
saat ini yuli mengobrol berdua saja dengan vani karena melihat dika yang sedang sibuk menerima telpon di luar rumah sedangkan hana duduk di samping mereka sambil sibuk memainkan ponselnya.
"oh ya kak kamu serius kita boleh tetap tinggal disini?"
"iya serius dong yul"
"makasih ya kak"
"kalian baik baik ya disini"
"iya kak" hana tersenyum.
"oh ya kak gimana rasanya malam pertama enak enggak?"
pertanyaan yuli membuat vani membelalakkan matanya.
"hem?? pertanyaan apa sih itu enak atau enggak?"
"iya tadi katanya boleh nanya yang lain" yuli manyun.
"iya tapi enggak itu juga pertanyaannya" kesal vani
"iya kan aku cuma penasaran kak"
"em, rasanya? aduh! sakit banget tau"
vani sengaja ingin menakut nakuti adiknya.
"hah!! serius sakit banget?"
yuli dengan susah payah menelan salivanya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"em" vani pun mengangguk.
"ih gue enggak mau nikah deh kalo gitu" yuli bergidik.
"haha. mau jomblo terus kak yul?" hana menimpali.
"ck! biarin aja dari pada sakit"
"hehe, aku cuma bercanda kok yul" vani tertawa.
"ish, enggak lucu tau" yuli memanyunkan bibirnya.
"em, emang awalnya sakit sih tapi lama kelamaan...." ucapan vani menggantung.
"lama lama apa kak?" yuli semakin penasaran.
"lama lama pasti makin sakitlah" jawab hana menimpali.
"ish! sok tau banget deh lo" kesal yuli pada hana.
"ih kepo deh, kalo mau tau kamu nikah sana haha"
vani pun pergi meninggalkan adiknya yang penasaran.
"ish! ngeselin banget nih orang. main pergi pergi aja udah buat gue penasaran" yuli menatap kepergian vani.
"haha yang sabar ya kak" hana pun tersenyum jahil.
vani berjalan keluar menemui suaminya agar mereka segera pulang karena sudah janji akan makan malam bersama di rumah.
"yuk mas kita pulang"
vani melihat dika yang sedang duduk di teras rumah setelah ia selesai menerima telponnya.
"udah ceritanya?" dika tersenyum menatap istrinya itu.
"hehe maaf ya mas. lama ya?" vani nyengir.
"kurang lama sih sayang" dika pun berdiri dari duduknya.
"ya udah ayo kita pamit pulang" dika merangkul pundak istrinya berjalan.
vani dan dika pamit hendak segera pulang kepada kedua adiknya itu.
yuli dan hana pun mengantar vani dan dika keluar dari dalam rumah.
"ya udah kalo gitu kami pulang dulu ya yuli hana, kalian jaga diri baik baik disini. oh ya kakak sama mas dika juga bakal pergi buat liburan besok"
vani memeluk kedua adiknya.
"kalian mau pergi honeymoon ya kak?"
yuli menggoda vani dengan senyum jahilnya.
"em" vani hanya tersenyum mengangguk.
"iya pasti dong yul. iyakan sayang?"
dika langsung merangkul istrinya membuat vani malu di hadapan kedua adiknya itu.
"udah dong mas, ayo pulang"
vani melangkah masuk ke dalam mobil.
"haha, oke deh kalo gitu kalian hati hati ya jangan lupa ditunggu keponakan kami launching kak. dah"
__ADS_1
yuli dan hana melambaikan tangannya.
"oke dah!"
dika mengangkat ibu jarinya tersenyum lalu melajukan mobilnya untuk kembali pulang.
"kamu nih ada ada aja deh kak"
hana menatap yuli sambil menggelengkan kepalanya.
"biarin aja han, kan emang bener yang gue bilang"
yuli pun berjalan masuk ke dalam rumah dan mengabaikan ucapan hana.
sesampainya dirumah dika dan vani ikut makan malam bersama keluarga di meja makan dengan masakan kedua menantu wijaya tersebut.
"em, ini masakan kalian berdua ya sayang? enak enak banget ya pa" puji mama ratih pada kedua menantunya itu.
papa hardi hanya mengangguk karena mulutnya sedang penuh dengan makanan.
