
jam makan siang pun tiba, tak sengaja di lobby karin melihat vani baru saja keluar dari dalam lift bersama tiga pria tampan yang tidak lain adalah dika rangga dan sekretaris ray.
karin melihat dengan tidak suka kedekatan dika dan vani yang sedang berjalan berdampingan di iringi senyum bahagia diantara keduanya.
sekarang karin ingat jika yang menggantikan posisinya menjadi sekretaris rangga adalah gadis yang ia temui di dalam ruangan dika waktu itu.
"ternyata dia bukan cuma menggantikan posisi ku sebagai sekretaris bos disini, tapi dia juga mau menggantikan posisi ku jadi calon nyonya muda wijaya" gumam karin menatap sinis.
"hhh! enggak akan ku biarkan..."
karin menyeringai lalu ia berjalan mendekati vani dan dika di lobby.
melihat karin datang, mereka yang sedang berjalan pun langsung menghentikan langkah secara bersamaan.
"hai sayang, kalian mau makan siang ya?"
karin menatap dika dan rangga secara bergantian.
"em" dika hanya mengangguk menanggapinya.
"kalo gitu aku ikut ya"
karin mendekat membuat vani menjauh dari sisi dika.
"ck! karin, kamu kan bisa makan di kantin aja"
tolak dika menjauhkan karin dari lengannya.
"kamu kenapa sih sayang, kan aku cuma mau ikut makan siang bareng kalian aja kaya biasa"
karin menatap ketiga pria itu dengan senyum.
"iya tapi,,,"
"tapi apa? karena ada dia.." karin melirik sinis pada vani di sampingnya.
"karin,,,"
ucapan dika masih menggantung namun rangga langsung menimpalinya.
"sudah! jangan debat disini, ayo kita langsung makan siang bareng aja. kamu boleh ikut karin"
ujar rangga tak mau ada perdebatan disana.
"makasih mas" karin tersenyum penuh kemenangan.
akhirnya mereka berjalan keluar dan makan siang bersama di sebuah restoran yang biasa mereka kunjungi.
kedua bos dan sekretaris itu duduk bersama di satu meja yang sama karena memang mereka akan makan siang bersama.
saat sedang makan, seperti biasa karin selalu bersikap manja sambil memeluk lengan dika.
terlebih lagi ada vani disana yang membuat suasana semakin memanas. kesempatan bagi karin untuk membuat gadis itu kesal pikirnya.
melihat dika hanya diam saja menuruti semua keinginan karin membuat vani merasa cemburu namun sebisa mungkin ia tak terpancing emosi kepada wanita di samping kekasihnya itu.
"sayang, kamu kok diam aja sih. ayo makan, aku suapi ya" ujar karin tersenyum.
terlihat saat ini dika sedang duduk di antara kedua gadis itu sedangkan rangga dan ray duduk di hadapan mereka.
sebenarnya rangga ingin tertawa melihat dika yang bingung akan dua pilihan di sampingnya.
keduanya adalah gadis yang cantik dan pintar namun mereka memiliki sikap yang berbeda.
rangga dan ray hanya menahan tawa karena merasa kasihan melihat dika yang pusing dengan kedua gadisnya itu.
"enggak usah, aku bisa makan sendiri kok" dika menolak suapan dari karin.
"ya udah, kalo gitu kamu aja yang suapi aku ya"
karin tidak kehabisan cara untuk merayu dika.
"males ah, kamu kan bisa makan sendiri"
"tapi makan di suapi kamu lebih enak sayang"
karin sengaja melirik vani sambil pamer kemesraan.
"ck! kalian bisa engga sih, makan aja jangan berdebat terus. buat pusing aja deh"
ucapan rangga sukses membuat karin terdiam.
dika menoleh kearah vani, menatap kekasihnya itu sedang asik makan makanan miliknya tanpa menoleh sedikit pun. seakan tak perduli dengan mereka yang sejak tadi suap suapan disana.
"sayang, kamu kok diem aja sih?" bisik dika kepada vani berharap jika kekasihnya itu akan bersikap manja juga kepadanya.
vani hanya diam saja dan mengabaikan ucapan dika, karena menurutnya kekasihnya itu sangat plin plan terhadap dua wanita di sampingnya.
"vani, kamu mau aku suapi gak?" ray sengaja ingin menambah panas suasana hati dika.
rangga yang mendengarnya semakin sakit perut menahan tawa karena kelakuan tiga sekretarisnya itu.
