
suatu malam di kediaman wijaya papa hardi dan istrinya sedang duduk berdua di sebuah kursi santai yang berada di belakang rumah mereka sambil berbincang.
"ma di mana sekarang dika sama vani tinggal ya, kenapa mereka enggak pulang udah dari beberapa hari?"
papa hardi menatap istrinya yang berada di sampingnya.
"mama juga enggak tau pa tapi rangga bilang sekarang mereka lagi tinggal bareng di rumah mereka kok"
"oh ya, syukurlah kalo mereka tinggal bersama ma"
"iya pa. kita doain aja yang terbaik buat mereka ya"
"tapi ma, kenapa dika ninggalin arin gitu aja ya gimana sama nasib arin dan bayinya nanti?"
papa hardi semakin bingung dengan masalah yang terjadi pada putra bungsunya itu sedangkan sekarang dika terlihat selalu menghindar dari masalahnya sendiri.
"rangga bilang biarin mereka bersama sampe cucu kita lahir nanti pa karena kemungkinan habis itu vani bakal pergi ninggalin dika" mama ratih hanya menunduk sedih.
"hem, papa juga bingung ma kita enggak mungkin mihak salah satu karena keduanya cucu kita juga"
papa hardi memeluk istrinya dari samping.
"tapi mama kangen sama vani pa biasanya dia yang paling ceria di rumah tapi belakangan ini dia sering nangis dan sekarang malah pergi dari rumah. mama ngerti mungkin dia enggak mau ngeliat arin dekat sama dika tapi kalo vani benar benar pergi dari hidup dika gimana pa?"
"kita doain aja yang terbaik buat anak anak kita ma"
papa hardi hanya bisa menyemangati istrinya agar tidak sedih lagi.
"iya pa mama juga selalu doain anak anak kita"
"ya udah sekarang kita istirahat aja ya ma"
"iya pa" mama ratih mengangguk.
keesokan harinya arin memutuskan untuk pergi ke butik hendak menemui vani karena dirinya yakin vani pasti sedang berada disana.
sudah beberapa hari ini arin mencoba untuk menghubungi ponsel atau mengirim pesan kepada dika namun tidak ada respon atau balasan apapun dari dika membuat arin merasa kesal. ia yakin saat ini dika pasti sedang bersama dengan vani.
hari ini vani memang sedang berada di butik tepatnya di dalam ruangan kerjanya.
tok! tok! tok!
"masuk"
ceklek!!
pintu ruangan terbuka yuli datang hendak memberi tahu kepada vani tentang kedatangan arin yang ingin bertemu.
"kak vani ada arin tuh pengen ngomong sama kamu katanya"
yuli sudah masuk ke dalam ruangan kakaknya.
"arin, mau ngomong apa ya?" vani pun bingung.
"enggak tau tuh" yuli hanya mengendikkan bahunya.
"ya udah yul, kamu suruh dia masuk aja ya"
vani meminta agar arin langsung masuk ke dalam ruangannya saja.
"oke"
yuli mengangguk lalu berjalan keluar memanggil arin untuk ikut masuk ke dalam ruangan vani.
"di suruh masuk tuh" yuli menatap malas pada arin.
"em"
__ADS_1
arin mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam ruangan vani dan langsung duduk di atas sofa.
setelah melihat arin masuk dan sudah duduk di atas sofa dalam ruangannya itu vani pun beranjak dari duduknya lalu ikut duduk saling berhadapan dengan arin.
"mbak arin ada apa kata yuli kamu mau ngomong sesuatu sama aku ya?" vani menatap arin.
"em, iya vani aku mau bicara sesuatu sama kamu apa boleh?" arin juga menatap vani.
"iya boleh silahkan"
vani menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis kepada arin.
arin pun beralih menatap yuli yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
yuli tetap berada di dalam ruangan itu hingga arin keluar karena merasa takut jika keduanya akan saling bertengkar.
"yuli bakal tetap ada di sana jadi jangan hirauin dia mbak ayo sekarang bilang apa yang mau di bicarain sama aku"
vani menatap arin memintanya untuk langsung berbicara.