"iya dong ma" ranty tersenyum.
"aku cuma bantuin mbak ranty kok ma" vani tersenyum canggung.
"eh kamu kok bilang gitu sih vani tadi kan banyakan kamu yang masak. emang masakan vani tuh enak banget ma soalnya dia juga hobi masak loh"
ranty membuat vani semakin malu atas pujian kakak ipar dan mama mertuanya.
"oh ya? wah beruntung banget mama punya dua putri yang jago masak ya pa" mama ratih menatap suaminya
"iya ma" papa hardi pun tersenyum.
sedangkan kedua putra mereka hanya tersenyum mendengar pujian orang tua mereka pada istrinya.
"oh ya, rangga papa sama mama juga mau berangkat ke london lusa jadi untuk sementara kamu urus perusahaan disini dulu ya sampe adek kamu pulang dari liburannya"
papa hardi menatap putra sulungnya itu.
"oke siap pa" jawab rangga santai.
setelah selesai makan malam bersama mereka pun kembali ke dalam kamar masing masing.
di atas ranjangnya, saat ini vani sedang duduk bersandar sambil memangku sebuah laptop di kakinya.
"sayang,,,"
dika datang dan memeluk pinggang istrinya yang sedang asik menonton drama kesukaannya itu.
"iya mas?"
vani bertanya namun tatapannya hanya fokus menonton drama di laptop saja.
dika beralasan melihat drama yang di tonton istrinya itu walaupun sebenarnya ia tidak terlalu suka nonton drama.
"iya bentar lagi ya sayang, ini masih seru tau"
"ck! udah dong sayang. ayo kita tidur sekarang"
tangan dika perlahan bergerak menyibakkan piyama yang di pakai oleh vani lalu ia mengecup lembut pundak istrinya menghirup dalam aroma tubuh istrinya itu.
hal itu tentu membuat vani merasa geli namun ia tetap berusaha untuk fokus pada drama yang ditontonnya.
"ih mas, jangan ganggu dong"
vani menatap dika namun suaminya itu tidak mau mendengarkannya.
"hhh!"
dika terus mencium pundak vani hingga ke bagian lehernya membuat vani merasa geli dan merinding menahannya.
awalnya dika memang sengaja ingin mengganggu vani hanya agar istrinya merasa kesal namun saat mencium aroma tubuh wanita yang dicintainya itu justru membuat dika tidak bisa menahan hasratnya.
akhirnya dika pun melanjutkan aksinya dengan membuka satu persatu kancing piyama yang sedang di pakai oleh istrinya itu.
"hhh! hhh!"
nafas dika terdengar memburu karena tubuhnya mulai memanas saat menatap bagian tulang selangka yang menggoda di pundak istrinya.
vani hanya membiarkannya saja suaminya itu melakukan hal yang diinginkannya karena ia masih ingin fokus untuk menonton drama di dalam layar itu.
dika berhasil membuka kancing piyama vani dan langsung memperlihatkan dua buah benda kenyal milik istrinya itu.
dengan mata berbinar dika menatap dua benda kenyal yang padat berisi itu.
tangannya pun bergerak meraba sisi punggung vani dan membuka pengait bra milik istrinya itu.
tidak tahan menatap dua benda kenyal itu terpampang jelas di depan matanya dika pun langsung melahapnya dan bermain lidah disana membuat vani tidak mampu menahan gejolak dalam tubuhnya yang mulai memanas.
"emh"
lenguhan vani pun keluar begitu saja karena tidak tahan dengan sentuhan dari bibir suaminya itu.
"mas, aku masih mau nonton nih"
suaranya bergetar dan tidak bisa kembali fokus menonton dramanya.
meskipun vani mengatakan tidak namun berbeda dengan reaksi tubuhnya yang menginginkan hal lebih.
__ADS_1
melihat istrinya mulai merespon dika pun semakin bermain di bagian dada membuat vani menggeliat dengan nafas memburu.
mendengar suara lenguhan vani yang sudah menikmati permainannya dika pun segera menyingkirkan laptop yang berada di atas pangkuan istrinya lalu merebahkan tubuh mereka dengan bibir yang masih menyatu hingga hasrat keduanya semakin tidak tertahankan.
di dalam kamar yang berbeda rangga dan ranty sedang kebingungan mencari putri mereka yang tiba tiba sudah menghilang dari dalam kamarnya.
