
setelah saling menikmati ciuman lembut yang mereka rindukan, dika pun melanjutkan aksinya dengan bergerak turun. bermain lidah di bagian leher putih gadis itu.
ia meninggalkan bekas tanda kepemilikannya di sana. ditempat yang belum pernah di jamah oleh siapapun.
untuk pertama kalinya mendapat sentuhan lembut di bagian tubuh yang lebih sensitive membuat vani tak sadar mengeluarkan suara lenguhan.
"uhh"
mendengar suara lenguhan itu membuat tubuh dika semakin memanas di penuhi hasrat dan gairah tinggi. hal itu membuat mereka hampir kehilangan kesadaran diri.
"shh akhh"
lenguhan dari bibir gadis itu membuat dika semakin menggila ditambah aroma tubuh yang memabukkan membuat dika benar benar ingin melanjutkan aksinya.
tangan dika sudah berkeliaran kemana mana meraba bagian punggung gadis itu lalu turun kebawah meremas bagian empuk di belakang sana membuat vani semakin mabuk kepayang. tangan dika mulai bergerak ke bagian depan hendak membuka kancing kemeja gadis itu.
vani yang merasa kalau dika sudah berhasil membuka kancing kemeja bagian atasnya pun akhirnya tersadar dan langsung menghentikan tangan dika yang hendak melepaskan kemeja dari tubuhnya itu.
"jangan mas, aku mohon"
vani menatap lekat sorot mata dika yang sangat sendu karena harus menahan hasrat yang sebenarnya sudah tidak bisa ia tahan lagi untuk segera menuntaskannya.
"sayang aku mohon" bujuk dika dengan lembut berharap vani akan mengizinkannya.
"enggak bisa"
"kenapa?"
"maaf mas tapi aku udah nikah"
vani ragu namun ia harus berbohong untuk menghindari dika yang sudah seperti binatang buas siap menerkam mangsanya itu.
"apa, kamu udah nikah! enggak, itu enggak mungkin sayang kamu pasti bohong kan?"
dika sudah mulai kembali sadar dan tidak bisa menerima pengakuan vani jika dirinya sudah menikah apalagi gadis itu sudah melupakan dirinya dengan semudah itu.
"itu bener mas, sama kaya kamu juga, sekarang kita udah punya pasangan dan kehidupan masing masing"
vani merasa gugup sebenarnya ia paling tidak bisa berbohong dan dika tau akan hal itu. takut jika saat ini dika tidak akan mempercayainya.
dika hanya diam menatap lekat sorot mata gadis itu untuk memastikannya. melihat mata yang terlihat gugup itu tentu saja dika tau kalau vani sedang berbohong saat ini.
"jangan bohongin aku sayang. aku tau kamu lagi bohong"
ujar dika membuat vani melotot membelalakkan matanya.
"enggak, aku enggak bohong mas ini buktinya"
vani mengangkat tangannya untuk menunjukan cincin pemberian raka yang ada di jari manisnya itu.
dika menatap cincin yang melingkar di jari manis vani. ia sangat yakin jika vani sedang berbohong namun saat melihat cincin itu dika kembali ragu.
"jadi kamu benar benar udah ngelupain aku?"
dika memegang kedua sisi wajah vani.
"em"
vani mengangguk lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"enggak mas bukan gitu tapi kita udah punya kehidupan masing masing jadi lebih baik kita saling menjauh biar enggak ada yang tersakiti"
"oke, maafin aku ya. aku enggak tau kalo kamu udah nikah tapi tolong berhenti bilang aku juga udah punya pasangan karena aku enggak pernah bisa lupain kamu selama ini" dika mengalihkan pandangannya dari vani.
melihat dika yang sudah melepaskannya vani pun langsung melangkah keluar dari sana dan tidak terlalu mendengarkan ucapan dika karena merasa takut jika pria itu akan berubah pikiran lagi.
setelah keluar dari dalam ruangan itu vani kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk merapikan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulah mantan kekasihnya itu.
vani berdiri di depan cermin menatap pantulan dirinya di dalam cermin itu. ia pun menangis tanpa bersuara karena perasaannya sedang tidak menentu saat ini.
tidak ingin menangis lagi vani pun segera membasuh wajahnya agar suasana hatinya kembali membaik.
setelah selesai membasuh wajah vani melihat banyak bekas kecupan yang dika ciptakan di bagian leher mulusnya yang sekarang sudah berubah menjadi tidak mulus lagi. ada banyak bekas merah kebiruan dibagian lehernya hingga bagian sekitar tulang selangka.
