
saat ini vani sudah sampai di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
gedung megah itu memiliki lima puluh lantai bangunan yang berdiri kokoh bertuliskan.
RAWIJAYA GROUP
"wah! tinggi banget" gumam vani tersenyum menatap bangunan megah di hadapannya.
vani sangat senang karena ia akan menjadi salah satu karyawan di kantor itu.
menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar seperti kantor wijaya group merupakan impian banyak orang.
vani merasa dirinya sangat beruntung karena memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perusahaan raksasa itu.
jujur saja menjadi seorang karyawan kantoran adalah impian vani sejak kecil.
memang terkesan aneh karena cita citanya hanyalah menjadi seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan.
namun entah mengapa sejak kecil vani sangat suka melihat wanita yang bekerja di kantoran karena menurutnya wanita kantoran itu adalah wanita cerdas dan sangat anggun
"huh! akhirnya sampe juga, untung aja aku enggak telat. kalo telat bisa bisa aku di pecat sebelum di terima kerja di sini. haha"
vani tertawa dengan ucapannya sendiri sambil berjalan memasuki gedung.
mungkin saja karena terlalu bersemangat saat berjalan masuk, tidak sengaja vani menabrak tubuh seorang pria di lobby kantor itu.
terlihat sepertinya pria itu juga sedang terburu buru ingin keluar dari dalam gedung sedangkan vani hendak masuk untuk melakukan interview.
brukk!!!
keduanya pun saling bertabrakan tak terhindari.
"shh"
"aw!"
tubuh vani terhuyung kebelakang hingga ia hampir jatuh ke lantai.
beruntung sepasang tangan kekar itu langsung memeluk tubuhnya agar vani tidak terjatuh.
tatapan keduanya bertemu saat dalam posisi berpelukan hingga mengundang perhatian banyak karyawan yang lewat.
mereka saling memandang satu sama lain membuat vani begitu terpesona dengan mata indah yang sedang menatapnya.
beberapa saat kemudian pria itu pun tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping membuat vani juga tersadar lalu berdiri dengan tegak melepaskan diri dari dalam dekapan pria asing itu.
"ehm"
vani mengalihkan pandangannya dengan canggung sambil merapikan pakaiannya.
setelah melepaskan tangannya dari tubuh vani pria itu pun langsung pergi tanpa mengucapkan apapun kepada vani karena ia sedang terburu buru.
"eh, eh, ck! dasar cowok aneh"
kesal vani karena melihat pria itu langsung pergi begitu saja.
"huh! siapa sih tuh cowok udah nabrak aku bukannya minta maaf malah pergi gitu aja"
omel vani tidak terima melihat sikap dingin pria itu. ia menatap kesal ke arah pria yang sudah pergi meninggalkan dirinya begitu saja tanpa meminta maaf lebih dulu.
"hem, lumayan juga sih mukanya ganteng tapi enggak sopan!"
vani masih mengomel tiada arti sebab pria itu sudah pergi dan tidak mungkin mendengar ocehannya lagi.
"udah ah! mending aku langsung masuk aja dari pada telat"
vani pun kembali berjalan dan mengabaikan perasaan kesalnya demi interview berjalan lancar hari ini.
sesampainya di depan ruangan HRD vani melihat beberapa orang yang juga akan ikut interview sama seperti dirinya.
'wah rame juga nih, mana keliatannya peserta interview hari ini cerdas dan berpengalaman semua lagi' batin vani sambil menatap satu persatu calon karyawan baru di sana.
mereka masuk satu persatu saat namanya di panggil oleh pihak hrd.
setelah menunggu lama akhirnya nama vani pun di panggil untuk masuk ke dalam ruangan yang sangat menegangkan itu.
hanya butuh sepuluh hingga lima belas menit berada di dalam akhirnya vani pun keluar dari dalam ruangan yang terasa mencekam itu.
vani keluar dengan wajah tersenyum bahagia yang menandakan dirinya lolos dan berhasil di terima sebagai salah satu karyawan disana.
