin lakukan kepadanya saat dika sedang dirawat di rumah sakit waktu itu. karena pada saat itu hanya arin yang selalu menjaga dan merawatnya dengan penuh perhatian termasuk menyuapi dika saat makan.
dika sangat ingin membalas kebaikan arin dengan memperlakukan gadis itu juga seperti yang sudah arin lakukan kepada dirinya beberapa bulan lalu.
"makasih ya mas kamu udah perhatian banget sama aku" ucap arin.
"kamu enggak usah sungkan arin lagian kan waktu itu kamu juga udah ngerawat aku dengan tulus dan sekarang aku yang bakal rawat kamu sampe kamu sembuh"
dika tersenyum arin pun membalas senyuman itu.
sebagaimana dulu waktu dika selalu mengantar vani rutin kontrol ke dokter saat kaki vani sedang mengalami retak tulang begitu pula ia melakukan hal yang sama pada arin.
hal itu yang membuat vani semakin merasakan cemburu. ia takut jika suaminya itu terus memperlakukan arin sama seperti saat dika memperlakukannya tidak menutup kemungkinan jika dika juga akan mencintai arin seperti dika jatuh cinta kepada vani dulu.
'dulu kamu juga sebaik itu sama aku mas sampe aku benar benar jatuh cinta liat kebaikan kamu. tapi aku berharap kamu enggak akan jatuh cinta sama arin sama kaya kamu jatuh cinta sama aku dulu' batin vani yang setiap harinya harus melihat suaminya perhatian kepada wanita lain di hadapannya.
hari ini saat vani hendak menyuapi arin makan justru arin meminta agar dika saja yang menyuapi dirinya untuk makan membuat vani merasa sedikit kesal dengan sikap arin yang semakin seenaknya.
namun dika juga tidak menolaknya, dengan senang hati ia menyuapi arin dengan lembut membuat vani setiap hari merasakan cemburu di hatinya.
"mbak aku suapin ya"
vani memegang sendok bubur hendak menyuapi arin makan.
"enggak usah vani mas dika enggak keberatan kan buat nyuapin aku" arin menatap dika.
"em, iya aku enggak keberatan kok arin sini sayang biar aku aja yang suapin arin kamu istirahat ya"
dika tersenyum kepada istrinya.
"tapi mas,,"
"udah sayang enggak papa sana kamu istirahat duluan ya"
dika meminta vani untuk kembali ke dalam kamar mereka.
vani berpikir jika ia kembali ke kamar itu berarti suaminya akan berduaan saja dengan arin di dalam kamar itu.
karena dika yang memintanya untuk beristirahat vani pun akhirnya keluar dari dalam kamar arin dan meninggalkan suaminya berdua saja dengan wanita lain di dalam kamar itu.
entah itu permintaan arin yang terlalu berlebihan, atau memang kondisi emosi vani yang sedang tidak stabil akibat hormon hamil yang di alaminya hingga membuat dirinya merasa kesal.
"kamu makan yang banyak ya arin biar cepat sembuh. nanti kalo kamu udah sembuh aku bakal ajak kamu jalan jalan" dika berjanji sambil tersenyum.
"beneran mas. em, padahal tadinya aku enggak mau cepat sembuh" arin tersenyum.
"loh emangnya kenapa kok kamu enggak mau cepat sembuh sih?"
"iya karena kalo aku sembuh nanti pasti kamu enggak bakal perhatian lagi sama aku kaya sekarang mas"
"siapa bilang aku bakalan tetap perhatian sama kamu sampe kapan pun arin jadi kamu harus cepat sembuh ya"
"beneran mas?" arin menatap dika.
"iya dong" dika kembali tersenyum.
"makasih ya mas kamu baik banget deh"
"iya aku tau semua orang juga bilangnya gitu" dika dengan pedenya.
"haha pede banget deh tapi emang bener sih" arin tertawa mendengarnya.
"haha iya dong" dika tertawa kecil
keduanya saling bertatapan dengan senyuman manis yang menghiasi bibir masing masing.
setelah selesai menyuapi arin makan, dika pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menemui istrinya.
__ADS_1
ceklekk!!!
dika masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang duduk bersandar di atas ranjang mereka dengan wajah murung. ia pun mendekat dan duduk di samping istrinya.