"ckckck...!"
dika melotot kearah ray namun sekretarisnya itu tidak memperdulikan bosnya.
"boleh mas" vani pun mengangguk
dika semakin kesal karena vani malah mengangguk mau.
"ayo, buka mulut aaa...."
ray hendak menyuapi vani namun dengan cepat dika langsung memakan suapan dari ray itu.
seketika semua orang bengong melihat tingkah dika yang random.
"ih sayang, kok kamu malah mau di suapi sama ray sih?"
__ADS_1
kesal karin menepuk lengan dika karena tadi kekasihnya itu menolak suapan darinya.
"ppfftt....!!!!
rangga menutup wajah karena tak kuasa menahan tawa hingga wajahnya memerah.
*
di suatu sore yang mendung, dika melihat vani berjalan keluar dari dalam gedung kantor. ia pun mengajak gadis itu untuk pulang bersama mengingat belakangan ini mereka sudah jarang sekali pulang bareng.
"sayang, aku anterin kamu ya"
ujar dika berjalan mendekati vani.
"enggak usah, aku udah pesen taksi kok mas"
jawab vani sambil terus berjalan.
"sayang,, pliss...."
dika menghentikan langkah vani dengan menahan tangannya.
"kamu pulang bareng calon istri kamu aja ya"
vani melepaskan genggaman tangan dika lalu melangkah pergi dari sana.
"ck, hhh!" dika menghembuskan nafas kasar.
karena sekarang ia sangat sulit untuk bisa mendapatkan hati gadis itu lagi pikirnya.
-
hari demi hari terus berjalan, karin yang tidak mau menjadi sekretaris direktur di kantor itu pun memutuskan untuk menjadi sekretaris cadangan dika saja.
ray yang merasa kesal atas keputusan dika pun akhirnya sengaja memberi banyak pekerjaan beratnya kepada karin agar gadis itu menyerah dan berhenti mengganggu pekerjaannya.
"karin, lo ngapain sih disini terus. ini meja kerja gue tau enggak" kesal ray karena karin duduk di sampingnya.
"biarin ajalah, lagian pak dika udah setuju kok gue disini" karin melirik ray lalu memalingkan wajahnya.
"ck! lagian dika ada ada aja deh, ngapain coba nyatuin gue kerja disini bareng karin" gumam ray kesal.
tak lama ray melihat dika yang sedang berjalan menuju ruangannya lalu menghentikan langkah bosnya yang hendak masuk itu.
"eh bos!" panggil ray
"ada apa sih ray? gue lagi sibuk nih" ucap dika menoleh.
"nih, bawa sekretaris cadangan lo ini pergi. gue males di ganggu terus, lagian lo pikir sekretaris itu kaya pemain bola ya pake cadangan segala" protes ray kepada dika.
"ya udahlah biarin aja karin disitu" ucap dika malas.
"udah lo pecat aja deh" ray juga malas debat.
"ih! enak aja ya lo berdua. gue enggak mau di pecat" karin kesal mendengarnya.
"lagian lo ngapain disini. semua kerjaan juga gue yang ngerjain" ray menatap kesal karin.
"ck! karin lepasin" dika melepaskan pelukannya.
"enggak! pokoknya aku mau ikut kamu" karin tetap menempel.
"terserah!!"
dika pun akhirnya masuk bersama karin ke dalam ruangannya.
"karin, lepasin aku mau kerja" ucap dika setelah mereka sampai di meja kerja dika.
"ya udah kerja aja aku temenin disini ya" karin duduk di hadapan dika.
"terserah!" dika memalingkan wajahnya.
bosan menatap dika yang hanya sibuk dengan komputer di hadapannya itu, karin pun kembali berulah.
"shh! aw"
karin meringis sambil memegangi perutnya.
"karin, kamu kenapa?"
dika memalingkan wajahnya menatap karin.
"shh! perut aku sakit lagi sayang" ujar karin menahan sakit.
"ya udah kamu istirahat aja dulu di kamar"
dika menunjuk ruang istirahatnya yang berada di dalam ruangan itu.
"anterin dong, kan aku enggak bisa jalan"
karin masih terus memegangi perutnya.
"em, ya udah ayo" dika membantu karin berjalan.
"aw! sakit sayang, gendong..." rengeknya manja.
mau tak mau akhirnya dika menggendong karin menuju ruangan itu.
"ck! kamu berat banget sih..."
"ih, jahat banget deh" kesal karin manyun.
ceklek! dika berjalan masuk.