"Alhamdulillah akhirnya aku beneran bisa kerja di perusahaan gede ini"
vani tersenyum lalu pulang dengan perasaan yang sangat bahagia karena apa yang ia dapat hari ini sesuai dengan harapannya sejak awal.
.
__ADS_1
sesampainya di rumah vani mengganti pakaian lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang biasa ia tempati bersama adik sepupunya itu setiap malam untuk beristirahat.
saat ini vani sedang memandang langit langit di dalam kamarnya namun tak sadar terlintas di dalam ingatannya wajah tampan pria asing yang sudah membuat dirinya kesal pagi tadi.
"ganteng banget sih dia"
vani tersenyum sambil memuji ketampanan wajah pria itu namun dengan cepat ia kembali tersadar.
"ih! apaan sih yang tadi aku pikirin? udah deh ngapain juga masih inget sama cowok nyebelin kaya gitu"
vani menepis apa yang sedang di pikirkannya.
di tempat yang berbeda terlihat seorang pria tampan baru saja menyelesaikan pekerjaannya. ia sedang duduk di atas kursi kebesarannya yaitu meja kerja di dalam ruangan kantornya.
"akhirnya selesai juga"
pria itu bangkit dari duduknya karena hendak segera pulang ke rumah.
tentu saja, pria tampan itu bernama radika wijaya putra bungsu dari keluarga wijaya pemilik perusahaan RAWIJAYA group.
pria berusia 26 tahun itu memiliki bentuk tubuh ideal dengan tinggi badan 180, berkulit langsat, hidung yang mancung serta mata indah dan senyuman yang manis di bibirnya.
sungguh benar benar pria idaman para wanita.
dika adalah panggilannya ia memiliki seorang kakak laki laki yang saat ini sudah berusia 30 tahun. putra sulung dari rahardian wijaya dan ratih itu bernama rangga wijaya.
rangga juga memiliki wajah tidak kalah tampan dengan adiknya karena wajah mereka terbilang mirip sebagai kakak beradik.
ia merupakan seorang putra sulung sekaligus pemimpin dari perusahaan wijaya group.
saat ini rangga sudah menikah dengan seorang gadis pujaan hatinya yang bernama ranty.
pernikahan mereka juga sudah di karuniai seorang putri cantik bernama rara anggraini wijaya, usia rara belum genap empat tahun.
putri rangga itu juga sangat dekat dan manja kepada dika yang merupakan adik dari ayahnya.
.
malam hari di sebuah kontrakan kecil, dua orang gadis cantik itu sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi bersama.
"gimana tadi interviewnya kak, kamu di terima atau enggak?"
yuli menarik gemas hidung vani membuatnya meringis.
"ih! sakit tau" kesal vani karena hidungnya memerah akibat perbuatan adiknya.
"iya di terima dong, siapa dulu yang ngelamar. vani gitu loh"
vani dengan bangga tersenyum manis.
"serius?" yuli tidak percaya.
"ya serius lah masa bohong sih"
vani mengalihkan pandangannya menatap televisi di hadapan mereka.
"hem, bagus deh seenggaknya kan sekarang kamu enggak bakalan jadi pengangguran lagi" haha. yuli tertawa renyah.
"apa kamu bilang!! aku pengangguran?" ih!!
vani tidak terima dengan ucapan adiknya lalu menjewer telinga yuli.
"aw!! sakit tau, lagian emang bener kan selama ini kamu tuh pengangguran kak. ueek!!"
yuli mengejek dengan menjulurkan lidahnya lalu segera berlari untuk menghindari jeweran lagi di telinganya.
"yuli!!! awas kamu ya"
vani pun berlari mengejar adiknya yang nakal.
"ayo kejar! ueekk"
akhirnya kakak beradik itu saling mengejar di dalam rumah hingga keduanya merasa lelah dan tidur bersama di dalam kamar mereka.