"sayang, kamu kenapa kok murung gitu?"
dika memegang dagu vani sambil tersenyum menatap istrinya.
"mas, kamu jangan terlalu perhatian sama arin lagi ya. aku enggak suka liatnya"
vani berkata jujur karena ia tidak terlalu suka dengan sikap dika akhir akhir ini yang selalu memanjakan arin.
"sayang kamu ini kenapa sih arin sakit kaya gitu juga kan karena dia udah nolongin kamu masa gitu aja kamu kesel kalo bukan kita terus siapa yang bakal ngerawat arin hem? kamu tau kan dia udah enggak punya keluarga lagi" dika memberi pengertian kepada istrinya.
"iya mas aku tau tapi kamu liat kan, arin itu makin kesini makin keseringan pengen di manja sama kamu. aku cemburu tau" vani terus terang dengan perasaannya.
"sayang,,,"
"mas, yang sakit itu kakinya arin bukan tangannya jadi dia bisa makan sendiri kamu enggak usah suapin terus"
"kan tangan arin juga sakit sayang"
"tapi yang satunya enggak tuh"
"sayang kamu itu lucu banget deh pake cemburu segala lagi. udah ya kamu enggak usah cemburu lagi sama arin"
"kenapa emangnya kalo aku cemburu. harusnya kamu itu ngejaga perasaan aku sebagai istri kamu dong mas"
"emangnya aku ngelakuin apa sih sayang, pliss udah ya kamu jangan marah marah terus itu enggak baik buat kandungan kamu. lagian kamu tau kan aku tuh cintanya cuma sama kamu doang. udah ya aku capek mau istirahat"
dika pun merebahkan dirinya dan langsung memejamkan mata untuk tidur.
sedangkan vani hanya menatap suaminya yang sudah tidur tanpa mengajak dirinya seperti biasa itu.
hari terus berganti hingga bulan pun ikut berganti namun semakin hari vani semakin merasa kesal saja dengan sikap suaminya itu.
sering kali vani sengaja bersikap cuek kepada dika karena merasa kesal dengan suaminya yang selalu saja membuat dirinya merasa cemburu akhir akhir ini.
bukan membujuk vani seperti biasa agar tidak ngambek lagi kepada dirinya namun dika justru hanya diam saja dan membiarkan sikap cuek istrinya itu karena ia berpikir jika vani seperti itu hanya karena istrinya sedang hamil yang membuat moodnya suka berubah ubah.
kesibukannya di kantor juga membuat dika tidak punya banyak waktu untuk bercanda bersama istrinya. bahkan untuk sekedar mengelus lembut perut vani dan mengajak calon buah hatinya berbincang seperti biasanya sehabis pulang kantor pun tidak.
sepertinya sekarang dika tidak sempat meluangkan waktu untuk memperhatikan istrinya lagi begitu lah yang vani rasakan selama lebih dari satu bulan terakhir.
karena kini dika justru menyibukkan diri untuk merawat arin saat ia berada di rumah.
saat ini dika sedang berada di dalam kamar arin, karena ia hendak mengajak arin untuk berlatih jalan perlahan.
"arin ayo aku bantuin kamu berdiri buat melatih tulang kaki kamu"
dika meminta arin untuk berdiri dari kursi rodanya sedangkan dika yang akan memeganginya berjalan.
"iya mas makasih ya" arin hendak berdiri secara perlahan.
"ayo hati hati"
dika mengangkat kedua tangannya untuk menjaga arin agar tidak jatuh.
arin berdiri secara perlahan lalu mencoba untuk melangkahkan kakinya.
"wah, aku bisa mas" arin tersenyum senang.
"iya ayo sedikit lagi" dika terus mengawasi.
arin terus mencoba untuk berjalan namun tiba tiba saja ia kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"aakkhh!!!" teriak arin merasa kakinya sakit.
"arin awas!"
dika pun menarik tubuh arin ke arahnya namun akhirnya membuat tubuh mereka terjatuh bersamaan di atas ranjang.
tatapan mereka bertemu dengan kini tubuh dika berada dibawah tubuh arin yang sedang menimpanya dan lengan dika juga memeluk erat pinggang arin.
__ADS_1