"em oke, aku mau nanya sama kamu apa sekarang mas dika lagi tinggal bareng kamu soalnya udah beberapa hari ini dia enggak pulang ke rumah" tanya arin menatap vani.
mendengar pertanyaan itu yuli pun langsung menunjukkan ekspresi kaget. ia merasa kesal karena arin berani bertanya tentang dika kepada vani.
"iya mas dika pasti tau kemana tempat dia untuk pulang"
vani menjawab dengan tenang namun arin merasa tersinggung atas sindiran dengan suara lembut itu.
"tapi vani kamu tau kan anak aku juga butuh kasih sayang dari ayahnya tolong kamu juga ngerti"
ucapan arin membuat emosi yuli semakin memuncak mendengarnya karena terlalu berani berkata seperti itu.
'ya ampun dasar enggak tau malu beraninya dia bicara kaya gitu ke kak vani emangnya apa hak dia sama suami kakak ku? kak vani kamu sabar banget sih ngadepin cewek kaya arin. kalo aku jadi kamu udah habis mukanya itu aku cakar cakar' batin yuli menahan rasa kesalnya.
"aku tau mbak arin aku juga ngerti kok keinginan kamu makanya aku pergi dari rumah itu tapi mas dika sendiri yang datang ke aku" vani mencoba untuk tetap tenang.
arin semakin bersikap seakan dirinya sudah memiliki hak atas dika.
"mungkin anak aku bakal dapat kasih sayang dari papanya cuma sampe dia lahir nanti jadi tolong kamu sabar ya setelah anak aku lahir pasti kamu bisa milikin mas dika seutuhnya. lagian sekarang kalian belum nikah jadi lebih baik kalian jaga jarak satu sama lain dulu"
vani sudah sangat berusaha untuk menahan air matanya karena ia memang sangat lemah jika harus membahas tentang suaminya. suami yang sangat dicintainya namun harus rela ia lepaskan kepada wanita lain.
"baiklah kalo gitu aku pulang sekarang"
arin berdiri lalu melangkah menuju pintu keluar dari dalam ruangan vani.
yuli menatap tajam pada arin karena sudah membuat vani kembali menangis sebab ulahnya.
setelah arin keluar dari dalam ruangan kakaknya itu yuli pun melihat vani sedang tertunduk menutup wajah sambil menangis menumpahkan rasa sesak di dalam dadanya.
arin datang menemui vani seakan jika vani adalah wanita yang sudah merebut dika darinya padahal sebaliknya arin sendirilah yang sudah merebut dika dari vani dengan cara yang menjijikan pikirnya.
yuli mendekati vani lalu memeluk kakaknya yang sedang menangis itu.
"kamu kenapa malah nangis sih kak harusnya kamu tampar cewek yang enggak tau malu itu karena dia udah berani nanya tentang suami kamu sendiri ke kamu" yuli mengusap punggung vani.
saat ini yuli terlihat seperti seorang kakak yang mencoba untuk menenangkan adiknya yang sedang menangis.
vani hanya terisak di dalam pelukan sang adik karena merasa dirinya sangat sedih.
"udah ya kamu jangan nangis lagi, kamu pasti kuat jangan pernah terlihat lemah di hadapan orang yang ingin melihat penderitaan kamu" yuli menenangkan vani.
vani terdiam lalu ia menarik diri dari dalam pelukan adiknya sambil menghapus air matanya itu.
"em iya"
"kalo aku jadi kamu udah habis tuh muka arin yang sok polos dan sok lugu itu aku cakar cakar tau gak"
__ADS_1
yuli kembali kesal mengingat wajah polos arin.
"udah deh yul aku enggak mau bahas dia lagi" vani menatap lurus ke depan.