.
pagi kembali datang menyapa, di dalam rumah mewah keluarga wijaya sedang terjadi drama antara anak dan papanya.
rangga selalu senang menggoda putri semata wayangnya itu setiap hari hingga membuat rara menangis.
saat ini di meja makan mereka hendak sarapan bersama namun dengan jahilnya rangga mengacak acak rambut rara hingga berantakan dan membuat putrinya itu merasa kesal atas ulahnya.
"ih! papa, hem... hem..."
rara menangis kesal pada papanya yang sangat jail itu.
__ADS_1
"rara jelek banget sih"
rangga mengejek putrinya melihat rambut rara sudah kembali berantakan karena ulahnya.
"mama liat deh papa gangguin rara terus nih"
rengek rara mengadu kepada ranty mamanya.
"udah dong mas, kamu jangan gangguin rara terus"
ranty meminta suaminya agar berhenti membuat putri mereka menangis.
"hehe. habisnya rara tuh lucu banget kalo lagi marah gini sayang
rangga mencubit gemas kedua pipi putrinya.
"ih! papa jahat"
plak!!!
rara masih menangis sambil memukul lengan papanya.
"aw! enggak sakit ueek!"
rangga terus saja mengejek putrinya itu, seperti biasa dika akan selalu membujuk keponakan kesayangannya agar berhenti menangis.
"papa!"
"udah dong sayang rara jangan nangis lagi ya, nanti om beliin boneka besar yang lucu banget kaya rara"
dika menghibur rara sambil menghapus air mata di pipi keponakannya itu.
rara pun langsung tersenyum saat mendengar dirinya akan mendapat mainan baru dari om kesayangannya itu.
"beneran ya om, janji?"
rara memeluk om yang selalu memanjakannya itu bahkan dika juga selalu membelanya ketika rara sedang di marahi oleh papanya sendiri.
"iya sayang om janji" emuach!
dika menggendong tubuh rara lalu mengecup pipi rara.
"makasih om" cup!
rara juga mengecup pipi omnya yang tampan.
mama ratih pun tersenyum melihat sikap putra bungsunya yang juga sangat menyayangi rara seperti putrinya sendiri itu.
ia berharap dika akan segera menikah dan juga memiliki anak agar kebahagiaan keluarga mereka semakin sempurna dengan kehadiran dua menantu dan cucu dari kedua putranya.
papa hardi dan mama ratih sangat menyayangi ranty seperti putri mereka sendiri terlebih lagi mereka juga tidak memiliki seorang anak perempuan.
"udah ya sayang, ayo rara makan lagi" bujuk ranty agar rara mau makan.
"iya ma" rara kembali tersenyum.
"nah pinter, rara harus makan yang banyak nanti kalo rara udah gede om bakal beliin boneka yang lebih gede lagi buat rara"
dika tersenyum sambil menyuapi rara makan.
"janji ya om"
rara mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat sebuah janji.
"iya sayang, om janji"
dika membalasnya dengan mengangkat jari kelingkingnya juga.
"yee... makasih om ganteng"
rara semakin tersenyum lebar.
"sama sama cantik" gemas dika.
"huh! dasar manja"
rangga mengejek putrinya lagi.
"ueek!! biarin papa jelek"
rara membalas ejekan papanya.
rangga dan dika memang memiliki wajah yang terlihat mirip namun mereka juga memiliki sifat yang cukup berbeda akan tetapi tetap saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain.
pasalnya rangga memiliki sifat yang hangat kepada semua orang di sekitarnya, ia sangat jahil dan humoris sehingga selalu dapat mencairkan suasana hening di sekelilingnya. sedangkan dika memiliki sifat yang lebih kalem dan dingin terlebih lagi pada orang orang yang baru di kenalnya. meskipun begitu dika tetap suka bercanda jika ia sedang berbicara dengan orang terdekatnya.
__ADS_1
jika biasanya si sulung lebih mengalah kepada si bungsu namun berbeda dengan kakak beradik satu ini karena justru sebaliknya.
dika yang sering mengalah kepada rangga namun percayalah mereka tetap saling menyayangi satu sama lain.