"mas kamu liat rara enggak? tadi dia tuh udah tidur di dalam kamarnya tapi sekarang kok enggak ada ya?" tanya ranty pada suaminya.
"mungkin lagi di kamar mandi sayang"
rangga menenangkan istrinya sambil merebahkan diri dan menutup mata karena sudah sangat mengantuk.
"ih, enggak ada mas. kalo ada di dalam kamar mandi ngapain juga aku nyariin sampe ke dapur rara enggak ada disana juga"
"terus dimana dong sayang. ada di dalam kamar mama sama papa kali"
"enggak ada juga mas. kan aku udah nanya ke mama"
"ya enggak mungkin dong anak kita hilang di dalam rumah. pengamanan di rumah ini kan udah ketat jadi enggak ada yang mungkin nyulik anak kita sayang"
"tapi kan aku khawatir mas"
di dalam kamar pasangan pengantin baru yang sedang bermesraan itu semakin tidak dapat menahan diri lagi sehingga ingin segera melepaskan hasratnya.
"emh! uhh!"
dika dan vani yang sudah mabuk kepayang itu hanya fokus pada permainan mereka saja namun tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang keras dari luar.
tok....tok....tok....!!!
tok....tok....tok....!!!
saat mendengar suara ketukan pintu vani pun langsung tersadar dari belaian suaminya yang memabukkan itu. ia menahan tubuh suaminya lalu duduk kemudian kembali memakai piyama yang sudah terbuka.
"mas, ada yang datang"
vani juga menyadarkan suaminya agar berhenti.
"siapa sih, ganggu aja deh"
dika kesal karena ada seseorang yang sudah mengganggu mereka disaat yang tidak tepat pikirnya.
"coba di liat dulu mas" minta vani.
"males deh. biarin aja sayang mendingan kita lanjut udah nanggung nih" dika menolak.
"gimana kalo mama yang datang mas"
vani membujuk dika agar mau membuka pintu lebih dulu.
"ya enggak mungkinlah sayang"
"mas....."
"iya iya demi kamu loh ini"
dika pun akhirnya melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
vani pun merapikan kembali pakaiannya yang sudah kacau itu karena takut kalau sampai mertuanya yang datang lalu melihat keadaannya yang berantakan pikirnya.
ceklek!
dika menarik handle pintu lalu membukanya dengan raut wajah terlihat sangat kesal karena ia berpikir pasti rangga yang datang untuk menganggunya.
"siapa sih yang gang...gu..." ucapan dika terputus ketika melihat siapa yang datang.
"eh, sayang rara ngapain disini?"
tanya dika melihat ternyata rara yang datang ke kamarnya.
ia pun berlutut lalu mencubit gemas pipi keponakan kesayangannya itu.
"om, kata papa sama mama besok om sama tante cantik mau pergi ya terus pulangnya lama?"
rara langsung memeluk om kesayangannya itu.
"iya sayang tapi om enggak lama kok perginya"
dika pun mengelus lembut rambut rara yang sedang memeluknya.
"rara boleh ikut kan om?" tanya rara polos.
"em, maaf ya sayang tapi kayanya rara enggak bisa ikut deh soalnya tempatnya jauh jadi rara harus tetap disini. kan rara harus sekolah sayang" dika memberi alasan.
"yah! padahal rara pengen banget ikut"
ujar rara dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
"lain kali kita jalan jalan bareng ya kalo rara libur sekolah. oke sayang"
dika menurunkan tubuh rara dari gendongannya.
"ya udah deh om, kalo rara enggak boleh ikut enggak papa tapi malam ini rara mau bobok disini aja sama om sama tante cantik juga biar rara enggak terlalu kangen kalo nanti om sama tante pergi"
rara pun langsung berlari masuk ke dalam kamar dika.
"eh! rara sayang jangan dong"
__ADS_1
dika memelas namun rara sudah berlari masuk ke dalam kamarnya.