"ya udah kalo gitu kamu harus janji sama aku enggak bakalan nangis lagi habis ini"
yuli menyodorkan jari kelingkingnya karena tidak ingin melihat vani terus menangis karena ulah arin namun vani tidak menjawabnya dan hanya menatap jari kelingking adiknya itu lalu mengabaikannya.
sore harinya vani kembali pulang bersama kedua adiknya ke rumah mereka.
kebetulan hari ini dika pulang dari kantor lebih awal dan saat ini ia sudah sampai di rumah sebelum istrinya pulang dari butik.
setelah menunggu dika melihat kepulangan istrinya lalu tersenyum menyambutnya di depan pintu.
"sayang kamu udah pulang?"
dika memegang kedua pundak istrinya dari samping sambil berjalan.
vani hanya tersenyum tipis menanggapinya lalu terus melangkah menuju kamar hendak segera mandi karena hari sudah sore.
dika merasa bingung mengapa istrinya itu terlihat sangat sedih dan tidak bersemangat hari ini padahal pagi tadi mereka masih baik baik saja pikirnya.
"yuli kakak kamu kenapa ya kok kaya sedih banget?"
dika bertanya pada yuli yang sedang berjalan di belakang mereka ia yakin yuli pasti mengetahui penyebabnya.
"iya gimana kak vani enggak sedih bang dika, tadi itu arin datang ke butik terus nanyain tentang kamu ke kak vani. dia keliatan kaya seorang istri yang lagi nyariin suaminya terus nanya ke selingkuhan suaminya. dimana suamiku?"
yuli menjelaskan dengan tatapan kesal lalu berjalan menuju kamarnya bersama hana.
mendengar penjelasan dari yuli membuat dika tersulut emosi karena arin nekat menemui vani dan menanyakan tentang dirinya.
"berani banget arin nemuin vani terus nanyain tentang aku ke istriku sendiri lagi" gumam dika bergegas keluar dari rumahnya.
dika langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tuanya.
sesampainya di rumah orang tuanya dika langsung melangkah masuk ke dalam untuk menemui arin.
melihat dika yang sudah pulang ke rumah arin tersenyum menyambutnya ia senang karena dika pulang untuknya.
"mas dika, kamu udah pulang aku tau kamu pasti kangen sama anak kita iya kan?" arin langsung memeluk dika.
"enggak! aku datang ke sini cuma mau ngingetin kamu buat jangan pernah nemuin istriku lagi arin. apalagi sampe bicara sesuatu yang enggak seharusnya kamu ucapin ke dia" dika melepaskan pelukan arin dari tubuhnya.
"maksud kamu apa mas, aku enggak ngerti"
"kamu kan yang nemuin vani di butik tadi. ingat arin! aku ini suami vani dan kamu enggak punya hak apapun atas aku jadi jangan pernah nyari sesuatu yang bukan milik kamu"
"tapi aku ini lagi ngandung anak kamu mas dika, bentar lagi kita juga bakalan nikah vani sendiri yang bilang kalo kamu bakal jadi milik aku seutuhnya setelah anak kalian lahir nanti"
arin menatap dika dengan mata yang berkaca kaca.
"jangan mimpi kamu arin! semua yang kamu ucapin itu enggak bakal jadi kenyataan karena anak itu bukan anak aku dan aku juga enggak bakalan nikahin kamu apalagi sampe harus pisah sama istri yang aku cintai. sampe kapan pun aku cuma milik vani seorang kamu ngerti?"
dika pun berbalik badan hendak segera pergi.
"tapi mas dika, kenapa kamu tega enggak mau ngakuin anak kamu sendiri. kamu harusnya bersikap adil sama kedua anak kamu karena anak kamu bukan cuma yang ada di dalam kandungan vani aja tapi anak aku ini juga anak kamu"
arin menahan tangan dika dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"lepasin!! sekali lagi aku tegasin sama kamu kalo anak itu bukan milikku arin, titik!"
dika menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman arin lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan arin yang menangis.
"kamu enggak bisa lakuin ini sama aku mas kamu jahat mas dika, kamu jahat!!" hiks! hiks!
arin berteriak histeris di dalam ruangan hingga terduduk di atas lantai.
__ADS_1
mama ratih dan papa hardi datang mendekati arin karena mereka mendengar suara tangisan dan teriakkan arin yang histeris itu.