"gimana cara ngilanginnya ya? gimana cara nutupinnya?"
vani bertanya tanya apa yang harus ia lakukan untuk menutupi tanda di lehernya.
akhirnya gadis itu pun mengancing penuh bagian kerah kemejanya hingga yang paling atas lalu menggeraikan rambutnya untuk menutupi tanda itu.
__ADS_1
"gini aja deh"
ujar vani lalu melangkah keluar dari dalam kamar mandi dan memutuskan untuk pulang saja. ia tidak jadi berbelanja karena tadi dari rumah niatnya pergi ke mall ingin shoping sekaligus menenangkan pikiran namun kehadiran dika malah membuatnya semakin tambah pusing saja.
terlebih lagi yang membuat vani semakin bingung adalah mengapa ia tidak berusaha untuk menolaknya namun malah menikmati ciuman itu pikirnya.
sesampainya di rumah vani langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan berendam untuk menetralkan suhu tubuhnya yang tadi sempat terasa panas karena perbuatan dika.
setelah selesai mandi dan mengganti pakaian vani pun duduk di tepi ranjang lalu tangannya bergerak mengambil sebuah foto berukuran kecil dari dalam lacinya.
'kenapa aku enggak bisa terima orang lain yang memiliki diriku ini selain kamu?'
'kenapa aku pengen banget kamu jadi milikku padahal aku tau kalo sekarang kamu udah jadi milik orang lain'
'kenapa kamu datang lagi membawa kenangan baru padahal aku belum bisa lupain kenangan yang telah lalu?' batin vani menatap foto di tangannya lalu berbaring di atas ranjang.
di kediaman wijaya tepatnya di dalam kamar dika. ia juga sedang berbaring di atas ranjang mewahnya.
dika menatap cincin yang ada di tangannya lalu kembali teringat pada cincin di jari manis vani.
"apa kamu beneran udah nikah?"
"enggak! kamu pasti bohong kan sama aku. kamu cuma punya aku vani, cuma punya aku"
dika menggenggam erat cincin ditangannya.
malam harinya yuli sudah pulang bekerja. ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa sangat lelah setelah bekerja seharian di tambah lembur membuat tubuhnya terasa lengket.
"hah!! segerrr"
selesai mandi yuli duduk di tepi ranjang dan melihat vani yang sedang duduk bersandar sambil melamun di atas ranjang tidak seperti biasanya.
"eh kak kamu kenapa? kok diem aja sih"
yuli melihat vani sepertinya sedang sedih.
"aku enggak papa kok yul"
vani pun berbaring dan langsung memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut karena tidak ingin di ganggu.
"hem kenapa nih anak tumben banget enggak semangat bukannya tadi lo pergi shoping ya kak terus dimana semua belanjaannya? oh ya barang titipan gue ada kan?"
"loh, kenapa tiba tiba jadi enggak enak badan"
"ih, kamu bisa diem gak sih aku lagi pengen istirahat nih"
"aneh banget sih nih anak"
yuli pun ikut merebahkan dirinya juga di samping vani lalu mereka pun tertidur.
*
keesokan harinya vani dan yuli sedang sarapan bersama di meja makan seperti biasanya.
disela sela makannya yuli tidak sengaja melihat bekas kecupan di leher vani yang belum hilang sepenuhnya.
bodchnya vani yang lupa untuk menyamarkan bekasnya terlebih dahulu dengan menggunakan krim atau menutupinya dengan sesuatu agar tidak terlihat.
vani justru menjepit sebagian rambutnya ke belakang sehingga bagian depannya terlihat jelas karena tidak terhalang helaian rambut. meskipun memakai kemeja yang berkerah namun ia tidak mengancing bagian paling atas karena akan terlihat aneh.
"kak?" panggil yuli menatap vani.
"hem?" vani sedang mengoles selai blueberry di dalam rotinya.
"leher kamu kenapa?" tanya yuli menatap canggung.
mendengar pertanyaan dari adiknya itu vani pun tertegun dan langsung meraba lehernya.