"sekarang kamu istirahat aja ya"
dika merebahkan tubuh karin di atas ranjang lalu beranjak hendak keluar.
__ADS_1
"kamu mau kemana sih.."
karin menahan tubuh dika di pelukannya agar tidak pergi.
"karin jangan mulai deh"
"sini aja,,,"
"lepasin enggak!"
dika menatap kesal pada karin yang sedang memeluknya.
"enggak" karin tersenyum menantang.
"lepas..!!"
"kalo aku engga mau lepasin, kamu mau apa?"
"jangan salahin aku ya kalo kamu bakal nyesel"
"aku mau nyesel sekarang, aku udah siap kok"
karin tersenyum dan semakin menarik tubuh dika ke dalam pelukannya.
*
di luar ruangan terlihat ray hendak masuk dan memberikan sebuah berkas kepada dika.
ia mengetuk pintu ruangan bosnya itu agar dika mengizinkan masuk namun ray tidak mendapat jawaban apapun.
tok! tok! tok!
"ck, dia dimana sih?" gumam ray bingung.
merasa penasaran ray pun langsung masuk kedalam ruangan dika namun saat sampai di dalam ia tidak melihat siapapun disana.
"kok enggak ada orang ya, perasaan tadi karin juga ada di dalam bareng dika deh"
ray bertanya tanya sendirian dengan bingung sambil berjalan mendekati meja kerja dika dan meletakkan berkas yang ia bawa disana.
"hhh! taruh sini aja deh"
ray meletakkan berkas di atas meja namun tiba tiba ia mendengar sesuatu.
ceklekk!! pintu kamar itu terbuka.
ray menoleh ke belakang dan melihat dika baru saja keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang berantakan.
"dika?"
"em, ray! lo ngapain disini?" dika kaget melihatnya.
"hhh, nyesel banget deh gue masuk kesini cuma buat liat lo yang baru selesai olahraga didalam" ray tersenyum tipis menatapnya.
"ck! apaan sih, siapa juga yang baru olahraga. lagian lo ngapain masuk enggak ketuk pintu dulu"
dika pun kembali duduk di atas kursi kerjanya setelah merapikan pakaian.
"enak aja, gue udah ketuk pintu sampe tangan gue sakit kali. tapi lo enggak denger karena terlalu asik di dalam sana bareng karin. tuh gue cuma mau ngasih hasil laporan yang harus lo tanda tanganin"
ujar ray menunjuk sebuah map di atas meja.
"hem, udah lo cek kan?" tanya dika.
"iya udah sih, tapi ya gitulah. lo cek lagi buat mastiin semua sesuai dengan keinginan lo"
ray pun duduk di hadapan dika.
"enggak usahlah, gue lagi malas yang penting lo udah liat dan gue percaya sama lo"
dika pun langsung menandatangani berkasnya.
"hhh! kenapa sih lo baru selesai olahraga kok malah marah marah, harusnya kan bahagia"
ray tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya.
"huh! jangan mulai deh ray. lo kan tau gue lagi pusing mikirin vani"
"emang dia kenapa?"
"vani marah sama gue karena ngeliat sikap karin yang berlebihan selama ini" dika menjadi murung.
"ck! ya ampun dik, gue kira karena apa. udahlah lo enggak usah mikirin vani lagi, kalo lo mau nikah sama karin biar gue aja yang bahagiain vani oke" ray tersenyum manis.
"heh!! jangan macem macem ya lo! vani itu punya gue,,," dika menatap tajam kearah sekretarisnya itu.
"lo enggak pantes buat dia dika, lo kan udah punya karin" ray memperjelas maksudnya.
"ck! karin buat lo aja" dika kembali menatap layar di hadapannya.
"kenapa? baru berubah pikiran lo?" ray tersenyum tipis.
"udah dari lama"
"terus tadi lo ngapain masih berduaan di dalam sana bareng karin?"
"tadi tuh karin lagi sakit jadi gue anterin dia masuk"
dika tidak ingin ray salah paham kepadanya.
"oh iya, gue percaya banget sih sama lo"
ray tersenyum penuh arti sebenarnya tidak percaya.
"terserah lo deh, mendingan lo pergi sekarang" usir dika yang malas berdebat dengan ray.
"oke"
__ADS_1
ray pun keluar dari dalam ruangan dika dengan tersenyum karena sudah membuat dika kesal.
"hhh!" dika menyandarkan tubuhnya sambil memikirkan sesuatu.