"em, enggak papa kok"
vani gugup dan langsung menutup kerah bajunya dengan memasang kancing paling atasnya.
"hem, hebat juga ya bang raka bisa nakhlukin hati kamu sekarang" yuli tersenyum jahil.
"ck! apaan sih yul. udah deh mendingan kamu siapin sarapan cepetan nanti kita terlambat"
vani mengalihkan pembicaraan mereka.
"ya kamu sih enggak papa kalo terlambat kan bos kamu cinta sama kamu. kalo bos kamu marah ya gampang lah enggak usah kasih jatah" haha
__ADS_1
"ish, jatah jatah apa sih yul udah cepetan deh" kesal vani.
"eh tapi ingat ya awas kebablasan loh" haha
vani hanya terdiam dan dengan cepat menghabiskan sarapannya agar segera berangkat bekerja.
setelah selesai sarapan dan membersihkan meja makan yuli pun mengajak vani untuk segera berangkat bersama.
"ayo kita berangkat sekarang kak" ajak yuli pada kakaknya.
"em, kamu aja deh aku enggak jadi kerjanya. kayanya aku masih enggak enak badan nih"
vani menolak pergi bekerja dengan alasan sakit padahal ia takut jika raka akan melihat tanda di lehernya itu.
"loh kenapa? tadi baik baik aja"
"udah deh kamu pergi aja sana" usir vani agar yuli tidak terus bertanya.
"oke, ya udah kamu istirahat aja di rumah ya kalo bisa berobat juga soalnya dari kemaren kamu itu enggak enak badan mulu deh kayanya atau jangan jangan...?"
"jangan jangan apa?" vani menatap tajam pada adiknya.
"hehe enggak, aku cuma enggak mau sampe itu terjadi juga sih kak" yuli merasa tak enak.
"maksud kamu jangan jangan aku hamil gitu" vani melanjutkan ucapan adiknya yang menggantung.
"hehe, maksud aku..."
"ck! kamu enggak percaya sama aku?"
"enggak. eh maksudnya bukan gitu, tadinya aku percaya banget sih sama kamu tapi setelah hari ini aku liat tanda di leher kamu itu aku jadi khawatir aja" hehe
"hhh! udah deh mendingan kamu pergi aja sana, aku lagi pengen sendiri lagian tinggal beberapa minggu lagi aku bakal nikah jadi kamu enggak usah khawatir soal itu ya"
"oke"
yuli pun pergi karena takut akan terlambat jika mereka terus membahasnya.
di dalam ruangannya raka sedang duduk sambil menatap sebuah berkas laporan di tangannya ia merasa bingung kenapa vani belum datang untuk bekerja.
"vani dimana ya, kok belum datang juga udah jam segini?" raka menatap jam di tangannya.
"coba telpon aja deh"
raka mengambil ponsel untuk menghubungi kekasihnya yang belum sampai di restoran seperti biasanya itu ia khawatir jika terjadi sesuatu pada vani di jalan.
telpon berdering dan vani langsung menjawabnya setelah telpon terhubung raka pun langsung bertanya.
Raka: halo sayang?
Vani: iya mas.
Raka: kamu dimana kok belum sampe? aku khawatir nih.
Vani: maaf ya mas aku enggak bisa masuk nih.
Raka: kenapa sayang, apa kamu lagi sakit?
Vani: em, iya sih mas aku lagi enggak enak badan nih.
Raka: ya ampun sayang kok kamu enggak bilang sih, aku ke sana ya sekarang biar anterin kamu ke dokter.
Vani: ehh, enggak usah mas aku baik baik aja kok cuma butuh istirahat aja nih.
Raka: enggak boleh nolak sayang aku bakal sampe bentar lagi di rumah kamu.
Vani: tapi mas....
tut! tut!
raka pun langsung mematikan sambungan telponnya tanpa mendengarkan ucapan vani.
"ck! ih mas raka kenapa malah datang sih"
vani bingung harus bagaimana padahal ia malas pergi bekerja karena ingin menghindari raka namun raka justru akan datang untuk menemuinya.
"nah gini aja deh"
akhirnya vani memutuskan untuk memakai sebuah syal di lehernya saja agar menutupi tanda itu pikirnya
__ADS_1